LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
“PESTA BABI”  MEMBUKA LUKA KOLONIASLISME MODERN DI TANAH PAPUA

“PESTA BABI” MEMBUKA LUKA KOLONIASLISME MODERN DI TANAH PAPUA


 

Pict by: Lintang Febrianti

Surakarta, 10 Mei 2026 — Pemutaran dan diskusi film dokumenter Pesta Babi diadakan di Studio Lokananta Bloc sebagai ruang bersama untuk melihat lebih dekat realita yang terjadi di Papua. Film karya Dandhy Laksono ini mengangkat persoalan eksploitasi tanah Papua melalui proyek biodiesel sawit dan tebu, sekaligus menyoroti praktik kolonialisme modern yang masih dirasakan masyarakat adat Papua hingga hari ini.

Melalui sudut pandang dan pengalaman langsung masyarakat Papua, film ini memperlihatkan bagaimana tanah, hutan, dan ruang hidup perlahan berubah akibat kepentingan industri dan pembangunan. Tidak hanya menghadirkan luka dan kehilangan, Pesta Babi juga menunjukkan transformasi masyarakat Papua dari korban menjadi pihak yang terus berjuang mempertahankan identitas, tanah adat, dan hak hidup mereka.

Unsur adat, nilai kekristenan, hingga tradisi pesta babi turut menjadi bagian penting dalam cerita, sekaligus membantu penonton memahami kehidupan dan realitas sosial masyarakat Papua secara lebih dekat dan manusiawi. Film ini juga membuka pertanyaan besar mengenai apakah praktik kolonialisme dalam bentuk baru akan terus terjadi di tanah Papua?.

Suasana ruang pemutaran film dokumenter tentang Papua dipenuhi emosi dan refleksi. Sejumlah penonton tampak larut dalam cerita yang ditampilkan di layar, mulai dari persoalan tanah adat, kehidupan masyarakat Papua, hingga relasi pemerintah dengan warga lokal. Bagi sebagian penonton, film tersebut bukan hanya tontonan, tetapi juga pengalaman yang membuka ruang diskusi dan kesadaran baru.

 

A group of people in a room

AI-generated content may be incorrect.

Pict by: Shello Rossad

Kami sebagai tim reporter LPM Apresiasi juga mewawancarai penonton dan komunitas terhadap film Pesta Babi tersebut. Salah satunya adalah kak Raka, Humas Komunitas Mahasiswa Papua Soloraya, menjadi salah satu penonton yang paling merasakan dampak emosional dari film tersebut. Ia menilai kegiatan nobar dan diskusi seperti ini sangat penting karena informasi mengenai Papua masih sulit diakses masyarakat luas.

“Menurut saya penting sekali ya, karena biasanya berita-berita soal Papua itu sulit diakses,” ujarnya dalam wawancara (10/5/2026).

Raka mengaku selama ini sering mencari informasi terkait kondisi di Papua dan menemukan banyak persoalan yang menurutnya jarang diberitakan media nasional. Salah satunya mengenai militerisme yang terjadi di wilayah tersebut.

Menurutnya, ruang diskusi seperti nobar film dokumenter dapat menjadi pemantik agar generasi muda lebih peka terhadap isu sosial di sekitar mereka. “Kesadaran itu penting, dan jangan apatis sih,” katanya dalam wawancara (10/5/2026).

Namun, bagi Raka, film tersebut terasa sangat personal. Ia bahkan beberapa kali keluar ruangan karena tidak kuat menyaksikan adegan-adegan di dalam film.

“Saya nonton 15 menit nggak kuat, saya keluar,” ujarnya. Ia merasa apa yang ditampilkan di layar mengingatkannya pada keluarganya sendiri di Papua. “Saya seperti melihat mama saya sendiri yang ada di dalam layar itu.”

Selain persoalan kemanusiaan, Raka juga menyoroti ketimpangan manfaat pembangunan di Papua. Menurutnya, keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam seharusnya dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.

“Keuntungannya harusnya untuk orang lokal. Tadi yang kita nonton kan keuntungannya bukan untuk orang lokal, malah untuk perusahaan-perusahaan dari luar,” tegasnya dalam wawancara (10/5/2026)

Sementara itu, tanggapan lain datang dari Wininda Sari, penonton dari komunitas Difalitera. Ia mengaku merasakan campuran emosi setelah menyaksikan film dokumenter karya Dandhy Laksono tersebut. Menurutnya, selama ini ia memang sering mendengar cerita mengenai Papua, tetapi melalui film itu ia merasa dapat melihat kenyataan yang lebih dekat.

“Ya, kesan pertama terkesan dan campur aduk ya,” ujarnya. Bagian yang paling membekas baginya adalah ketika masyarakat adat Papua kehilangan tanah mereka. “Tentu yang paling berkesan adalah bagian ketika orang-orang pribumi Papua kehilangan tanahnya,” katanya dalam wawancara (10/5/2026).

Menurut Wininda, pengalaman menonton film itu juga membuatnya kembali merefleksikan makna nasionalisme. Ia mengaku tetap mencintai Indonesia, tetapi merasa penting untuk tetap kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi.

“Aku tetap nasionalis karena aku bernama di bawah negara Indonesia, tapi aku juga tetap harus kritis dan gak naif,” ungkapnya dalam wawancara (10/5/2026).

Sebagai seorang ibu dan pegiat komunitas tuna netra, Wininda memilih menunjukkan nasionalisme melalui tindakan sederhana di lingkungan sekitar. Ia mencontohkan bagaimana dirinya mengajak teman-teman netra untuk ikut menikmati pengalaman menonton bersama. Baginya, kepedulian terhadap sesama juga merupakan bentuk cinta terhadap negara.

Meski suasana wawancara diakhiri dengan candaan ringan, kesan emosional dari film dokumenter tersebut masih terasa kuat. Melalui diskusi dan refleksi bersama, para penonton berharap masyarakat semakin terbuka untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di Papua dari sudut pandang kemanusiaan dan tentunya untuk pemerintah harus juga harus memberikan keadilan hak kepada mereka warga papua. Karena Papua adalah bagian dari Indonesia dan merupakan saudara kami semua.

Kegiatan nobar dan diskusi ini berlangsung dari hasil kolaborasi gotong royong berbagai komunitas serta organisasi, di antaranya Toko Buku Mata Pajar, Kopi Aloo, Matalokal, Lokananta, Jejer Wadon, Sinema Warga, Kuhaté Books, Project Sasmita, IBP Solo, Difalitera, Carpe Diem Bookstore, Read Aloud Solo Raya, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, LPM Apresiasi, LPM Locus, Sobo+NiaoS, SODOC Solo Documentary, Komunitas Mahasiswa Papua Solo Raya, Watchdoc, Eks Pedis Indonesia Baru, dan Patjar Merah yang turut mendukung terselenggaranya Nobar dan ruang diskusi publik tersebut.

 

 

Penulis : Lusia Nur Permatasari

Reporter : Lusia Nur, Lintang Febrianti, Nanda Ayu, Fahra Nautisya, Adista Putri, Nisa Ilma Safitri, Ahmad Nufail, Shello Rossad.

Penyunting: Adista Putri Revalina

 

 

 

 

Semarak Budaya Indonesia 2026 Usung Tema “Swarna Bumi Bahari” di Balai Kota Surakarta

Semarak Budaya Indonesia 2026 Usung Tema “Swarna Bumi Bahari” di Balai Kota Surakarta



(Pict by: Shello Rossad Alfiansyah)

 

Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 kembali diselenggarakan di kawasan Balai Kota Surakarta pada tanggal 8-9 Mei 2026 dengan mengangkat tema utama "Swarna Bumi Bahari". Festival tahunan edisi ke-13 ini menampilkan representasi seni yang berfokus pada kekayaan pesisir dan budaya maritim Nusantara, mulai dari kehidupan masyarakat pesisir hingga mitologi samudra yang dituangkan dalam pertunjukan kontemporer. Didukung penuh oleh Pemerintah Kota Surakarta serta berbagai mitra strategis, SBI 2026 berkomitmen menjadi ruang inklusif bagi pelestarian budaya sekaligus wadah edukasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai identitas bangsa.

 

Acara ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang komprehensif, meliputi Galeri Wastra Budaya yang menampilkan kain-kain tradisional serta Pasar Karya Nusantara yang diikuti lebih dari 30 unit usaha ekonomi kreatif dan kuliner. Puncak kemeriahan festival terletak pada panggung seni yang menampilkan 26 delegasi dari 23 daerah di Indonesia, seperti Semarak Candrakirana Art Center, Miroton Dance, dan Sanggar Tari Greged. Penampilan seni tari yang telah dikurasi secara ketat ini merepresentasikan keberagaman budaya dari berbagai provinsi, mulai dari Aceh hingga Kepulauan Riau, sebagai pengingat akan besarnya nilai edukasi dan potensi ekonomi kreatif dari warisan leluhur.

 

Sebagai penutup rangkaian kegiatan dan bentuk rasa syukur atas kelancaran acara, pihak panitia juga mengundang seluruh media partner untuk menghadiri acara wilujengan bersama sebelum jadwal kepulangan para delegasi.

 

Penulis: Shello Rossad Alfiansyah

Penyunting: Lathifah An Najla

Press Release  Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISRI Lakukan Kunjungan Edukasi ke Monumen Pers Nasional

Press Release Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISRI Lakukan Kunjungan Edukasi ke Monumen Pers Nasional

 


 

a1c93e0970bd36aa75dec14ce38acd03.jpg

(Sumber Foto: Lusia, Jelita)

 

Surakarta, 7 Mei 2026 – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta (UNISRI) melaksanakan kunjungan edukasi ke Monumen Pers Nasional sebagai bagian dari praktik mata kuliah komunikasi massa, khususnya dalam memahami sejarah perkembangan pers di Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa agar tidak hanya memahami teori di dalam kelas, tetapi juga mampu melihat dan merasakan jejak sejarah pers melalui berbagai arsip, dokumentasi, serta koleksi media yang tersimpan di monumen tersebut. 

Kunjungan diawali dengan mahasiswa menonton bersama video sejarah terbentuknya Monumen Pers Nasional sebelum melakukan tur berkeliling area monumen, termasuk mengunjungi ruang digitalisasi yang menyimpan berbagai arsip surat kabar lama dalam bentuk digital. Melalui fasilitas ini, mahasiswa dapat menelusuri perkembangan pemberitaan dari masa ke masa secara lebih interaktif dan mendalam.

 

18fcadbb818540c025b0a87328872334.jpg

(Sumber Foto: Lusia, Jelita)

Mahasiswa juga diajak menelusuri perjalanan panjang dunia pers, mulai dari masa kolonial hingga era digital saat ini, serta memahami peran penting pers sebagai pilar demokrasi dan sarana penyampaian informasi kepada masyarakat. Sembari meraba ke masa lalu, mahasiswa juga mendapat pengalaman berharga untuk memahami bagaimana informasi dan jurnalistik terus berkembang melalui media-media yang ada, bahkan sebelum adanya koran, radio, serta media massa lain. 

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISRI mampu memperluas wawasan serta meningkatkan pemahaman kritis terhadap perkembangan media massa, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam praktik komunikasi di masa depan. 

20afc4760265f0d7dd9a097b4064f707.jpg

(Sumber Foto: Lusia, Jelita)


Penulis: Lusia Nur Permatasari, Jelita Citra Wardhani

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby

Budaya Membaca Koran Tetap Hidup di Era Digital melalui Layanan Monumen Pers Nasional

Budaya Membaca Koran Tetap Hidup di Era Digital melalui Layanan Monumen Pers Nasional


 

( Sumber foto: Lusia Nur Permatasari )

 

Surakarta, 7 Mei 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan media digital, budaya membaca koran masih terus dijaga melalui layanan yang disediakan oleh Monumen Pers Nasional. Setiap harinya, monumen ini menyediakan fasilitas membaca surat kabar secara gratis bagi masyarakat di area depan gedung.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempertahankan budaya literasi, khususnya dalam membaca media cetak yang memiliki nilai historis dan kredibilitas tinggi. Surat kabar yang disediakan selalu diperbarui setiap hari, meliputi media lokal seperti Solopos dan Tribun Solo, serta media nasional seperti Kompas.

Menariknya, sebagian besar pengunjung yang memanfaatkan layanan ini didominasi oleh kalangan orang tua, khususnya bapak-bapak, yang masih setia dengan kebiasaan membaca koran. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun arus informasi digital semakin deras, minat terhadap media cetak belum sepenuhnya hilang.

(  Sumber foto: Lusia Nur Permatasari )

 

Di era yang mengutamakan kecepatan informasi, membaca koran tetap memiliki peran penting karena dinilai lebih mengedepankan akurasi dan kedalaman berita. Oleh karena itu, keberadaan layanan ini menjadi salah satu upaya nyata dalam menjaga kualitas literasi masyarakat di tengah perubahan zaman.

 

Penulis: Lusia Nur Permatasari

Penyunting: Nazuwa Basalwa

Kecelakaan di Depan RS JIH Solo, Dua Pengendara Sepeda Motor Terlibat Tabrakan

Kecelakaan di Depan RS JIH Solo, Dua Pengendara Sepeda Motor Terlibat Tabrakan


(Sumber foto: Aditya Cahyo Saputro)

Surakarta — Kecelakaan lalu lintas terjadi di kawasan Jajar, tepatnya di depan Rumah Sakit JIH Solo, pada Minggu (3 Mei 2026) sekitar pukul 21.30 WIB. Peristiwa ini melibatkan dua pengendara sepeda motor, yakni seorang bapak-bapak dan seorang pemuda.

Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, kejadian bermula saat seorang bapak-bapak hendak menyeberang jalan menggunakan sepeda motor. Saat itu, kondisi lalu lintas terpantau cukup ramai.

Menurut keterangan pengendara lain yang menjadi saksi, sejumlah kendaraan dari arah barat telah memperlambat laju, bahkan berhenti untuk memberi jalan. Namun, dari arah timur melaju sepeda motor yang dikendarai seorang pemuda dengan kecepatan tinggi. Karena jarak yang sudah terlalu dekat, tabrakan tidak dapat dihindari.

Benturan keras mengakibatkan bapak-bapak tersebut terjatuh dan tidak sadarkan diri di lokasi kejadian. Helm yang dikenakannya mengalami kerusakan, dengan kaca helm dilaporkan pecah. Sementara itu, pengendara sepeda motor dari arah timur masih dalam kondisi sadar, meskipun tampak kesakitan. Sepeda motor yang dikendarainya mengalami kerusakan cukup parah di bagian depan.

Tidak lama setelah kejadian, ambulans tiba di lokasi untuk memberikan pertolongan dan mengevakuasi korban. Warga sekitar dan pengguna jalan sempat memadati area kejadian sehingga arus lalu lintas tersendat sementara.

Imbauan Keselamatan

Jalan di kawasan Jajar, khususnya di depan RS JIH Solo, dikenal sebagai titik rawan kecelakaan karena tingginya volume kendaraan serta aktivitas keluar-masuk area rumah sakit. Pengendara diimbau untuk mengurangi kecepatan, terutama pada malam hari, serta lebih waspada terhadap kendaraan lain yang hendak menyeberang.

(Sumber foto: Aditya Cahyo Saputro)

Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas menjadi kunci utama untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

 

Penulis: Aditya Cahyo Saputro

Penyunting: Chintya Alinda Riskyani

May Day di Taman Sehat Putri Cempo: Gelar Festival Rakyat untuk Ruang Belajar, Seni,  dan Ekspresi

May Day di Taman Sehat Putri Cempo: Gelar Festival Rakyat untuk Ruang Belajar, Seni, dan Ekspresi

 SURAKARTA, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh di TPA Putri Cempo tahun ini berlangsung berbeda. Di tengah hamparan sampah yang selama ini menjadi sumber penghidupan sekaligus persoalan,mahasiswa dan sejumlah lembaga menggelaraksi bertajuk Festival Putri Cempo yaitu sebuah ruang pertemuan antara warga, pemulung, dan aktivis.

Kegiatan dimulai sejaknsiang dengan layanan cek kesehatan gratis bagiwarga serta kehadiran lapak baca yang terbuka untuk umum. Warga tampak memanfaatkan layanan tersebut di tengah kondisi lingkungan yang selama ini mereka hadapi.

Memasuki sore hari, rangkaian acara semakin hidup. Program “Ruang Belajar Bergerak” digelar dengan melibatkan anak-anak disekitar lokasi.Mereka mengikuti berbagai aktivitas seperti mewarnai, mendongeng, hingga bermain game edukatif, menghadirkan suasana hangat di tengah kawasan yang identik dengan tumpukan sampah.


Fotografer: Ahmad Nufail


Masih di waktu yang sama, acara utama dibuka dengan monolog oleh Ratih Ayu dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.Pertunjukan tersebut mengangkat realitas kehidupan di sekitar TPA Putri Cempo tentang kerja, ketimpangan, dan suara warga yang kerap terpinggirkan.

Setelah itu, forum berlanjut ke sesi ngobrol santai. Warga, mahasiswa, dan perwakilan lembaga duduk bersama membicarakan kondisi TPA Putri Cempo dari berbagai perspektif, mulai dari persoalan lingkungan,kebijakan pengelolaan sampah,hingga dampaknya terhadap kehidupan pemulung. 

Lalu ada pertunjukan hiburan seni oleh Dipa dan Ilham dari Front Mahasiswa Nasional menampilkan wayangyang diiringi tabuhan gendang. Ditengah keterbatasan ruang dan kondisi, pertunjukan itu menjadi simbol ekspresi sekaligus penyampaian pesan sosial. Suasana yang semula hangat berubah menjadi tegan, menjelang malam aparat kepolisian datang dan mengimbau agar kegiatan segera dihentikan.

“Intinya dari pihak kepolisian tidak mengizinkan,” ujar panitia menirukan pernyataan aparat (1/5/2026). Tanpa penjelasan rinci acara dihentikan sekitar pukul19.00 WIB demi menjaga kondusivitas. Panggung yang sebelumnya menjadi ruang dialog dan ekspresi warga pun terpaksa dibubarkan. 

Di balik festival tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar. Salah satu isu utama mengemukan adalah kebijakan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membatasi aktivitas pemulung hanya di zona tertentu di kawasan TPA.

 

Fotografer: Ahmad Nufail

Kebijakan ini menuai keluhan dari warga sekitar yang selama ini bergantung pada aktivitas pemulungan.Mereka menilai pembatasan tersebut berdampaklangsung padapenghasilan dan keberlangsungan hidup.

Salah satu warga yang tinggal dekat lokasi mengungkapkan bahwa pemulung justru memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah. 

“Yang kena dampaknya ya pemulung,padahal mereka membantu mengurangi sampah,” ujarnya  (1/5/2026).

Menurutnya, dalam kondisi norma aktivitas pemulung mampu mengurangi volume sampah hingga 30–50ton perhari. Tetapi sejak adanya pembatasan tersebut jumlah pemulung terus berkurang dan kesempatan mencari nafkah semakin sempit.

Warga juga menyoroti minimnya komunikasi antara pemerintah atau pengelola dengan masyarakat terdampak.

“Warga sekitar yang terdampak tidakdilibatkan dalam rapat,” ucapnya dalam wawancara Jumat malam (1/5/2026).

Selain persoalan ekonomi, warga mengeluhkan dampak lingkungan yang belum tertangani secara maksimal. Bau tidak sedap, limbah, hingga gangguan kesehatan  menjadi bagian dari keseharian mereka. 

Ironisnya, menurut warga yang tinggal di dekat situ. Perhatian terhadap aspek kesehatan masih minim. Tidak ada pemeriksaan kesehatan rutin bagi masyarakat disekitar dan tidak pernah mendapatkan bantuan logistik apapun.


Fotografer: Ahmad Nufail

Meskipun terdapat persoalan tersebut warga menegaskan tidak menolak pengelolaan sampah maupun rencana pembangunan fasilitas di kawasan tersebut. Mereka justru berharap adanya transparansi, sosialisasi yang jelas, serta pelibatan warga dalam setiap kebijakan yang diambil.

Festival Putri Cempo dalam peringatan May Day ini membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, bagi warga untuk bersuara, dan bagi berbagai pihak untuk saling mendengar. Namun, ruang itu juga menunjukkan batas yang masih kuat terasa.

TPA Putri Cempo,persoalan tidak hanya tentang sampah,tetapi juga tentang siapa yang berhak bertahan hidup di dalamnya.

Fotografer: Ahmad Nufail

May Day tahun ini menjadi lebih dari sekadar peringatan.Ia menjelma menjadicermin atas tarik-menarik kepentingan antara kebijakan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat kecil yang terus berjuang agar suaranya didengar.


Reporter: Lusia Nur, Adista Putri, Lintang Febrianti, Jelita Citra, Ahmad Nufail

Fotografer: Ahmad Nufail

Penyunting: Oliviana Angelicha Effendy

Satu Hari, Satu Kebijakan: Rencana Penutupan Prodi, Solusi atau Ancaman bagi Pendidikan Tinggi?

Satu Hari, Satu Kebijakan: Rencana Penutupan Prodi, Solusi atau Ancaman bagi Pendidikan Tinggi?

 

(Pict Ilustration by: Koko Novianto)

“Satu hari, satu kebijakan yang dianggap tergesa dan tidak jelas.”

Kalimat ini mungkin terdengar emosional, tetapi cukup merepresentasikan kegelisahan publik terhadap rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang ingin menutup sejumlah program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri.

Kebijakan ini muncul di tengah persoalan klasik pendidikan tinggi di Indonesia: ketimpangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja. Alih-alih membenahi akar persoalan tersebut, pemerintah justru mengambil langkah simplifikasi dengan mengevaluasi, bahkan menutup, sejumlah program studi. Pendekatan ini terkesan menempatkan persoalan kompleks sebagai masalah teknis semata—seolah ketidaksesuaian antara lulusan dan dunia kerja dapat diselesaikan hanya dengan mengurangi jumlah prodi.

Dalihnya sederhana: terlalu banyak lulusan, terlalu sedikit pekerjaan. Data yang beredar menunjukkan bahwa setiap tahun Indonesia meluluskan sekitar 490.000 lulusan dari bidang kependidikan, sementara kebutuhan tenaga kerja hanya sekitar 20.000 orang. Artinya, sekitar 470.000 lulusan berpotensi tidak terserap. Masalahnya, menjadikan angka ini sebagai dasar untuk menutup program studi bukan hanya simplifikasi—melainkan kekeliruan dalam membaca persoalan.

Masalahnya bukan di jurusan, tetapi di sistem. Jika ditarik lebih luas, persoalan utama tidak terletak pada jurusan tertentu—baik pendidikan, sosial, filsafat, seni, maupun bidang lainnya—melainkan pada ketidakseimbangan struktural antara sistem pendidikan dan sistem ekonomi yang tidak tumbuh sejalan. Pendidikan terus menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, sementara sistem ekonomi tidak berkembang cukup cepat dan cukup inklusif untuk menyerapnya.

Lapangan kerja tidak tumbuh secepat jumlah lulusan. Distribusi tenaga kerja tidak merata. Banyak sektor kekurangan tenaga, sementara sektor lain justru kelebihan. Ini semata bukan salah jurusan, tetapi menunjukkan adanya kegagalan dalam perencanaan nasional.

Menutup prodi tidak menyelesaikan masalah ini. Itu hanya memindahkan masalah ke tempat lain. Hari ini yang dianggap tidak relevan mungkin ilmu sosial atau kependidikan. Besok, bisa saja bidang lain menyusul ketika dianggap tidak “produktif” secara ekonomi.

Logika industri tidak bisa mengatur segalanya. Pemerintah menyatakan akan memprioritaskan delapan sektor strategis: energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju.

Tidak ada yang salah dengan arah tersebut. Yang jadi masalah adalah ketika logika industri dijadikan satu-satunya ukuran nilai pendidikan. Jika semua harus tunduk pada kebutuhan pasar, maka bidang-bidang seperti sejarah, sastra, filsafat, bahkan ilmu sosial akan selalu berada di posisi rentan. Padahal, bidang-bidang inilah yang membentuk cara berpikir, identitas, dan kesadaran masyarakat.

Pendidikan bukan sekadar alat untuk bekerja. Ia adalah alat untuk memahami dunia.

(Pict Ilustration by: Koko Novianto)

Ketika kampus disalahkan, negara lepas tangan. Pemerintah juga menyoroti banyaknya kampus yang membuka program studi berdasarkan tren pasar. Ini memang terjadi. Namun, fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan dari absennya arah kebijakan pendidikan jangka panjang dari negara. Ketika negara tidak memberikan arah kebijakan yang jelas, kampus bergerak mengikuti permintaan. Ketika terjadi penumpukan lulusan, kampus disalahkan. Dan ketika masalah membesar, solusi yang diambil adalah penutupan.

Ini bukan penyelesaian, melainkan bentuk penghindaran tanggung jawab. Yang paling berbahaya dari kebijakan ini bukan sekadar hilangnya program studi, tetapi hilangnya keberagaman cara berpikir.

Jika pendidikan hanya difokuskan pada sektor-sektor yang “menghasilkan”, maka kita berisiko menciptakan generasi yang terampil secara teknis, tetapi miskin secara refleksi. Sejarah mengajarkan kita untuk tidak mengulang kesalahan. Sastra mengasah empati. Filsafat melatih cara berpikir kritis. Ilmu sosial membantu memahami masyarakat. Tanpa itu semua, pembangunan hanya akan melahirkan kemajuan yang kosong secara makna.

Menutup prodi mungkin terlihat sebagai solusi cepat untuk menekan angka pengangguran. Namun, dampaknya tidak sederhana itu.

Masalah utama tetap tidak terselesaikan:

  1. Lapangan kerja tetap terbatas,
  2. Kualitas pendidikan tidak otomatis meningkat, dan
  3. Ketimpangan sistem tetap ada

Yang berubah hanya satu: ruang belajar menjadi semakin sempit.

Jika tujuan pendidikan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, maka kita sedang menyederhanakan makna pendidikan itu sendiri. Yang dibutuhkan bukan penghapusan jurusan, tetapi pembenahan sistem secara menyeluruh: dari perencanaan tenaga kerja, kualitas pendidikan, hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang relevan atau tidak dengan industri.

Pendidikan adalah tentang bagaimana manusia memahami, membentuk, dan mengarahkan masa depannya.

Dan jika arah kebijakan terus seperti ini, mungkin kalimat di awal tulisan ini akan terus terasa relevan:

“Satu hari, satu kebijakan yang dianggap tergesa dan tidak jelas.”


Penulis: Koko Novianto Pribadi

Penyunting: Lathifah An Najla

PRESS RELEASE    LPM Apresiasi Laksanakan Anjangsana ke BP2M UNNES untuk Perkuat Relasi dan Pertukaran Wawasan Organisasi

PRESS RELEASE LPM Apresiasi Laksanakan Anjangsana ke BP2M UNNES untuk Perkuat Relasi dan Pertukaran Wawasan Organisasi


 

Sumber foto: BP2M UNES

Semarang, 25 April 2026 — Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Apresiasi melaksanakan kegiatan anjangsana sekaligus studi banding ke Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada Sabtu, 25 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antarlembaga pers mahasiswa sekaligus menjadi wadah bertukar pengalaman, gagasan, serta strategi pengelolaan organisasi dan program kerja selama satu periode kepengurusan.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB ini diawali dengan registrasi dan penyambutan tamu sebagai bagian dari Opening Ceremony. Suasana hangat dan penuh antusiasme terasa sejak awal kedatangan delegasi LPM Apresiasi yang disambut langsung oleh pihak BP2M UNNES. Setelah itu, acara resmi dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua pimpinan dan ketua pelaksana masing-masing pihak sebagai bentuk penghormatan dan penguatan hubungan kelembagaan. Selanjutnya, masing-masing ketua menyampaikan sekilas profil organisasi guna memberikan gambaran umum mengenai struktur, visi, serta program kerja lembaga masing-masing.

Memasuki sesi inti, kedua lembaga melakukan presentasi dan tukar informasi terkait program kerja yang telah dan akan dijalankan selama satu periode kepengurusan. Pertukaran informasi ini menjadi sarana pembelajaran yang sangat berharga bagi kedua belah pihak dalam meningkatkan kualitas organisasi masing-masing. Setelah sesi presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Delegasi dari kedua pihak saling memberikan pertanyaan, membagikan pengalaman, serta solusi terhadap berbagai persoalan yang pernah dialami dalam menjalankan roda organisasi. Kemudian, forum berlanjut pada sesi Focus Group Discussion (FGD) yang menjadi ruang lebih mendalam untuk masing-masing delegasi bertukar informasi dan pengalaman. Sesi ini mengelompokkan masing-masing lembaga ke dalam divisi yang serupa.

Sebagai penutup, acara Closing Ceremony diisi dengan penyerahan buah tangan sebagai simbol apresiasi dan persahabatan antarorganisasi, dilanjutkan dengan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen kebersamaan. Melalui kegiatan anjangsana ini, LPM Apresiasi berharap dapat membangun sinergi yang lebih kuat dengan BP2M UNNES, serta memperoleh wawasan baru yang dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan organisasi ke depan. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antarlembaga pers mahasiswa sangat penting dalam menjaga semangat kritis, independensi, dan profesionalisme pers kampus sebagai pilar demokrasi di lingkungan akademik.

Dengan terselenggaranya studi banding ini, diharapkan hubungan baik antara LPM Apresiasi dan BP2M UNNES dapat terus terjalin secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai mitra diskusi, tetapi juga sebagai sesama pejuang dalam menjaga marwah pers mahasiswa di Indonesia.


Penulis: Vanessa Adinda Kusuma D. S.

Penyunting: Oliviana Angelicha Effendy

Organisasi Mahasiswa: Antara Ruang Juang atau Sekadar Ruang Proyek?

Organisasi Mahasiswa: Antara Ruang Juang atau Sekadar Ruang Proyek?

   Organisasi Mahasiswa: Antara Ruang Juang atau Sekadar Ruang Proyek?

( Ilustrasi: Daffa) 

Ada satu hal yang belakangan terasa semakin akrab di lingkungan kampus: sunyi. Bukan sunyi karena tak ada aktivitas, justru sebaliknya agenda organisasi mahasiswa tampak padat, proposal beredar, dokumentasi kegiatan rapi tersimpan, dan laporan pertanggungjawaban tersusun sistematis. Namun di balik itu semua, ada satu yang terasa hilang: suara.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan pihak mana pun. Tetapi jika ada yang merasa tersindir, mungkin itu bukan karena tulisan ini terlalu tajam, melainkan karena realitasnya memang terlalu dekat.

Organisasi mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai representasi kolektif suara mahasiswa. Ia lahir bukan sekadar untuk mengisi waktu luang atau memperkaya portofolio, melainkan menjadi ruang artikulasi keresahan ,baik terkait kebijakan kampus, persoalan akademik, hingga isu sosial yang lebih luas. Dalam perspektif teori gerakan sosial, mahasiswa bahkan kerap disebut sebagai moral force yang memiliki legitimasi untuk melakukan kritik terhadap struktur kekuasaan (Melucci, 1989; Tarrow, 1998).

 Namun hari ini, pertanyaannya sederhana: masihkah fungsi itu berjalan?

Alih-alih menjadi corong aspirasi, tidak sedikit organisasi mahasiswa yang justru sibuk mengelola “proyek”. Kegiatan dirancang sedemikian rupa agar “layak diajukan”, bukan karena mendesak untuk dilakukan. Parameter keberhasilan pun perlahan bergeser: bukan lagi seberapa besar dampak yang dihasilkan, melainkan seberapa rapi administrasi disusun dan seberapa besar anggaran yang berhasil diserap. Fenomena ini selaras dengan kritik tentang “NGO-isasi” gerakan sosial, yakni ketika organisasi lebih terjebak pada logika proyek dan birokrasi dibanding advokasi substantif (Edwards & Hulme, 1996).

Ironisnya, dalam situasi ketika mahasiswa menghadapi berbagai persoalan dari kebijakan akademik yang problematis hingga isu kesejahteraan , respons organisasi sering kali datang dalam bentuk yang paling aman: diam. Tidak ada kajian, tidak ada pernyataan sikap, bahkan sekadar diskusi terbuka pun terasa menjadi barang langka. Seolah-olah bersuara kini menjadi risiko yang terlalu mahal untuk dibayar.

Apakah ini bentuk kedewasaan organisasi? Atau justru tanda bahwa keberanian perlahan ditukar dengan kenyamanan?

Kondisi ini tidak muncul begitu saja. Ada kultur yang secara perlahan membentuk organisasi mahasiswa menjadi lebih administratif daripada substantif. Rutinitas program kerja, tekanan birokrasi kampus, hingga orientasi pencitraan membuat organisasi kehilangan daya kritisnya. Dalam kerangka critical pedagogy , Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang kehilangan dialog kritis hanya akan melahirkan individu yang patuh, bukan yang reflektif (Freire, 1970). Dalam konteks organisasi mahasiswa, hilangnya ruang dialog ini berimplikasi langsung pada melemahnya keberanian untuk bersuara.

Dalam banyak kasus, mahasiswa yang masuk organisasi dengan semangat perubahan justru berakhir menjadi “manajer kegiatan” yang terampil, tetapi gagap ketika harus membaca realitas sosial di sekitarnya. Mereka sibuk mengatur acara, namun lupa mengapa acara itu perlu ada.

Tentu, tidak semua organisasi berada dalam kondisi demikian. Masih ada ruang-ruang kecil yang mencoba bertahan menghidupkan diskusi, menyuarakan kritik, dan menjaga idealisme. Namun harus diakui, suara-suara ini kerap tenggelam di tengah arus besar pragmatisme yang semakin dominan.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar “apa yang salah?”, tetapi “ke mana arah organisasi mahasiswa hari ini?”.

Jika organisasi hanya menjadi ruang proyek, maka ia kehilangan ruhnya sebagai gerakan. Jika ia hanya sibuk dengan administrasi, maka ia berhenti menjadi representasi. Dan jika ia memilih diam ketika seharusnya bersuara, maka ia perlahan menghapus alasan keberadaannya sendiri.

Tulisan ini bukan vonis, melainkan pengingat. Bahwa organisasi mahasiswa tidak pernah ditakdirkan untuk sekadar ada, ia harus bermakna. Bahwa menjadi bagian dari organisasi bukan hanya soal pengalaman, tetapi juga tanggung jawab moral.

Dan pada akhirnya, jika ada yang merasa tulisan ini terlalu keras, mungkin bukan tulisannya yang perlu dilunakkan melainkan realitas yang perlu diperbaiki.


Penulis : yang tersirat

Penyunting : Oliviana Angelicha Effendy

LABSCHOOL UNISRI: Kembangkan Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Praktik dan Holistik

LABSCHOOL UNISRI: Kembangkan Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Praktik dan Holistik

 


 

 

Fotografer: Ahmad Nufail

 

Surakarta, 21 April 2026—Labschool Unisri hadir sebagai inovasi pendidikan anak usia dini yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga penanaman nilai kehidupan. Dina Pertiwi Adjie, dosen FKIP, menjelaskan bahwa proses berdirinya Labschool merupakan perjalanan panjang yang berangkat dari kebutuhan akademik sekaligus visi pengembangan institusi. Gagasan awal muncul sejak kedatangan asesor pada tahun 2014/2015. Saat itu, kebutuhan akan laboratorium praktik bagi mahasiswa menjadi perhatian utama.

 

“Kita bisa unggul kalau ada labschool, sebagai tempat praktik mahasiswa sekaligus ruang belajar anak,” tutur Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Realisasi gagasan tersebut dimulai pada 2023, dilanjutkan dengan pengembangan konsep hingga akhirnya diperkenalkan ke masyarakat melalui fun project pada 2024.

 

“Fun project itu kegiatan bermain anak-anak yang menarik minat. Dari situ masyarakat mulai tahu,” jelas Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Secara resmi, Labschool mulai berjalan pada tahun ajaran baru Juni 2025 untuk jenjang KB/TK, dengan jumlah peserta didik yang masih terbatas, sekitar 17 anak. Salah satu pembeda utama Labschool dibanding PAUD lain terletak pada nilai keslametriyadian yang ditanamkan dalam setiap aktivitas pembelajaran.

 

Nilai tersebut juga terintegrasi dengan kegiatan berbasis kemahasiswaan, di mana mahasiswa turut terlibat dalam proses belajar. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang dinamis sekaligus aplikatif.

 

“Mahasiswa bisa terlibat langsung, ini yang jarang ada di PAUD lain,” kata Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dari sisi pembelajaran, Labschool mengusung pendekatan holistik yang mencakup aspek moral, jati diri, literasi, dan numerasi. Proses belajar dirancang melalui metode scientific dan 4C (communication, creativity, collaboration, critical thinking), dengan pendekatan berbasis proyek. Anak-anak diajak belajar melalui aktivitas bermain yang menyenangkan dan kontekstual.

 

“Bermain itu penting untuk anak usia dini. Dari bermain, minat anak muncul, lalu masuk ke pembelajaran,” papar Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Selain itu, lingkungan belajar juga dirancang ramah anak, termasuk dalam aspek pemberian gizi seimbang dan interaksi sosial yang sehat. Semua ini menjadi bagian dari pendekatan holistik yang diterapkan. Komunikasi dengan orang tua dilakukan secara aktif melalui grup WhatsApp dan interaksi langsung, sehingga perkembangan anak dapat terpantau secara berkelanjutan. Ke depannya, Labschool Unisri memiliki harapan besar untuk terus berkembang dan diterima masyarakat luas, sekaligus berkontribusi dalam menyiapkan generasi masa depan.


“Kami ingin mempersiapkan generasi emas sejak dini, terutama di masa golden age anak- anak,” ujar Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dengan mengusung nilai keslametriyadian, pendekatan holistik, serta keterlibatan akademik, Labschool Unisri berupaya menjadi lebih dari sekadar PAUD, melainkan ruang tumbuh yang menyeluruh bagi anak-anak sejak usia dini.

Dalam praktiknya, pengelolaan Labschool Unisri tidak terlepas dari dinamika komunikasi dengan orang tua yang dilakukan secara aktif melalui grup WhatsApp dan interaksi langsung. Melalui grup tersebut, informasi perkembangan anak disampaikan, meskipun dalam pelaksanaannya tidak jarang terjadi kesalahpahaman. Ibu Alfiana Qori menyebutkan bahwa miskomunikasi kerap terjadi, namun selalu diselesaikan melalui dialog terbuka.

 

“Pasti ada miskomunikasi, tapi biasanya kami pasti komunikasikan lagi langsung saat penjemputan, sekalian kami sampaikan solusinya,” terang Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dalam menjaring tenaga pengajar, pihak sekolah mengedepankan musyawarah untuk memilih mahasiswa yang dinilai siap secara mental dan kompetensi.

 

“Kami mencari mahasiswa yang sudah matang untuk menghandle anak dan menyampaikan materi dengan baik,” tutur Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Upaya memperkenalkan Labschool ke masyarakat juga dilakukan secara langsung, tidak hanya mengandalkan media sosial.

 

“Kami datangi posyandu, nanti pada bulan Mei kami akan hadir di car free day supaya masyarakat lebih mengenal Labschool,” ungkap Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dari sisi penerimaan siswa, Labschool membuka kesempatan bagi anak mulai usia 1,5 tahun atau yang harus sudah bisa berjalan. Sementara itu, untuk membangun kepercayaan orang tua, komunikasi menjadi kunci utama.

“Kami koordinasikan bahwa anak di sekolah akan belajar mandiri dan bersosialisasi. Saat sudah dititipkan, itu menjadi tanggung jawab kami,” tegas Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dalam proses pembelajaran, aktivitas bermain dirancang sebagai sarana utama stimulasi motorik dan minat belajar anak.

 

“Yang penting permainannya aman, nyaman, kreatif, dan tidak membuat anak bosan, sehingga mereka mau mencoba pelan-pelan,” lanjut Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Permasalahan seperti anak yang picky eater juga ditangani melalui kerja sama dengan orang tua. Sekolah berupaya membiasakan anak sekaligus mengedukasi keluarga agar konsisten di rumah. Menariknya, Labschool tidak memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.


“Tidak ada PR, karena untuk anak usia dini memang tidak diperbolehkan,” imbuh Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

Fotografer: Ahmad Nufail

Saat ini, jumlah siswa masih terbatas dengan kegiatan yang difokuskan di lingkungan kampus. Hal ini mempertimbangkan usia anak yang masih kecil, sehingga eksplorasi luar belum menjadi prioritas. Ke depannya, Ibu Qori berharap Labschool dapat berkembang lebih luas dan menjadi rujukan pendidikan anak usia dini.

 

“Semoga muridnya semakin banyak, bisa buka kelas lagi, dan nantinya menjadi sekolah percontohan,” harap Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Sebagai penutup, ia memberikan pesan kepada mahasiswa FKIP tentang pe

ntingnya kesungguhan dalam profesi guru.

 

“Semangat kuliah, karena menjadi guru itu tidak mudah. Semua orang bisa jadi guru, tapi belum tentu semua bisa benar-benar hadir sebagai guru,” pungkas Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

 

Reporter: Oliviana, Lusia, Aryo, Ahmad Nufail

 

Fotografer: Ahmad Nufail

 

Editor: Lathifah An Najla

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done