Wajah yang Diingat Air
Malam di kota itu tidak pernah
benar-benar gelap. Lampu jalan menggantung seperti mata yang enggan terpejam,
mengawasi sesuatu yang bahkan tidak ingin mereka lihat terlalu jelas. Di bawah
cahaya kekuningan itu, Damar berjalan sendirian. membawa tas lusuh berisi
catatan, selebaran, dan potongan keberanian yang belum sempat ia susun ulang.
Ia tahu kota ini hafal langkahnya.
Atau setidaknya, ada yang
menghafalnya.
Beberapa hari terakhir, pesan-pesan
aneh mulai berdatangan. Nomor tak dikenal. Kalimat pendek. Tidak selalu
ancaman, tapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak setiap kali ponselnya
bergetar.
Hati-hati di jalan.
Tidak semua orang suka kamu bicara.
Damar tidak membalas. Ia hanya
menyimpan semuanya, seperti ia menyimpan banyak hal lain: nama, peristiwa, dan
wajah-wajah yang pernah berbicara—lalu perlahan menghilang dari ruang publik.
Ia pernah berkata dalam sebuah
diskusi kecil, “Negara tidak perlu membungkam kalau masyarakatnya sudah
belajar membungkam diri sendiri.”
Beberapa orang tertawa waktu itu.
Yang lain hanya diam.
Di sebuah gang sempit yang
menghubungkan jalan utama dengan kontrakannya, langkah Damar melambat. Bukan
karena ia ragu, tetapi karena instingnya bekerja lebih dulu daripada
pikirannya.
Ada suara lain.
Tidak jauh. Tidak dekat.
Cukup untuk terasa.
Ia tidak sempat menoleh sepenuhnya
ketika seseorang bergerak cepat dari samping.
Cairan itu datang tanpa suara.
Lalu segalanya berubah menjadi
teriakan.
Air itu bukan air.
Damar jatuh. Dunia di sekitarnya
pecah menjadi suara-suara yang tidak utuh. Langkah kaki menjauh, pintu dibuka,
seseorang berteriak memanggil bantuan.
Dan di sela rasa sakit yang tak
bisa ia beri nama, satu hal melintas di kepalanya, jernih dan dingin.
Ini bukan kebetulan.
Berita itu muncul keesokan harinya.
Singkat. Ringkas. Terukur.
“Seorang aktivis menjadi
korban penyiraman cairan berbahaya oleh orang tak dikenal.”
Tidak ada kata “direncanakan”.
Tidak ada kata “dibungkam”.
Hanya “orang tak dikenal,”
sebuah frasa yang begitu sering
digunakan,
hingga terdengar seperti alamat
tetap bagi pelaku kekerasan.
Di layar televisi, seorang pejabat
berbicara dengan nada yang telah terlatih.
“Kami mengutuk keras
tindakan ini dan akan mengusut tuntas kasus tersebut.”
Kalimat itu meluncur mulus, seperti
tidak pernah gagal.
Seperti tidak pernah perlu
dibuktikan.
Ruang perawatan rumah sakit berbau
antiseptik dan sunyi yang dipaksakan. Wajah Damar dibalut perban, menyisakan
sedikit ruang untuk bernapas dan melihat dunia yang kini terasa asing.
Sinta duduk di sampingnya, membuka
catatan kecil milik Damar yang ditemukan dalam tasnya malam itu. Tulisan tangan
Damar tidak rapi, tetapi tegas—seperti orang yang tidak punya waktu untuk
merapikan, hanya untuk mengatakan.
“Dia sudah bilang ini akan
terjadi,”
kata Sinta pelan.
“Apa?” tanya seorang jurnalis
lain.
Ketika kekerasan menjadi pola, maka
diam akan diajarkan sebagai keselamatan.
Mereka terdiam.
Di luar, wartawan mulai
berdatangan. Kamera disiapkan. Pertanyaan dirangkai.
Narasi mulai dibentuk.
Hari-hari berikutnya berjalan
seperti yang sudah bisa ditebak.
Polisi menggelar konferensi pers.
Penyelidikan dilakukan.
Beberapa saksi diperiksa.
Negara tampak bekerja.
Namun di ruang-ruang diskusi yang
dulu riuh, sesuatu berubah.
Nada suara menurun.
Kalimat-kalimat dipotong sebelum
selesai.
Seseorang mulai berkata, “Mungkin
kita jangan terlalu frontal dulu.”
Yang lain menambahkan, “Kita
lihat perkembangan kasusnya.”
Dan tanpa perlu ada instruksi
resmi,
ruang itu menjadi lebih sunyi.
Damar perlahan pulih, tetapi
wajahnya tidak kembali seperti semula. Cermin menjadi benda yang ia hindari,
bukan karena ia tidak kuat melihat luka, tetapi karena ia tahu luka itu membawa
arti yang lebih luas daripada sekadar kulit.
Suatu sore, Sinta datang membawa
beberapa kliping berita.
“Kasusmu sudah mulai jarang
diberitakan,” katanya.
Damar tersenyum tipis, sejauh yang
ia bisa.
“Artinya, kasus berikutnya
sedang menunggu giliran,”
jawabnya.
Sinta tidak langsung menanggapi.
“Kenapa kamu masih bisa
bicara seperti itu?”
tanyanya akhirnya.
Damar menatap ke luar jendela.
Matahari hampir tenggelam, meninggalkan warna jingga yang terlalu indah untuk
sebuah kota yang menyimpan begitu banyak luka.
“Karena kalau saya berhenti
memahami ini sebagai pola,”
katanya pelan,
“saya akan menganggapnya
sebagai kejadian.
Dan kalau kita menganggap
ini hanya kejadian,
kita tidak akan pernah
benar-benar menuntut perubahan.”
Beberapa minggu kemudian, negara
kembali berbicara.
Kasus masih “dalam proses”.
Pelaku masih “dalam pengejaran”.
Publik diminta “bersabar”.
Kata-kata itu kembali beredar,
seperti air yang mengalir di jalur yang sama, tanpa pernah benar-benar mencari
muara.
Dan di suatu tempat di kota yang
sama,
seseorang berjalan sendirian di
bawah lampu jalan,
membawa pikiran yang terlalu jernih
untuk dibiarkan.
Air, seperti biasa, sedang
menghafal wajah baru.
Di dalam kamarnya, Damar membuka
kembali catatan kecilnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menambahkan satu
kalimat:
Di negeri ini, keadilan tidak
selalu datang terlambat.
Kadang, ia memang tidak pernah
benar-benar berangkat.
Ia menutup buku itu.
Di luar, malam kembali jatuh—
dan kota itu, seperti biasa,
tampak baik-baik saja.
Penulis: Aca
Penyunting: Adista


