LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Riuh Representasi, Sunyi Substansi: Catatan untuk Arah Gerakan Mahasiswa

Riuh Representasi, Sunyi Substansi: Catatan untuk Arah Gerakan Mahasiswa

 

Riuh Representasi, Sunyi Substansi: Catatan untuk Arah Gerakan Mahasiswa


 Ilustrasi : Jendra

Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika organisasi kemahasiswaan memperlihatkan kecenderungan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Aktivitas tampak semakin padat, publikasi semakin rapi, dan simbol-simbol representasi hadir silih berganti dalam ruang digital maupun forum seremonial. Pada permukaan, semua itu terlihat sebagai tanda kehidupan yang sehat. Namun ketika diamati lebih dalam, muncul pertanyaan yang tak selalu nyaman diajukan: apakah keramaian tersebut benar-benar menandakan perubahan, atau sekadar memastikan bahwa representasi tetap terlihat bekerja?

Kecenderungan menempatkan tampilan sebagai ukuran keberhasilan perlahan membentuk cara pandang baru dalam gerakan mahasiswa. Keberadaan organisasi tidak lagi terutama diukur dari dampak sosial yang dihasilkan, melainkan dari intensitas kemunculan di ruang publik. Dokumentasi menjadi bukti utama kerja, sementara refleksi sering kali tertinggal. Di titik inilah pergeseran orientasi mulai terasa dari kerja nilai menuju kerja citra.

Ruang kepemimpinan mahasiswa  semestinya menjadi jembatan aspirasi publik kampus menghadapi tantangan serius. Bahasa-bahasa advokasi tetap diucapkan, tetapi keberanian mengambil posisi tidak selalu mengikutinya. Kritik diterima sepanjang tidak mengguncang stabilitas dan pertanyaan dipelihara sejauh tidak mengganggu kenyamanan relasi. Akibatnya, gerakan tetap bergerak secara administratif, namun kehilangan daya dorong etik yang seharusnya menjadi ruhnya.

“Ketika representasi lebih sibuk terlihat bekerja daripada benar-benar bekerja, di situlah gerakan mulai kehilangan maknanya.”

Situasi ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari budaya organisasi yang semakin menekankan pengelolaan citra dibanding pengelolaan keberpihakan. Logika popularitas perlahan menyusup ke dalam praktik kepemimpinan mahasiswa, menjadikan visibilitas sebagai tujuan tersendiri. Dalam kondisi demikian, keberanian sering dianggap risiko sementara kehati-hatian yang berlebihan dipersepsikan sebagai kebijaksanaan.

Padahal, sejarah panjang gerakan mahasiswa menunjukkan arah yang berbeda. Gerakan memperoleh legitimasi bukan karena kerapian acaranya, melainkan karena keberanian sikapnya. Ia diingat bukan karena ramai dokumentasi, tetapi karena jelas keberpihakannya. Ketika jarak kritis terhadap kekuasaan melemah; termasuk terhadap kekuasaan representatif di dalam dirinya sendiri, gerakan perlahan berubah menjadi rutinitas yang kehilangan daya transformasi.

“Gerakan mahasiswa tidak pernah runtuh oleh ketiadaan kegiatan, melainkan oleh hilangnya keberanian.”

Di tengah kecenderungan tersebut, masih terdapat ruang-ruang kecil yang memilih jalan berbeda. Ruang yang tidak selalu terlihat, tidak selalu populer, dan sering berjalan dengan keterbatasan. Kerja mereka berfokus pada pencatatan, pengujian, serta perawatan ingatan kolektif kampus. Mereka hadir bukan untuk meramaikan panggung, tetapi untuk memastikan bahwa nilai tidak sepenuhnya tenggelam dalam rutinitas.

Langkah semacam ini kerap tertatih. Dukungan terbatas, fasilitas sederhana, bahkan sesekali berhadapan dengan keheningan yang tidak netral. Namun justru dari posisi rentan tersebut lahir fungsi penting dalam ekosistem akademik: kontrol moral terhadap kekuasaan representatif. Fungsi yang jarang terlihat, tetapi menentukan kesehatan intelektual kampus dalam jangka panjang.

Tanpa kontrol moral, kepemimpinan mahasiswa berisiko berubah menjadi sekadar administrasi partisipasi aktif secara prosedural, namun lemah secara keberpihakan. Mahasiswa belajar mengelola forum, tetapi tidak belajar mengelola keberanian. Terampil menyusun pernyataan, tetapi ragu mempertahankan kebenaran ketika berhadapan dengan tekanan. Pendidikan demokrasi kehilangan kedalamannya ketika keberanian tidak lagi dipraktikkan.

  “Kampus tidak kekurangan kegiatan. Yang sering hilang adalah keberanian untuk jujur.”

Persoalan ini pada akhirnya melampaui batas organisasi tertentu. Ia menyentuh arah etika gerakan mahasiswa secara keseluruhan. Jika representasi terus bergerak tanpa refleksi, maka aktivisme berisiko bergeser menjadi seremonial. Ia tetap berbicara, tetapi tidak lagi mengubah. Ia tetap hadir, tetapi tidak lagi menggugah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan generasi yang aktif secara administratif namun miskin sensitivitas sosial.

Keramaian tentu bukan sesuatu yang harus ditolak. Energi kolektif, koordinasi, dan komunikasi tetap merupakan kebutuhan nyata dalam kehidupan kemahasiswaan. Namun keramaian tanpa kedalaman hanya melahirkan gema sesaat. Sebaliknya, kerja sunyi yang menjaga nilai sering kali justru menentukan arah kesadaran jangka Panjang, meski tidak selalu mendapatkan sorotan.

Pertanyaan mendasarnya menjadi sederhana namun menentukan: apakah kepemimpinan mahasiswa hadir untuk mengelola citra gerak, atau benar-benar menggerakkan perubahan? 
Jawaban atas pertanyaan ini akan membentuk wajah kemahasiswaan di masa depan; apakah tetap menjadi ruang pembelajaran keberanian sosial atau berubah menjadi panggung representasi yang sibuk tetapi dangkal.

Pada akhirnya, waktu akan menyaring seluruh bentuk gerak. Bukan siapa yang paling sering tampil, melainkan siapa yang tetap setia menjaga nilai ketika sorotan telah redup. Dari situlah makna gerakan mahasiswa akan kembali diukur. Bukan oleh riuhnya representasi, tetapi oleh keteguhan substansi.


Penulis: Senja
Penyunting: Adista Putri Revalina


Pemahat yang Kehilangan Bayangan

Pemahat yang Kehilangan Bayangan

 

 

Di Desa Sentani, kebenaran diukur dengan penggaris. Setiap rumah, taman, hingga letak cangkir di atas meja harus tunduk pada hukum simetri. Penduduknya percaya bahwa ketidakseimbangan adalah pintu masuk bagi nasib buruk. Namun, obsesi ini paling nyata terlihat di galeri-galeri pemahatnya. Arga, seorang pemahat yang rambutnya telah memutih tertutup debu marmer, telah menghabiskan lima puluh tahun hidupnya mengikuti cetakan besi. Di desa itu, pemahat tidak menggunakan imajinasi mereka menggunakan cetakan standar agar setiap patung yang dihasilkan serupa satu sama lain. Sempurna, mulus, mengkilap, dan bagi Arga yang mulai jenuh sangat membosankan.

 

Suatu malam, saat cahaya bulan masuk melalui celah jendela studionya, Arga menatap bayangannya di dinding. Ia tersentak. Bayangannya tampak samar, hampir transparan. Ia merasa bahwa dengan setiap patung identik yang ia buat, sebagian dari jiwanya menguap. Ia sedang kehilangan dirinya sendiri karena terus menjadi mesin peniru. Keesokan paginya, sebuah palu godam menghantam cetakan besi milik Arga. Suara dentingnya mengejutkan seluruh desa. Arga tidak peduli. Ia berdiri di depan bongkahan marmer carrara yang masih murni. Ia tidak lagi melihat sketsa. Ia membiarkan jemarinya meraba permukaan batu, merasakan retakan-retakan alami dan mengikuti urat batu yang tersembunyi.

 

Ia memahat dengan tangan yang gemetar. Bukan karena ia takut, tapi karena otot-ototnya sedang mempelajari cara menjadi bebas. Pahatnya tidak lagi bergerak lurus. Ia mengikuti lekukan yang ganjil. Selama tiga hari tiga malam, Arga tidak tidur. Ia tidak sedang membuat patung; ia sedang membebaskan sesuatu yang terperangkap di dalam batu itu. Hasilnya? Sebuah patung manusia yang aneh. Bahunya miring sebelah seolah sedang memikul beban berat. Wajahnya tidak rata satu matanya tampak sedikit tertutup, memberikan kesan ia sedang menahan tangis atau mungkin sedang bermimpi.

 

Penduduk desa berkumpul di depan studionya. Cemoohan pecah seketika. "Arga, kau sudah gila? Lihat sisi kirinya, tidak sama dengan sisi kanannya!" seru kepala desa. "Ini bukan karya ahli, ini sampah! Ini adalah kecacatan yang memalukan!" teriak pemahat lain yang bangga dengan cetakan mereka.


Arga hanya tersenyum tipis, matanya yang lelah menatap matahari yang mulai terbenam. Saat cahaya oranye terakhir menyentuh desa, sebuah pemandangan ajaib tercipta. Patung-patung simetris di sepanjang jalan desa menghasilkan bayangan yang lurus, kaku, dan datar di atas tanah mati ditelan gelap. Namun, patung milik Arga yang miring itu menangkap cahaya dengan cara yang berbeda. Karena permukaannya yang tidak rata, cahaya memantul ke sudut-sudut yang tak terduga. Di atas tanah, bayangan patung itu tampak bergetar, seolah otot-otot batunya sedang bergerak. Bayangan itu tampak hidup, tampak bernapas.

 

Tiba-tiba, sebuah kereta kuda mewah berhenti. Seorang kolektor seni dari kota besar turun. Ia berjalan melewati ribuan patung sempurna di galeri-galeri lain tanpa menoleh sedikit pun. Matanya terkunci pada karya Arga yang berdiri di tengah cemoohan warga. Kolektor itu berlutut, menyentuh tekstur kasar pada wajah patung itu. "Luar biasa," bisiknya parau. "Selama ini saya hanya melihat benda mati di desa ini. Tapi yang satu ini. Ia memiliki rahasia. Ia memiliki cerita."

 

Arga berdiri di sana, melihat bayangannya sendiri di tanah yang kini kembali pekat dan nyata. Ia menyadari sebuah kebenaran besar yang selama ini terkunci di Desa Sentani: Keahlian bukanlah tentang seberapa rapi kita mengikuti aturan atau seberapa halus kita menyembunyikan retakan. Keahlian adalah tentang keberanian untuk menunjukkan luka dalam karya kita, karena di sanalah kehidupan benar-benar bermula.

 

 

 

Penulis: Nadine Bunga Berliana

Penyunting: Adista Putri Revalina

Dari Ngada, Sepucuk Surat yang Menjadi Tamparan bagi Negara

Dari Ngada, Sepucuk Surat yang Menjadi Tamparan bagi Negara

  

Sumber foto: Humas Polres Ngada, dikutip dari Kompas.id

 

 

Kematian seorang siswa sekolah dasar di Kecamatan Jerebu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dipandang sebagai peristiwa individual semata. Di balik kepergian seorang anak berusia 10–11 tahun itu, tersimpan potret nyata tentang kemiskinan, rapuhnya perlindungan anak, dan kegagalan negara menghadirkan pendidikan yang benar-benar melindungi.

 

Anak tersebut ditemukan meninggal dunia tergantung di pohon cengkeh, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada sang ibu. Pesannya singkat dan sederhana, namun menyayat: “Mama, kalau saya mati, jangan cari saya.” Kalimat itu bukan hanya ungkapan perpisahan seorang anak, melainkan teriakan sunyi dari keputusasaan yang tak pernah tertangkap oleh sistem di sekitarnya.

 

Berdasarkan pemberitaan Kompas.id, dugaan pemicu peristiwa ini adalah ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaan uang kurang dari Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. Fakta ini menghadirkan ironi yang pahit. Di tengah kewajiban negara menjamin pendidikan dasar bagi setiap anak, masih ada siswa yang merasa masa depannya runtuh hanya karena kebutuhan sekolah paling mendasar tidak terpenuhi.

 

Korban berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Sang ibu adalah seorang janda yang menanggung lima anak dan bekerja sebagai petani serta buruh serabutan. Untuk meringankan beban ekonomi, korban tinggal bersama neneknya yang telah lanjut usia di sebuah pondok sederhana. Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan tidak hanya menggerus materi, tetapi juga harapan dan kesehatan mental anak.

 

Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi negara, khususnya dalam melihat kembali makna “pendidikan gratis”. Pendidikan dasar tidak cukup dimaknai sebatas bebas biaya sekolah, tetapi juga harus menjamin akses terhadap buku, alat tulis, serta lingkungan belajar yang aman secara psikologis. Ketika aspek-aspek ini diabaikan, sekolah berpotensi menjadi ruang tekanan, bukan ruang perlindungan.

 

Lebih jauh, peristiwa ini memperlihatkan minimnya perhatian terhadap kesehatan mental anak di tingkat sekolah dasar. Anak-anak hidup di era keterbukaan informasi dan penggunaan internet yang semakin bebas, sementara pendampingan psikologis nyaris tidak tersedia. Usulan kepala desa agar sekolah dibekali guru konselor atau pendamping psikolog seharusnya menjadi perhatian serius, bukan sekadar respons sementara atas tragedi.

 

Sebagai mahasiswa, peristiwa ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Negara, masyarakat, institusi pendidikan, dan lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab kolektif untuk memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi hidupnya. Sepucuk surat dari Ngada itu adalah pengingat bahwa kegagalan melindungi anak adalah kegagalan kita bersama.

 

Jika tragedi ini hanya berhenti sebagai berita duka tanpa perubahan kebijakan dan empati yang nyata, maka tamparan itu akan berlalu begitu saja sementara anak-anak yang lain mungkin masih memikul beban yang sama dalam diam.

 

Catatan Redaksi/Penulis

Tulisan ini merupakan opini penulis yang bertujuan mendorong refleksi kritis terhadap perlindungan anak dan sistem pendidikan di Indonesia. Pembahasan dilakukan dengan mengedepankan etika jurnalistik serta tidak dimaksudkan untuk mengglorifikasi tindakan menyakiti diri. Pembaca yang mengalami tekanan psikologis atau membutuhkan bantuan kesehatan mental dianjurkan untuk mencari pendampingan profesional melalui tenaga kesehatan atau layanan kesehatan terdekat.

 

Sumber:

  1. Herin, Frans Pati. “Anak SD Bunuh Diri Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan Bagi Negara”, Kompas.id.
  2. Laporan Jurnalis NTV, Elpin Basan, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
  3. Keterangan Polres Ngada dan perangkat Desa Nenawea.

 

 

Penulis : Luftwaffe D. Kavinara

Penyunting : Lathifah An Najla

Ketika Seragam Tak Lagi Menjadi Pelindung

Ketika Seragam Tak Lagi Menjadi Pelindung

  

Sumber Foto : Pinterest

 

Kasus dugaan pemerkosaan bergilir terhadap seorang remaja 18 tahun di Jambi kembali menampar nurani publik. Kejahatan ini begitu keji, terlebih karena adanya dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum. Seragam yang semestinya melindungi justru dipersepsi sebagai alat intimidasi. Pandangan serupa juga disuarakan oleh sejumlah warganet melalui akun TikTok Najwa Luna, yang menyoroti bagaimana aparat seharusnya menjadi pelindung warga, bukan simbol kekuasaan yang menakutkan bagi korban pencari keadilan.

 

Perlu ditegaskan sejak awal bahwa tulisan ini tidak menghakimi sebelum adanya putusan pengadilan. Namun publik memiliki hak untuk marah, curiga, dan mengawasi proses hukum yang berjalan. Kasus kekerasan seksual, khususnya yang melibatkan relasi kuasa, bukan sekadar persoalan individu. Ia adalah persoalan sistem yang memungkinkan kejahatan serupa terjadi secara berulang.

 

Data nasional menunjukkan bahwa kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kekerasan yang paling sering dilaporkan di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), dari Januari hingga Juni 2024 tercatat lebih dari 11.800 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan sekitar 5.200 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual. Survei nasional juga menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual sepanjang hidupnya, sementara sembilan dari seratus anak pernah menjadi korban kekerasan seksual.

 

Keberanian korban untuk melapor patut diapresiasi. Dalam realitas sosial kita, banyak korban memilih diam. Diam bukan karena tidak terluka, melainkan karena takut, tidak memiliki biaya, atau tidak percaya pada proses hukum. Ketika pelaku diduga berasal dari institusi bersenjata dan berwenang, ketakutan itu menjadi berlipat ganda.

 

Di titik inilah negara diuji. Bukan melalui pernyataan normatif atau konferensi pers yang rapi, melainkan lewat tindakan nyata. Transparansi penyidikan, perlindungan maksimal bagi korban, serta sanksi tegas tanpa kompromi jika pelaku terbukti bersalah menjadi keharusan. Jika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka keadilan hanya akan menjadi slogan kosong. Kepolisian tidak cukup hanya berkata akan menindak tegas. Publik menuntut pembuktian. Pemecatan tidak dengan hormat dan hukuman pidana maksimal bukanlah bentuk kebencian terhadap institusi, melainkan upaya menyelamatkan marwah institusi itu sendiri. Institusi yang melindungi pelaku justru sedang menghancurkan kepercayaan rakyat.

 

Kasus ini kembali mengingatkan bahwa kekerasan seksual bukan insiden terpisah, melainkan fenomena gunung es. Selama korban masih harus berjuang sendirian dan selama keadilan masih bergantung pada viral atau tidaknya sebuah kasus, maka negara belum benar-benar hadir.


Mengawal kasus ini sampai tuntas bukanlah tindakan anti-polisi, melainkan sikap pro-keadilan. Diam, termasuk diamnya institusi, adalah bentuk pengkhianatan terhadap korban-korban lain yang mungkin tak pernah terdengar suaranya.

 

Hukum harus bekerja tanpa takut pada pangkat, seragam, atau jabatan. Jika tidak, yang rusak bukan hanya satu korban, tetapi kepercayaan publik terhadap negara itu sendiri.

 

 

Penulis : Luftwaffe D. Kavinara

Penyunting: Lathifah An Najla

Bagaimanapun ke Depannya, Akan Terus Kuhadapi

Bagaimanapun ke Depannya, Akan Terus Kuhadapi


 

Sumber: Pinterest

 

Apa pun yang menunggu di depan,

Aku memilih untuk tetap melangkah.

 

Hidup memang kadang keras,

Datang tanpa aba-aba,

Tapi aku belajar berdiri, bukan bersembunyi.

 

Aku bisa jatuh,

Aku bisa lelah,

Aku bisa ragu pada diri sendiri,

Namun menyerah bukan bagian dari rencanaku.

 

Aku paham rasanya gagal,

Aku tahu perihnya ditinggalkan,

Tapi semua itu tidak membuat kakiku berhenti.

 

Jika harus sendiri, aku tetap berjalan.

Jika harus perlahan, aku tetap maju.

 

Karena hidup tidak seharusnya dihabiskan untuk takut.

Seberat apa pun langkah ke depan,

Sepanjang apa pun jalannya,

Aku akan tetap menghadapinya.

 

Dengan kepala yang tegak,

Dan hati yang berani,

Aku bertahan,

Aku melawan,

Dan aku terus melangkah.

 

 

Penulis: Nabila Ayu Firnanda R

 


Pansel Nyatakan Seluruh Pelamar CEO Taman Balekambang Gugur Seleksi

Pansel Nyatakan Seluruh Pelamar CEO Taman Balekambang Gugur Seleksi


 

Foto : detik.com

 

Surakarta – Pemerintah Kota Surakarta melalui Panitia Seleksi (Pansel) secara resmi mengumumkan bahwa tidak ada satu pun pelamar posisi Chief Executive Officer (CEO) Taman Balekambang yang lolos tahapan kualifikasi (Senin, 5/1/2026). Keputusan ini diambil setelah tim Pansel menyelesaikan proses kurasi dokumen serta asesmen awal yang ketat terhadap seluruh pendaftar.

Ketua Panitia Seleksi menyatakan bahwa meskipun minat pelamar cukup tinggi, secara kualitas belum ada figur yang dianggap mampu memenuhi kriteria kompleks untuk mengelola kawasan konservasi sekaligus destinasi komersial tersebut. Para pelamar dinilai belum memenuhi skor minimal atau kualifikasi strategis yang mencakup pemahaman manajerial bisnis dan kepekaan terhadap nilai historis serta budaya Balekambang.

Hambatan krusial yang dihadapi para pelamar terletak pada kemampuan menciptakan sumber pendapatan yang kreatif sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem taman, serta kebutuhan akan jejaring luas di industri kreatif nasional maupun internasional. Selain itu, rekam jejak dalam mengelola aset publik dengan nilai investasi besar juga menjadi syarat utama yang belum terpenuhi oleh kandidat yang ada.

 Pihak Pemkot Surakarta menegaskan lebih memilih menunda pelantikan daripada memaksakan figur yang tidak kompeten, mengingat Taman Balekambang merupakan aset vital bagi warga Solo. Hingga saat ini, belum diputuskan apakah pendaftaran akan dibuka kembali secara terbuka atau melalui mekanisme pencarian langsung (headhunting) untuk mendapatkan talenta profesional yang sesuai.

 Untuk sementara, manajemen Taman Balekambang akan tetap berada di bawah kendali Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Langkah ini diambil guna memastikan operasional dan pelayanan publik di area taman tetap berjalan normal selama posisi CEO definitif belum terisi.

 

 

Penulis            : Nadine Bunga Berliana

Penyunting      : Fahra Nautisya Octavia Hany

TAHUN 2026 ACEH, SUMBAR, DAN SUMUT APA KABAR?

TAHUN 2026 ACEH, SUMBAR, DAN SUMUT APA KABAR?


 

 

Tahun 2026 tepatnya bulan Januari ketegangan level global terjadi di sejumlah belahan dunia. Situasi seperti di utara antara Amerika Serikat dengan sejumlah negara NATO terus menjadi perhatian masyarakat global Sementara itu, situasi dalam negeri juga berketidakpastian efek penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebanyak 8 persen juga kurs rupiah yang nyaris Rp. 17.000. Dengan begini, bagaimana nasib para penyintas banjir di Sumatera?

Seperti yang diketahui, akhir November tahun 2025 lalu telah terjadi peristiwa banjir bandang yang secara tiba-tiba melumat sejumlah kawasan di Sumatera. Bahkan bukan cuma banjir tapi juga longsor. Dua kombinasi itu secara serempak meluluhlantakkan tiga provinsi sekaligus, yakni: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

 

DAMPAK

Sebagaimana menurut data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir telah merusak 175.050 ribu rumah warga pun infrastruktur seperti fasilitas kesehatan, rumah ibadah ikut mengalami kerusakan dengan yang terparah fasilitas pendidikan mencapai hingga 4.546 mengalami rusak.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ikut mencatat 1.666 titik infrastruktur yang mengalami kerusakan seperti tanggul hingga akses jalan seperti jembatan nasional. Di sisi lain sektor pangan ambruk akibat rusaknya sejumlah lahan sawah (107 ribu hektare) dan tambak (30,7 hektare) rusak, pun sebanyak 824 ribu ternak mati atau tersapu hilang.

Sementara itu korban jiwa ikut berjatuhan di mana-mana, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebut total korban mencapai 1.200 jiwa sementara 143 korban lainnya masih berstatus menghilang.

Demikian masifnya dampak “air bah” itu menjadikan kerugian materiel bukan lagi mustahil untuk dihindarkan. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menaksir kerugian materiel mencapai Rp. 68, 67 triliun bahkan mencapai Rp. 200 triliun lebih jika menurut perhitungan Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang.

Lalu, apa saja langkah pemerintah dalam menangani efek bencana tersebut?

 

PENANGANAN

Banjir serta longsor ini selain menjadi pemberitaan skala nasional juga telah menyedot perhatian skala global. Berbagai bantuan luar negeri pun bercucuran demi bisa memulihkan daerah-daerah terdampak, sebut saja Uni Emirat Arab, China, hingga  terdekat Malaysia. Namun, bantuan itu ditolak oleh pemerintah RI.

Meski demikian, melalui Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, beralasan bahwa pemerintah hanya menerima bantuan yang berasal dari lembaga non pemerintah seperti yang dilakukan oleh organisasi palang merah UEA, yakni Red Crescent UEA saat mendonasikan 30 ton beras. Pemerintah juga membuka kesempatan bagi pemerintah di daerah terdampak untuk meminta bantuan internasional. Di sisi lain alasan penolakan tadi dikarenakan pemerintah memastikan bahwa pemerintah RI secara mandiri mampu untuk membantu wilayah-wilayah terdampak.

Komitmen pemerintah ini dibuktikan lewat berbagai pengerahan logistik beserta sumber daya lainnya seperti berikut:

-       Alokasi dana Rp. 60 triliun yang berasal dari APBN 2026

-       Pengerahan 37 ribu personel tentara dan 10.759 personel Polri untuk rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana

-       Percepatan pembangunan 3.265 rumah tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga medis (named)

-       Pengerahan 600 nakes oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berasal dari mahasiswa, organisasi profesi, dan relawan

-       Pengerahan 4 ribu relawan oleh Kemenkes

-       Pemberian layanan bantuan kesehatan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)

-       Pengerahan 1.712 unit alat berat, 470 sarana-prasarana (sarpras), serta 6.232 unti bahan dan material oleh Kementerian PU

-       Saluran dukungan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains Teknologi (Kemdikbud Saintek) bernilai RP. 124,3 miliar lewat program seperti Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dan lain-lain

-       Alokasi dana Rp. 268 M dari Kementerian Keuangan

*Hal-hal tersebut masih belum termasuk bantuan lainnya

Dari berbagai kucuran bantuan tersebut beberapa ada yang telah selesai seperti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang telah 100 persen sebagaimana pernyataan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dilansir dari metrotvnews.com. Jika telah demikian lalu, apa harapan kedepannya?

 

PENYEBAB

Bencana banjir yang melanda kawasan Sumatera tidak terjadi begitu saja. Perubahan cuaca ekstrem oleh Siklon Tropis Senyar sebagai fenomena meteorologi diyakini menjadi salah satu pemicu banjir. Profesor klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erma Yulihastin yang dilansir dari interaktif.tempo.co, menyebut Siklon Tropis Senyar berperan 20 persen atas bencana yang melanda Sumatera.

Perlu diketahui, pada tanggal 26 November 2025 lalu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi kehadiran Siklon Tropis Senyar di daratan Aceh dengan kota/kabupaten terdampak mengalami kenaikan curah hujan. Contohnya: Aceh Utara, Aceh 310.8 mm/hari, Medan dan Tapanuli Tengah, Sumut 262.2 mm/hari dan 229.7 mm/hari, dan Padang Pariaman, Sumbar 154 mm/hari  dilansir bmkg.go.id.

Meski demikian, kata Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Harkunti Pertiwi Rahayu, bukan berarti Siklon Tropis Senyar menjadi satu-satunya penyebab banjir dan longsor yang terjadi. Selain topografi lingkungan yang rentan, kerusakan lingkungan oleh sejumlah aktivitas manusia juga bisa menjadi sebab.

“Yang kedua, ada juga karena intervensi manusia. Yaitu adanya alih fungsi lahan yang masif juga. Jadi longsor itu, longsor yang disebabkan oleh hujan ekstrim, itu memang karena kondisi geologi dan topografinya,” ucap Harkunti dilansir dari nasional.kompas.com.

Sejalan dengan pernyataan di atas, sebuah cuplikan yang menampilkan sejumlah gelondongan kayu menjadi viral dan membuat masyarakat meyakini bahwa bencana yang terjadi juga datang dari aktivitas illegal logging atau ‘pembalakan hutan secara liar’.

Melansir situs kehutanan.go.id, sepanjang 2024 deforestasi netto di Indonesia tercatat sebesar 175, 4 ribu hektare (hasil deforestasi bruto sebesar 216,2 ha dikurangi reforestasi sebesar 40, 8 ha).

Adapun Sumatera turut menyumbang angka deforestasi sebesar 78.030,6 hektare (atau sebanyak 44 persen) dengan Riau menjadi kawasan dengan angka deforestasi terbesar (29.702,1 ha), disusul Aceh (11.208,5 ha), Sumut (7.034,9 ha), dan Sumbar (6.634,2 ha).

Di sisi lain, dalam 15 tahun terakhir Pulau Sumatera telah mengalami arus deforestasi sekitar 292 ribu ha per tahun sebagaimana kata Manajer Data Forest Watch Indonesia (FWI) Ogy Dwi Aulia. Ia juga menyebut bahwa deforestasi yang terjadi sebagian besar berlangsung di luar konsesi (pemberian hak/izin)sehingga ilegal.

“Deforestasi di luar konsesi sulit dipastikan pelakunya dan aktivitas yang dilakukan, sehingga terindikasi sebagai deforestasi ilegal karena tidak jelas siapa yang bertanggung jawab,” ujarnya.

 

HARAPAN KE DEPAN

Pasca peristiwa banjir yang sempat melanda Sumatera beberapa bulan lalu, pemerintah secara resmi melakukan pencabutan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) atas 22 perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan.

Hal ini dilakukan sebagai upaya sanksi atas pelanggaran terkait pemanfaatan hutan yang dilakukan sejumlah perusahaan terkait yang dianggap berefek pada banjir serta longsor di Sumatera beberapa bulan lalu.

Adapun dari puluhan perusahaan yang terdampak terselip PT. Minas Pagai Lumber (MPL). Diketahui, perusahaan yang salah satunya beroperasi di Sumatera Barat ini menjadi viral berkat cuplikan gelondongan kayu sebanyak 4.800 meter kubik (m³)  di media sosial lalu.

Pencabutan izin usaha memang menjadi solusi instan atas permasalahan yang ada namun, bukan berarti menyelesaikan akar permasalahan. Forest Watch Indonesia (FWI) menyoroti lemahnya penegakan hukum termasuk adanya regulasi seperti UU Cipta Kerja hingga SK 36 Tahun 2025.

Sementara itu, Staf Biro Hukum Kementerian Kehutanan Yudi Arianto juga melihat pada UU Nomor 41 Tahun 1999 salah satunya Pasal 81 sebagai pasal yang kerap kali diperdebatkan oleh sebab frasa ‘penunjukan/penetapan’ yang katanya “Seolah-olah penunjukan bisa diperlakukan setara dengan penetapan,” meskipun menurutnya, proses penetapan seharusnya melalui tahapan yang lengkap.

Di lain sisi, terkait penanggulangan bencana dilansir dari itb.ac.id, Kepala Program Studi Magister dan Doktor Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dan Transportasi ITB, Saut Aritua Hasiholan Sagala, S.T., M.Sc., Ph.D., mengungkap bahwa pemerintah perlu untuk melakukan penguatan tata ruang, pengambilan langkah rehabilitasi sekaligus memperkuat arah kebijakan, hingga menerapkan Strategi Pembiayaan dan Asuransi Risiko Bencana (PARB).

Selain itu juga, pemerintah juga perlu memberlakukan Pooling Fund Bencana (PFB) sebagai solusi tuk mengurangi ketergantungan pada APBN yang harus disesuaikan dengan pemodelan risiko agar komprehensif serta efektif dalam menambal celah pendanaan.

 

Penulis: Aryo

Penyunting: Lathifah An Najla

 

 

 Langkah yang Tak Terhenti Meski Badai Menghalangi

Langkah yang Tak Terhenti Meski Badai Menghalangi

 

 

Aku melangkah,
meski langit tak selalu ramah,
meski angin menguji keyakinan
dan hujan jatuh tanpa aba-aba.

Di setiap jejak kakiku,
kutitipkan harap
yang tak terlihat,
namun setia menemani.

Badai memang datang,
namun ia tak membawa akhir
hanya pengingat
bahwa aku masih bergerak,
masih hidup,
masih berani bermimpi.

Aku belajar percaya
bahwa setiap langkah kecil
adalah cahaya
yang pelan-pelan menembus gelap.

Dan saat lelah menyapa,
aku berhenti sejenak
bukan untuk menyerah,
melainkan untuk menguatkan napas.

Karena selama kakiku memilih maju,
jalan akan selalu ada,
dan di balik badai,
pagi pasti menemukan jalannya pulang.

 

 

Penulis: Isni Puji Handayani

Peran Public Relations dalam Mendukung Persiapan Administrasi Tender Proyek Konstruksi

Peran Public Relations dalam Mendukung Persiapan Administrasi Tender Proyek Konstruksi


(Sumber Foto : Gery Subagio)

Cikarang — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Gery Subagio, melaksanakan kegiatan magang di PT. PUTRA ADHI PERKASA, Ciputat, Banten.

 Persaingan dalam industri jasa konstruksi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis perusahaan, tetapi juga oleh kesiapan administrasi dan efektivitas komunikasi organisasi, khususnya dalam proses tender proyek. Tender menjadi tahap krusial karena di sinilah perusahaan harus menunjukkan profesionalisme, kredibilitas, serta kepatuhan terhadap berbagai persyaratan yang telah ditetapkan oleh pihak pemberi proyek.

Dalam konteks tersebut, peran Public Relations (PR) sering kali dipahami secara terbatas sebagai pengelola hubungan dengan media massa. Padahal, dalam praktiknya, Public Relations memiliki peran yang lebih luas sebagai pengelola komunikasi organisasi dan pendukung manajemen. Hal ini terlihat jelas dalam proses persiapan tender proyek konstruksi, di mana kelengkapan dokumen, koordinasi antar pihak, serta komunikasi internal yang terstruktur menjadi kunci utama.

Berdasarkan pengalaman penulis yang terlibat dalam proses persiapan tender proyek di sebuah perusahaan jasa konstruksi, aktivitas Public Relations tidak diwujudkan dalam bentuk publikasi media, melainkan melalui pengelolaan administrasi dan komunikasi internal perusahaan. Salah satu kegiatan utama yang dilakukan adalah memilah dan memverifikasi kelengkapan dokumen administrasi tender, seperti legalitas perusahaan, sertifikasi badan usaha, laporan keuangan, hingga dokumen kerja sama dengan mitra perusahaan.

Penyusunan ceklis dokumen tender menjadi alat bantu penting dalam proses ini. Ceklis tersebut berfungsi sebagai media komunikasi internal yang memastikan setiap persyaratan tender telah dipenuhi secara sistematis. Melalui ceklis, perusahaan dapat meminimalkan risiko kekurangan dokumen yang berpotensi menggugurkan keikutsertaan dalam proses tender. Dari sudut pandang Public Relations, aktivitas ini mencerminkan fungsi komunikasi organisasi yang bertujuan menjaga kejelasan informasi dan keselarasan kerja antar bagian.

Selain pengelolaan dokumen, peran Public Relations juga terlihat dalam koordinasi antar perusahaan yang terlibat dalam kerja sama tender. Proses tender sering kali melibatkan lebih dari satu pihak, sehingga diperlukan komunikasi yang terstruktur agar setiap mitra memahami peran, tanggung jawab, dan batasan kerja masing-masing. Dalam hal ini, Public Relations berperan sebagai penghubung komunikasi yang menjaga kelancaran arus informasi dan mencegah terjadinya miskomunikasi.

Pendampingan dalam rapat dan pertemuan pimpinan perusahaan juga menjadi bagian dari penerapan fungsi Public Relations. Rapat persiapan tender merupakan forum strategis yang membahas kesiapan perusahaan, pembagian tugas, serta penentuan langkah yang akan diambil. Dukungan komunikasi yang baik dalam forum tersebut membantu pimpinan perusahaan memperoleh informasi yang terstruktur dan akurat sebelum mengambil keputusan strategis.

Melalui pengalaman tersebut, dapat dipahami bahwa Public Relations dalam perusahaan jasa konstruksi memiliki peran yang signifikan dalam mendukung persiapan tender proyek, meskipun tidak selalu berhubungan langsung dengan media massa. Public Relations berkontribusi melalui pengelolaan komunikasi internal, koordinasi administrasi, serta pendampingan manajerial yang memastikan seluruh proses persiapan tender berjalan secara efektif dan terorganisasi.

Dengan demikian, keberhasilan perusahaan dalam menghadapi persaingan tender proyek konstruksi tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada penerapan fungsi Public Relations sebagai bagian dari manajemen komunikasi organisasi. Peran ini menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan, profesionalisme, dan kesiapan perusahaan dalam mengikuti proses tender proyek.

 

 

 

Penulis            : Gery Subagio

Penyunting      : Fahra Nautisya Octavia Hany

 

Kasus Kekerasan Seksual Anak Mandek Sejak 2021, Warga RW 09 Palmeriam Desak Polres Metro Jakarta Timur Bertindak Tegas

Kasus Kekerasan Seksual Anak Mandek Sejak 2021, Warga RW 09 Palmeriam Desak Polres Metro Jakarta Timur Bertindak Tegas

 

Foto: Histora.id

Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilaporkan sejak tahun 2021 kembali menjadi sorotan publik setelah puluhan warga RW 09 Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, menggelar aksi solidaritas di depan Kantor Polres Metro Jakarta Timur, tepat pada Selasa siang, 20 Januari 2026. Aksi ini bukan sekadar bentuk kemarahan, melainkan pernyataan kolektif bahwa negara telah gagal menghadirkan rasa aman bagi anak-anak yang seharusnya dilindungi secara mutlak. Warga membentangkan spanduk bertuliskan “Tangkap Pelaku Perkosaan Anak di RW 09 Kelurahan Palmeriam” dan menyuarakan tuntutan agar aparat kepolisian segera bertindak. Dalam rekaman video aksi yang beredar, seorang warga menyatakan, “Kami sudah melapor sejak 2021, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Pelaku masih bebas berkeliaran. Anak-anak kami hidup dalam ketakutan.” Warga lain menegaskan, “Kami tidak mau ada korban berikutnya. Kalau ini terus dibiarkan, siapa yang menjamin keselamatan anak-anak di lingkungan kami?”

Kasus ini melibatkan sedikitnya empat anak perempuan di bawah umur yang diduga menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual oleh seorang pembimbing karate. Posisi pelaku sebagai figur pendidik sekaligus pembimbing olahraga menciptakan relasi kuasa dan kepercayaan yang membuat korban berada dalam situasi sangat rentan. Kejahatan ini bukan hanya pelanggaran moral, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap fungsi pendidikan dan perlindungan anak. Pemberitaan Tempo.co sebelumnya telah menyoroti bahwa laporan dugaan kekerasan seksual ini telah disampaikan sejak 2021, namun proses hukum berjalan sangat lamban dan tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Fakta bahwa media nasional sekelas Tempo mengangkat persoalan ini menegaskan bahwa kasus ini bukan persoalan administratif biasa, melainkan indikasi serius lemahnya komitmen aparat penegak hukum dalam menangani kejahatan kekerasan seksual terhadap anak.

Jika laporan telah masuk sejak 2021 namun hingga 2026 belum ada kepastian hukum, maka persoalan utamanya bukan pada kurangnya bukti semata, melainkan pada lemahnya keberpihakan negara terhadap korban. Dalam kasus kekerasan seksual anak, waktu adalah faktor krusial. Setiap keterlambatan bukan hanya memperpanjang penderitaan korban, tetapi juga membuka peluang terjadinya kejahatan berulang. Situasi ini bertentangan langsung dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Negara, aparat penegak hukum, dan seluruh elemen pemerintahan memiliki kewajiban untuk menjamin terpenuhinya hak tersebut tanpa kompromi.

Lebih jauh, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) telah memberi landasan hukum yang sangat kuat. UU ini secara eksplisit memandang kekerasan seksual sebagai kejahatan serius, terlebih jika korbannya adalah anak. Ancaman pidana diperberat, hak korban dipertegas, dan negara diwajibkan menjamin pendampingan hukum, psikologis, rehabilitasi, serta restitusi. UU TPKS tidak hanya berfungsi menghukum pelaku, tetapi juga memastikan korban dipulihkan secara bermartabat.

Namun, keberadaan UU ini menjadi paradoks ketika kasus seperti di Palmeriam justru dibiarkan berlarut-larut. Jika hukum yang telah dirancang untuk melindungi kelompok paling rentan saja tidak dijalankan dengan tegas, maka pertanyaan mendasar muncul: untuk siapa sebenarnya hukum itu dibuat?

Dari sudut pandang psikologi anak, kekerasan seksual merupakan bentuk trauma berat yang dampaknya dapat berlangsung seumur hidup. Psikolog anak menyebut bahwa korban berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan kronis, depresi, hilangnya rasa percaya diri, hingga kesulitan membangun relasi sosial yang sehat. Lebih parah lagi, ketidakpastian hukum justru memperparah trauma tersebut. Anak dapat merasa bahwa penderitaannya tidak diakui dan suaranya tidak dianggap penting oleh negara. Salah satu warga dalam video aksi menyampaikan, “Anak-anak ini sudah trauma, tapi pelaku masih bebas. Bagaimana mereka bisa merasa aman?” Pernyataan ini menunjukkan bahwa proses hukum yang lamban bukan hanya soal birokrasi, melainkan persoalan kemanusiaan. Penegakan hukum yang cepat dan tegas merupakan bagian dari proses penyembuhan psikologis korban, karena memberi pesan bahwa negara berpihak pada mereka.

Aksi solidaritas warga RW 09 Palmeriam menjadi bentuk perlawanan terhadap pembiaran. Mereka tidak hanya menuntut penangkapan pelaku, tetapi juga menuntut kehadiran negara secara nyata dalam melindungi anak-anak. Tuntutan mereka sederhana, tetapi sangat mendasar: keadilan, rasa aman, dan kepastian hukum. Kasus ini juga mengungkap ironi besar dalam sistem penegakan hukum kita. Di satu sisi, Indonesia memiliki regulasi yang progresif dan komprehensif tentang perlindungan anak dan kekerasan seksual. Di sisi lain, implementasinya masih lemah, lamban, dan sering kali tidak berpihak pada korban. Hukum akhirnya kehilangan makna ketika tidak hadir dalam situasi paling genting.

Kekerasan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Penanganannya tidak bisa disamakan dengan perkara pidana biasa. Ia menuntut keberanian aparat, sensitivitas terhadap korban, dan komitmen penuh untuk mencegah kejahatan berulang. Membiarkan pelaku tetap bebas berkeliaran berarti negara secara tidak langsung membiarkan potensi korban baru terus terbuka. Aksi warga di depan Polres Metro Jakarta Timur menjadi peringatan keras bahwa masyarakat tidak akan terus diam ketika keadilan diabaikan. Ini bukan sekadar protes terhadap lambannya proses hukum, melainkan kritik terhadap negara yang seharusnya menjadi pelindung utama anak-anak.

Sorotan ini menegaskan bahwa, hukum tidak boleh hanya hadir sebagai teks undang-undang, tetapi harus hidup dalam tindakan nyata. Anak-anak berhak atas masa depan yang aman, tanpa bayang-bayang kekerasan dan trauma. Negara tidak boleh menunggu sampai kemarahan publik memuncak baru bergerak. Keadilan bagi anak tidak boleh ditunda, karena setiap penundaan adalah bentuk kekerasan baru yang dilakukan oleh sistem.

Referensi

Tempo.co https://share.google/PSS3de4xGrAZ287yk

Wartakotalive.com https://share.google/AVvy8LtkP0SJWY1id

https://youtu.be/7wXM3x1Y-3k?si=YCcOJikNungX5p6q

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

(Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA)

Tentang dampak kekerasan seksual terhadap perkembangan psikologis anak dan pentingnya pemulihan psikososial korban. https://www.kemenpppa.go.id

 

Penulis: Oliviana Angelicha Effendy

Penyuting: Fita Madjid Pertiwi

 

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done