LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Tawa Di Bawah Hujan

Tawa Di Bawah Hujan


(Pict by: Pinterest)

 

Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Seharusnya langit berubah warna menjadi jingga dan matahari yang telah tersenyum cerah seharian, mulai tenggelam perlahan berpamitan kepada alam dan seisi bumi lainnya. Namun, tidak dengan hari ini. Langit berubah menjadi sendu berwarna abu gelap, ditemani riuhan gemuruh yang menandakan hujan akan turun sebentar lagi. Dan benar saja, selang beberapa menit, setitik air hujan mulai turun membasahi bumi dan dalam sekejap menjadi segerombolan air yang siap untuk menggenangi jalanan.

 

Sore hari seperti ini, biasanya aku bersantai menikmati udara sore dan langit jingga nan cantik dari jendela kamarku sambil sesekali aku menulis jurnal tentang apa saja yang sudah aku lalui selama sehari penuh dengan senyuman yang menghiasi wajahku. Namun, dengan cuaca yang sedang murung dan tak bersahabat. Aku hanya duduk di tepian jendela dengan membawa secangkir coklat hangat untuk menghangatkan badanku, karena angin berhembus terlalu kencang hingga dapat menembus ke relung tulangku. Dengan memasang muka masam dan berharap hujan dapat berhenti lalu digantikan dengan langit cantik yang selalu aku tunggu kehangatannya di sore hari.

 

Aku memang selalu tak begitu suka dengan hujan, selain membuatku sakit dan tidak bisa menikmati senja, aku selalu takut dengan atmosfernya yang terkadang menyeramkan dengan kilatan cahaya dan suara yang bergemuruh tiap kilatan tersebut muncul. Tapi entah mengapa, hujan sore ini turun begitu tenang dan lembut dengan semilir angin yang kurasa masih bisa ku toleransi hembusannya.

 

Pada saat itu, aku memutuskan untuk membuka jendela dan membiarkan udara hujan memenuhi indera penciumanku yang membuatku merasa tenang dan tidak lagi diliputi rasa kecewa. Sambil menyeruput pelan-pelan coklat panasku, aku melihat jalanan sekitar rumahku yang sudah mulai tergenang air hujan. Di tengah jalanan tersebut, terlihat seorang lelaki memakai mantel plastik biru yang sedang berjalan dengan langkah yang begitu riang. Aku tak mengerti mengapa sesenang itu ia dengan hujan, hingga tak sadar bibirku tertarik ke atas karena melihat tingkah lucunya yang sekarang berganti menjadi tarian riang. Seperti sambutan terhadap hadirnya hujan yang sedang membasahi mantel dan celananya tersebut. Bukannya segera masuk ke dalam rumah, ia masih melakukan tarian yang menurutku menunjukkan suatu bentuk syukur dan rasa gembira yang ia peroleh.

 

Kael, nama yang kerap aku sapa. Ia merupakan teman yang tinggal di depan rumahku yang selalu berhasil membuatku nyaman dengan perilakunya yang menenangkan. Ia memang suka sekali dengan hujan. Setiap hujan siap turun ke bumi, ia akan selalu siap keluar rumah untuk merasakan tiap tetesan air yang membasahi kulitnya. Senyumannya, langkah riang, dan tariannya membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum dan melupakan bagaimana esensi hujan dapat membuat mereka diliputi rasa tak menyenangkan.

 

Pada saat aku ikut hanyut melihat ia berlarian di antara genangan dan senyum tawa puasnya, ia pun tak sengaja melihat ke arah jendela kamarku lalu menyapaku dan meneriakkan namaku dengan senyum lebarnya yang dapat  membuatku tersipu malu. Kael menyuruhku untuk turun dan ikut bermain di bawah air hujan. Entah apa mantra yang ia ucapkan hingga aku tergerak untuk menuruti ucapannya. Akupun bergegas turun dan mengambil mantel plastik yang warnanya senada dengan kael karena ia sengaja membelikannya untukku. Katanya, jaga-jaga kalau aku mau ikut bermain dengannya saat hujan turun sewaktu-waktu. Lucu bukan, betapa perhatiannya ia denganku dan selalu membujukku untuk mau bergabung dengannya saat hujan turun.

 

Dan di sinilah aku berdiri, di sampingnya menuruti ucapannya untuk bergabung bersama. Kael dengan tawa riangnya langsung menarikku untuk menikmati air hujan yang sudah membasahi area tubuh kami yang tidak tertutupi mantel. Aku mengikuti langkah Kael yang berlarian ke sana ke mari, menirukan tarian konyolnya, dan saling mencipratkan air dengan riang dan tawa yang lebar hingga wajahku dan ia sama-sama sudah basah. Kael sangat senang dapat mengajakku untuk menikmati air hujan bersama.

 

Tawa dan kegembiraan kami saat itu benar benar menjadi energi positif satu sama lain. Tak luput, ia selalu mengucapkan rasa syukurnya karena aku telah mau bergabung dengan dirinya. Perasaan hangat dan nyaman meliputiku karena tawa dan energinya. Aku sudah tak peduli betapa basahnya celanaku karena mantel yang ku gunakan hanya cukup untuk menutupi hingga pinggangku.

 

Sejak saat itu,  hujan tak lagi terasa menakutkan bagiku. Aku mulai menantikan hujan sama halnya dengan menantikan senja. Dan setiap kali hujan turun, aku selalu teringat akan tawa riang yang ia ciptakan. Secara tidak langsung, ia mengajarkanku bahwa terkadang kebahagiaan datang dari hal yang paling sederhana seperti bermain hujan dengan orang terkasih. Aku sangat berterima kasih dengan kael karena dapat menikmati momen yang sekarang menjadi bagian dari penantianku dan karena kael akupun selalu ikut tenggelam dalam tawa riangnya.

 

Penulis: Lathifah An Najla

Penyunting: Adista Putri Revalina

 

Jangan Pulang Sebelum Dijemput

Jangan Pulang Sebelum Dijemput



(Sumber Foto: Lintang Febrianti)

 

Memang,

tidak semua orang tau apa isi tas yang sedang kita gendong, tidak semua orang tau berapa kilogram berat tas yang sedang kita gendong.

Tapi tolong,

jika lelah letakkanlah saja dulu.

Dan segera mulailah mencari tempat untuk kau dapat bersinggah sejenak, sembari berbagi isi tas yang telah kau gendong entah berapa lama itu.

Jangan terlalu buru-buru kau buang tas dan sekujur tubuhmu itu ke tempat yang orang-orang biasanya menyebut tempat itu dengan sebutan tempat berpulang.

 

Penulis: Lintang Febrianti

Penyunting: Adista Putri Revalina

Proyek Kemanusiaan Di Panti Asuhan Karuna: Lebarkan Senyuman, Hilangkan Ejekan

Proyek Kemanusiaan Di Panti Asuhan Karuna: Lebarkan Senyuman, Hilangkan Ejekan


 

Dokumentasi foto bersama anak anak panti Karuna

(Sumber foto : Nadia Kusuma Murti)

 

SURAKARTA, 11 Juni 2026—Mahasiswa Program Studi BK Semester 2 kelompok 1, sedang melaksanakan proyek Kemanusiaan di Panti Asuhan Karunia Putra. Kegiatan ini didasari dari tugas mata kuliah Keslametriyadian yang mengusung tema 5A—yaitu “Anti-Intoleransi, Anti-Bullying, Anti-Korupsi, Anti-Kekerasan Seksual, dan Anti-Narkoba.”

Panti Asuhan dipilih sebagai bentuk kepedulian kami kepada anak-anak panti yang kami nilai rentan terdampak kasus-kasus bullying. Maka dari itu, kami mengusung tema khusus yaitu Anti-Bullying kepada anak-anak panti.  Bidang anti Anti-Bullying juga merupakan bidang yang sering kami disinggung dalam perkuliahan dan merupakan bidang yang paling kami kuasai dari pada bidang lainnya.

Dalam pelaksanaannya, kami memberikan materi mengenai bullying dan dilanjut pemberian game kepada anak-anak panti. Materi yang disampaikan kepada anak-anak panti, cenderung mengarah kepada yang harus dilakukan ketika menjadi korban bullying dan ajakan untuk menghindari bullying dalam bentuk apapun.

Setelah pelaksanaan kegiatan ini, kami menyimpulkan bahwa isu bullying dalam ruang lingkup panti asuhan adalah hal yang nyata dan merupakan perhatian yang serius. Dampak dari bullying pada anak panti adalah perilaku anak panti yang cenderung tertutup dan membatasi diri dengan lingkungannya. Hal ini berbahaya karena dapat berimbas pada masa depan anak tersebut.

Oleh karena itu, pemberian materi bullying bukan hanya sebagai pemberian informasi bullying semata, melainkan bentuk kepedulian kami mengenai masa depan anak-anak panti. Besar harapan kami dengan adanya kegiatan ini, semoga anak-anak panti dan pihak panti di Karuna dapat lebih sadar lagi mengenai masalah bullying dan dampak dari bullying ini.

 

 

Penulis: Faras Al Falah

Penyunting: Adista Putri Revalina

Mahasiswa Solo Raya Gelar Aksi di DPRD, Suarakan Lima Tuntutan dan Soroti Dugaan Represi Aparat

Mahasiswa Solo Raya Gelar Aksi di DPRD, Suarakan Lima Tuntutan dan Soroti Dugaan Represi Aparat



 


Sumber foto : Koko Novianto 


Surakarta, 12 Juni 2026 — Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam aliansi mahasiswa Solo Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Surakarta, Jumat (12/6). Aksi tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.


Sejak siang hari, massa aksi memadati kawasan depan gedung dewan dengan membawa poster, spanduk, serta menyampaikan orasi secara bergantian. Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa mengajukan lima tuntutan utama yang mereka nilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.


Kelima tuntutan tersebut meliputi evaluasi dan penghentian program yang dianggap membebani anggaran negara, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, penolakan keterlibatan militer dalam ranah sipil, serta desakan agar pemerintah mengakui dan mengevaluasi berbagai kebijakan yang dinilai bermasalah.


Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu isu yang paling banyak disoroti dalam aksi tersebut. Mahasiswa menilai program itu perlu dikaji ulang secara menyeluruh, baik dari sisi efektivitas pelaksanaan maupun penggunaan anggarannya. Selain itu, mereka juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai semakin tertekan akibat kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan bahan bakar.


Tak hanya membahas persoalan ekonomi, demonstrasi tersebut juga mengangkat isu demokrasi dan tata kelola pemerintahan. Dalam berbagai orasi, mahasiswa menuntut pemerintah untuk lebih terbuka terhadap kritik masyarakat, menjamin ruang partisipasi publik, serta menjalankan prinsip transparansi dalam proses pengambilan kebijakan.


Menurut massa aksi, kebijakan publik seharusnya disusun dengan melibatkan masyarakat dan berorientasi pada kebutuhan rakyat. Mereka menilai kritik yang disampaikan warga negara merupakan bagian penting dari mekanisme demokrasi yang harus dihormati.


Situasi sempat memanas ketika dua mahasiswa diamankan oleh aparat kepolisian di tengah berlangsungnya aksi. Peristiwa tersebut terjadi setelah adanya ketegangan di sekitar barikade pengamanan. Tindakan aparat itu kemudian memicu reaksi dari peserta demonstrasi yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan menyampaikan pendapat.


Menanggapi hal tersebut, Kapolresta Surakarta, Kombes Pol. Catur Cahyono Wibowo, menegaskan bahwa tidak ada proses penangkapan maupun penahanan terhadap kedua mahasiswa tersebut. Menurutnya, keduanya hanya diamankan sementara untuk mengendalikan situasi di lapangan dan mencegah terjadinya gesekan yang lebih besar.


“Keduanya tidak ditahan dan tidak diproses hukum. Setelah situasi kondusif, mereka kembali bergabung dengan peserta aksi,” ujarnya.


Pihak kepolisian juga menyatakan tetap menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Pengamanan yang dilakukan, menurut polisi, bertujuan menjaga ketertiban serta menghindari potensi bentrokan yang dapat membahayakan peserta aksi maupun pengguna jalan.


Meski sempat diwarnai ketegangan, demonstrasi berlangsung hingga sore hari dengan situasi yang relatif kondusif. Perwakilan mahasiswa kemudian menyerahkan tuntutan kepada DPRD Kota Solo untuk diteruskan kepada pemerintah pusat. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, massa aksi membubarkan diri secara tertib.


Aksi di DPRD Solo menjadi bagian dari gelombang demonstrasi mahasiswa yang digelar serentak di berbagai daerah pada 12 Juni 2026. Melalui aksi tersebut, mahasiswa menegaskan peran mereka sebagai kontrol sosial yang bertugas mengawal jalannya pemerintahan serta menyuarakan aspirasi masyarakat di tengah berbagai persoalan ekonomi, sosial, dan politik yang berkembang. Bagi massa aksi, penyampaian lima tuntutan tersebut bukan menjadi akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengawalan terhadap respons dan langkah nyata pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan yang mereka suarakan.



Reporter: Adyuta Rafi & Koko Novianto

Penulis: Koko Novianto

Penyunting: Lathifah An Najla


Jarak dalam Dekapan

Jarak dalam Dekapan


(Sumber: Pinterest)

 

Selasa, 9 Juni 2026

 

-Latar Tempat & Suasana-

Sore hari di teras rumah. Gerimis tipis baru saja turun. Gibran (8 tahun) duduk di bangku teras sambil memainkan roda mobil-mobilan plastiknya yang rusak. Mbak Sri (45 tahun), pengasuhnya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, sedang melipat baju di dekatnya.

 

-Dialog-

Gibran: (Tanpa melihat Mbak Sri, jarinya sibuk memutar roda mainan)

"Mbak Sri... kalau ibunya Rio itu baik banget, ya?"

Mbak Sri:

(Menoleh, tersenyum ramah)

"Lho, memangnya kenapa, Mas Gibran? Semua ibu kan memang baik."

Gibran:

"Kata Rio enggak semuanya. Rio bilang, ibunya paling baik karena enggak pernah pergi kerja. Tiap hari nemenin Rio main lego, terus kalau

pulang sekolah selalu ada di depan gerbang."

(Gibran berhenti memutar roda mainannya, suaranya merendah)

 "Kata Rio... kalau Ibu sayang

sama Gibran, Ibu pasti milih di rumah aja, enggak naik pesawat jauh-jauh setiap minggu."

Mbak Sri:

(Menghentikan lipatan bajunya, menatap Gibran dengan lembut. Ia bergeser duduk di lantai teras, sejajar dengan kursi Gibran)

"Mas Gibran sini, lihat Mbak Sri."

(Gibran menoleh lambat-lambat, matanya agak berkaca-kaca)

Mbak Sri:

"Rio beruntung punya ibu yang bisa nemenin setiap hari. Tapi, Mas Gibran tahu tidak? Sayangnya seorang ibu itu bentuknya beda-beda. Ibunya Rio menyayangi Rio dengan cara menjaga di rumah. Kalau Ibu..."

 (Mbak Sri mengusap rambut Gibran)

"...Ibu menyayangi Mas Gibran dengan cara berjuang di luar."

Gibran:

"Tapi Gibran kan kangen, Mbak. Apa Ibu enggak kangen Gibran?"

Mbak Sri:

"Aduh, Gusti... setiap malam sebelum Mas Gibran tidur, siapa yang selalu telepon dari kota seberang? Siapa yang selalu nangis kalau dengar Mas Gibran batuk? Ibu itu kerja keras biar Mas Gibran bisa sekolah yang bagus, bisa beli buku cerita yang Mas suka, dan bisa makan makanan

yang sehat. Ibu melepas waktu mainnya sama Mas Gibran, justru demi masa depannya Mas Gibran. Itu pengorbanan yang berat sekali, lho."

Gibran:

(Terdiam sebentar, mencerna kalimat Mbak Sri)

"Jadi... Ibu pergi kerja bukan karena bosan sama Gibran?"

Mbak Sri:

(Terkekeh kecil, memeluk pundak Gibran)

"Mana ada ibu yang bosan sama anak seganteng dan sepintar ini. Ibu itu selalu ingin pulang, Mas. Setiap hari, yang dihitung Ibu itu bukan berapa banyak uangnya, tapi berapa hari lagi bisa peluk Mas Gibran."

Gibran:

(Mulai tersenyum tipis, meremas kaos Mbak Sri)

"Nanti kalau Ibu telepon... Gibran mau bilang kalau Gibran juga sayang Ibu. Biar Ibu enggak capek kerjanya."

Mbak Sri:

"Nah, itu baru jagoannya Ibu."

 

“Luka di Balik Layar Kaca”

Pukul sembilan malam, rintik gerimis berubah menjadi hujan lebat yang menghantam atap seng teras. Di dalam kamar yang sepi, sebuah ponsel di atas meja belajar bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan foto seorang wanita dengan senyum lelah namun dipaksakan, berlatar belakang lampu-lampu kantor yang temaram. Di bawah foto itu tertulis: Ibu Calling. Gibran hanya menatap layar itu dari atas tempat tidurnya. Ada rindu yang berdenyut di dadanya, tetapi kalimat Rio siang tadi—“Ibuku baik karena nggak kerja, ibumu pasti nggak betah di rumah”—telah berubah menjadi duri yang menyumbat hatinya. Biasanya, Gibran akan berebut

ponsel itu dari tangan Mbak Sri. Namun malam ini, ia melingkarkan lengannya di lutut, menyembunyikan wajahnya di sana.

 

Mbak Sri berjalan pelan masuk ke kamar, membawa ponsel yang masih bergetar. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ia tahu, di ujung telepon sana, seorang ibu sedang menahan kantuk dan lelah demi mendengar suara anaknya.

"Mas Gibran... Ibu telepon, Nak. Angkat, ya? Kasihan Ibu baru selesai rapat," bujuk Mbak Sri lembut, menyodorkan ponsel itu. Gibran menggeleng kuat-kuat di dalam pelukan lututnya. "Enggak mau. Bilang sama Ibu, Gibran sudah tidur."

Namun, Mbak Sri telanjur menggeser tombol hijau dan menyalakan fitur speaker. Suara dari seberang sana langsung memenuhi kamar—suara yang serak, lelah, namun berusaha terdengar riang.

"Halo, Sayang? Gibran-nya Ibu belum tidur, kan? Ibu tadi beli komik pahlawan yang Gibran cari kemarin, lho. Nanti akhir bulan Ibu bawa pulang,

ya?"

 

Mendengar suara itu, pertahanan Gibran runtuh. Ia tidak menyambutnya dengan tawa. Tangis yang ditahannya sejak siang pecah menjadi ledakan kecil yang bergetar. Ia merebut ponsel itu dengan tangan gemetar, lalu berteriak di depan layarnya.

"Gibran nggak butuh komik, Ibu! Gibran nggak butuh mainan baru!" teriaknya dengan suara serak, air mata kini membasahi pipinya yang kemerahan. "Rio selalu ditemani ibunya kalau hujan petir begini! Kenapa Ibu harus pergi jauh? Apa Ibu nggak sayang sama Gibran? Apa Ibu

lebih suka sama kantor Ibu daripada sama Gibran?"

Hening. Seketika, petir di luar rumah seolah kalah senyap dengan keheningan yang tercipta di seberang telepon.

Hanya terdengar suara napas yang tertahan, lalu sebuah isakan halus yang coba disembunyikan. Di kota seberang, di dalam bilik toilet kantor yang sempit, sang ibu merosot duduk di lantai. Air matanya merusak riasan wajah yang dipakainya sejak pagi. Kalimat Gibran menghantam

dadanya lebih keras daripada makian bos atau tekanan target kerja belasan jam sehari.

 

"Gibran..." suara ibunya bergetar hebat, pecah oleh tangis yang tak terbendung lagi. "Maafin Ibu, Nak... Demi Allah, demi Gibran, Ibu ingin sekali ada di sana. Ibu ingin meluk Gibran sekarang..." Suara itu terputus oleh tangis yang tertahan. "Tiap malam Ibu nangis di kamar kos

karena kangen Gibran. Ibu kerja bukan karena nggak sayang... tapi Ibu takut... Ibu takut nanti kalau Ibu nggak kerja, Ibu nggak bisa bawa Gibran ke dokter kalau Gibran sakit... Ibu takut nggak bisa bayar sekolah Gibran... Ibu cuma punya Ibu sendiri untuk berjuang buat Gibran..."

Mbak Sri yang menyaksikan itu langsung memalingkan wajah, menyeka air matanya sendiri dengan ujung daster. Ia tahu betul sejarahnya; bagaimana ibu Gibran harus menjadi tulang punggung tunggal setelah suaminya pergi tanpa tanggung jawab.

 

Gibran terpaku. Untuk pertama kalinya, ia mendengar ibunya—sosok yang selalu terlihat kuat dan rapi di matanya—menangis sekencang itu.

Tangisan yang bukan karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat. Bocah delapan tahun itu menyadari satu hal yang

melampaui usianya: Ibunya tidak sedang bersenang-senang di luar sana. Ibunya sedang terluka, sama seperti dirinya. Dengan tangan yang masih basah oleh air mata, Gibran mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Rasa marahnya menguap, digantikan oleh rasa

sesal yang teramat dalam.

 

"Ibu..." bisik Gibran, suaranya parau dan terputus-putus oleh sisa tangis. "Ibu jangan nangis... Gibran minta maaf. Gibran nggak marah lagi sama Ibu. Gibran... Gibran cuma kangen."

Di seberang sana, sang ibu menyeka air matanya dengan tisu toilet, mencoba tersenyum di balik sisa isakannya. "Ibu juga kangen, Sayang. Sebentar lagi Ibu pulang, ya? Ibu janji."

 

Malam itu, jarak ratusan kilometer di antara mereka seolah terkikis oleh tangisan yang jujur. Gibran tertidur sambil mendekap ponsel yang layarnya sudah gelap, sementara di kota lain, seorang ibu kembali ke mejanya dengan mata sembap, melanjutkan pekerjaannya demi anak yang menjadi seluruh alasan hidupnya.

 

"Gema Langkah di Lorong Waktu"

Tiga minggu setelah malam berdarah air mata itu, suasana rumah masih sama, namun ada yang bergeser di dalam dada Gibran. Ucapan Rio tentang “ibu yang baik” tidak lagi terasa seperti pisau, melainkan hanya angin lalu. Gibran mulai belajar membaca tanda-tanda cinta yang tidak.berwujud fisik. Ia menemukannya pada bekal makanan yang selalu dikirim lewat aplikasi ojek daring setiap jam makan siang, pada paket-paket

vitamin yang datang dua hari sekali, dan pada coretan angka di kalender kamarnya—di mana setiap tanggal yang dicoret adalah satu langkah lebih dekat menuju pelukan Ibunya.

 

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sore itu, sebuah taksi berhenti di depan pagar. Gibran yang sedang menggambar di ruang tamu langsung melempar krayonnya. Jantungnya bertalu keras. Dari balik kaca jendela, ia melihat sesosok wanita turun dengan langkah gontai. Wajah Ibunya tampak lebih tirus, lingkaran hitam mengintip di bawah matanya, dan koper kabin yang diseretnya seolah terasa seberat beban hidup yang dipikulnya sendirian. Gibran tidak berlari kencang seperti biasanya. Ia melangkah pelan keluar pintu, menatap Ibunya yang kini berdiri di ujung teras, menurunkan tas

besarnya, lalu merentangkan kedua tangan dengan senyum paling tulus yang pernah Gibran lihat—meski senyum itu membingkai wajah yang

teramat lelah.

 

"Anak Ibu..." bisik Ibunya, suaranya tercekat.

Gibran menghambur ke pelukan itu. Aroma parfum kantor Ibunya bercampur dengan bau matahari dan keringat perjalanan, namun bagi Gibran, itulah aroma 'rumah' yang sesungguhnya. Ia memeluk leher Ibunya erat-erat, merasakan detak jantung wanita itu yang berdegup cepat di.dadanya. Saat itulah, Gibran merasakan sesuatu yang basah menetes di pundak kaosnya. Ibunya kembali menangis dalam diam, mendekapnya seolah takut Gibran akan menguap jika pegangannya longgar.

Namun, Gibran yang sekarang bukan lagi bocah yang merajuk tiga minggu lalu. Ia melonggarkan pelukannya, lalu dengan kedua tangan kecilnya yang masih belepotan bekas krayon, ia mengusap air mata di pipi Ibunya.

 

"Ibu, jangan nangis lagi. Gibran tahu Ibu capek," kata Gibran, suaranya bergetar namun sarat akan keteguhan. "Gibran udah pamerin komik dari Ibu ke Rio. Gibran bilang ke Rio... ibunya Rio hebat karena bisa jaga Rio di rumah. Tapi Ibu Gibran jauh lebih hebat, karena bisa jaga Gibran dari tempat yang jauh."

 

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut anak berusia delapan tahun, tangis Ibunya pecah lagi, namun kali ini bukan karena rasa bersalah, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Ia mencium kening, pipi, dan mata Gibran berkali-kali. Di ambang pintu, Mbak Sri berdiri

mematung sambil menyeka sudut matanya dengan ujung daster, tersenyum menyaksikan bagaimana jarak dan kerinduan telah mendewasakan seorang anak manusia.

 

Malamnya, tidak ada gadget atau layar kaca di antara mereka. Di atas ranjang sempit, Gibran tidur berbantalkan lengan Ibunya yang terasa agak kurus. Sambil mengusap rambut anaknya yang mulai tertidur, sang Ibu berbisik lirih ke udara malam, "Terima kasih sudah bertahan, Sayang. Maafkan Ibu yang harus membelah diri antara menghidupimu dan menemanimu." Gibran tidak menjawab, tapi tangannya menggenggam erat satu jari kelingking Ibunya, sebuah janji tanpa kata bahwa mereka akan selalu baik-baik saja, sekencang apa pun badai di luar sana.

 

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Adista Putri Revalina

Pergi Jadi GURU, Pulang Jadi IBU

Pergi Jadi GURU, Pulang Jadi IBU

Sabtu, 6 Juni 2026


(Sumber Gambar: Pinterest)

 

Matahari bahkan belum sepenuhnya terbangun ketika sebuah motor bebek tua buatan satudekade lalu mulai dipanaskan di teras rumah. Suara mesinnya yang agak pincang memecah keheningan fajar. Di atas jok, seorang wanita muda memeriksa kembali tas kainnya yang mulai pudar warnanya—memastikan tidak ada lem, gunting warna-warni, origami, atau buku cerita bergambar yang tertinggal.

Namanya Rahma. Setiap hari, ia adalah seorang pelari estafet kehidupan yang tangguh. Jarak dari rumahnya dipinggiran kabupaten menuju PAUD tempatnya mengajar adalah 80 kilometer. Pulang-pergi, 160 kilometer aspal harus ia lahap demi senyum anak-anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Menjadi "Ibu" bagi Puluhan Anak Orang Lain

Jalanan subuh sering kali kejam dan tanpa kompromi. Angin dingin menusuk jaket tebal yang dilapisi rompi penahan angin, dan tak jarang hujan badai memaksa Rahma berteduh di emperan toko yang tutup sambil cemas melihat jam digital di pergelangan tangannya.

Pikirannya berkecamuk, takut terlambat menyambut anak-anak yang kerap kali datang lebih awal. Namun, begitu roda motornya menyentuh halaman sekolah yang masih beralaskan tanah dan kerikil, semua lelah itu seolah luruh di gerbang.

"Selamat pagi, Ibu Guru Rahma!" seru kompak suara-suara cempreng bernada riang.

Seorang anak kecil berkuncir dua berlari kencang dari pelukan ibunya, lalu menubruk lutut Rahma erat-eratan. Rahma berlutut di atas tanah, menyamakan tingginya dengan sang murid, lalu mengusap pipi bocah itu yang masih belepotan bekas sarapan nasi goreng.

"Ibu Guru, lihat! Tadi malam aku belajar berhitung sampai sepuluh sama Ayah!" kata si kecil dengan mata membelalak berbinar-binar.

"Hebat sekali Keysha! Coba sekarang Ibu mau dengar, setelah angka lima berapa, ya?" tanya Rahma lembut, menyembunyikan jemarinya yang masih gemetar dan kaku akibat memegang stang motor berjam-jam di udara dingin.

Di ruangan kelas yang sederhana dengan dinding papan yang mulai lapuk, Rahma bukan sekadar mengajar huruf A-B-C atau mengeja kata. Ia bertransformasi total. Ia menyuapi anakyang enggan makan siang karena merindukan orang tuanya, menyeka air mata yang tumpahkarena berebut mainan balok kayu, dan memeluk mereka yang butuh ketenangan setelah terjatuh dihalaman. Diruangan berukuran 4×6 meter itu, ia adalah semesta bagi puluhan anak yang haus akan kasih sayang, perhatian, dan ilmu pengetahuan. Ia adalah "Ibu" yang selalu ada untuk setiap keluh kesah kecil mereka.

Senja kala di Jalanan

Jam dinding di kantor PAUD menunjukkan pukul dua siang ketika tugas mengajarnya usai. Setelah merapikan kembali sisa-sisa krayon dan memastikan ruang kelas bersih, energi Rahma rasanya sudah terkuras habis. Suaranya agak serak dan parau setelah seharian bernyanyi, bercerita, dan menenangkan riuhnya anak-anak. Namun, tugas sejatinya yang lain telah menanti. Ia harus kembali menempuh jarak 80 kilometer perjalanan pulang, menantang kegarangan truk-truk kontainer besar, bus antarkota yang ugal-ugalan, dan paparan debu jalanan yang mulai pekat di bawah terik matahari sore yang menyengat.

Sepanjang jalan, fokus Rahma terbelah menjadi dua. Di balik helmnya yang kusam, bayangan anak kandungnya sendiri, yang baru berusia empat tahun, mulai menari-nari di pelupuk mata. Rasa bersalah kadang menyelusup ke dalam dadanya.

Apakah dia sudah makan siang dengan lahap hari ini?

Apakah dia rewel saat dititipkan dirumah neneknya seharian tadi?

Mengapa aku menghabiskan seluruh energi dan kesabaranku untuk anak orang lain, sementara anakku sendiri harus sabar mengantre sisa waktu dan tenagaku dirumah?

Setiap tarikan gas motornya adalah lambang gejolak rindu dan rasa bersalah yang ingin segera ia tuntaskan di ujung jalan nanti.

Kembali ke Pelukan yang Sebenarnya

Pukul lima sore lewat sedikit, motor tua itu akhirnya kembali terparkir di halaman sebuah rumah sederhana. Mesinnya berderit, kepanasan setelah menempuh perjalanan panjang. Tubuh Rahma terasa lengket oleh keringat yang mengering, berpola debu hitam di sekitar leher dan wajahnya yang kusam. Begitu standar motor ditegakkan dengan sisa tenaga yang ada, pintu rumah kayu itu terbuka lebar. Seorang anak laki-laki kecil dengan kaus oblong longgar berlari kencang tanpa alas kaki ke arahnya.

"Ibuuuu! Ibu sudah puwaaang!"

Rahma secara refleks merentangkan kedua tangannya yang letih, namun tiba-tiba ia menariknya kembali ke belakang tubuhnya. Ia melihat ke bawah, memandangi bajunya yang kotor dan berbau asap knalpot jalanan raya.

"Sayang, sebentar ya... Jangan dekat-dekat dulu. Ibu kotor sekali, banyak debu di baju Ibu. Ibu mandi dan bersuci dulu, baru setelah itu kita peluk yang lama, ya?" bisik Rahma dengan suara bergetar, matanya mendadak berkaca-kaca menahan rindu yang membuncah.

Anak kecil itu menggeleng kuat-kuat dengan wajah cemberut, mengabaikan peringatanibunya, dan langsung menubrukkan badannya ke pelukan Rahma. "Enggak apa-apa, Bu. Aku enggak takut kotor. Aku cuma kangen banget sama Ibu."

Dalam dekapan hangat di teras rumah yang mulai temaram itu, air mata Rahma akhirnya luruh, membasahi pundak kecil anaknya. Rasa lelah yang menumpuk sedari perjalanan yang ditempuhnya setiap hari menguap begitu saja tanpa bekas, digantikan olehkehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rumah itu kini kembali lengkap.

Catatan Jurnalis

Kisah Rahma adalah sebuah potret nyata tentang dedikasi yang melampaui angka-angka matematis di spidometer kendaraan. Di atas aspal yang panas dan di antara debu jalanan, ia mengukir arti sebuah ketulusan. Baginya, 80 kilometer berangkat adalah sebuah perjalanan suci untuk membagikan masa depan dan harapan kepada anak-anak bangsa. Dan 80 kilometer pulang adalah sebuah perjalanan pulang yang sakral untuk menjemput kebahagiaan sejatinya yang paling murni.

Di pagi hari, ia dengan tegar melepaskan perannya di rumah demi menjadi seorang guru yang digugu dan ditiru di sekolah. Namun di sore hari, ia menanggalkan seluruh status kedinasandan keprofesionalannya di pintu rumah, demi kembali menjadi madrasah pertama dan pelabuhan terbaik bagi darah dagingnya sendiri.

Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya, yang bertarung di jalanan setiap hari.

Pergi jadi guru, pulang jadi ibu.

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby


Kidung Cintaku, Bapak Bagian I: Jangkar yang Telah Pergi

Kidung Cintaku, Bapak Bagian I: Jangkar yang Telah Pergi

 

(Sumber foto: Pinterest)

Senin, 1 Juni 2026ung Cintaku, Bapak

Aku masih ingat..atau mungkin tepatnya selalu merasakan, bagaimana bumi melunak saat aku pertama kali menghirup udara dunia. Kelahiranku disambut sejuk oleh sepasang tanganmu, Pak. Tatapan matamu hari itu seolah meneduhkan segala riuh, menjadi jangkar pertama bagi jiwa kecilku yang baru saja memulai perjalanannya. Sejak detik itu, aku tahu aku aman. Bapak adalah sebuah telaga kasih yang airnya tidak pernah surut. Waktu boleh mengikis banyak hal, usia boleh merenggut tenagamu, namun hangatnya kasih sayangmu tidak pernah padam.  

Bahkan sampai di titik paling sunyi, saat kelopak matamu perlahan menutup untuk selamanya, sisa kehangatan itu masih tertinggal di genggaman tanganmu yang mendingin. Bapak pergi membawa separuh jiwaku. Hari itu, aku resmi kehilangan cinta pertamaku. Ketika monitor rumah sakit menampilkan garis lurus yang dingin dan suara dengung yang panjang memutus harapan kami. Duniaku runtuh seketika. Aku mencoba memeluk tubuhmu yang mulai kaku, membisikkan kata demi kata agar kau kembali membuka mata, namun takdir berkata lain. Kepergianmu meninggalkan lubang besar yang menganga di dada. Sebuah kehancuran jiwa yang begitu hebat hingga aku sempat mengira tidak akan pernah bisa melangkah lagi.  

Berhari-hari setelah pemakamanmu, rumah terasa begitu asing tanpa aroma kopi hitam di pagi hari dan suara deham khasmu dari teras depan. Aku terjebak dalam labirin kesedihan yang gelap. Namun, di tengah hancurnya jiwaku, ingatan tentang ketegaranmu perlahan-lahan datang bagai lentera kecil. Aku sadar, membiarkan diriku larut dalam keterpurukan bukanlah hal yang kau inginkan. Menangisimu adalah hal yang manusiawi, tetapi menyerah pada hidup berarti menyia-nyiakan seluruh perjuangan yang telah kau korbankan untuk membesarkanku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku mencoba bangkit, mengumpulkan kembali kepingan hatiku yang berserakan, dan belajar untuk berjalan lagi—meski dengan langkah yang tertatih.

Bagian II: Sempurna Dalam Kurang

Jika dunia melihatmu dengan segala batasan, mata anak perempuanmu ini punya lensanya sendiri. "Bapak memang banyak kurangnya, tapi ia selalu sempurna di mataku." Setiap peluh yang kau usap diam-diam, setiap kecewa yang kau sembunyikan di balik senyum lelahmu adalah bukti kemegahan hatimu. Bapak tidak perlu menjadi pahlawan bagi dunia, karena bagi jiwaku, Bapak adalah definisi dari ketulusan yang utuh.  

Ada satu momen yang abadi, yang selalu sukses melelehkan pertahananku setiap kali mengingatnya. Hari itu, saat kau menyerahkan tanggung jawabmu pada laki-laki pilihan hatiku, kau berbisik padanya dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.

"Anak perempuan pertama adalah cinta pertama bapaknya."

Kalimat itu Pak, adalah mahkota terindah yang pernah kupakai. Kalimat yang membuatku sadar betapa beruntungnya aku telah dicintai sedalam itu oleh seorang laki-laki hebat sebelum dunia sempat mengenalkanku pada patah hati.  

Ingatanku kemudian melesat jauh ke belakang, ke masa-masa seragam putih-abu-abu. Pak, masih ingatkah kau pada masa SMA-ku dulu? Pagi itu langit tampak mendung, dan aku sudah dirundung cemas karena takut terlambat mengikuti ujian di sekolah. Dengan sigap, kau mengeluarkan Vespa tuamu yang berwarna hijau pudar—kendaraan legendaris yang suaranya selalu memecah keheningan gang rumah kita. Sepanjang jalan, kepalaku dipenuhi rasa takut: takut tidak bisa menjawab soal, takut mengecewakanmu, dan takut akan masa depan.

Di atas motor yang berguncang itu, di antara deru mesin yang bising, kau sedikit menoleh ke belakang dan berkata,

“Tenang aja, Nduk. Selama ada Bapak, semua akan baik-baik saja.”

Kata-kata sederhana itu ajaib, Pak. Seketika itu juga, semua gemuruh di kepalaku mereda. Pelukan eratku pada pinggangmu menjadi bukti bahwa aku sepenuhnya percaya pada janjimu. Bagiku, punggung lebar Bapakkulah benteng terkuat di dunia ini.

Padahal, jika aku berkaca pada masa lalu, sering sekali aku membuat hatimu terluka. Aku bukan anak perempuan yang selalu penurut. Ada masa di mana aku merasa lebih tahu segalanya, termasuk saat dirimu melarangku untuk berpacaran karena ingin aku fokus pada sekolah. Ego remajaku berontak. Aku melanggar larangan itu secara sembunyi-sembunyi, mengira kau tidak akan pernah tahu. Namun, ketajaman insting seorang ayah tak bisa dibohongi. Ketika kau mengetahuinya, tidak ada amarah yang meledak-ledak atau bentakan yang keluar dari mulutmu. Kau hanya menatapku dengan mata yang sarat akan rasa kecewa, sebuah tatapan yang justru jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.

“Bapak hanya ingin kamu tidak salah melangkah, Nduk,” ucapmu lirih malam itu di meja makan.

Rasa bersalah langsung menghunjam jantungku. Di hadapan ketulusan dan kekhawatiranmu, aku berjanji dalam hati untuk menebus kesalahan itu. Aku memutus semua hal yang bisa mendistraksi impianku dan mengalihkan seluruh energiku untuk belajar. Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa anak perempuanmu ini bisa bangkit dan menjadi yang terbaik.

Berbulan-bulan aku mengurung diri dengan buku-buku tebal, hingga hari pengumuman itu tiba. Air mataku tumpah saat namaku disebut sebagai Juara 1 Olimpiade Ekonomi Tingkat Jabodetabek. Aku pulang membawa piala besar itu dan langsung menghambur ke pelukanmu. Aku masih ingat betul bagaimana matamu berkaca-kaca, dan senyum lebar yang terukir di wajahmu menjadi hadiah paling mewah yang pernah kuterima. Kau bangga, dan rasa banggamu menghapus seluruh rasa bersalahku.

Bagian III: Berjalan dalam Rindu

Pak, lihatlah anak perempuanmu sekarang. Aku masih berdiri di sini, tegap di atas kedua kakiku. Namun, jangan salah mengira ini karena aku kuat tanpamu. Tidak, aku tidak pernah sekuat itu. Aku tetap melangkah bukan karena lukaku telah sembuh, melainkan karena bumi menolak untuk berhenti berputar. Hidup tetap harus berjalan, Pak. Tugas-tugasku di dunia belum usai, dan amanah yang kau titipkan harus tetap kujaga.  

Sekarang, aku hanya sedang menjalani sisa waktu yang diberikan-Nya untukku.

Menghabiskan sisa napas, merawat rindu yang kian membuai, sampai nanti tiba saatnya ketukan itu datang kepadaku. Kerinduan ini kini kutransformasikan menjadi energi untuk menyelesaikan segala hal baik yang pernah kita cita-citakan bersama. Setiap kali aku merasa lelah dengan tekanan dunia kerja dan kehidupan dewasa, aku selalu memejamkan mata dan membayangkan diriku kembali berada di boncengan Vespa tuamu, mendengar suaramu yang menenangkan badai.  

Aku bertahan, semata-mata demi hari di mana aku bisa berlari lagi ke pelukanmu, mengadukan betapa beratnya dunia tanpamu, dan kembali mendengar suaramu menyambutku dengan sejuk yang sama. Kelak, ketika giliranku tiba, aku ingin menghampirimu tanpa membawa rasa malu, melainkan membawa laporan panjang tentang bagaimana aku telah menjaga diriku dan menghormati namamu dengan baik di dunia.  

Sampai bertemu lagi, Cinta Pertamaku.  

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Adista Putri Revalina

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done