LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Sampah yang Dikumpulkan, Harapan yang Ditumbuhkan: Menelisik Pusat Pengolahan Sampah Organik Terbesar di Indonesia

Sampah yang Dikumpulkan, Harapan yang Ditumbuhkan: Menelisik Pusat Pengolahan Sampah Organik Terbesar di Indonesia


 

Karya: Vanessa Adinda Kusuma D.S

 

Bau khas sampah organik tidak lagi tercium saat langkah kaki memasuki kawasan pengolahan sampah organik di Oasis Kudus. Di tempat inilah, sisa makanan dan limbah organik yang kerap kali dianggap tidak berguna justru menemukan makna baru. Kunjungan Ecotour Oasis Kudus pada 26 November 2025 membuka mata mahasiswa bahwa di balik tumpukan sampah, ada upaya serius untuk menjaga lingkungan yang telah berjalan bertahun-tahun.

 

Kegiatan kunjungan ini diselenggarakan oleh Djarum Foundation bekerja sama dengan Solopos Media Group. Salah satu agenda yang paling menarik adalah melihat langsung pusat pengolahan sampah organik terbesar di Indonesia yang dikelola melalui Program Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Fasilitas ini menjadi bukti nyata bahwa persoalan sampah dapat dikelola secara berkelanjutan jika ditangani dengan sistem yang tepat.

 

Setiap harinya, sekitar 50 ton sampah organik diolah di pusat ini. Sampah tersebut berasal dari berbagai sumber di wilayah Kudus, mulai dari rumah tangga hingga area publik. Alih-alih dibuang ke tempat pembuangan akhir, sampah organik di kawasan Kudus diproses menjadi kompos yang siap dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

 

Menariknya, kompos hasil pengolahan ini tidak diperjualbelikan. Djarum Foundation membagikannya secara gratis kepada warga Kudus yang membutuhkan kompos. Masyarakat perorangan yang membutuhkan kompos dapat mengajukan permintaan secara langsung, sementara untuk kebutuhan dalam jumlah besar, seperti pertanian atau komunitas tertentu, pengajuan dapat dilakukan melalui proposal. Kebijakan ini menunjukkan bahwa program yang diadakan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation tidak berorientasi pada keuntungan, melainkan pada manfaat lingkungan dan sosial.

 

Program pengolahan sampah organik ini telah berjalan sejak tahun 2018 dan terus menunjukkan konsistensinya hingga saat ini. Salah satu faktor pendukung keberhasilannya adalah layanan penjemputan sampah organik secara gratis. Dengan sistem ini, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai proses pengiriman sampah, karena seluruh tahapan telah difasilitasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation.

 

Tidak berhenti pada pengolahan, program ini juga memberikan edukasi kepada warga masyarakat Kudus. Masyarakat Kudus didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah, terutama memisahkan sampah organik agar dapat dikelola secara optimal. Edukasi ini menjadi membawa dampak besar, karena pengelolaan sampah yang efektif selalu dimulai dari kesadaran individu.

 

Melalui kegiatan Ecotour Oasis Kudus, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga pengalaman langsung melihat bagaimana sampah organik bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Program Bakti Lingkungan Djarum Foundation menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga bentuk kepedulian bersama terhadap keberlanjutan masa depan lingkungan. Dari tempat inilah, sebuah harapan tentang pengelolaan limbah sampah organik berkelanjutan terus tumbuh.

 

 

 

Penulis            : Vanessa Adinda Kusuma D.S

 

Penyunting      : Fahra Nautisya Octavia Hany

 

 LPM Apresiasi Unisri Gelar PENGEMAS, diskusi publik dan Bedah Buku Tan Malaka

LPM Apresiasi Unisri Gelar PENGEMAS, diskusi publik dan Bedah Buku Tan Malaka

 

LPM Apresiasi Unisri Gelar Pengabdian Masyarakat, diskusi publik dan Bedah Buku Tan Malaka

( Sumber foto : Adyuta Rafi W)


Surakarta 31 Maret 2026- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Apresiasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) sukses melaksanakan rangkaian program kerja wajib berupa pengabdian masyarakat dan diskusi publik selama dua hari, 30-31 Maret 2026.
Pada hari pertama, Senin (30/3), LPM Apresiasi mengunjungi Yayasan Rumah Kasih Rossetti di Danukusuman, Serengan. Dalam kegiatan tersebut, para anggota melaksanakan edukasi melalui lomba mewarnai kata, pembuatan puisi, serta belajar bersama anak-anak panti. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kreativitas, mengenal huruf, dan meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak sejak dini. 
Selain edukasi, LPM Apresiasi juga menyalurkan donasi berupa uang tunai senilai Rp880.000 dan pakaian layak pakai. Dana tersebut terkumpul dari sumbangan Informasi Seputar KIP Kuliah Samarinda (Rp250.000) dan internal anggota LPM Apresiasi (Rp630.000). Seluruh donasi kemudian diwujudkan dalam bentuk sembako, alat tulis, dan makanan ringan untuk penghuni panti asuhan.

Berlanjut pada Selasa (31/3/26), acara bergeser ke ranah intelektual dengan digelarnya Diskusi Publik dan Bedah Buku di Ruang Seminar Lantai 3 Kampus Unisri. Bekerja sama dengan penerbit Diomedia, acara ini membedah karya-karya pemikiran pahlawan nasional Tan Malaka, seperti Madilog, Dari Penjara ke Penjara, aksi massa, semangat muda, dan menuju Republik Indonesia 

Diskusi ini menghadirkan empat narasumber lintas generasi: Daryono (Pimpinan Umum LPM Apresiasi 2011), Dimas Suro Aji (Mantan Anggota LPM UNS), Nawal Najla Azula (Pimpinan Umum LPM Apresiasi 2020), dan Wiri Tanaya Hayu (Redaktur LPM Apresiasi 2025/2026). Acara ini dihadiri oleh perwakilan LPM se-Solo Raya, delegasi UKM/Ormawa Unisri, serta masyarakat umum.

"Melalui diskusi ini, kami berharap masyarakat dapat lebih mendalami perjuangan Tan Malaka dalam memajukan pemikiran dan pendidikan di Indonesia serta bagaimana pers mahasiswa memiliki pemikiran kritis," ujar perwakilan penyelenggara.

Sebagai penutup, LPM Apresiasi memberikan apresiasi khusus kepada lima LPM di Solo Raya yang dinilai konsisten memberikan dampak nyata dalam penyebaran literasi dan informasi, yaitu:
1. LPM Pabelan ( UMS )
2. LPM Kentingan ( UNS )
3. LPM Justisicia ( FH UMS )
4. LPM  NOVUM ( FH UNS )
5. LPM LOCUS ( UIN SURAKARTA)

Penulis: Adyuta rafi warabrata

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby
Saat Kesempatan Datang Tanpa Disadari

Saat Kesempatan Datang Tanpa Disadari

 

(Ilustrasi: Canva)

 

Sering kali, sesuatu terlewat bukan karena kita tidak diberi kesempatan, melainkan karena kita merasa waktu masih panjang.

Banyak hal datang di saat yang sebenarnya cukup, namun kerap dianggap belum mendesak. Kita memilih menunda, berpikir masih ada waktu lain, masih bisa dilakukan nanti. Hingga tanpa disadari, waktu yang semula terasa luas justru menjadi terbatas.

Menariknya, kesempatan tidak selalu hadir dengan tanda yang mencolok atau terasa istimewa sejak awal. Karena tampak biasa, kita justru cenderung mengabaikannya. Padahal, bisa jadi itulah momen yang sebenarnya berarti.

Menunda juga sering terasa wajar. Kita menunggu suasana hati, menunggu kesiapan, atau menunggu kondisi yang dirasa lebih sempurna. Padahal, dalam banyak situasi, yang dibutuhkan bukanlah waktu yang sempurna, melainkan kemauan untuk memulai.

Ketika waktu mulai menipis, rasa panik pun muncul. Hal yang sebelumnya bisa dilakukan dengan tenang berubah menjadi terburu-buru. Di situlah sering kali kita sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Pada akhirnya, hampir semua orang pernah berada di posisi ini. Bukan soal siapa yang paling siap, tetapi siapa yang mau melangkah lebih dulu sebelum semuanya terlambat.

 

Penulis : Jesika D.N

penyunting : nazuwa basalwa

 

Melindungi atau Membatasi? Pro-Kontra Blokir Medsos Anak

Melindungi atau Membatasi? Pro-Kontra Blokir Medsos Anak


 

    Isu pemblokiran akun media sosial untuk anak di bawah 16 tahun sedang ramai diperbincangkan dan menimbulkan pro–kontra di masyarakat. Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk perlindungan dari pemerintah agar anak-anak terhindar dari dampak negatif dunia digital, seperti cyberbullying, paparan konten yang tidak sesuai, hingga kecanduan yang bisa memengaruhi perkembangan mental dan sosial mereka. Terlebih lagi, saat ini banyak anak yang sudah mengenal internet sejak usia dini tanpa pengawasan yang memadai.

    Namun di sisi lain, kebijakan tersebut dinilai terlalu menyamaratakan. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk belajar, mengekspresikan diri, serta mengembangkan kreativitas dan personal branding sejak usia muda. Tidak sedikit anak di bawah 16 tahun yang memanfaatkan platform digital untuk hal-hal positif, seperti berbagi edukasi, berjualan, atau berkarya. Jika aksesnya langsung dibatasi, hal ini justru berpotensi menghambat perkembangan mereka.

    Selain itu, efektivitas kebijakan ini juga masih dipertanyakan. Di tengah kemajuan teknologi, anak-anak cenderung lebih cepat beradaptasi dan mampu mencari cara untuk menyalahi aturan, misalnya dengan memalsukan usia atau menggunakan akun milik orang lain. Artinya, tanpa dibarengi dengan edukasi digital yang kuat, pemblokiran saja tidak akan menjadi solusi yang menyeluruh.

    Menurut saya, pendekatan yang lebih tepat bukan hanya sekadar melarang, melainkan mengatur sekaligus mendampingi. Pemerintah dapat bekerja sama dengan platform media sosial untuk menghadirkan sistem perlindungan yang lebih aman bagi anak, sementara peran orang tua dan sekolah juga penting dalam memberikan literasi digital. Dengan begitu, anak-anak tetap bisa mengakses teknologi, namun dengan batasan dan pengawasan yang tepat.

    Pada akhirnya, upaya melindungi anak memang penting, tetapi metode yang digunakan juga harus bijak. Jangan sampai niat untuk menjaga justru berujung pada pembatasan ruang berkembang bagi generasi muda di era digital.

Penulis: Alfira Aulia Naja H

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby

Doa yang Tak Lagi Memaksa

Doa yang Tak Lagi Memaksa

 


Karya: Amellya Dyah Novita Sari

Di antara sunyi yang tak bersuara,

aku duduk bersama hidup

yang tak pernah benar-benar kupahami.

 

Hari-hari datang

seperti ombak yang tak menanyakan

apakah aku siap tenggelam lagi.

 

Aku pernah menjadi laut

yang pernah marah pada badai,

menyalahkan angin yang

yang tak pernah memilihku untuk tenang.

 

Namun,

Waktu diam-diam mengajariku

cara kalah yang tidak memalukan.

 

Kini, aku tidak lagi menuntut langit

untuk selalu cerah,

tak lagi memaksa semesta

mengikuti arah yang kuinginkan.

 

Ada luka

yang tidak perlu sembuh hari ini,

ada kehilangan,

yang tak harus segera terganti.

 

Dan aku..

Mulai mengerti pelan-pelan,

bahwa hidup bukan tentang menang

atau menemukan semua jawaban.

 

Melainkan tentang bertahan

tanpa kehilangan diri,

tentang jatuh

tanpa lupa cara berdiri dalam diam.

 

Maka malam ini,

Aku tak lagi meminta banyak,

Hanya cukupkan hatiku

Untuk tidak melawan apa yang sudah terjadi.

 

Karena akhirnya aku tahu,

Di titik-titik ini,

Saat doa-doaku tak lagi memaksa,

Aku menemukan satu hal yang sederhana.

Tenang,

Yang tak perlu alasan.

 

 

Penyunting: Adista Putri Revalina

 

 

 

 


Jejak Limbah

Jejak Limbah

 

(Ilustrasi by: Pinterest)

 

 

 

Putri Cempo,

kamu diam saja di sana,

menahan semua yang dibuang,

tanpa pernah bisa menolak.

 

Angin tak pernah pilih arah,

ia membawa bau ke mana saja,

menyusup ke rumah-rumah,

ke napas yang tak sempat menolak.

 

Di sana, waktu seperti berhenti,

tertahan di antara plastik dan sisa makanan,

yang tak pernah benar-benar hilang,

hanya berpindah, menunggu dilupakan.

 

Orang-orang lewat, kadang menutup hidung,

kadang berpura-pura biasa saja,

seolah semua ini wajar,

seolah tak ada yang perlu dipertanyakan.

 

Padahal, setiap tumpukan itu

adalah jejak dari kita semua,

yang pernah membuang tanpa berpikir,

tanpa ingin tahu akan berakhir di mana.

 

Dan kini, gunung itu berdiri,

bukan sebagai keindahan,

melainkan pengingat,

bahwa apa yang kita buang,

tak pernah benar-benar pergi.

 

Penulis: Alvia Ramadani

Penyunting: Lathifah An Najla

 

Resensi Film "Keadilan (The Verdict)"

Resensi Film "Keadilan (The Verdict)"

 



IDENTITAS FILM

Judul                     : Keadilan (The Verdict)

Sutradara              : Lee Chang-hee, Yusron Fuadi

Tahun rilis            : 2025

Pemeran Utama    : Rio Dewanto, Reza Rahadian

Genre                    : Drama, Thriller, Hukum

 

SINOPSIS

Film ini menceritakan kisah Raka (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang idealis dan jujur. Setiap hari ia menyaksikan bagaimana hukum dimanipulasi oleh kekuasaan dan uang. Hidupnya berubah saat istrinya, Nina (Niken Anjani), advokat muda yang sedang mengandung dan baru lulus dari ujian profesi menjadi korban kekerasan kejam dari anak seorang konglomerat. Ketika keadilan tidak berpihak padanya dan pelaku dilindungi oleh pengacara licik bernama Timo (Reza Rahadian), Raka kehilangan keyakinannya terhadap sistem hukum. Di tengah tekanan publik dan media sosial yang mudah dipengaruhi, Raka akhirnya memutuskan untuk mengambil alih ruang sidang dengan pistol di tangannya.

 

ANALISIS

Dari segi alur cerita, film atau drama pada umumnya yang bertema hukum biasanya memiliki alur yang rumit dan sulit dipahami. Tetapi, film ini cukup menarik karena alurnya jelas dan mudah dipahami. Alur film Keadilan The Verdict menggunakan alur maju yang sederhana dan mudah diikuti. Karena ceritanya bergerak dari awal kasus hingga persidangan, saya lebih memahami bagaimana konflik itu berkembang.

Film Keadilan (The Verdict) merupakan film thriller hasil kolaborasi antara sutradara Indonesia Yusron Fuadi dan sutradara asal Korea Selatan Lee Chang-hee, yang dikenal lewat serial Netflix A Killer Paradox (2024) dan Strangers From Hell (2019). Kolaborasi sutradara Indonesia dan Korea Selatan membuat film ini seperti drama thriller hukum korea dengan alur yang kuat dan suasana tegang.

Sentuhan sinematik Korea terlihat dari teknik pengambilan gambar yang fokus pada detail ruang sidang sehingga suasana persidangan terasa lebih tegang. Beberapa adegan seperti pengeboman dan pengepungan gedung pengadilan semakin memperkuat nuansa thriller yang biasanya ada dalam drama korea. Meskipun demikian, film ini tetap menghadirkan sentuhan Indonesia dalam penceritaan

Selain dari segi sinematik, kemampuan akting para pemain dalam film Keadilan (The Verdict) tidak perlu diragukan lagi. Penampilan Rio Dewanto (Raka) dan Reza Rahadian (Timo) menjadi sorotan utama karna keduanya mampu menampilkan karakter yang mendalam. Sebagai aktor papan atas, mereka mampu membangun emosi dalam setiap adegan sehingga konflik terasa lebih nyata dan kuat.

Rio Dewanto (Raka) berhasil menampilkan karakter dengan berbagai emosi, mulai dari sedih, marah hingga putus asa yang terasa natural dan tidak berlebihan. Reza Rahadian (Timo) tampil dengan karisma yang kuat, juga berhasil menampilkan karakter pengacara yang licik, manipulatif, dan mahir dalam mempermainakn segala hal di pengadilan, baik itu uang, kekuasaan, maupun relasi.

Pemilihan lagu I'd Like to Watch You Sleeping dari Sal Priadi di akhir film membuat suasana yang sebelumnya penuh ketegangan berubah menjadi lebih hening dan emosional, sehingga penutup film terasa lebih menyentuh.

 

Menurut saya, film Keadilan (The Verdict) memiliki kelebihan yang cukup menonjol. Salah satu kelebihannya adalah cerita yang mengangkat isu hukum dan ketidakadilan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga terasa relevan dengan kondisi nyata. Di akhir cerita Raka dan tokoh-tokoh lainya juga mendapatkan hukuman yang setara atas perbuatanya.

Namun dii balik kelebihannya, film Keadilan (The Verdict) juga memiliki kekurangan, yaitu latar belakang tokoh Raka yang tidak dijelaskan secara mendalam hingga akhir film, termasuk koneksi, kemampuan, dan aksesnya dalam meminjam pistol, sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan.

 

Secara keseluruhan, film Keadilan (The Verdict) bukan sekadar film hiburan, tetapi juga menjadi refleksi tentang kondisi sosial dan hukum dalam kehidupan nyata, terutama tentang bagaimana kekuasaan dan uang dapat mempengaruhi sistem keadilan.

Film ini menunjukan bahwa kekuasaan dan uang dapat mempengaruhi proses pengadilan sehingga kebenaran tidak selalu menjadi hal yang utama. Melalui dialog Raka yang mengatakan bahwa “Di pengadilan bukan kebenaran yang akan menang, tapi yang menang akan menjadi kebenaran”. Film ini memperkuat kritik terhadap sistem peradilan yang dapat dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Kalimat tersebut membuat penonton sadar bahwa tidak semua putusan pengadilan mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya, karena dalam praktiknya masih terdapat kemungkinan manipulasi hukum oleh pihak-pihak tertentu demi memenangkan perkara di pengadilan. Oleh karena itu, film ini mampu menyampaikan pesan moral untuk mengajak penonton untuk lebih kritis dalam memahami makna keadilan dan tidak mudah percaya pada setiap keputusan hukum serta mendorong pentingnya integritas dalam menegakkan hukum di masyarakat.

Film Keadilan (The Verdict) sangat direkomendasikan untuk ditonton karena alurnya yang menarik serta mengangkat kritik terhadap sistem hukum.

 

 

Penulis Resensi: Kanaya Riqky Aulia

Penyunting: Adista Putri Revalina

Judul buku : Si Anak Kuat

Judul buku : Si Anak Kuat

 

(sumber foto : bukukita.com)

 

Penulis: Tere Liye

Penerbit : Republika

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: 397 halaman

 

Novel Si Anak Kuat merupakan salah satu karya Tere Liye dari serangkaian serial miliknya yang dinamakan Serial Si Anak Nusantara, Beberapa judul serial Si Anak Nusantara lainnya yakni "Si Anak Pemberani", "Si Anak Spesial", "Si Anak Pintar", "Si Anak Cahaya", dan "Si Anak Badai". Setiap judul memiliki jalan ceritanya sendiri. Novel Si Anak Kuat menceritakan tentang kehidupan keluarga Syahdan dan Nurmas dari sudut pandang Amelia yang selalu diejek sebagai "penunggu rumah" sebab perannya sebagai anak bungsu yang dianggap tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa pergi kemana saja, karena menurut masyarakat sekitarnya sejatinya anak bungsu harus tetap tinggal di rumah dan tidak boleh pergi meninggalkan kampung halaman. Namun, Ameha berbeda. Ia justru bertekad untuk mengubah anggapan tersebut dengan pengetahuan dan kekuatan yang dimilikinya. Dalam novel ini, Tere Liye mengangkat tema tentang keharmonisan, kesederhanaan dan kehangatan kehidupan sebuah keluarga.

Semua orang memanggil si bungsu dengan sebutan Amel. Tetapi Amel ingin dipanggil dengan sebutan Eli, sama seperti nama kakak sulungnya. la ingin menjadi anak sulung, la benci menjadi anak bungsu, karena hanya dirinya yang tidak bisa mengatur siapapun di rumahnya dan selalu mendapatkan baju lungsuran dari kakanya. Ditambah dua kakak laki-lakinya, yakni Kak Pukat dan Kak Burlian selalu mengolok Amel bahwa anak bungsu itu manja, tidak bisa pergi jauh, dan akan terus menjadi "penunggu rumah". Oleh karena itu, Amel sangat benci dengan takdirnya sebagai anak terakhir. Meskipun begitu, bapaknya selalu berkata walau Amel adalah anak bungsu, tetapi dalam keluarganya Amel adalah sosok yang paling kuat. Bukan kuat dalam soal fisik, tapi kuat dari dalam. Amelia memiliki keteguhan hati yang lebih baik mengenai pemahaman nilai-nilai kehidupan dibanding kakak-kakaknya. la sangat peduli terhadap kepentingan keluarga, teman, dan orang-orang sekitar yang ia sayangi. Pada akhirnya, Amelia pun mengerti dan menerima dirinya sebagai anak bungsu.

Amelia merupakan sosok yang berani, cerdas, dan bisa diandalkan. Oleh karena itu, dirinya menjadi anak murid kesayangan guru satu-satunya di sekolahnya, yaitu Pak Bın. Suatu ketika. Pak Bin meminta bantuan kepada Amel untuk membantu temannya bernama Chuck Norris. Norris adalah anak yang sangat nakal, biang masalah, dan cenderung menolak untuk bergaul dengan teman-temannya. Ternyata sifat Norris yang demikian, terbentuk karena dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Pak Bin percaya, dengan kebaikan dan keteguhan hati yang dimiliki Amel, dirinya pasti dapat merubah Norris secara perlahan menjadi anak yang baik. Dengan segala keraguan dalam dirinya. Bagian menarik yang dapat membuat pembaca terhibur dan terharu adalah interaksi antara Amel dengan saudara-saudaranya. Amel menganggap bahwa Kak Eli adalah si tukang suruh-suruh yang cerewet dan tak jarang membuat Amel kesal. Tetapi kekesalannya sirna saat ia melihat pengorbanan Kak Eli yang membantunya ketika terjatuh di ladang karet dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis mencari kayu bakar.. Amel yang tidak bisa berjalan akhirnya digendong oleh Kak Eli selama perjalanan pulang, sampai akhirnya mereka kembali ke rumah dan Kak Eli jatuh pingsan. Sejak saat itu Amel menyadari bahwa omelan-omelan yang dilontarkan Kak Eli bermaksud untuk mengajari Amel karena Kak Eli sangat menyayangi dirinya.

Novel ini merupakan salah satu karya Tere Liye yang layak untuk dibaca. Jalan ceritanya sederhana, bagus, dan menarik. Karena selain mengisahkan tentang perasaan hati seorang anak dan orang tua, juga terdapat kisah menyentuh dan memotivasi lainnya. Seperti kisah Pak Bin, guru sekolah satu-satunya di kampung, puluhan tahun tidak pernah lolos dalam tes PNS, namun pengabdiannya sungguh luar biasa, serta kisah Nek Kiba guru mengaji sekampung yang sudah puluhan tahun mengajar dan selalu menyampaikan nasihat-nasihat yang bijak kepada anak muridnya. Kisah yang inspiratif dan menyentuh dengan bahasa yang mudah dipahami membuat novel ini sangat cocok dibaca semua kalangan. Bahasa yang digunakan dalam novel ini pun beragam, mulai dari bahasa Indonesia hingga bahasa Belanda yang kerap diselipkan oleh tokoh Wak Yati dalam berbagai dialog juga semakin mempercantik jalan cerita novel ini.

Adapun, kelemahan dari novel ini sendiri, yaitu adanya bagian yang tidak masuk akal. Rasanya cukup tidak mungkin bagi anak seusia Sekolah Dasar melakukan hal-hal yang bisa jadi berat bagi orang dewasa. Apa yang dilakukan Amel bersama teman-temannya jelas bukan sesuatu yang mudah dinalar. Terlebih ketika Norris, sang biang masalah bisa berubah menjadi anak baik dan mampu menggambar peta duma persis aslinya yang ukurannya sangat besar sampai melebihi badannya hanya dalam jangka waktu 6 hari. Begitu pun dengan kelebihan Amelia dalam cara berpikir dan berbicara. terutama ketika ia menasehati Norris di depan ayahnya yang dirasa kurang realistis dan tidak sepadan dengan psikologis anak-anak pada umumnya, juga menjadi kekurangan dalam novel ini.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik untuk dibaca khususnya bagi para pembaca penggemar cerita keluarga. Percakapan antara Amel dan ayahnya tak jarang membangun suasana yang hangat dan harmonis. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Amelia, gadis yang selalu benci ketika dipanggil dengan julukan "si penunggu rumah", akhirnya menyadari bahwa kampungnya adalah dunianya, dialah yang bisa melakukan perubahan besar terhadap kampungnya. Dirinya kembali untuk menepati janjinya, yakni melakukan perubahan dengan pengetahuan yang ia miliki. Tidak seperti kebanyakan remaja sekarang yang ketika sukses enggan untuk kembali ke kampungnya. Inilah penyebab banyak desa tertinggal karena banyak orang yang tidak ingin melakukan perubahan. Dalam proses perubahan. hal yang terpenting adalah memulai perubahan tersebut. Novel ini juga bisa mengambil sisi positif dari budaya anak bungsu bahwa setiap anak memang tidak boleh pergi semua dari kampungnya karena harus ada yang melestarikan kampung tersebut.

 

Penulis resensi : Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting : Nazuwa Basalwa

Resensi Buku : Pendidikan Kaum Tertindas: Membongkar Wajah Politik Pendidikan

Resensi Buku : Pendidikan Kaum Tertindas: Membongkar Wajah Politik Pendidikan

 

( sumber foto: penerbit narasi )

 

Penulis: Paulo Freire

Penerbit: Narasi

Asal Judul: Pedagogy of the Oppressed

 

Pendidikan Kaum Tertindas merupakan salah satu karya klasik dalam kajian filsafat pendidikan yang hingga kini tetap relevan dibaca, terutama dalam konteks masyarakat yang masih bergulat dengan ketimpangan sosial dan praktik pendidikan yang belum sepenuhnya membebaskan. Ditulis oleh Paulo Freire, seorang pemikir asal Brasil yang dikenal melalui gagasan pendidikan kritisnya, buku ini tidak hanya membahas metode pembelajaran, tetapi juga mengungkap relasi kuasa yang bekerja di balik sistem pendidikan.

Freire memulai argumennya dengan kritik terhadap model pendidikan yang ia sebut sebagai “pendidikan gaya bank” (banking education). Dalam model ini, guru diposisikan sebagai pemilik pengetahuan yang bertugas “menyetorkan” informasi kepada murid, sementara murid hanya menjadi objek pasif yang menerima, mencatat, dan menghafal. Pola tersebut, menurut Freire, tidak hanya mematikan daya kritis, tetapi juga secara tidak langsung melanggengkan struktur penindasan, karena peserta didik tidak didorong untuk mempertanyakan realitas yang mereka hadapi.

Sebagai tandingan, Freire menawarkan konsep pendidikan dialogis. Dalam pendekatan ini, hubungan antara guru dan murid tidak lagi bersifat hierarkis, melainkan setara sebagai sesama subjek yang terlibat dalam proses pencarian pengetahuan. Dialog menjadi metode utama, di mana pengalaman, refleksi, dan realitas sosial menjadi bagian dari proses belajar. Pendidikan, dengan demikian, tidak lagi dipahami sebagai proses satu arah, melainkan sebagai ruang interaksi yang dinamis dan kritis.

Salah satu gagasan kunci dalam buku ini adalah konsep kesadaran kritis (conscientização), yakni kemampuan individu untuk memahami kondisi sosialnya secara reflektif dan bertindak untuk mengubahnya. Freire menegaskan bahwa pendidikan seharusnya mendorong lahirnya kesadaran ini, bukan justru membentuk individu yang pasif dan menerima keadaan. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak pernah netral, ia selalu berpihak, baik pada upaya pembebasan maupun pada pelanggengan ketidakadilan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kedalaman analisisnya yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berakar pada pengalaman praksis Freire dalam mendampingi masyarakat tertindas. Ia berhasil menunjukkan bahwa pendidikan memiliki dimensi politik yang tidak dapat diabaikan. Gagasan-gagasannya pun tetap relevan untuk membaca berbagai persoalan pendidikan kontemporer, termasuk di Indonesia, di mana praktik pembelajaran masih sering berorientasi pada hafalan, relasi pengajar dan peserta didik cenderung hierarkis, serta ruang dialog belum sepenuhnya terbuka.

Namun demikian, buku ini bukan tanpa kelemahan. Bahasa yang digunakan cenderung konseptual dan filosofis sehingga tidak selalu mudah dipahami oleh pembaca umum. Selain itu, Freire tidak banyak memberikan contoh konkret mengenai implementasi pendidikan dialogis dalam sistem pendidikan formal, sehingga pembaca perlu melakukan interpretasi dan adaptasi sendiri sesuai konteks masing-masing. Perbedaan latar sosial antara Amerika Latin dan Indonesia juga menuntut pembacaan yang kritis agar gagasan yang ditawarkan tidak diterapkan secara simplistis.

Secara keseluruhan, Pendidikan Kaum Tertindas merupakan karya penting yang layak dibaca oleh kalangan akademisi, pendidik, aktivis, maupun mahasiswa, termasuk pers mahasiswa yang memiliki peran strategis dalam mengawal wacana kritis di ruang publik. Buku ini tidak hanya menawarkan kritik terhadap sistem pendidikan yang ada, tetapi juga membuka kemungkinan bagi terciptanya praktik pendidikan yang lebih dialogis, reflektif, dan membebaskan.

Pada akhirnya, Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah arena perjuangan. Ia dapat menjadi alat untuk mempertahankan status quo, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sarana emansipasi. Di titik inilah relevansi buku ini menemukan maknanya: sebagai ajakan untuk tidak sekadar belajar, tetapi juga memahami, mempertanyakan, dan mengubah realitas.

 

Penulis resensi : Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting : Nazuwa Basalwa

Wajah yang Diingat Air

Wajah yang Diingat Air


Malam di kota itu tidak pernah benar-benar gelap. Lampu jalan menggantung seperti mata yang enggan terpejam, mengawasi sesuatu yang bahkan tidak ingin mereka lihat terlalu jelas. Di bawah cahaya kekuningan itu, Damar berjalan sendirian. membawa tas lusuh berisi catatan, selebaran, dan potongan keberanian yang belum sempat ia susun ulang.

 

Ia tahu kota ini hafal langkahnya.

Atau setidaknya, ada yang menghafalnya.

 

Beberapa hari terakhir, pesan-pesan aneh mulai berdatangan. Nomor tak dikenal. Kalimat pendek. Tidak selalu ancaman, tapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak setiap kali ponselnya bergetar.

 

 Hati-hati di jalan.

 Tidak semua orang suka kamu bicara.

 

Damar tidak membalas. Ia hanya menyimpan semuanya, seperti ia menyimpan banyak hal lain: nama, peristiwa, dan wajah-wajah yang pernah berbicara—lalu perlahan menghilang dari ruang publik.

 

Ia pernah berkata dalam sebuah diskusi kecil, “Negara tidak perlu membungkam kalau masyarakatnya sudah belajar membungkam diri sendiri.”

 

Beberapa orang tertawa waktu itu.

Yang lain hanya diam.

 

Di sebuah gang sempit yang menghubungkan jalan utama dengan kontrakannya, langkah Damar melambat. Bukan karena ia ragu, tetapi karena instingnya bekerja lebih dulu daripada pikirannya.

 

Ada suara lain.

Tidak jauh. Tidak dekat.

Cukup untuk terasa.

 

Ia tidak sempat menoleh sepenuhnya ketika seseorang bergerak cepat dari samping.

Cairan itu datang tanpa suara.

Lalu segalanya berubah menjadi teriakan.

 

Air itu bukan air.

 

Damar jatuh. Dunia di sekitarnya pecah menjadi suara-suara yang tidak utuh. Langkah kaki menjauh, pintu dibuka, seseorang berteriak memanggil bantuan.

 

Dan di sela rasa sakit yang tak bisa ia beri nama, satu hal melintas di kepalanya, jernih dan dingin.

 

Ini bukan kebetulan.

 

Berita itu muncul keesokan harinya.

Singkat. Ringkas. Terukur.

 

“Seorang aktivis menjadi korban penyiraman cairan berbahaya oleh orang tak dikenal.”

 

Tidak ada kata “direncanakan”.

Tidak ada kata “dibungkam”.

Hanya “orang tak dikenal,”

sebuah frasa yang begitu sering digunakan,

hingga terdengar seperti alamat tetap bagi pelaku kekerasan.

 

Di layar televisi, seorang pejabat berbicara dengan nada yang telah terlatih.

 

“Kami mengutuk keras tindakan ini dan akan mengusut tuntas kasus tersebut.”

 

Kalimat itu meluncur mulus, seperti tidak pernah gagal.

Seperti tidak pernah perlu dibuktikan.

 

Ruang perawatan rumah sakit berbau antiseptik dan sunyi yang dipaksakan. Wajah Damar dibalut perban, menyisakan sedikit ruang untuk bernapas dan melihat dunia yang kini terasa asing.

 

Sinta duduk di sampingnya, membuka catatan kecil milik Damar yang ditemukan dalam tasnya malam itu. Tulisan tangan Damar tidak rapi, tetapi tegas—seperti orang yang tidak punya waktu untuk merapikan, hanya untuk mengatakan.

 

“Dia sudah bilang ini akan terjadi,” kata Sinta pelan.

 

“Apa?” tanya seorang jurnalis lain.

 

Ketika kekerasan menjadi pola, maka diam akan diajarkan sebagai keselamatan.

 

Mereka terdiam.

 

Di luar, wartawan mulai berdatangan. Kamera disiapkan. Pertanyaan dirangkai.

Narasi mulai dibentuk.

 

Hari-hari berikutnya berjalan seperti yang sudah bisa ditebak.

 

Polisi menggelar konferensi pers.

Penyelidikan dilakukan.

Beberapa saksi diperiksa.

 

Negara tampak bekerja.

 

Namun di ruang-ruang diskusi yang dulu riuh, sesuatu berubah.

Nada suara menurun.

Kalimat-kalimat dipotong sebelum selesai.

 

Seseorang mulai berkata, “Mungkin kita jangan terlalu frontal dulu.”

Yang lain menambahkan, “Kita lihat perkembangan kasusnya.”

 

Dan tanpa perlu ada instruksi resmi,

ruang itu menjadi lebih sunyi.

 

Damar perlahan pulih, tetapi wajahnya tidak kembali seperti semula. Cermin menjadi benda yang ia hindari, bukan karena ia tidak kuat melihat luka, tetapi karena ia tahu luka itu membawa arti yang lebih luas daripada sekadar kulit.

 

Suatu sore, Sinta datang membawa beberapa kliping berita.

 

“Kasusmu sudah mulai jarang diberitakan,” katanya.

Damar tersenyum tipis, sejauh yang ia bisa.

 

“Artinya, kasus berikutnya sedang menunggu giliran,” jawabnya.

 

Sinta tidak langsung menanggapi.

 

“Kenapa kamu masih bisa bicara seperti itu?” tanyanya akhirnya.

 

Damar menatap ke luar jendela. Matahari hampir tenggelam, meninggalkan warna jingga yang terlalu indah untuk sebuah kota yang menyimpan begitu banyak luka.

 

“Karena kalau saya berhenti memahami ini sebagai pola,” katanya pelan,

“saya akan menganggapnya sebagai kejadian.

Dan kalau kita menganggap ini hanya kejadian,

kita tidak akan pernah benar-benar menuntut perubahan.”

 

Beberapa minggu kemudian, negara kembali berbicara.

 

Kasus masih “dalam proses”.

Pelaku masih “dalam pengejaran”.

Publik diminta “bersabar”.

 

Kata-kata itu kembali beredar, seperti air yang mengalir di jalur yang sama, tanpa pernah benar-benar mencari muara.

 

Dan di suatu tempat di kota yang sama,

seseorang berjalan sendirian di bawah lampu jalan,

membawa pikiran yang terlalu jernih untuk dibiarkan.

 

Air, seperti biasa, sedang menghafal wajah baru.

 

Di dalam kamarnya, Damar membuka kembali catatan kecilnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menambahkan satu kalimat:

 

Di negeri ini, keadilan tidak selalu datang terlambat.

Kadang, ia memang tidak pernah benar-benar berangkat.

 

Ia menutup buku itu.

 

Di luar, malam kembali jatuh—

dan kota itu, seperti biasa,

tampak baik-baik saja.

 

 

Penulis: Aca

Penyunting: Adista

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done