LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Jarak dalam Dekapan

Jarak dalam Dekapan


(Sumber: Pinterest)

 

Selasa, 9 Juni 2026

 

-Latar Tempat & Suasana-

Sore hari di teras rumah. Gerimis tipis baru saja turun. Gibran (8 tahun) duduk di bangku teras sambil memainkan roda mobil-mobilan plastiknya yang rusak. Mbak Sri (45 tahun), pengasuhnya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, sedang melipat baju di dekatnya.

 

-Dialog-

Gibran: (Tanpa melihat Mbak Sri, jarinya sibuk memutar roda mainan)

"Mbak Sri... kalau ibunya Rio itu baik banget, ya?"

Mbak Sri:

(Menoleh, tersenyum ramah)

"Lho, memangnya kenapa, Mas Gibran? Semua ibu kan memang baik."

Gibran:

"Kata Rio enggak semuanya. Rio bilang, ibunya paling baik karena enggak pernah pergi kerja. Tiap hari nemenin Rio main lego, terus kalau

pulang sekolah selalu ada di depan gerbang."

(Gibran berhenti memutar roda mainannya, suaranya merendah)

 "Kata Rio... kalau Ibu sayang

sama Gibran, Ibu pasti milih di rumah aja, enggak naik pesawat jauh-jauh setiap minggu."

Mbak Sri:

(Menghentikan lipatan bajunya, menatap Gibran dengan lembut. Ia bergeser duduk di lantai teras, sejajar dengan kursi Gibran)

"Mas Gibran sini, lihat Mbak Sri."

(Gibran menoleh lambat-lambat, matanya agak berkaca-kaca)

Mbak Sri:

"Rio beruntung punya ibu yang bisa nemenin setiap hari. Tapi, Mas Gibran tahu tidak? Sayangnya seorang ibu itu bentuknya beda-beda. Ibunya Rio menyayangi Rio dengan cara menjaga di rumah. Kalau Ibu..."

 (Mbak Sri mengusap rambut Gibran)

"...Ibu menyayangi Mas Gibran dengan cara berjuang di luar."

Gibran:

"Tapi Gibran kan kangen, Mbak. Apa Ibu enggak kangen Gibran?"

Mbak Sri:

"Aduh, Gusti... setiap malam sebelum Mas Gibran tidur, siapa yang selalu telepon dari kota seberang? Siapa yang selalu nangis kalau dengar Mas Gibran batuk? Ibu itu kerja keras biar Mas Gibran bisa sekolah yang bagus, bisa beli buku cerita yang Mas suka, dan bisa makan makanan

yang sehat. Ibu melepas waktu mainnya sama Mas Gibran, justru demi masa depannya Mas Gibran. Itu pengorbanan yang berat sekali, lho."

Gibran:

(Terdiam sebentar, mencerna kalimat Mbak Sri)

"Jadi... Ibu pergi kerja bukan karena bosan sama Gibran?"

Mbak Sri:

(Terkekeh kecil, memeluk pundak Gibran)

"Mana ada ibu yang bosan sama anak seganteng dan sepintar ini. Ibu itu selalu ingin pulang, Mas. Setiap hari, yang dihitung Ibu itu bukan berapa banyak uangnya, tapi berapa hari lagi bisa peluk Mas Gibran."

Gibran:

(Mulai tersenyum tipis, meremas kaos Mbak Sri)

"Nanti kalau Ibu telepon... Gibran mau bilang kalau Gibran juga sayang Ibu. Biar Ibu enggak capek kerjanya."

Mbak Sri:

"Nah, itu baru jagoannya Ibu."

 

“Luka di Balik Layar Kaca”

Pukul sembilan malam, rintik gerimis berubah menjadi hujan lebat yang menghantam atap seng teras. Di dalam kamar yang sepi, sebuah ponsel di atas meja belajar bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan foto seorang wanita dengan senyum lelah namun dipaksakan, berlatar belakang lampu-lampu kantor yang temaram. Di bawah foto itu tertulis: Ibu Calling. Gibran hanya menatap layar itu dari atas tempat tidurnya. Ada rindu yang berdenyut di dadanya, tetapi kalimat Rio siang tadi—“Ibuku baik karena nggak kerja, ibumu pasti nggak betah di rumah”—telah berubah menjadi duri yang menyumbat hatinya. Biasanya, Gibran akan berebut

ponsel itu dari tangan Mbak Sri. Namun malam ini, ia melingkarkan lengannya di lutut, menyembunyikan wajahnya di sana.

 

Mbak Sri berjalan pelan masuk ke kamar, membawa ponsel yang masih bergetar. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ia tahu, di ujung telepon sana, seorang ibu sedang menahan kantuk dan lelah demi mendengar suara anaknya.

"Mas Gibran... Ibu telepon, Nak. Angkat, ya? Kasihan Ibu baru selesai rapat," bujuk Mbak Sri lembut, menyodorkan ponsel itu. Gibran menggeleng kuat-kuat di dalam pelukan lututnya. "Enggak mau. Bilang sama Ibu, Gibran sudah tidur."

Namun, Mbak Sri telanjur menggeser tombol hijau dan menyalakan fitur speaker. Suara dari seberang sana langsung memenuhi kamar—suara yang serak, lelah, namun berusaha terdengar riang.

"Halo, Sayang? Gibran-nya Ibu belum tidur, kan? Ibu tadi beli komik pahlawan yang Gibran cari kemarin, lho. Nanti akhir bulan Ibu bawa pulang,

ya?"

 

Mendengar suara itu, pertahanan Gibran runtuh. Ia tidak menyambutnya dengan tawa. Tangis yang ditahannya sejak siang pecah menjadi ledakan kecil yang bergetar. Ia merebut ponsel itu dengan tangan gemetar, lalu berteriak di depan layarnya.

"Gibran nggak butuh komik, Ibu! Gibran nggak butuh mainan baru!" teriaknya dengan suara serak, air mata kini membasahi pipinya yang kemerahan. "Rio selalu ditemani ibunya kalau hujan petir begini! Kenapa Ibu harus pergi jauh? Apa Ibu nggak sayang sama Gibran? Apa Ibu

lebih suka sama kantor Ibu daripada sama Gibran?"

Hening. Seketika, petir di luar rumah seolah kalah senyap dengan keheningan yang tercipta di seberang telepon.

Hanya terdengar suara napas yang tertahan, lalu sebuah isakan halus yang coba disembunyikan. Di kota seberang, di dalam bilik toilet kantor yang sempit, sang ibu merosot duduk di lantai. Air matanya merusak riasan wajah yang dipakainya sejak pagi. Kalimat Gibran menghantam

dadanya lebih keras daripada makian bos atau tekanan target kerja belasan jam sehari.

 

"Gibran..." suara ibunya bergetar hebat, pecah oleh tangis yang tak terbendung lagi. "Maafin Ibu, Nak... Demi Allah, demi Gibran, Ibu ingin sekali ada di sana. Ibu ingin meluk Gibran sekarang..." Suara itu terputus oleh tangis yang tertahan. "Tiap malam Ibu nangis di kamar kos

karena kangen Gibran. Ibu kerja bukan karena nggak sayang... tapi Ibu takut... Ibu takut nanti kalau Ibu nggak kerja, Ibu nggak bisa bawa Gibran ke dokter kalau Gibran sakit... Ibu takut nggak bisa bayar sekolah Gibran... Ibu cuma punya Ibu sendiri untuk berjuang buat Gibran..."

Mbak Sri yang menyaksikan itu langsung memalingkan wajah, menyeka air matanya sendiri dengan ujung daster. Ia tahu betul sejarahnya; bagaimana ibu Gibran harus menjadi tulang punggung tunggal setelah suaminya pergi tanpa tanggung jawab.

 

Gibran terpaku. Untuk pertama kalinya, ia mendengar ibunya—sosok yang selalu terlihat kuat dan rapi di matanya—menangis sekencang itu.

Tangisan yang bukan karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat. Bocah delapan tahun itu menyadari satu hal yang

melampaui usianya: Ibunya tidak sedang bersenang-senang di luar sana. Ibunya sedang terluka, sama seperti dirinya. Dengan tangan yang masih basah oleh air mata, Gibran mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Rasa marahnya menguap, digantikan oleh rasa

sesal yang teramat dalam.

 

"Ibu..." bisik Gibran, suaranya parau dan terputus-putus oleh sisa tangis. "Ibu jangan nangis... Gibran minta maaf. Gibran nggak marah lagi sama Ibu. Gibran... Gibran cuma kangen."

Di seberang sana, sang ibu menyeka air matanya dengan tisu toilet, mencoba tersenyum di balik sisa isakannya. "Ibu juga kangen, Sayang. Sebentar lagi Ibu pulang, ya? Ibu janji."

 

Malam itu, jarak ratusan kilometer di antara mereka seolah terkikis oleh tangisan yang jujur. Gibran tertidur sambil mendekap ponsel yang layarnya sudah gelap, sementara di kota lain, seorang ibu kembali ke mejanya dengan mata sembap, melanjutkan pekerjaannya demi anak yang menjadi seluruh alasan hidupnya.

 

"Gema Langkah di Lorong Waktu"

Tiga minggu setelah malam berdarah air mata itu, suasana rumah masih sama, namun ada yang bergeser di dalam dada Gibran. Ucapan Rio tentang “ibu yang baik” tidak lagi terasa seperti pisau, melainkan hanya angin lalu. Gibran mulai belajar membaca tanda-tanda cinta yang tidak.berwujud fisik. Ia menemukannya pada bekal makanan yang selalu dikirim lewat aplikasi ojek daring setiap jam makan siang, pada paket-paket

vitamin yang datang dua hari sekali, dan pada coretan angka di kalender kamarnya—di mana setiap tanggal yang dicoret adalah satu langkah lebih dekat menuju pelukan Ibunya.

 

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sore itu, sebuah taksi berhenti di depan pagar. Gibran yang sedang menggambar di ruang tamu langsung melempar krayonnya. Jantungnya bertalu keras. Dari balik kaca jendela, ia melihat sesosok wanita turun dengan langkah gontai. Wajah Ibunya tampak lebih tirus, lingkaran hitam mengintip di bawah matanya, dan koper kabin yang diseretnya seolah terasa seberat beban hidup yang dipikulnya sendirian. Gibran tidak berlari kencang seperti biasanya. Ia melangkah pelan keluar pintu, menatap Ibunya yang kini berdiri di ujung teras, menurunkan tas

besarnya, lalu merentangkan kedua tangan dengan senyum paling tulus yang pernah Gibran lihat—meski senyum itu membingkai wajah yang

teramat lelah.

 

"Anak Ibu..." bisik Ibunya, suaranya tercekat.

Gibran menghambur ke pelukan itu. Aroma parfum kantor Ibunya bercampur dengan bau matahari dan keringat perjalanan, namun bagi Gibran, itulah aroma 'rumah' yang sesungguhnya. Ia memeluk leher Ibunya erat-erat, merasakan detak jantung wanita itu yang berdegup cepat di.dadanya. Saat itulah, Gibran merasakan sesuatu yang basah menetes di pundak kaosnya. Ibunya kembali menangis dalam diam, mendekapnya seolah takut Gibran akan menguap jika pegangannya longgar.

Namun, Gibran yang sekarang bukan lagi bocah yang merajuk tiga minggu lalu. Ia melonggarkan pelukannya, lalu dengan kedua tangan kecilnya yang masih belepotan bekas krayon, ia mengusap air mata di pipi Ibunya.

 

"Ibu, jangan nangis lagi. Gibran tahu Ibu capek," kata Gibran, suaranya bergetar namun sarat akan keteguhan. "Gibran udah pamerin komik dari Ibu ke Rio. Gibran bilang ke Rio... ibunya Rio hebat karena bisa jaga Rio di rumah. Tapi Ibu Gibran jauh lebih hebat, karena bisa jaga Gibran dari tempat yang jauh."

 

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut anak berusia delapan tahun, tangis Ibunya pecah lagi, namun kali ini bukan karena rasa bersalah, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Ia mencium kening, pipi, dan mata Gibran berkali-kali. Di ambang pintu, Mbak Sri berdiri

mematung sambil menyeka sudut matanya dengan ujung daster, tersenyum menyaksikan bagaimana jarak dan kerinduan telah mendewasakan seorang anak manusia.

 

Malamnya, tidak ada gadget atau layar kaca di antara mereka. Di atas ranjang sempit, Gibran tidur berbantalkan lengan Ibunya yang terasa agak kurus. Sambil mengusap rambut anaknya yang mulai tertidur, sang Ibu berbisik lirih ke udara malam, "Terima kasih sudah bertahan, Sayang. Maafkan Ibu yang harus membelah diri antara menghidupimu dan menemanimu." Gibran tidak menjawab, tapi tangannya menggenggam erat satu jari kelingking Ibunya, sebuah janji tanpa kata bahwa mereka akan selalu baik-baik saja, sekencang apa pun badai di luar sana.

 

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Adista Putri Revalina

Pergi Jadi GURU, Pulang Jadi IBU

Pergi Jadi GURU, Pulang Jadi IBU

Sabtu, 6 Juni 2026


(Sumber Gambar: Pinterest)

 

Matahari bahkan belum sepenuhnya terbangun ketika sebuah motor bebek tua buatan satudekade lalu mulai dipanaskan di teras rumah. Suara mesinnya yang agak pincang memecah keheningan fajar. Di atas jok, seorang wanita muda memeriksa kembali tas kainnya yang mulai pudar warnanya—memastikan tidak ada lem, gunting warna-warni, origami, atau buku cerita bergambar yang tertinggal.

Namanya Rahma. Setiap hari, ia adalah seorang pelari estafet kehidupan yang tangguh. Jarak dari rumahnya dipinggiran kabupaten menuju PAUD tempatnya mengajar adalah 80 kilometer. Pulang-pergi, 160 kilometer aspal harus ia lahap demi senyum anak-anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Menjadi "Ibu" bagi Puluhan Anak Orang Lain

Jalanan subuh sering kali kejam dan tanpa kompromi. Angin dingin menusuk jaket tebal yang dilapisi rompi penahan angin, dan tak jarang hujan badai memaksa Rahma berteduh di emperan toko yang tutup sambil cemas melihat jam digital di pergelangan tangannya.

Pikirannya berkecamuk, takut terlambat menyambut anak-anak yang kerap kali datang lebih awal. Namun, begitu roda motornya menyentuh halaman sekolah yang masih beralaskan tanah dan kerikil, semua lelah itu seolah luruh di gerbang.

"Selamat pagi, Ibu Guru Rahma!" seru kompak suara-suara cempreng bernada riang.

Seorang anak kecil berkuncir dua berlari kencang dari pelukan ibunya, lalu menubruk lutut Rahma erat-eratan. Rahma berlutut di atas tanah, menyamakan tingginya dengan sang murid, lalu mengusap pipi bocah itu yang masih belepotan bekas sarapan nasi goreng.

"Ibu Guru, lihat! Tadi malam aku belajar berhitung sampai sepuluh sama Ayah!" kata si kecil dengan mata membelalak berbinar-binar.

"Hebat sekali Keysha! Coba sekarang Ibu mau dengar, setelah angka lima berapa, ya?" tanya Rahma lembut, menyembunyikan jemarinya yang masih gemetar dan kaku akibat memegang stang motor berjam-jam di udara dingin.

Di ruangan kelas yang sederhana dengan dinding papan yang mulai lapuk, Rahma bukan sekadar mengajar huruf A-B-C atau mengeja kata. Ia bertransformasi total. Ia menyuapi anakyang enggan makan siang karena merindukan orang tuanya, menyeka air mata yang tumpahkarena berebut mainan balok kayu, dan memeluk mereka yang butuh ketenangan setelah terjatuh dihalaman. Diruangan berukuran 4×6 meter itu, ia adalah semesta bagi puluhan anak yang haus akan kasih sayang, perhatian, dan ilmu pengetahuan. Ia adalah "Ibu" yang selalu ada untuk setiap keluh kesah kecil mereka.

Senja kala di Jalanan

Jam dinding di kantor PAUD menunjukkan pukul dua siang ketika tugas mengajarnya usai. Setelah merapikan kembali sisa-sisa krayon dan memastikan ruang kelas bersih, energi Rahma rasanya sudah terkuras habis. Suaranya agak serak dan parau setelah seharian bernyanyi, bercerita, dan menenangkan riuhnya anak-anak. Namun, tugas sejatinya yang lain telah menanti. Ia harus kembali menempuh jarak 80 kilometer perjalanan pulang, menantang kegarangan truk-truk kontainer besar, bus antarkota yang ugal-ugalan, dan paparan debu jalanan yang mulai pekat di bawah terik matahari sore yang menyengat.

Sepanjang jalan, fokus Rahma terbelah menjadi dua. Di balik helmnya yang kusam, bayangan anak kandungnya sendiri, yang baru berusia empat tahun, mulai menari-nari di pelupuk mata. Rasa bersalah kadang menyelusup ke dalam dadanya.

Apakah dia sudah makan siang dengan lahap hari ini?

Apakah dia rewel saat dititipkan dirumah neneknya seharian tadi?

Mengapa aku menghabiskan seluruh energi dan kesabaranku untuk anak orang lain, sementara anakku sendiri harus sabar mengantre sisa waktu dan tenagaku dirumah?

Setiap tarikan gas motornya adalah lambang gejolak rindu dan rasa bersalah yang ingin segera ia tuntaskan di ujung jalan nanti.

Kembali ke Pelukan yang Sebenarnya

Pukul lima sore lewat sedikit, motor tua itu akhirnya kembali terparkir di halaman sebuah rumah sederhana. Mesinnya berderit, kepanasan setelah menempuh perjalanan panjang. Tubuh Rahma terasa lengket oleh keringat yang mengering, berpola debu hitam di sekitar leher dan wajahnya yang kusam. Begitu standar motor ditegakkan dengan sisa tenaga yang ada, pintu rumah kayu itu terbuka lebar. Seorang anak laki-laki kecil dengan kaus oblong longgar berlari kencang tanpa alas kaki ke arahnya.

"Ibuuuu! Ibu sudah puwaaang!"

Rahma secara refleks merentangkan kedua tangannya yang letih, namun tiba-tiba ia menariknya kembali ke belakang tubuhnya. Ia melihat ke bawah, memandangi bajunya yang kotor dan berbau asap knalpot jalanan raya.

"Sayang, sebentar ya... Jangan dekat-dekat dulu. Ibu kotor sekali, banyak debu di baju Ibu. Ibu mandi dan bersuci dulu, baru setelah itu kita peluk yang lama, ya?" bisik Rahma dengan suara bergetar, matanya mendadak berkaca-kaca menahan rindu yang membuncah.

Anak kecil itu menggeleng kuat-kuat dengan wajah cemberut, mengabaikan peringatanibunya, dan langsung menubrukkan badannya ke pelukan Rahma. "Enggak apa-apa, Bu. Aku enggak takut kotor. Aku cuma kangen banget sama Ibu."

Dalam dekapan hangat di teras rumah yang mulai temaram itu, air mata Rahma akhirnya luruh, membasahi pundak kecil anaknya. Rasa lelah yang menumpuk sedari perjalanan yang ditempuhnya setiap hari menguap begitu saja tanpa bekas, digantikan olehkehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rumah itu kini kembali lengkap.

Catatan Jurnalis

Kisah Rahma adalah sebuah potret nyata tentang dedikasi yang melampaui angka-angka matematis di spidometer kendaraan. Di atas aspal yang panas dan di antara debu jalanan, ia mengukir arti sebuah ketulusan. Baginya, 80 kilometer berangkat adalah sebuah perjalanan suci untuk membagikan masa depan dan harapan kepada anak-anak bangsa. Dan 80 kilometer pulang adalah sebuah perjalanan pulang yang sakral untuk menjemput kebahagiaan sejatinya yang paling murni.

Di pagi hari, ia dengan tegar melepaskan perannya di rumah demi menjadi seorang guru yang digugu dan ditiru di sekolah. Namun di sore hari, ia menanggalkan seluruh status kedinasandan keprofesionalannya di pintu rumah, demi kembali menjadi madrasah pertama dan pelabuhan terbaik bagi darah dagingnya sendiri.

Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya, yang bertarung di jalanan setiap hari.

Pergi jadi guru, pulang jadi ibu.

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby


Kidung Cintaku, Bapak Bagian I: Jangkar yang Telah Pergi

Kidung Cintaku, Bapak Bagian I: Jangkar yang Telah Pergi

 

(Sumber foto: Pinterest)

Senin, 1 Juni 2026ung Cintaku, Bapak

Aku masih ingat..atau mungkin tepatnya selalu merasakan, bagaimana bumi melunak saat aku pertama kali menghirup udara dunia. Kelahiranku disambut sejuk oleh sepasang tanganmu, Pak. Tatapan matamu hari itu seolah meneduhkan segala riuh, menjadi jangkar pertama bagi jiwa kecilku yang baru saja memulai perjalanannya. Sejak detik itu, aku tahu aku aman. Bapak adalah sebuah telaga kasih yang airnya tidak pernah surut. Waktu boleh mengikis banyak hal, usia boleh merenggut tenagamu, namun hangatnya kasih sayangmu tidak pernah padam.  

Bahkan sampai di titik paling sunyi, saat kelopak matamu perlahan menutup untuk selamanya, sisa kehangatan itu masih tertinggal di genggaman tanganmu yang mendingin. Bapak pergi membawa separuh jiwaku. Hari itu, aku resmi kehilangan cinta pertamaku. Ketika monitor rumah sakit menampilkan garis lurus yang dingin dan suara dengung yang panjang memutus harapan kami. Duniaku runtuh seketika. Aku mencoba memeluk tubuhmu yang mulai kaku, membisikkan kata demi kata agar kau kembali membuka mata, namun takdir berkata lain. Kepergianmu meninggalkan lubang besar yang menganga di dada. Sebuah kehancuran jiwa yang begitu hebat hingga aku sempat mengira tidak akan pernah bisa melangkah lagi.  

Berhari-hari setelah pemakamanmu, rumah terasa begitu asing tanpa aroma kopi hitam di pagi hari dan suara deham khasmu dari teras depan. Aku terjebak dalam labirin kesedihan yang gelap. Namun, di tengah hancurnya jiwaku, ingatan tentang ketegaranmu perlahan-lahan datang bagai lentera kecil. Aku sadar, membiarkan diriku larut dalam keterpurukan bukanlah hal yang kau inginkan. Menangisimu adalah hal yang manusiawi, tetapi menyerah pada hidup berarti menyia-nyiakan seluruh perjuangan yang telah kau korbankan untuk membesarkanku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku mencoba bangkit, mengumpulkan kembali kepingan hatiku yang berserakan, dan belajar untuk berjalan lagi—meski dengan langkah yang tertatih.

Bagian II: Sempurna Dalam Kurang

Jika dunia melihatmu dengan segala batasan, mata anak perempuanmu ini punya lensanya sendiri. "Bapak memang banyak kurangnya, tapi ia selalu sempurna di mataku." Setiap peluh yang kau usap diam-diam, setiap kecewa yang kau sembunyikan di balik senyum lelahmu adalah bukti kemegahan hatimu. Bapak tidak perlu menjadi pahlawan bagi dunia, karena bagi jiwaku, Bapak adalah definisi dari ketulusan yang utuh.  

Ada satu momen yang abadi, yang selalu sukses melelehkan pertahananku setiap kali mengingatnya. Hari itu, saat kau menyerahkan tanggung jawabmu pada laki-laki pilihan hatiku, kau berbisik padanya dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.

"Anak perempuan pertama adalah cinta pertama bapaknya."

Kalimat itu Pak, adalah mahkota terindah yang pernah kupakai. Kalimat yang membuatku sadar betapa beruntungnya aku telah dicintai sedalam itu oleh seorang laki-laki hebat sebelum dunia sempat mengenalkanku pada patah hati.  

Ingatanku kemudian melesat jauh ke belakang, ke masa-masa seragam putih-abu-abu. Pak, masih ingatkah kau pada masa SMA-ku dulu? Pagi itu langit tampak mendung, dan aku sudah dirundung cemas karena takut terlambat mengikuti ujian di sekolah. Dengan sigap, kau mengeluarkan Vespa tuamu yang berwarna hijau pudar—kendaraan legendaris yang suaranya selalu memecah keheningan gang rumah kita. Sepanjang jalan, kepalaku dipenuhi rasa takut: takut tidak bisa menjawab soal, takut mengecewakanmu, dan takut akan masa depan.

Di atas motor yang berguncang itu, di antara deru mesin yang bising, kau sedikit menoleh ke belakang dan berkata,

“Tenang aja, Nduk. Selama ada Bapak, semua akan baik-baik saja.”

Kata-kata sederhana itu ajaib, Pak. Seketika itu juga, semua gemuruh di kepalaku mereda. Pelukan eratku pada pinggangmu menjadi bukti bahwa aku sepenuhnya percaya pada janjimu. Bagiku, punggung lebar Bapakkulah benteng terkuat di dunia ini.

Padahal, jika aku berkaca pada masa lalu, sering sekali aku membuat hatimu terluka. Aku bukan anak perempuan yang selalu penurut. Ada masa di mana aku merasa lebih tahu segalanya, termasuk saat dirimu melarangku untuk berpacaran karena ingin aku fokus pada sekolah. Ego remajaku berontak. Aku melanggar larangan itu secara sembunyi-sembunyi, mengira kau tidak akan pernah tahu. Namun, ketajaman insting seorang ayah tak bisa dibohongi. Ketika kau mengetahuinya, tidak ada amarah yang meledak-ledak atau bentakan yang keluar dari mulutmu. Kau hanya menatapku dengan mata yang sarat akan rasa kecewa, sebuah tatapan yang justru jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.

“Bapak hanya ingin kamu tidak salah melangkah, Nduk,” ucapmu lirih malam itu di meja makan.

Rasa bersalah langsung menghunjam jantungku. Di hadapan ketulusan dan kekhawatiranmu, aku berjanji dalam hati untuk menebus kesalahan itu. Aku memutus semua hal yang bisa mendistraksi impianku dan mengalihkan seluruh energiku untuk belajar. Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa anak perempuanmu ini bisa bangkit dan menjadi yang terbaik.

Berbulan-bulan aku mengurung diri dengan buku-buku tebal, hingga hari pengumuman itu tiba. Air mataku tumpah saat namaku disebut sebagai Juara 1 Olimpiade Ekonomi Tingkat Jabodetabek. Aku pulang membawa piala besar itu dan langsung menghambur ke pelukanmu. Aku masih ingat betul bagaimana matamu berkaca-kaca, dan senyum lebar yang terukir di wajahmu menjadi hadiah paling mewah yang pernah kuterima. Kau bangga, dan rasa banggamu menghapus seluruh rasa bersalahku.

Bagian III: Berjalan dalam Rindu

Pak, lihatlah anak perempuanmu sekarang. Aku masih berdiri di sini, tegap di atas kedua kakiku. Namun, jangan salah mengira ini karena aku kuat tanpamu. Tidak, aku tidak pernah sekuat itu. Aku tetap melangkah bukan karena lukaku telah sembuh, melainkan karena bumi menolak untuk berhenti berputar. Hidup tetap harus berjalan, Pak. Tugas-tugasku di dunia belum usai, dan amanah yang kau titipkan harus tetap kujaga.  

Sekarang, aku hanya sedang menjalani sisa waktu yang diberikan-Nya untukku.

Menghabiskan sisa napas, merawat rindu yang kian membuai, sampai nanti tiba saatnya ketukan itu datang kepadaku. Kerinduan ini kini kutransformasikan menjadi energi untuk menyelesaikan segala hal baik yang pernah kita cita-citakan bersama. Setiap kali aku merasa lelah dengan tekanan dunia kerja dan kehidupan dewasa, aku selalu memejamkan mata dan membayangkan diriku kembali berada di boncengan Vespa tuamu, mendengar suaramu yang menenangkan badai.  

Aku bertahan, semata-mata demi hari di mana aku bisa berlari lagi ke pelukanmu, mengadukan betapa beratnya dunia tanpamu, dan kembali mendengar suaramu menyambutku dengan sejuk yang sama. Kelak, ketika giliranku tiba, aku ingin menghampirimu tanpa membawa rasa malu, melainkan membawa laporan panjang tentang bagaimana aku telah menjaga diriku dan menghormati namamu dengan baik di dunia.  

Sampai bertemu lagi, Cinta Pertamaku.  

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Adista Putri Revalina

SEMINAR NASIONAL DEM FH UNISRI ANGKAT ISU PENEGAKAN HUKUM PASCA KUHP NASIONAL

SEMINAR NASIONAL DEM FH UNISRI ANGKAT ISU PENEGAKAN HUKUM PASCA KUHP NASIONAL


(Sumber Foto: Adyuta Rafi)

 

Surakarta, 23 Mei 2026 — Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi melalui Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (DEM FH UNISRI) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Era Baru Hukum Pidana: Paradigma dan Tantangan Penegakan Hukum Pasca KUHP Nasional” di Ruang Seminar Lantai 7 Kampus II UNISRI.

 

Kegiatan ini menjadi wadah diskusi akademik mengenai dinamika hukum pidana Indonesia setelah lahirnya KUHP Nasional yang membawa berbagai perubahan dalam sistem penegakan hukum. Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, hingga aparat penegak hukum.

 

Wakil Menteri Hukum Republik Indonesia, Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum., sebelumnya dijadwalkan hadir sebagai keynote speaker dalam kegiatan tersebut. Namun karena berhalangan hadir, seminar tetap menghadirkan tambahan pembicara dari unsur kejaksaan, yakni Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Teguh Subroto, S.H., M.H., yang diwakilkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta, Dr. Supriyanto, S.H., M.H.

 

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Puljyono Suwandi, S.H., M.H. membahas mengenai teori paradigma baru dalam KUHP dan KUHAP. Materi tersebut menyoroti tentang pergeseran sistem hukum yang secara garis besar, jika paradigma lama berfokus pada penghukuman badan (retributif), paradigma baru ini bergeser ke arah pemulihan (restoratif) dan rehabilitasi.

 

Sementara itu, Prof. Dr. Firmanto Laksana, S.H., M.H., CLA. menekankan pentingnya profesionalisme dan etika advokat dalam menghadapi tantangan implementasi KUHP Nasional, khususnya dalam menjaga proses hukum yang adil serta perlindungan hak pencari keadilan.

 

Dari unsur mahasiswa, Dimas Muhamad Fajar membawakan materi bertajuk “Peran Mahasiswa Sebagai Agent of Change dalam Mengawal Implementasi KUHP Baru.” Dalam materinya, Dimas menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai pengawas demokrasi, pengawal kebijakan negara, sekaligus agen perubahan sosial dalam mengawal implementasi KUHP baru secara kritis dan konstruktif.

 

Adapun materi dari Kajati Jawa Tengah yang diwakilkan Kajari Surakarta membahas tentang Pandangan dan Tantangan Implementasi KUHP Baru dalam Penguatan Regulasi dan Kebijakan yang Berkelanjutan. Pembahasan tersebut menyoroti tantangan transisi KUHP dan KUHAP baru, konsep living law, koordinasi antar aparat penegak hukum, hingga strategi optimalisasi implementasi hukum pidana nasional di Indonesia.

 

(Sumber Foto: Adyuta Rafi)

 

Dalam sesi diskusi, peserta seminar juga aktif mengajukan berbagai pertanyaan kritis terkait implementasi KUHP baru. Salah satu isu yang dibahas adalah mekanisme pengawasan pidana kerja sosial dan pidana pengawasan agar pelaksanaannya tetap efektif, transparan, dan tidak membebani anggaran negara. Selain itu, muncul pula pembahasan mengenai penerapan restorative justice, pengawasan terhadap hukum adat dalam konsep living law, hingga peran mahasiswa dalam mengawal kebebasan berpendapat agar tidak dibungkam melalui pasal-pasal multitafsir.

 

Para narasumber menegaskan bahwa implementasi KUHP baru memerlukan pengawasan bersama, koordinasi antar lembaga penegak hukum, serta keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam memberikan edukasi hukum kepada masyarakat. Seminar juga menyoroti pentingnya pendekatan hukum yang tidak hanya berorientasi pada pemidanaan, tetapi juga pemulihan sosial dan keadilan restoratif.

 

Seminar dipandu oleh moderator Nada Aranthxa, Duta Kampus UNISRI 2023, serta dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Hukum UNISRI, Dr. Dora Kusumastuti, S.H., M.H.

 

Melalui kegiatan ini, DEM FH UNISRI berharap seminar dapat menjadi ruang dialog yang kritis dan konstruktif mengenai tantangan implementasi KUHP Nasional di Indonesia, sekaligus meningkatkan kesadaran akademik mahasiswa terhadap perkembangan hukum pidana nasional.

 

Penulis: Adyuta Rafi

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby

 

BEM KM Unisri Gelar Semnas, Soroti Realitas Digital dan Sosial Pada Angkatan Muda

BEM KM Unisri Gelar Semnas, Soroti Realitas Digital dan Sosial Pada Angkatan Muda

Peneliti BRIN Tri Joko Haryanto saat presentasi materi “Membangun Budaya Remaja Kritis, Literasi, & 5-Anti”, Sabtu, 16 April 2026.

(Sumber Foto: Aryo Satryo Tamtomo)

 

Surakarta, 16 Mei 2026 – BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Unisri baru saja menggelar seminar bertajuk “Membangun Budaya Anak Muda yang Kritis, Berliterasi, dan Berkarakter 5-Anti”.

Di era serba terdigitalisasi saat ini, muncul beragam fenomena sosial, adapun dalam hal ini anak muda menjadi segmen yang paling terdampak.

Joko Tri Haryanto peneliti pada bidang agama dan kepercayaan BRIN selaku pembicara pertama menyebut tidak semua informasi di internet mengandung kebenaran.

Karenanya perlu pembudayaan literasi pada anak muda. Tujuannya, agar selain memahami dan kritis dalam menyikapi informasi, pembudayaan literasi dapat menciptakan generasi yang toleran serta mampu mengambil keputusan secara bijak.

“Literasi ini menjadi super power-nya anak muda, jangan cepat puas dengan satu informasi. Saring sebelum sharing,” ucap Joko.

Selain itu juga, anak muda kerap menjadi objek rentan terhadap berbagai praktik-praktik negatif seperti bullying (fisik, verbal, hingga penyebaran video/foto), kekerasan seksual baik fisik maupun verbal, intoleransi, korupsi, hingga narkoba.

“Integritas dimulai dari hal kecil, dari sekarang, dari saat ini,” tegas pria Kelahiran Demak itu. Oleh karena itu, melalui hasil risetnya di Kota Solo, Joko mempresentasikan prinsip 4T, yang terdiri dari Tata Praja (prinsip bermasyarakat), Tata Krama (prinsip kesopanan), Tepa Selira (prinsip toleransi), serta Teguh Manembah (prinsip patuh).


Dengan keempat prinsip tersebut diharapkan dapat menciptakan remaja berkepribadian jempolan. Karena menurut Joko, “Indonesia yang lebih baik dimulai dari anak muda yang baik.”

Sementara itu, Mohammad Miftah Pengarah Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Litbangjirap) IpTek BRIDA Jawa Tengah sekaligus pembicara kedua melihat relasi antara pengaruh lingkungan, peran orang tua, serta pendidikan komprehensif jadi komponen tak terpisahkan atas perilaku remaja.

Miftah juga menyebut tantangan sosial seperti ketergantungan gadget hingga kesenjangan digital perlu dihadapi lewat peningkatan literasi digital. Karenanya, implementasi menjadi hal penting dan menurutnya dapat dipraktikkan melalui pendidikan digital, akses teknologi, pelatihan/workshop, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

“Orang yang punya literasi yang kuat dia bisa beradaptasi dengan zamannya,” terang Miftah. Sejalan dengan itu, baik guru atau orang tua sama-sama berperan penting dalam menjalankan praktik itu.

Sementara itu, untuk memerangi fenomena seperti bullying, kekerasan seksual, hingga penggunaan narkoba, Miftah menyebut perlunya pemberdayaan prinsip 5-Anti (Anti Korupsi, Anti Narkoba, Anti Kekerasan Seksual, Anti Perundungan, dan Anti Intoleransi).

Prinsip tersebut pada ruang lingkup sekolah dapat diimplementasikan semisal pengadaan kurikulum 5-Anti, pengadaan ekstrakurikuler pendukung, pengawasan terhadap korban terdampak, sampai evaluasi program.

Di lain sisi, ia juga menekankan perlunya keterlibatan generasi muda sebagai agent of change perlu untuk lebih terlibat secara nyata.

Aksi itu bisa dimulai dengan cara seperti menggunakan teknologi secara bijak, mengembangkan inovasi yang solutif, mengedukasi masyarakat, berpartisipasi pada kegiatan politik, sampai menginspirasi orang lain untuk menjadi agen perubahan selanjutnya.

 

Penulis: Aryo Satryo Tamtomo 

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby

Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi: Menyuarakan Realitas Papua di Tengah Otonomi Khusus dan Proyek Nasional

Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi: Menyuarakan Realitas Papua di Tengah Otonomi Khusus dan Proyek Nasional

 

 

SURAKARTA, 15 Mei 2026 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) IKAHUM UNISRI bersama DEM FH UNISRI, MAKUMPA UNISRI, dan HIMAKUM UNISRI menyelenggarakan kegiatan nobar & diskusi film Pesta Babi di Warmindo Alumni, Surakarta. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Al Ghozali Hide Wulakada, S.H., M.H. sebagai pemantik diskusi sekaligus Direktur LBH IKAHUM UNISRI dan dosen filsafat hukum UNISRI. Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale mengangkat isu masyarakat Papua khususnya mengenai tanah adat, eksploitasi sumber daya alam, budaya, serta perjuangan masyarakat adat untuk mempertahankan ruang hidup mereka. Film ini bukan hanya sekadar dokumenter, tetapi juga menjadi medium refleksi sosial mengenai relasi kekuasaan, keadilan, dan kemanusiaan di Papua.

 

Dalam diskusi, salah satu peserta menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan otonomi khusus di Papua. Menurutnya, meskipun Papua telah diberikan status otonomi khusus, dalam praktiknya pemerintah daerah belum memiliki kewenangan penuh untuk mengatur wilayahnya sendiri. Banyak kebijakan strategis masih ditentukan oleh pemerintah pusat di Jakarta, sementara pemerintah daerah hanya menjadi pelaksana. Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan makna otonomi khusus yang seharusnya memberikan hak kepada daerah untuk mengatur kepentingannya secara mandiri.

Peserta tersebut juga menyoroti persoalan izin proyek dan investasi di Papua. Ia menjelaskan bahwa secara administratif izin memang diberikan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Namun, masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat sering kali tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang memiliki rumah dan tanah, tetapi ketika ada pihak lain yang hendak menggunakan lahannya, justru yang diberi tahu hanyalah RT atau RW, sedangkan pemilik rumah tidak pernah dimintai persetujuan. Akibatnya, masyarakat adat merasa asing di tanah mereka sendiri ketika proyek mulai berjalan tanpa keterlibatan mereka.

Menurut peserta tersebut, dampak yang dirasakan masyarakat Papua adalah hilangnya hutan sebagai sumber kehidupan, meningkatnya kemiskinan, serta minimnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang layak. Ia mencontohkan keberadaan PT Freeport Indonesia sebagai salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia. Meskipun perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan besar, masyarakat Papua merasa belum benar-benar merasakan manfaat yang signifikan bagi kesejahteraan mereka. Karena itu, kehadiran perusahaan-perusahaan besar di Papua kerap dipandang hanya memperpanjang penderitaan masyarakat adat.

Film Pesta Babi sendiri memperlihatkan bagaimana tanah adat bukan sekadar aset ekonomi, melainkan bagian dari identitas, budaya, dan kehidupan spiritual masyarakat Papua. Tradisi “pesta babi” dalam budaya Papua merupakan simbol syukur, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Oleh sebab itu, hilangnya tanah adat bukan hanya persoalan kehilangan wilayah, tetapi juga hilangnya identitas budaya masyarakat Papua.

Dalam diskusi juga disinggung berbagai regulasi negara yang berkaitan dengan penguasaan tanah dan pembangunan nasional, seperti ketentuan dalam undang-undang mengenai pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang memberikan hak kepada negara untuk mengambil tanah dengan syarat memberikan ganti kerugian yang layak kepada masyarakat. Selain itu, terdapat pula kebijakan mengenai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sering menjadi dasar pelaksanaan proyek pembangunan di berbagai daerah, termasuk Papua. Namun, persoalan yang muncul adalah bagaimana pembangunan tersebut tetap menghormati hak-hak masyarakat adat dan prinsip keadilan sosial.

Narasumber, Dr. Al Ghozali Hide Wulakada, S.H., M.H., kemudian mengutip pemikiran George Orwell dalam novel Animal Farm:

“Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain.”

Kutipan tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa dalam praktik sosial dan politik sering kali terdapat ketimpangan kekuasaan, di mana kelompok tertentu memiliki posisi lebih dominan dibanding kelompok lainnya. Kondisi inilah yang dirasakan sebagian masyarakat Papua ketika hak-hak mereka tidak sepenuhnya didengar dalam proses pembangunan.

Kegiatan nobar dan diskusi ini juga sempat didatangi aparat. Namun, kehadiran aparat tidak berujung pada pembubaran acara, sehingga kegiatan tetap dapat berlangsung dengan kondusif hingga selesai.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa dan masyarakat mengenai isu hak asasi manusia, keadilan sosial, serta hak masyarakat adat. Sebagaimana disampaikan dalam pamflet kegiatan, menonton Pesta Babi berarti membuka mata dan hati terhadap realitas Papua hari ini, memahami makna tradisi masyarakat adat, mendukung nilai kemanusiaan dan hak asasi, serta membangun ruang dialog yang sehat dan kritis.

Di akhir diskusi ditegaskan bahwa kesadaran merupakan keadaan jiwa yang mendorong manusia untuk memahami realitas sosial secara kritis. Dari kesadaran itulah lahir keberanian untuk mendengar, memahami, dan memperjuangkan keadilan bagi sesama. Diskusi diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber sebagai bentuk solidaritas serta dukungan terhadap masyarakat Papua. Selain itu, seluruh peserta juga membuat video bersama dengan mengucapkan tagar #PapuaBukanTanahKosong sebagai simbol kepedulian terhadap hak masyarakat adat Papua atas tanah, budaya, dan ruang hidup mereka. Tagar tersebut menjadi pesan bahwa Papua bukanlah wilayah kosong yang dapat diperlakukan semena-mena, melainkan tanah yang memiliki sejarah, identitas, budaya, serta masyarakat adat yang harus dihormati dan dilibatkan dalam setiap proses pembangunan.

 

Penulis: Luffwafe D. Kavinara

Penyunting: Adista Putri Revalina

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done