Pergi Jadi GURU, Pulang Jadi IBU
Sabtu, 6 Juni 2026
Matahari bahkan belum sepenuhnya terbangun ketika sebuah motor bebek
tua buatan satudekade lalu mulai dipanaskan di teras rumah. Suara mesinnya yang
agak pincang memecah keheningan fajar. Di atas jok, seorang wanita muda
memeriksa kembali tas kainnya yang mulai pudar warnanya—memastikan tidak ada
lem, gunting warna-warni, origami, atau buku cerita bergambar yang tertinggal.
Namanya Rahma. Setiap hari, ia adalah seorang pelari estafet
kehidupan yang tangguh. Jarak dari rumahnya dipinggiran kabupaten menuju PAUD tempatnya
mengajar adalah 80 kilometer. Pulang-pergi, 160 kilometer aspal harus ia lahap
demi senyum anak-anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Menjadi "Ibu" bagi Puluhan Anak Orang Lain
Jalanan subuh sering kali kejam dan tanpa kompromi. Angin dingin
menusuk jaket tebal yang dilapisi rompi penahan angin, dan tak jarang hujan
badai memaksa Rahma berteduh di emperan toko yang tutup sambil cemas melihat
jam digital di pergelangan tangannya.
Pikirannya berkecamuk, takut terlambat menyambut anak-anak yang
kerap kali datang lebih awal. Namun, begitu roda motornya menyentuh halaman sekolah
yang masih beralaskan tanah dan kerikil, semua lelah itu seolah luruh di
gerbang.
"Selamat pagi, Ibu Guru Rahma!" seru kompak suara-suara cempreng bernada riang.
Seorang anak kecil berkuncir dua berlari kencang dari pelukan
ibunya, lalu menubruk lutut Rahma erat-eratan. Rahma berlutut di atas tanah,
menyamakan tingginya dengan sang murid, lalu mengusap pipi bocah itu yang masih
belepotan bekas sarapan nasi goreng.
"Ibu
Guru, lihat! Tadi malam aku belajar berhitung sampai sepuluh sama Ayah!" kata si kecil dengan mata membelalak berbinar-binar.
"Hebat
sekali Keysha! Coba sekarang Ibu mau dengar, setelah angka lima berapa,
ya?" tanya Rahma lembut, menyembunyikan
jemarinya yang masih gemetar dan kaku akibat memegang stang motor berjam-jam di
udara dingin.
Di ruangan kelas yang sederhana dengan dinding papan yang mulai
lapuk, Rahma bukan sekadar mengajar huruf A-B-C atau mengeja kata. Ia
bertransformasi total. Ia menyuapi anakyang enggan makan siang karena
merindukan orang tuanya, menyeka air mata yang tumpahkarena berebut mainan
balok kayu, dan memeluk mereka yang butuh ketenangan setelah terjatuh dihalaman.
Diruangan berukuran 4×6 meter itu, ia adalah semesta bagi puluhan anak yang haus akan kasih sayang, perhatian, dan
ilmu pengetahuan. Ia adalah "Ibu" yang selalu ada untuk setiap keluh
kesah kecil mereka.
Senja kala di Jalanan
Jam dinding di kantor PAUD menunjukkan pukul dua siang ketika tugas
mengajarnya usai. Setelah merapikan kembali sisa-sisa krayon dan memastikan
ruang kelas bersih, energi Rahma rasanya sudah terkuras habis. Suaranya agak
serak dan parau setelah seharian bernyanyi, bercerita, dan menenangkan riuhnya
anak-anak. Namun, tugas sejatinya yang lain telah menanti. Ia harus kembali
menempuh jarak 80 kilometer perjalanan pulang, menantang kegarangan truk-truk
kontainer besar, bus antarkota yang ugal-ugalan, dan paparan debu jalanan yang
mulai pekat di bawah terik matahari sore yang menyengat.
Sepanjang jalan, fokus Rahma terbelah menjadi dua. Di
balik helmnya yang kusam, bayangan anak kandungnya sendiri, yang baru berusia
empat tahun, mulai menari-nari di pelupuk mata. Rasa bersalah kadang menyelusup
ke dalam dadanya.
Apakah dia sudah makan siang dengan
lahap hari ini?
Apakah dia rewel saat dititipkan dirumah
neneknya seharian tadi?
Mengapa aku
menghabiskan seluruh energi dan kesabaranku untuk anak orang lain, sementara anakku
sendiri harus sabar mengantre sisa waktu dan tenagaku dirumah?
Setiap tarikan gas motornya adalah lambang gejolak rindu dan rasa
bersalah yang ingin segera ia tuntaskan di ujung jalan nanti.
Kembali ke Pelukan yang Sebenarnya
Pukul lima sore lewat sedikit, motor tua itu akhirnya kembali
terparkir di halaman sebuah rumah sederhana. Mesinnya berderit, kepanasan
setelah menempuh perjalanan panjang. Tubuh Rahma terasa lengket oleh keringat
yang mengering, berpola debu hitam di sekitar leher dan wajahnya yang kusam.
Begitu standar motor ditegakkan dengan sisa tenaga yang ada, pintu rumah kayu
itu terbuka lebar. Seorang anak laki-laki kecil dengan kaus oblong longgar
berlari kencang tanpa alas kaki ke arahnya.
"Ibuuuu! Ibu sudah puwaaang!"
Rahma secara refleks merentangkan kedua tangannya yang letih, namun
tiba-tiba ia menariknya kembali ke belakang tubuhnya. Ia melihat ke bawah,
memandangi bajunya yang kotor dan berbau asap knalpot jalanan raya.
"Sayang,
sebentar ya... Jangan dekat-dekat dulu. Ibu kotor sekali, banyak debu di baju
Ibu. Ibu mandi dan bersuci dulu, baru setelah itu kita peluk yang lama,
ya?" bisik Rahma dengan suara bergetar,
matanya mendadak berkaca-kaca menahan rindu yang membuncah.
Anak kecil itu menggeleng kuat-kuat dengan wajah cemberut,
mengabaikan peringatanibunya, dan langsung menubrukkan badannya ke pelukan
Rahma. "Enggak apa-apa, Bu. Aku enggak takut
kotor. Aku cuma kangen banget sama Ibu."
Dalam dekapan hangat di teras rumah yang mulai temaram itu, air mata
Rahma akhirnya luruh, membasahi pundak kecil anaknya. Rasa lelah yang menumpuk
sedari perjalanan yang
ditempuhnya setiap hari menguap begitu saja tanpa bekas, digantikan
olehkehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rumah itu kini kembali
lengkap.
Catatan Jurnalis
Kisah Rahma adalah sebuah potret nyata tentang dedikasi yang
melampaui angka-angka matematis di spidometer kendaraan. Di atas aspal yang
panas dan di antara debu jalanan, ia mengukir arti sebuah ketulusan. Baginya,
80 kilometer berangkat adalah sebuah perjalanan suci untuk membagikan masa
depan dan harapan kepada anak-anak bangsa. Dan 80 kilometer pulang adalah
sebuah perjalanan pulang yang sakral untuk menjemput kebahagiaan sejatinya yang
paling murni.
Di pagi hari, ia dengan tegar melepaskan perannya di rumah demi
menjadi seorang guru yang digugu dan ditiru di sekolah. Namun di sore hari, ia
menanggalkan seluruh status kedinasandan keprofesionalannya di pintu rumah,
demi kembali menjadi madrasah pertama dan pelabuhan terbaik bagi darah
dagingnya sendiri.
Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya, yang
bertarung di jalanan setiap hari.
Pergi jadi guru, pulang jadi ibu.
Penulis: Alfiana Qori
Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby
