May Day di Taman Sehat Putri Cempo: Gelar Festival Rakyat untuk Ruang Belajar, Seni, dan Ekspresi
SURAKARTA, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh di TPA Putri Cempo tahun ini berlangsung berbeda. Di tengah hamparan sampah yang selama ini menjadi sumber penghidupan sekaligus persoalan,mahasiswa dan sejumlah lembaga menggelaraksi bertajuk Festival Putri Cempo yaitu sebuah ruang pertemuan antara warga, pemulung, dan aktivis.
Kegiatan dimulai sejaknsiang dengan layanan cek kesehatan gratis bagiwarga serta kehadiran lapak baca yang terbuka untuk umum. Warga tampak memanfaatkan layanan tersebut di tengah kondisi lingkungan yang selama ini mereka hadapi.
Memasuki sore hari, rangkaian acara semakin hidup. Program “Ruang Belajar Bergerak” digelar dengan melibatkan anak-anak disekitar lokasi.Mereka mengikuti berbagai aktivitas seperti mewarnai, mendongeng, hingga bermain game edukatif, menghadirkan suasana hangat di tengah kawasan yang identik dengan tumpukan sampah.
Masih di waktu yang sama, acara utama dibuka dengan monolog oleh Ratih Ayu dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.Pertunjukan tersebut mengangkat realitas kehidupan di sekitar TPA Putri Cempo tentang kerja, ketimpangan, dan suara warga yang kerap terpinggirkan.
Setelah itu, forum berlanjut ke sesi ngobrol santai. Warga, mahasiswa, dan perwakilan lembaga duduk bersama membicarakan kondisi TPA Putri Cempo dari berbagai perspektif, mulai dari persoalan lingkungan,kebijakan pengelolaan sampah,hingga dampaknya terhadap kehidupan pemulung.
Lalu ada pertunjukan hiburan seni oleh Dipa dan Ilham dari Front Mahasiswa Nasional menampilkan wayangyang diiringi tabuhan gendang. Ditengah keterbatasan ruang dan kondisi, pertunjukan itu menjadi simbol ekspresi sekaligus penyampaian pesan sosial. Suasana yang semula hangat berubah menjadi tegan, menjelang malam aparat kepolisian datang dan mengimbau agar kegiatan segera dihentikan.
“Intinya dari pihak kepolisian tidak mengizinkan,” ujar panitia menirukan pernyataan aparat (1/5/2026). Tanpa penjelasan rinci acara dihentikan sekitar pukul19.00 WIB demi menjaga kondusivitas. Panggung yang sebelumnya menjadi ruang dialog dan ekspresi warga pun terpaksa dibubarkan.
Di balik festival tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar. Salah satu isu utama mengemukan adalah kebijakan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membatasi aktivitas pemulung hanya di zona tertentu di kawasan TPA.
Kebijakan ini menuai keluhan dari warga sekitar yang selama ini bergantung pada aktivitas pemulungan.Mereka menilai pembatasan tersebut berdampaklangsung padapenghasilan dan keberlangsungan hidup.
Salah satu warga yang tinggal dekat lokasi mengungkapkan bahwa pemulung justru memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah.
“Yang kena dampaknya ya pemulung,padahal mereka membantu mengurangi sampah,” ujarnya (1/5/2026).
Menurutnya, dalam kondisi norma aktivitas pemulung mampu mengurangi volume sampah hingga 30–50ton perhari. Tetapi sejak adanya pembatasan tersebut jumlah pemulung terus berkurang dan kesempatan mencari nafkah semakin sempit.
Warga juga menyoroti minimnya komunikasi antara pemerintah atau pengelola dengan masyarakat terdampak.
“Warga sekitar yang terdampak tidakdilibatkan dalam rapat,” ucapnya dalam wawancara Jumat malam (1/5/2026).![]()
Selain persoalan ekonomi, warga mengeluhkan dampak lingkungan yang belum tertangani secara maksimal. Bau tidak sedap, limbah, hingga gangguan kesehatan menjadi bagian dari keseharian mereka.
Ironisnya, menurut warga yang tinggal di dekat situ. Perhatian terhadap aspek kesehatan masih minim. Tidak ada pemeriksaan kesehatan rutin bagi masyarakat disekitar dan tidak pernah mendapatkan bantuan logistik apapun.
Meskipun terdapat persoalan tersebut warga menegaskan tidak menolak pengelolaan sampah maupun rencana pembangunan fasilitas di kawasan tersebut. Mereka justru berharap adanya transparansi, sosialisasi yang jelas, serta pelibatan warga dalam setiap kebijakan yang diambil.
Festival Putri Cempo dalam peringatan May Day ini membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, bagi warga untuk bersuara, dan bagi berbagai pihak untuk saling mendengar. Namun, ruang itu juga menunjukkan batas yang masih kuat terasa.
TPA Putri Cempo,persoalan tidak hanya tentang sampah,tetapi juga tentang siapa yang berhak bertahan hidup di dalamnya.
May Day tahun ini menjadi lebih dari sekadar peringatan.Ia menjelma menjadicermin atas tarik-menarik kepentingan antara kebijakan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat kecil yang terus berjuang agar suaranya didengar.
Reporter: Lusia Nur, Adista Putri, Lintang Febrianti, Jelita Citra, Ahmad Nufail
Fotografer: Ahmad Nufail
Penyunting: Oliviana Angelicha Effendy


.jpeg)
.jpeg)



