Setelah Lama Redup, Kamisan Solo Kembali, Dorong Ruang Bersama Lintas Kelompok
(Sumber Foto: Koko Novianto Pribadi)
Surakarta – Setelah sempat lama redup, Aksi Kamisan Solo kembali digelar di kawasan Tugu Gladak melalui dua aksi pada 10 dan 17 September 2026. Kebangkitan kembali ruang solidaritas ini diwarnai beragam isu, mulai dari persoalan warga dan ruang hidup hingga ingatan atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Kamisan perdana yang berlangsung pada Kamis (10/9) menjadi
momentum untuk kembali merawat gerakan sekaligus membangun ruang bersama bagi
mahasiswa, organisasi, dan masyarakat sipil. Dalam evaluasi setelah aksi, salah
satu peserta mengajak berbagai kelompok untuk terlibat dalam keberlanjutan
Kamisan Solo.
“Monggo kita buat aksi Kamisan ini biar ruang kita bersama, tidak milik siapapun,” ujarnya.
Ia juga mendorong kolaborasi antarkelompok agar Kamisan Solo dapat terus berjalan. Menurutnya, keberlanjutan aksi membutuhkan komunikasi dan keterlibatan bersama, sebagaimana gerakan serupa yang berlangsung di sejumlah kota, seperti Jakarta dan Yogyakarta.
Mengangkat Persoalan Warga dan Ruang Hidup
Pada Kamisan perdana, sejumlah persoalan lokal menjadi perhatian. Berdasarkan pamflet aksi, isu yang diangkat meliputi warga Ledoksari, paguyuban pemulung, warga Putri Cempo, serta kekerasan terhadap aktivis.
Dalam evaluasi setelah aksi, peserta turut membahas kemungkinan mengangkat kembali persoalan Ledoksari dan Putri Cempo dalam agenda Kamisan berikutnya. Meski belum terdapat informasi mengenai aksi lanjutan Ledoksari saat evaluasi berlangsung, peserta mengajak kawan-kawan untuk tetap memantau perkembangan melalui media sosial.
Akun Ledoksari Melawan dan Putri Cempo Melawan disebut sebagai sumber informasi yang dapat diikuti. Peserta juga mengajak masyarakat membantu menyebarluaskan informasi mengenai perkembangan persoalan tersebut melalui media sosial masing-masing.
Selain itu, persoalan PT RUM di Sukoharjo turut muncul sebagai usulan isu untuk aksi mendatang. Salah satu peserta menyampaikan bahwa isu tersebut belum dikaji dan dikawal lebih lanjut oleh kelompoknya.
“Kalau teman-teman yang ada update informasi itu bisa disampaikan juga untuk kita aktifkan ke depan,” ujarnya.
Pembahasan tersebut memperlihatkan upaya peserta untuk
memperluas isu yang dibawa dalam Kamisan, sekaligus membuka ruang bagi
informasi dan persoalan dari berbagai wilayah untuk dibahas bersama.
September Hitam
dan Tuntutan Keadilan
(Sumber Foto: Koko Novianto Pribadi)
Seminggu setelah aksi perdana, Kamisan Solo kembali digelar
pada Kamis (17/9), dengan mengangkat semangat September Hitam.
Melalui pamflet dan unggahan aksi, September Hitam ditempatkan sebagai momentum untuk merawat ingatan atas pelanggaran HAM, kekerasan terhadap rakyat, serta penculikan dan penghilangan paksa aktivis. Seruan yang disampaikan mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah dan tetap menyuarakan tuntutan keadilan.
“Kami menolak lupa. Kami menolak diam. Kami menolak sejarah dikubur tanpa keadilan,” demikian seruan dalam unggahan Aksi Kamisan Solo.
Isu yang dibawa pada Kamisan kedua juga berkaitan dengan
pembahasan dalam evaluasi aksi perdana. Dalam forum tersebut, peserta
mengusulkan agar persoalan Ledoksari dan Putri Cempo tetap dikawal selama
masyarakatnya belum mendapatkan keadilan. Isu kriminalisasi aktivis dan
pertambangan ilegal di wilayah lain juga muncul sebagai usulan untuk dibahas
bersama.
Berbagai usulan itu menunjukkan bahwa agenda Kamisan tidak berhenti pada satu persoalan. Peserta membuka ruang bagi isu-isu baru, sembari tetap mendorong pengawalan terhadap persoalan yang sebelumnya telah disuarakan.
Merawat Kamisan sebagai Ruang Bersama
Keberlanjutan Aksi Kamisan Solo menjadi salah satu perhatian utama dalam evaluasi setelah penyelenggaraan perdana. Peserta diajak menyampaikan masukan, mengusulkan isu, serta terlibat dalam penyusunan teknis aksi selanjutnya.
Dalam forum tersebut, muncul pula ajakan untuk memperluas partisipasi, baik dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), mahasiswa, organisasi eksternal, maupun masyarakat sipil.
“Entah dari BEM, entah dari mahasiswa biasa, entah dari organisasi eksternal manapun atau dari masyarakat sipil, boleh menyampaikan evaluasi ataupun masukannya,” ujar salah satu peserta.
Kembalinya Kamisan Solo melalui dua aksi pada September ini
menjadi upaya untuk menghadirkan kembali ruang solidaritas lintas kelompok.
Dengan mengangkat persoalan warga, ruang hidup, kekerasan terhadap aktivis,
serta ingatan atas pelanggaran HAM, Kamisan menjadi ruang untuk mempertemukan
berbagai isu dan mendorong keterlibatan masyarakat.
Di tengah berbagai persoalan yang masih membutuhkan pengawalan, peserta berharap semangat yang tumbuh dari aksi-aksi kecil dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak orang.
“Semoga semangat-semangat berjalan,” ujar salah satu peserta dalam forum evaluasi.
Penulis:
Koko Novianto Pribadi
Penyunting:
Ghulamy Tathmainul Qalby
































