LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Menjemput Cahaya di Sisa Bara

Menjemput Cahaya di Sisa Bara

 

Ilustrasi Pict by: Pinterest

Tahun 2009 adalah puncak kebanggaanku. Di usia 16 tahun, saat remaja lain mungkin masih sibuk mencari jati diri di bangku SMA, aku sudah menapaki koridor kampus swasta ternama di Solo sebagai mahasiswa Pendidikan Akuntansi. Menjadi salah satu mahasiswa termuda membuatku merasa seolah dunia berada dalam genggamanku. Semester demi semester kulewati dengan nilai yang memuaskan, hingga badai itu datang tanpa permisi di tahun kedua.

Ekonomi keluargaku runtuh. Kebangkrutan orang tua memaksaku menanggalkan ego remaja. Aku mulai berjualan baju secara daring, membakar sosis di pinggir jalan, hingga menjadi tukang cuci piring. "Tidak apa-apa, Fia. Ini hanya ujian kecil," bisikku menyemangati diri sendiri setiap kali tangan ini perih terkena sabun cuci.

Namun, ujian yang sesungguhnya bukan soal uang, melainkan pengkhianatan. Kekasihku saat itu, yang tinggal di Jakarta, terus menekanku untuk membawanya ke Solo. Ketika ia tiba, aku justru merasa asing. Rasa itu telah tawar. Saat ia kembali ke Jakarta, aku memutuskan hubungan melalui telepon.

"Aku nggak terima, Fia! Kamu bakal menyesal!" teriaknya dari ujung telepon.

Keesokan harinya, duniaku runtuh. Ia mengedit fotoku menjadi foto tidak senonoh dan mengunggahnya di Facebook. Fitnah itu menyebar lebih cepat dari prestasiku. Teman-teman yang dulu duduk bersamaku kini menjauh, berbisik-bisik dan melemparkan kata-kata pedas. "Ternyata dia lo***," atau "Pantas saja masih muda sudah punya uang banyak," menjadi makanan sehari-hari. Tanpa mereka mencari kebenarannya.

Puncaknya terjadi di ruang Kaprodi saat aku hendak meminta tanda tangan KRS. Kepalaku berputar, keringat dingin membasahi punggung. Tatapan sinis orang-orang di luar ruangan terasa seperti ribuan jarum.

"Fia, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Pak Kaprodi khawatir.

Aku belum sempat menjawab. Pandanganku mengabur dan aku ambruk. Aku terbangun di RS Yarsis, didiagnosa maag akut yang dipicu oleh tekanan psikis yang hebat. Sejak hari itu, aku bukan hanya pasien penyakit dalam, tapi juga pasien psikiater. Aku berperang dengan pikiranku sendiri. Setiap kali melihat gerbang kampus, tubuhku gemetar hebat.

Hanya Nur, gadis lugu yang tetap setia di sisiku. Suatu hari di perpustakaan, ponselku bergetar. Sebuah SMS masuk.

"Hai boleh kenal? By Dewa," bacanya.

Aku mengernyitkan dahi. "Siapa ini? Kamu tahu nomor ini nggak, Nur?" tanyaku sambil menyodorkan ponsel. Nur hanya mengangkat bahu dan menggeleng. "Nggak tahu, Fi. Balas saja pelan-pelan."

"Maaf, ini siapa ya?" balasku pendek. Balasannya datang secepat kilat. "Aku teman Galih. Aku dapat nomormu dari dia."

Aku mendengus malas. Basa-basi seperti ini adalah hal terakhir yang aku butuhkan di tengah depresi yang mencekik. Namun, Dewa tidak menyerah. Dua minggu ia terus mengirim pesan tanpa kubalas, hingga suatu sore ia mengirim pesan yang membuatku tersentak: "Aku sudah tahu di mana kostmu dan sekarang aku ada di depan."

Aku keluar dengan rasa sebal yang memuncak. Dari kejauhan, aku melihat seorang lelaki berambut gondrong, berkulit hitam, duduk di atas motor Supra 125. "Ya Allah, dekil sekali. Rambut kayak gorden warteg," gumamku dalam hati.

Kami duduk di warung depan kost. Dewa mencoba mencairkan suasana. "Kuliahmu gimana? Capek ya?" tanyanya lembut. "Ya gitu. Biasa aja," jawabku singkat tanpa menatap matanya.

Namun, Dewa berbeda. Ia tidak pergi meski aku ketus. Sebulan kemudian, ia menantangku. "Besok kamu siap-siap jam lima pagi ya. Aku jemput di kost. Jangan tanya kenapa, aku mau membuktikan sesuatu ke kamu."

Pagi buta itu, ia membawaku ke rumahnya di Semarang. Di depan kedua orang tuanya, ia memegang tanganku. "Pak, Bu, ini Fia. Dewa serius sama dia," katanya mantap. Senyum hangat orang tuanya saat itu menjadi obat pertama bagi hatiku yang hancur.

Tahun-tahun berlalu, aku berjuang menyelesaikan skripsi sambil bekerja sebagai tentor sempoa di Klaten. Dosen pembimbingku pernah berujar, "Kelak kamu akan menjadi guru TK yang sukses." Kalimat itu kupegang erat sebagai doa.

Skripsiku selesai, namun ijazah itu tetap tertahan. Seorang dosen mempersulit mata kuliah terakhirku, ditambah lagi biaya kuliah yang tak lagi mampu terbayar. Aku putus asa. Aku memilih mengubur mimpi sarjanaku dan fokus mengajar di sebuah TK di Manahan demi menyambung hidup.

Tahun 2018, setelah delapan tahun menemani masa sulitku, si "Gorden Warteg" yang tulus itu menikahiku. Kebahagiaan kami lengkap dengan hadirnya putri cantik di tahun 2019. Tapi takdir kembali menguji. Tahun 2020, Bapak berpulang.

"Duniaku hancur, Dewa. Separuh jiwaku hilang bersama Bapak," tangisku di pelukan suamiku. Penyakit mentalku kambuh. Aku harus kembali bertemu psikiater untuk bisa sekadar berdiri tegak kembali.

Titik balik itu datang di tahun 2023. Saat mengikuti lomba menggambar poster di Hotel Malioboro Inn, aku bertemu teman lama saat mengajar di Manahan. "Fia! Kamu masih mau lanjut kuliah nggak? Ada jalur beasiswa nih," ucapnya bersemangat.

Malam itu, aku duduk di hadapan suamiku dengan ragu. "Mas, ada tawaran beasiswa. Tapi... apa aku mampu? Aku sudah tua, aku sudah punya anak."

Dewa menatapku, tatapan yang sama saat ia membawaku ke Semarang dulu. "Mimpimu itu belum mati, Fia. Cuma tertidur sebentar. Kalau kamu siap, aku yang akan jadi pundakmu."

Hari ini, aku kembali ke bangku kuliah. Menjadi mahasiswa lagi dengan semangat yang lebih membara dari anak usia 16 tahun dulu. Aku belajar bahwa tidak peduli seberapa banyak orang mencoba menjatuhkanmu, atau seberapa lama mimpimu tertunda, selalu ada jalan bagi mereka yang berani untuk bangun dan melangkah lagi. Aku bukan lagi Fia yang ketakutan; aku adalah Fia yang sedang menjemput cahayanya kembali.

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Lathifah An Najla

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Fia adalah seorang pendidik dan pejuang masa depan yang berdomisili di Wonogiri. Mengawali karier sebagai guru TK di Manahan dan tentor sempoa, ia memiliki kecintaan mendalam pada dunia literasi dan seni. Meski sempat terpaksa menunda mimpinya selama bertahun-tahun karena kendala ekonomi dan trauma masa lalu, semangatnya tidak pernah padam. Kini, di sela perannya sebagai seorang istri dan ibu, ia bangkit melanjutkan studi sarjana melalui jalur beasiswa. Melalui tulisan, Fia ingin menyebarkan pesan bahwa kegagalan hanyalah jeda, dan setiap perempuan berhak menjemput kembali mimpinya.

Titimangsa: Wonogiri, Mei 2026

 

 

“PESTA BABI”  MEMBUKA LUKA KOLONIASLISME MODERN DI TANAH PAPUA

“PESTA BABI” MEMBUKA LUKA KOLONIASLISME MODERN DI TANAH PAPUA


 

Pict by: Lintang Febrianti

Surakarta, 10 Mei 2026 — Pemutaran dan diskusi film dokumenter Pesta Babi diadakan di Studio Lokananta Bloc sebagai ruang bersama untuk melihat lebih dekat realita yang terjadi di Papua. Film karya Dandhy Laksono ini mengangkat persoalan eksploitasi tanah Papua melalui proyek biodiesel sawit dan tebu, sekaligus menyoroti praktik kolonialisme modern yang masih dirasakan masyarakat adat Papua hingga hari ini.

Melalui sudut pandang dan pengalaman langsung masyarakat Papua, film ini memperlihatkan bagaimana tanah, hutan, dan ruang hidup perlahan berubah akibat kepentingan industri dan pembangunan. Tidak hanya menghadirkan luka dan kehilangan, Pesta Babi juga menunjukkan transformasi masyarakat Papua dari korban menjadi pihak yang terus berjuang mempertahankan identitas, tanah adat, dan hak hidup mereka.

Unsur adat, nilai kekristenan, hingga tradisi pesta babi turut menjadi bagian penting dalam cerita, sekaligus membantu penonton memahami kehidupan dan realitas sosial masyarakat Papua secara lebih dekat dan manusiawi. Film ini juga membuka pertanyaan besar mengenai apakah praktik kolonialisme dalam bentuk baru akan terus terjadi di tanah Papua?.

Suasana ruang pemutaran film dokumenter tentang Papua dipenuhi emosi dan refleksi. Sejumlah penonton tampak larut dalam cerita yang ditampilkan di layar, mulai dari persoalan tanah adat, kehidupan masyarakat Papua, hingga relasi pemerintah dengan warga lokal. Bagi sebagian penonton, film tersebut bukan hanya tontonan, tetapi juga pengalaman yang membuka ruang diskusi dan kesadaran baru.

 

A group of people in a room

AI-generated content may be incorrect.

Pict by: Shello Rossad

Kami sebagai tim reporter LPM Apresiasi juga mewawancarai penonton dan komunitas terhadap film Pesta Babi tersebut. Salah satunya adalah kak Raka, Humas Komunitas Mahasiswa Papua Soloraya, menjadi salah satu penonton yang paling merasakan dampak emosional dari film tersebut. Ia menilai kegiatan nobar dan diskusi seperti ini sangat penting karena informasi mengenai Papua masih sulit diakses masyarakat luas.

“Menurut saya penting sekali ya, karena biasanya berita-berita soal Papua itu sulit diakses,” ujarnya dalam wawancara (10/5/2026).

Raka mengaku selama ini sering mencari informasi terkait kondisi di Papua dan menemukan banyak persoalan yang menurutnya jarang diberitakan media nasional. Salah satunya mengenai militerisme yang terjadi di wilayah tersebut.

Menurutnya, ruang diskusi seperti nobar film dokumenter dapat menjadi pemantik agar generasi muda lebih peka terhadap isu sosial di sekitar mereka. “Kesadaran itu penting, dan jangan apatis sih,” katanya dalam wawancara (10/5/2026).

Namun, bagi Raka, film tersebut terasa sangat personal. Ia bahkan beberapa kali keluar ruangan karena tidak kuat menyaksikan adegan-adegan di dalam film.

“Saya nonton 15 menit nggak kuat, saya keluar,” ujarnya. Ia merasa apa yang ditampilkan di layar mengingatkannya pada keluarganya sendiri di Papua. “Saya seperti melihat mama saya sendiri yang ada di dalam layar itu.”

Selain persoalan kemanusiaan, Raka juga menyoroti ketimpangan manfaat pembangunan di Papua. Menurutnya, keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam seharusnya dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.

“Keuntungannya harusnya untuk orang lokal. Tadi yang kita nonton kan keuntungannya bukan untuk orang lokal, malah untuk perusahaan-perusahaan dari luar,” tegasnya dalam wawancara (10/5/2026)

Sementara itu, tanggapan lain datang dari Wininda Sari, penonton dari komunitas Difalitera. Ia mengaku merasakan campuran emosi setelah menyaksikan film dokumenter karya Dandhy Laksono tersebut. Menurutnya, selama ini ia memang sering mendengar cerita mengenai Papua, tetapi melalui film itu ia merasa dapat melihat kenyataan yang lebih dekat.

“Ya, kesan pertama terkesan dan campur aduk ya,” ujarnya. Bagian yang paling membekas baginya adalah ketika masyarakat adat Papua kehilangan tanah mereka. “Tentu yang paling berkesan adalah bagian ketika orang-orang pribumi Papua kehilangan tanahnya,” katanya dalam wawancara (10/5/2026).

Menurut Wininda, pengalaman menonton film itu juga membuatnya kembali merefleksikan makna nasionalisme. Ia mengaku tetap mencintai Indonesia, tetapi merasa penting untuk tetap kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi.

“Aku tetap nasionalis karena aku bernama di bawah negara Indonesia, tapi aku juga tetap harus kritis dan gak naif,” ungkapnya dalam wawancara (10/5/2026).

Sebagai seorang ibu dan pegiat komunitas tuna netra, Wininda memilih menunjukkan nasionalisme melalui tindakan sederhana di lingkungan sekitar. Ia mencontohkan bagaimana dirinya mengajak teman-teman netra untuk ikut menikmati pengalaman menonton bersama. Baginya, kepedulian terhadap sesama juga merupakan bentuk cinta terhadap negara.

Meski suasana wawancara diakhiri dengan candaan ringan, kesan emosional dari film dokumenter tersebut masih terasa kuat. Melalui diskusi dan refleksi bersama, para penonton berharap masyarakat semakin terbuka untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di Papua dari sudut pandang kemanusiaan dan tentunya untuk pemerintah harus juga harus memberikan keadilan hak kepada mereka warga papua. Karena Papua adalah bagian dari Indonesia dan merupakan saudara kami semua.

Kegiatan nobar dan diskusi ini berlangsung dari hasil kolaborasi gotong royong berbagai komunitas serta organisasi, di antaranya Toko Buku Mata Pajar, Kopi Aloo, Matalokal, Lokananta, Jejer Wadon, Sinema Warga, Kuhaté Books, Project Sasmita, IBP Solo, Difalitera, Carpe Diem Bookstore, Read Aloud Solo Raya, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, LPM Apresiasi, LPM Locus, Sobo+NiaoS, SODOC Solo Documentary, Komunitas Mahasiswa Papua Solo Raya, Watchdoc, Eks Pedis Indonesia Baru, dan Patjar Merah yang turut mendukung terselenggaranya Nobar dan ruang diskusi publik tersebut.

 

 

Penulis : Lusia Nur Permatasari

Reporter : Lusia Nur, Lintang Febrianti, Nanda Ayu, Fahra Nautisya, Adista Putri, Nisa Ilma Safitri, Ahmad Nufail, Shello Rossad.

Penyunting: Adista Putri Revalina

 

 

 

 

Semarak Budaya Indonesia 2026 Usung Tema “Swarna Bumi Bahari” di Balai Kota Surakarta

Semarak Budaya Indonesia 2026 Usung Tema “Swarna Bumi Bahari” di Balai Kota Surakarta



(Pict by: Shello Rossad Alfiansyah)

 

Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 kembali diselenggarakan di kawasan Balai Kota Surakarta pada tanggal 8-9 Mei 2026 dengan mengangkat tema utama "Swarna Bumi Bahari". Festival tahunan edisi ke-13 ini menampilkan representasi seni yang berfokus pada kekayaan pesisir dan budaya maritim Nusantara, mulai dari kehidupan masyarakat pesisir hingga mitologi samudra yang dituangkan dalam pertunjukan kontemporer. Didukung penuh oleh Pemerintah Kota Surakarta serta berbagai mitra strategis, SBI 2026 berkomitmen menjadi ruang inklusif bagi pelestarian budaya sekaligus wadah edukasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai identitas bangsa.

 

Acara ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang komprehensif, meliputi Galeri Wastra Budaya yang menampilkan kain-kain tradisional serta Pasar Karya Nusantara yang diikuti lebih dari 30 unit usaha ekonomi kreatif dan kuliner. Puncak kemeriahan festival terletak pada panggung seni yang menampilkan 26 delegasi dari 23 daerah di Indonesia, seperti Semarak Candrakirana Art Center, Miroton Dance, dan Sanggar Tari Greged. Penampilan seni tari yang telah dikurasi secara ketat ini merepresentasikan keberagaman budaya dari berbagai provinsi, mulai dari Aceh hingga Kepulauan Riau, sebagai pengingat akan besarnya nilai edukasi dan potensi ekonomi kreatif dari warisan leluhur.

 

Sebagai penutup rangkaian kegiatan dan bentuk rasa syukur atas kelancaran acara, pihak panitia juga mengundang seluruh media partner untuk menghadiri acara wilujengan bersama sebelum jadwal kepulangan para delegasi.

 

Penulis: Shello Rossad Alfiansyah

Penyunting: Lathifah An Najla

Press Release  Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISRI Lakukan Kunjungan Edukasi ke Monumen Pers Nasional

Press Release Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISRI Lakukan Kunjungan Edukasi ke Monumen Pers Nasional

 


 

a1c93e0970bd36aa75dec14ce38acd03.jpg

(Sumber Foto: Lusia, Jelita)

 

Surakarta, 7 Mei 2026 – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta (UNISRI) melaksanakan kunjungan edukasi ke Monumen Pers Nasional sebagai bagian dari praktik mata kuliah komunikasi massa, khususnya dalam memahami sejarah perkembangan pers di Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa agar tidak hanya memahami teori di dalam kelas, tetapi juga mampu melihat dan merasakan jejak sejarah pers melalui berbagai arsip, dokumentasi, serta koleksi media yang tersimpan di monumen tersebut. 

Kunjungan diawali dengan mahasiswa menonton bersama video sejarah terbentuknya Monumen Pers Nasional sebelum melakukan tur berkeliling area monumen, termasuk mengunjungi ruang digitalisasi yang menyimpan berbagai arsip surat kabar lama dalam bentuk digital. Melalui fasilitas ini, mahasiswa dapat menelusuri perkembangan pemberitaan dari masa ke masa secara lebih interaktif dan mendalam.

 

18fcadbb818540c025b0a87328872334.jpg

(Sumber Foto: Lusia, Jelita)

Mahasiswa juga diajak menelusuri perjalanan panjang dunia pers, mulai dari masa kolonial hingga era digital saat ini, serta memahami peran penting pers sebagai pilar demokrasi dan sarana penyampaian informasi kepada masyarakat. Sembari meraba ke masa lalu, mahasiswa juga mendapat pengalaman berharga untuk memahami bagaimana informasi dan jurnalistik terus berkembang melalui media-media yang ada, bahkan sebelum adanya koran, radio, serta media massa lain. 

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISRI mampu memperluas wawasan serta meningkatkan pemahaman kritis terhadap perkembangan media massa, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam praktik komunikasi di masa depan. 

20afc4760265f0d7dd9a097b4064f707.jpg

(Sumber Foto: Lusia, Jelita)


Penulis: Lusia Nur Permatasari, Jelita Citra Wardhani

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby

Budaya Membaca Koran Tetap Hidup di Era Digital melalui Layanan Monumen Pers Nasional

Budaya Membaca Koran Tetap Hidup di Era Digital melalui Layanan Monumen Pers Nasional


 

( Sumber foto: Lusia Nur Permatasari )

 

Surakarta, 7 Mei 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan media digital, budaya membaca koran masih terus dijaga melalui layanan yang disediakan oleh Monumen Pers Nasional. Setiap harinya, monumen ini menyediakan fasilitas membaca surat kabar secara gratis bagi masyarakat di area depan gedung.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempertahankan budaya literasi, khususnya dalam membaca media cetak yang memiliki nilai historis dan kredibilitas tinggi. Surat kabar yang disediakan selalu diperbarui setiap hari, meliputi media lokal seperti Solopos dan Tribun Solo, serta media nasional seperti Kompas.

Menariknya, sebagian besar pengunjung yang memanfaatkan layanan ini didominasi oleh kalangan orang tua, khususnya bapak-bapak, yang masih setia dengan kebiasaan membaca koran. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun arus informasi digital semakin deras, minat terhadap media cetak belum sepenuhnya hilang.

(  Sumber foto: Lusia Nur Permatasari )

 

Di era yang mengutamakan kecepatan informasi, membaca koran tetap memiliki peran penting karena dinilai lebih mengedepankan akurasi dan kedalaman berita. Oleh karena itu, keberadaan layanan ini menjadi salah satu upaya nyata dalam menjaga kualitas literasi masyarakat di tengah perubahan zaman.

 

Penulis: Lusia Nur Permatasari

Penyunting: Nazuwa Basalwa

Kecelakaan di Depan RS JIH Solo, Dua Pengendara Sepeda Motor Terlibat Tabrakan

Kecelakaan di Depan RS JIH Solo, Dua Pengendara Sepeda Motor Terlibat Tabrakan


(Sumber foto: Aditya Cahyo Saputro)

Surakarta — Kecelakaan lalu lintas terjadi di kawasan Jajar, tepatnya di depan Rumah Sakit JIH Solo, pada Minggu (3 Mei 2026) sekitar pukul 21.30 WIB. Peristiwa ini melibatkan dua pengendara sepeda motor, yakni seorang bapak-bapak dan seorang pemuda.

Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, kejadian bermula saat seorang bapak-bapak hendak menyeberang jalan menggunakan sepeda motor. Saat itu, kondisi lalu lintas terpantau cukup ramai.

Menurut keterangan pengendara lain yang menjadi saksi, sejumlah kendaraan dari arah barat telah memperlambat laju, bahkan berhenti untuk memberi jalan. Namun, dari arah timur melaju sepeda motor yang dikendarai seorang pemuda dengan kecepatan tinggi. Karena jarak yang sudah terlalu dekat, tabrakan tidak dapat dihindari.

Benturan keras mengakibatkan bapak-bapak tersebut terjatuh dan tidak sadarkan diri di lokasi kejadian. Helm yang dikenakannya mengalami kerusakan, dengan kaca helm dilaporkan pecah. Sementara itu, pengendara sepeda motor dari arah timur masih dalam kondisi sadar, meskipun tampak kesakitan. Sepeda motor yang dikendarainya mengalami kerusakan cukup parah di bagian depan.

Tidak lama setelah kejadian, ambulans tiba di lokasi untuk memberikan pertolongan dan mengevakuasi korban. Warga sekitar dan pengguna jalan sempat memadati area kejadian sehingga arus lalu lintas tersendat sementara.

Imbauan Keselamatan

Jalan di kawasan Jajar, khususnya di depan RS JIH Solo, dikenal sebagai titik rawan kecelakaan karena tingginya volume kendaraan serta aktivitas keluar-masuk area rumah sakit. Pengendara diimbau untuk mengurangi kecepatan, terutama pada malam hari, serta lebih waspada terhadap kendaraan lain yang hendak menyeberang.

(Sumber foto: Aditya Cahyo Saputro)

Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas menjadi kunci utama untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

 

Penulis: Aditya Cahyo Saputro

Penyunting: Chintya Alinda Riskyani

May Day di Taman Sehat Putri Cempo: Gelar Festival Rakyat untuk Ruang Belajar, Seni,  dan Ekspresi

May Day di Taman Sehat Putri Cempo: Gelar Festival Rakyat untuk Ruang Belajar, Seni, dan Ekspresi

 SURAKARTA, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh di TPA Putri Cempo tahun ini berlangsung berbeda. Di tengah hamparan sampah yang selama ini menjadi sumber penghidupan sekaligus persoalan,mahasiswa dan sejumlah lembaga menggelaraksi bertajuk Festival Putri Cempo yaitu sebuah ruang pertemuan antara warga, pemulung, dan aktivis.

Kegiatan dimulai sejaknsiang dengan layanan cek kesehatan gratis bagiwarga serta kehadiran lapak baca yang terbuka untuk umum. Warga tampak memanfaatkan layanan tersebut di tengah kondisi lingkungan yang selama ini mereka hadapi.

Memasuki sore hari, rangkaian acara semakin hidup. Program “Ruang Belajar Bergerak” digelar dengan melibatkan anak-anak disekitar lokasi.Mereka mengikuti berbagai aktivitas seperti mewarnai, mendongeng, hingga bermain game edukatif, menghadirkan suasana hangat di tengah kawasan yang identik dengan tumpukan sampah.


Fotografer: Ahmad Nufail


Masih di waktu yang sama, acara utama dibuka dengan monolog oleh Ratih Ayu dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.Pertunjukan tersebut mengangkat realitas kehidupan di sekitar TPA Putri Cempo tentang kerja, ketimpangan, dan suara warga yang kerap terpinggirkan.

Setelah itu, forum berlanjut ke sesi ngobrol santai. Warga, mahasiswa, dan perwakilan lembaga duduk bersama membicarakan kondisi TPA Putri Cempo dari berbagai perspektif, mulai dari persoalan lingkungan,kebijakan pengelolaan sampah,hingga dampaknya terhadap kehidupan pemulung. 

Lalu ada pertunjukan hiburan seni oleh Dipa dan Ilham dari Front Mahasiswa Nasional menampilkan wayangyang diiringi tabuhan gendang. Ditengah keterbatasan ruang dan kondisi, pertunjukan itu menjadi simbol ekspresi sekaligus penyampaian pesan sosial. Suasana yang semula hangat berubah menjadi tegan, menjelang malam aparat kepolisian datang dan mengimbau agar kegiatan segera dihentikan.

“Intinya dari pihak kepolisian tidak mengizinkan,” ujar panitia menirukan pernyataan aparat (1/5/2026). Tanpa penjelasan rinci acara dihentikan sekitar pukul19.00 WIB demi menjaga kondusivitas. Panggung yang sebelumnya menjadi ruang dialog dan ekspresi warga pun terpaksa dibubarkan. 

Di balik festival tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar. Salah satu isu utama mengemukan adalah kebijakan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membatasi aktivitas pemulung hanya di zona tertentu di kawasan TPA.

 

Fotografer: Ahmad Nufail

Kebijakan ini menuai keluhan dari warga sekitar yang selama ini bergantung pada aktivitas pemulungan.Mereka menilai pembatasan tersebut berdampaklangsung padapenghasilan dan keberlangsungan hidup.

Salah satu warga yang tinggal dekat lokasi mengungkapkan bahwa pemulung justru memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah. 

“Yang kena dampaknya ya pemulung,padahal mereka membantu mengurangi sampah,” ujarnya  (1/5/2026).

Menurutnya, dalam kondisi norma aktivitas pemulung mampu mengurangi volume sampah hingga 30–50ton perhari. Tetapi sejak adanya pembatasan tersebut jumlah pemulung terus berkurang dan kesempatan mencari nafkah semakin sempit.

Warga juga menyoroti minimnya komunikasi antara pemerintah atau pengelola dengan masyarakat terdampak.

“Warga sekitar yang terdampak tidakdilibatkan dalam rapat,” ucapnya dalam wawancara Jumat malam (1/5/2026).

Selain persoalan ekonomi, warga mengeluhkan dampak lingkungan yang belum tertangani secara maksimal. Bau tidak sedap, limbah, hingga gangguan kesehatan  menjadi bagian dari keseharian mereka. 

Ironisnya, menurut warga yang tinggal di dekat situ. Perhatian terhadap aspek kesehatan masih minim. Tidak ada pemeriksaan kesehatan rutin bagi masyarakat disekitar dan tidak pernah mendapatkan bantuan logistik apapun.


Fotografer: Ahmad Nufail

Meskipun terdapat persoalan tersebut warga menegaskan tidak menolak pengelolaan sampah maupun rencana pembangunan fasilitas di kawasan tersebut. Mereka justru berharap adanya transparansi, sosialisasi yang jelas, serta pelibatan warga dalam setiap kebijakan yang diambil.

Festival Putri Cempo dalam peringatan May Day ini membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, bagi warga untuk bersuara, dan bagi berbagai pihak untuk saling mendengar. Namun, ruang itu juga menunjukkan batas yang masih kuat terasa.

TPA Putri Cempo,persoalan tidak hanya tentang sampah,tetapi juga tentang siapa yang berhak bertahan hidup di dalamnya.

Fotografer: Ahmad Nufail

May Day tahun ini menjadi lebih dari sekadar peringatan.Ia menjelma menjadicermin atas tarik-menarik kepentingan antara kebijakan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat kecil yang terus berjuang agar suaranya didengar.


Reporter: Lusia Nur, Adista Putri, Lintang Febrianti, Jelita Citra, Ahmad Nufail

Fotografer: Ahmad Nufail

Penyunting: Oliviana Angelicha Effendy

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done