LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Mahasiswa KKN UNISRI Latih Anak-Anak Dukuh Sendangrejo Tampilkan Tari Tradisional pada Pentas Seni Sedekah Bumi

Mahasiswa KKN UNISRI Latih Anak-Anak Dukuh Sendangrejo Tampilkan Tari Tradisional pada Pentas Seni Sedekah Bumi

Sumberlawang, 24 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta turut berpartisipasi dalam menyukseskan rangkaian kegiatan Sedekah Bumi di Dukuh Sendangrejo, desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, dengan melatih anak-anak untuk menampilkan tari tradisional pada acara pentas seni yang digelar pada Jumat (24/7) malam.

Sedekah Bumi merupakan tradisi yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus menjadi rangkaian kegiatan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Rangkaian acara dimulai pada pagi hari dengan prosesi Sedekah Bumi di kawasan sendang, dilanjutkan kegiatan siang hari di perempatan dukuh, dan ditutup dengan pentas seni pada malam hari.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal, mahasiswa KKN UNISRI melatih anak-anak Dukuh Sendangrejo selama satu minggu penuh sebelum hari pelaksanaan. Latihan dilaksanakan setiap hari agar para peserta lebih percaya diri dan mampu menampilkan tarian dengan baik di atas panggung.

Pada hari pelaksanaan, mahasiswa KKN terlebih dahulu membantu mempersiapkan penampilan para penari, mulai dari merias wajah (make up) hingga memakaikan kostum berupa kebaya, jarik, dan selendang. Para penari merupakan anak-anak Dukuh Sendangrejo yang berasal dari siswa kelas 3 hingga kelas 6 sekolah dasar.

Pentas seni yang dimulai pukul 19.30 WIB menampilkan dua tarian tradisional, yaitu Tari Gotong Royong dan Tari Sintren. Penampilan anak-anak berlangsung dengan lancar dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang memadati lokasi acara. Antusiasme warga terlihat dari ramainya penonton yang menyaksikan setiap penampilan hingga selesai.

Setelah penampilan tari dari anak-anak Dukuh Sendangrejo, acara dilanjutkan dengan hiburan karawitan dan campursari yang semakin memeriahkan suasana malam Sedekah Bumi.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN UNISRI tidak hanya mendukung pelestarian seni dan budaya daerah, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan rasa percaya diri, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya tradisional. Seluruh rangkaian kegiatan pentas seni Sedekah Bumi di Dukuh Sendangrejo, Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang berlangsung dengan tertib, meriah, dan lancar berkat kerja sama antara masyarakat, panitia, serta mahasiswa KKN.

Penulis : Ananda Lufiyani

  

Lampiran :






KKN UNISRI Gelar Sosialisasi Mengenai Sampah dan Motivasi Belajar di SD Negeri Kalangan

KKN UNISRI Gelar Sosialisasi Mengenai Sampah dan Motivasi Belajar di SD Negeri Kalangan

 Gemolong, 23 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melaksanakan program kerja sosialisasi di SD Negeri Kalangan, Desa Kalangan, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, pada Kamis (23/7). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekaligus menumbuhkan semangat belajar sejak dini melalui dua sesi sosialisasi yang dilaksanakan di kelas 3 dan kelas 5.

Mahasiswa KKN memberikan sosialisasi kepada siswa kelas 3 dengan mengangkat tema "Belajar Membuang Sampah dengan Baik: Ayo Jadi Anak Hebat Penjaga Bumi!". Kegiatan diawali dengan pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai tujuan bersama seluruh negara untuk menjaga bumi agar tetap bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Dalam pemaparan materi, siswa diajak memahami pentingnya menggunakan barang secara bijak agar tidak menghasilkan sampah berlebihan. Mahasiswa juga menjelaskan dampak negatif sampah terhadap lingkungan, seperti pencemaran sungai dan laut, penumpukan sampah yang sulit terurai, hingga ancaman bagi berbagai satwa laut seperti penyu, ikan, kepiting, dan lumba-lumba yang sering kali menelan atau terjerat sampah plastik.

Selain itu, siswa diperkenalkan dengan cara memilah sampah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Melalui penjelasan yang disampaikan secara sederhana dan interaktif, siswa diharapkan mampu memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya serta membiasakan diri memilah sampah sejak usia dini sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan kuis interaktif dan permainan edukatif berupa Turnamen Memilah Sampah. Permainan dilaksanakan dalam dua tim yang masing-masing terdiri atas enam siswa. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti setiap tantangan. Siswa yang berhasil menjawab kuis maupun menjadi pemenang dalam permainan memperoleh hadiah (reward) sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan partisipasi mereka.

Usai kegiatan di kelas 3, mahasiswa KKN melanjutkan sosialisasi di kelas 5 dengan mengusung tema "Gapai Cita-Citamu dengan Semangat Belajar". Materi ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar terus bersemangat dalam belajar demi meraih cita-cita yang diimpikan.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa mengajak siswa mengenal berbagai profesi, seperti dokter, perawat, guru, dosen, pilot, tentara, polisi, atlet, hingga game developer. Siswa juga diberikan pemahaman bahwa keberhasilan meraih cita-cita diawali dari kebiasaan belajar yang tekun, rasa ingin tahu yang tinggi, serta disiplin dalam mengatur waktu.

Mahasiswa turut membagikan berbagai tips belajar efektif, di antaranya  :  mengerjakan tugas sekolah sebelum bermain, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, belajar bersama teman, serta selalu mengingat cita-cita sebagai penyemangat ketika rasa malas datang. Sebuah pesan inspiratif juga disampaikan kepada para siswa, bahwa "Orang pintar tidak lahir begitu saja, tetapi diciptakan dari rasa ingin tahu dan kerja keras belajar setiap hari."

Sebagai bentuk refleksi, setiap siswa diminta menuliskan cita-cita mereka pada selembar kertas yang telah disediakan. Berbagai impian pun tertulis, mulai dari ingin menjadi guru, dokter, perawat, polisi, hingga profesi lainnya. Kegiatan ini menjadi momen yang mendorong siswa untuk berani bermimpi sekaligus menumbuhkan motivasi dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Sosialisasi kemudian ditutup dengan permainan edukatif berbasis TV digital serta permainan tebak petunjuk (clue). Suasana kelas berlangsung meriah dan penuh semangat. Para siswa yang berhasil memenangkan permainan maupun menjawab pertanyaan dengan benar kembali memperoleh hadiah sebagai bentuk penghargaan atas keaktifan mereka selama kegiatan berlangsung.

Melalui program sosialisasi ini, mahasiswa KKN UNISRI berharap siswa SD Negeri Kalangan tidak hanya memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan melalui kebiasaan memilah sampah, tetapi juga semakin termotivasi untuk belajar, berani bermimpi, serta terus berusaha meraih cita-cita mereka. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar, interaktif, dan mendapat sambutan positif dari guru maupun para siswa.

 

Penulis

1. Fitri Inayatun Naim - Pendidikan Guru Sekolah SD

2. Elsa Dwiana Putri - Bimbingan dan Konseling

3. Yashinta Oktaviana - Ilmu Administrasi Negara

4. Rindang Mawar Nuraini - Ilmu Hubungan Internasional


Lampiran :

















Manfaatkan Potensi Lokal, Mahasiswa KKN Gandeng PKK Kadus 2 Desa Kalangan Gelar Sosialisasi Pembuatan Spray Serai Anti Nyamuk

Manfaatkan Potensi Lokal, Mahasiswa KKN Gandeng PKK Kadus 2 Desa Kalangan Gelar Sosialisasi Pembuatan Spray Serai Anti Nyamuk


Kalangan – (23/07)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengoptimalkan pemanfaatan potensi herbal lokal dengan menggelar sosialisasi pembuatan spray anti nyamuk berbahan dasar serai. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng Perkumpulan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kadus 2 Desa Kalangan pada Kamis (23/7) siang.

 

​Bertempat di Balai Desa Kalangan, mahasiswa KKN hadir mengisi sesi khusus di akhir rangkaian pertemuan rutin ibu-ibu PKK. Langkah ini diambil guna merespons kondisi lingkungan pemukiman warga berbasis pertanian yang rentan akan nyamuk, sekaligus mengoptimalkan kebiasaan ibu-ibu setempat yang mayoritas sudah menanam serai di pekarangan rumah masing-masing.

 

​Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa memamerkan contoh produk spray serai yang telah jadi, membagikan brosur panduan ringkas, serta menayangkan cuplikan video demonstrasi pembuatan agar langkah-langkahnya mudah dipahami.

​Kegiatan ini disajikan secara terpadu melalui kolaborasi mahasiswa dari program studi Manajemen dan Akuntansi untuk memberikan wawasan yang menyeluruh:

- ​Manajemen Produksi & Operasional: Memaparkan edukasi pengenalan spray serai, ketersediaan bahan baku, prosedur pembuatan, petunjuk cara penggunaan yang benar, hingga hal-hal yang perlu dihindari demi keamanan pemakaian.

- ​Pemasaran Digital: Memberikan pemahaman strategi pemasaran digital (digital marketing) sebagai wawasan pemanfaatan media sosial jika produk ingin dikembangkan lebih luas.

- ​Perhitungan Akuntansi: Mengedukasi cara perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) sederhana untuk memberikan gambaran dasar mengenai kalkulasi biaya produk.

 

​Ibu-ibu PKK Kadus 2 Desa Kalangan menyimak penayangan video dan pemaparan materi dengan penuh antusias. Karena cara pembuatannya tergolong sangat gampang, hemat, dan bahan serai sudah ditanam sendiri di pekarangan, banyak warga yang tertarik untuk langsung mempraktekkannya sendiri di rumah.

​"Sosialisasinya sangat bermanfaat dan cara pembuatannya gampang sekali. Apalagi di rumah kami memang sudah menanam serai sendiri, jadi makin semangat untuk langsung mencobanya sendiri di rumah," ujar salah satu anggota PKK peserta kegiatan.

 

​Melalui sinergi bersama PKK Kadus 2 di Balai Desa Kalangan ini, diharapkan warga dapat secara mandiri mengolah tanaman serai yang ada di pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari secara praktis dan ekonomis.

 

Penulis: Rizmanissa Mutiara Putri, Rila Velisita, dan Vivia Ingrid Valentine

Penyunting: Oliviana

 




 


 


Soroti Independensi Pers Mahasiswa, LPM APRESIASI Gelar Seminar Nasional dan Luncurkan Majalah Edisi Terbaru

Soroti Independensi Pers Mahasiswa, LPM APRESIASI Gelar Seminar Nasional dan Luncurkan Majalah Edisi Terbaru

 

(Sumber foto: Athorix Khrisna Asmara Widi)


SURAKARTA, 11 Juli 2026 – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) APRESIASI sukses menyelenggarakan agenda besar tahunan, yakni Seminar Nasional dan Peluncuran Majalah LPM APRESIASI 2026. Acara yang dihadiri oleh puluhan peserta lomba, mahasiswa, serta panitia ini mengusung tema yang sangat krusial di era digital, yaitu "Pers di Titik Persimpangan: Antara Keberanian, Tekanan, dan Kepentingan". Rangkaian acara resmi dibuka oleh Master of Ceremony (MC) pada pukul 08.30 WIB. Agenda penting ini turut dihadiri dan didukung penuh oleh Bapak Dwi Kurnaedi A.Md selaku Pembina Mahasiswa (Binwa), Ibu Dewi Maria selaku Pembina LPM APRESIASI, serta Saudari Oliviana selaku Pimpinan Umum LPM APRESIASI.


Selain dihadiri oleh internal kampus, agenda ini juga menarik perhatian berbagai delegasi penting dari luar kampus, seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Duta Bangsa (UDB), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Universitas Islam Negeri (UIN), serta perwakilan dari beberapa organisasi mahasiswa internal Universitas Slamet Riyadi (Unisri). Melalui tema yang diangkat, seminar ini menyoroti bagaimana pers mahasiswa saat ini terus diuji untuk tetap menjaga independensi dan berani menyuarakan kebenaran di tengah berbagai intervensi dan tekanan yang kian kompleks. 


Untuk mengupas tuntas dinamika tersebut, LPM APRESIASI menghadirkan tiga narasumber luar    biasa yang kompeten di bidang jurnalistik, yaitu Dhima Wahyu Sejati dari Aliansi Jurnalis Independen  (AJI) Solo, Aisyah Nur Afifah selaku Manajer Penelitian LPM Pabelan, dan Muhammad Dwiky  selaku Pimpinan Umum LPM Justicia. Ketiga pembicara tersebut saling berbagi perspektif dan  memperkaya ruang diskusi, baik dari kacamata pers profesional, advokasi, hingga tantangan  pengelolaan pers di ranah internal maupun eksternal kampus.


Selain menjadi ruang diskusi dan membuka wawasan untuk menguatkan kembali peran penting pers mahasiswa, momen ini juga menandai peluncuran resmi Majalah LPM APRESIASI edisi terbaru. Dalam kesempatan tersebut, tim redaksi juga turut memberikan sedikit gambaran dan menyinggung garis besar isi majalah yang lahir dari kreativitas, dedikasi, serta pemikiran kritis seluruh tim redaksi LPM APRESIASI ini kepada para narasumber dan seluruh peserta yang hadir. Keberhasilan seluruh rangkaian acara ini tidak lepas dari dedikasi luar biasa dan kerja keras dari seluruh jajaran panitia yang telah mempersiapkan agenda ini dengan matang.


Apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam juga ditujukan kepada AJI Solo dan AJI Semarang yang terus mengawal idealisme pers, rekan-rekan perjuangan dari Persma Solo dan Persma Semarang yang telah hadir memberikan dukungan moral yang luar biasa, serta seluruh teman-teman seperjuangan yang telah dengan tulus bersedia mengulurkan tangan membantu menyukseskan acara ini. Lewat kolaborasi solid ini, diharapkan semangat pers mahasiswa dapat terus bertumbuh menjadi pilar pemikir yang kritis, berani, menyuarakan kebenaran, dan tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.

 

Penulis: Shello Rossad Alfiansyah

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby



Menolak Padam di Titik Persimpangan: Mengembalikan Jurnalisme Kompas Kebenaran

Menolak Padam di Titik Persimpangan: Mengembalikan Jurnalisme Kompas Kebenaran

 

Hari ini, setiap kali jemari kita menggulirkan layar gawai, kita disuguhi sebuah panggung sandiwara global yang riuh rendah. Batas antara fakta empiris, opini tendensius, propaganda politik, dan komodifikasi hiburan telah melebur menjadi satu entitas kabur yang sulit dipilah. Di tengah banjir bandang informasi digital dan kuasa algoritma yang mendikte kesadaran publik, terdapat satu institusi yang sedang berdiri goyah di bawah lampu merah peradaban; Pers. Sebagai pilar keempat dalam arsitektur demokrasi, pers kini tidak sekadar menghadapi pergeseran medium teknologi dari cetak ke digital. Pers sedang berdiri di sebuah titik persimpangan krusial yang menentukan hidup-matinya nalar kritis sebuah bangsa—sebuah titik kritis yang menguji garis batas antara keberanian nurani, kepungan tekanan, dan jerat kepentingan.

Persimpangan jalan selalu menjadi tempat yang menegangkan, sebuah koordinat spasial di mana arah masa depan harus dipertaruhkan. Namun, bagi pers kontemporer, berada di persimpangan bukan berarti berdiri bebas memilih rute ideal dengan kompas yang jernih. Kenyataannya, pers hari ini dikepung oleh tembok-tembok struktural yang menjepit ruang geraknya. Di satu sisi, terdapat dinding kokoh bernama kepentingan pemilik modal dan konglomerasi media. Di era kapitalisme media yang eksponensial, kita tidak lagi bisa menutup mata dari kenyataan pahit bahwa ruang redaksi sering kali dipaksa tunduk, atau minimal berkompromi, pada preferensi politik personal, agenda korporasi, atau afiliasi kekuasaan sang pemegang saham mayoritas. Ketika sebuah berita diukur bukan lagi berdasarkan signifikansi publiknya melainkan implikasinya terhadap portofolio bisnis sang patron, saat itulah peluru jurnalisme telah kehilangan hulu ledak kebenarannya.

 

Anatomi Tekanan: Dari Represi Fisik Menuju Penjara Digital


Jika kita menengok ke belakang, sejarah mencatat bahwa pembungkaman pers di masa lalu kerap menggunakan instrumen fisik yang kasat mata: pemberangusan paksa, pencabutan surat izin usaha penerbitan, penahanan represif, hingga kekerasan di lapangan. Namun, memasuki paruh ketiga abad ke-21 ini, represi telah mengalami metamorfosis yang jauh lebih mutakhir, subtil, dan mematikan. Tekanan terhadap pers bergeser secara masif ke ruang siber dan koridor hukum yang manipulatif. Kita menyaksikan bagaimana media-media kritis dihujani serangan Distributed Denial of Service (DDoS) hingga lumpuh seketika saat mempublikasikan investigasi sensitif. Jurnalis yang vokal menjadi sasaran empuk praktik doxing, peretasan data pribadi, hingga pembunuhan karakter lewat pasukan siber (buzzers) yang digerakkan secara sistematis untuk mendelegitimasi kebenaran.



Belum lagi jika kita membedah tekanan berupa kriminalisasi menggunakan pasal-pasal karet dalam regulasi hukum seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hukum yang seharusnya menjadi tameng perlindungan bagi pencari kebenaran, dalam banyak kasus justru dipelintir menjadi senjata pemukul untuk menjinakkan daya kritis. Di sisi ekonomi, pers lokal maupun nasional menghadapi teror eksistensial berupa boikot iklan dari korporasi besar atau pengurangan alokasi anggaran kemitraan dari pemerintah daerah jika mereka berani bersikap terlalu kritis. Jerat ekonomi ini menciptakan suasana ketakutan yang tak terlihat, melahirkan fenomena swasensor (self-censorship) di mana para jurnalis memilih untuk "bermain aman" demi kelangsungan hidup dapur redaksi mereka.



 "Ketika ruang redaksi dikendalikan penuh oleh angka 'klik' demi remah-remah rupiah digital, dan rasa aman palsu dari jerat hukum, maka kebenaran bukan lagi menjadi produk utama yang diperjuangkan, melainkan sekadar produk sampingan yang bersifat opsional."


Keberanian yang Bertahan: Menolak Menjadi Jinak

Namun, di tengah pekatnya kabut kepentingan dan kepungan tekanan tersebut, mengapa kita masih bisa melihat kilatan cahaya di ujung lorong? Jawabannya terletak pada satu kata yang menjadi ruh dasar dari profesi ini: keberanian. Sejarah dunia selalu digerakkan oleh orang-orang yang berani berkata 'tidak' ketika mayoritas memilih patuh, dan jurnalisme sejati dibentuk oleh genetik moral tersebut. Keberanian jurnalisme modern tidak lagi tampil dalam bentuk kepahlawanan individu yang monolitik, melainkan mewujud dalam bentuk-bentuk baru yang lebih kolektif, adaptif, dan kolaboratif.

Kita melihat manifestasi keberanian ini melalui lahirnya kolaborasi investigasi lintas media yang mendobrak ego sektoral demi membongkar skandal korupsi tingkat tinggi yang melibatkan pejabat lintas negara. Kita melihatnya pada kegigihan pers mahasiswa dan media alternatif berbasis komunitas yang, meskipun memiliki keterbatasan dana, tetap konsisten turun ke lapangan untuk menyuarakan perampasan hak-hak masyarakat adat di pelosok negeri yang luput dari radar media arus utama. Keberanian hari ini adalah keberanian untuk menolak kompromi finansial yang menggiurkan, keberanian untuk tetap setia pada Kode EtikJurnalistikdi saat melacurkanpena demi kepentingan politik praktis menawarkan  kemewahan dan jaminan keselamatan materi yang melimpah.

 

Merebut Kembali Kompas Kebenaran: Langkah Strategis  keDepan

Menatap masa depan, pers tidak boleh membiarkan dirinya terjebak dalam romantisme masa lalu atau ratapan ketidakberdayaan di titik persimpangan ini. Harus ada langkah konkret dan revolusioner untuk merebut kembali independensi yang terenggut. Langkah pertama yang paling mendasar adalah melakukan reorientasi total kepada publik. Pers harus menanamkan kembali kesadaran ideologis dalam sanubarinya bahwa 'tuan' dan 'majikan' mereka yang sesungguhnya bukanlah pemilik modal, bukan pengiklan, dan bukan pula penguasa yang memegang stempel kebijakan, melainkan publik luas. Kepercayaan publik (public trust) adalahsatu-satunyamatauangyangtidakakanpernahmengalamiinflasidipasaride. Ketika publik merasa bahwa pers adalah perpanjangan lidah dari pernderiataan dan aspirasi mereka, punlik sendirilah yang akan menjadi benteng pertahanan utama saat perd diserang.

Langkah kedua adalah restrukturisasi model bisnis media melalui dukungan finansial publik secara langsung. Masyarakat sipil tidak bisa terus-menerus menuntut hadirnya jurnalisme yang bersih, independen, dan bermutu tinggi jika mereka menolak untuk berkontribusi secara konkret. Ketergantungan yang terlalu tinggi pada iklan korporasi besar dan anggaran pemerintah harus dipotong. Model bisnis berbasis langganan (subscription-based), donasi publik (crowdfunding), atau yayasan nirlaba penyokong jurnalisme investigasi harus mulai diadopsi secara luas. Dengan kemandirian ekonomi yang bersumber dari kantong rakyat, ruang redaksi akan memiliki imunitas yang kuat terhadap intervensi eksternal.

Langkah ketiga adalah membangun dan mempererat solidaritas lintas lini. Organisasi profesi jurnalis, lembaga bantuan hukum, akademisi, dan serikat pekerja media harus melebur dalam satu jaringan pengaman yang solid. Ketika ada satu jurnalis di daerah terpencil yang dikriminalisasi atau diintimidasi karena pemberitaan, seluruh jaringan jurnalis nasional harus mengamplifikasi isu tersebut hingga menjadi perhatian publik luas. Solidaritas adalah senjata terbaik untuk meruntuhkan arogansi kekuasaan yang mencoba mengisolasi dan menghancurkan para pencari kebenaran satu demi satu.

Pers yang berdiri di titik persimpangan tidak boleh memilih jalan memutar demi mencari keselamatan semu. Pers juga tidak boleh mematikan mesinnya lalu berhenti bergerak karena didera ketakutan akan tekanan yang mengadang di depan. Menjadi berani di tengah tarikan kepentingan dan hantaman tekanan memang memiliki konsekuensi yang amat mahal ia menuntut pengorbanan keringat, air mata, kenyamanan finansial, bahkan terkadang keselamatan fisik.

Namun, membiarkan pers layu, lumpuh, dan akhirnya mati kehilangan fungsi kontrol sosialnya akan berbiaya jauh lebih mahal bagi masa depan peradaban bangsa ini. Tanpa pers yang independen dan berani, demokrasi hanya akan menjadi cangkang kosong yang di dalamnya digerogoti oleh oligarki dan tirani informasi. Jika pers berhenti menyuarakan kebenaran, maka kegelapan nalar publiklah yang akan memimpin jalan kita menuju kehancuran. Di titik persimpangan Nationwide 2026 ini, pilihan berada di tangan para jurnalis dan kita semua: membiarkan pers mati sebagai penonton yang kalah, atau bangkit menjadi pemenang yang teguh merawat nyala api demokrasi dan menolak padam demi masa depan Indonesia.


Penulis: Adiel Arsenio

Penyunting: Adista Putri Revalina


LPM Apresiasi UNISRI Gelar Seminar dan Launching Majalah Edisi XLPM Apresiasi UNISRI Gelar Seminar dan Launching Majalah Edisi X

LPM Apresiasi UNISRI Gelar Seminar dan Launching Majalah Edisi XLPM Apresiasi UNISRI Gelar Seminar dan Launching Majalah Edisi X

Sumber foto: Yusril Rahendra Nur Kuncoro
 

Surakarta, 11 Juli 2026 – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Apresiasi Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menyelenggarakan Seminar dan Launching Majalah Apresiasi Edisi X pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini mengusung tema seminar "Pers di Titik Persimpangan: Antara Keberanian, Tekanan, dan Kepentingan" sebagai ruang diskusi mengenai tantangan yang dihadapi dunia pers, khususnya pers mahasiswa.

 

Pada kesempatan tersebut, LPM Apresiasi juga secara resmi meluncurkan Majalah Apresiasi Edisi X yang mengangkat tema "Di Bawah Tekanan: Suara Pers, Korban, dan Hukum tentang Represi" dengan judul "Pers Mahasiswa di Persimpangan: Fakta, Hukum, dan Kesaksian di Tengah Represi."

 

Majalah ini tidak hanya menyajikan tulisan dan analisis, tetapi juga menghadirkan fakta-fakta lapangan, kesaksian dari korban yang mengalami tindakan represi, serta pandangan hukum mengenai perlindungan hak-hak pers, khususnya pers mahasiswa. Seluruh materi dalam majalah disusun melalui proses peliputan dan wawancara mendalam dengan berbagai narasumber sehingga diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai realitas yang dihadapi pers mahasiswa saat ini.


Rangkaian launching dilanjutkan dengan penyampaian isi majalah oleh Kapel kepada para peserta. Sebagai simbol peluncuran, Kapel menyerahkan Majalah Apresiasi Edisi X kepada Ketua Umum LPM Apresiasi. Selanjutnya, Pimpinan Redaksi memberikan sertifikat penghargaan kepada Kapel sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam proses penerbitan majalah.

 

Sebagai bentuk penghargaan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Majalah Apresiasi Edisi X, LPM Apresiasi juga menyerahkan sertifikat dan kenang-kenangan kepada para kontributor yang hadir dalam acara tersebut. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kolaborasi dan komitmen bersama dalam menjaga kebebasan pers mahasiswa.

 

Melalui seminar dan peluncuran Majalah Apresiasi Edisi X ini, LPM Apresiasi berharap dapat menghadirkan ruang refleksi sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya kebebasan pers, keberanian menyampaikan kebenaran, serta perlindungan terhadap hak-hak pers mahasiswa di tengah berbagai bentuk tekanan yang masih terjadi.

 

Penulis: Chintya Alinda R

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby


Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done