LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Polemik Sekretariat UKM, Ormawa dan Kebijakan Lima Hari Kerja Jadi Sorotan Mahasiswa

Polemik Sekretariat UKM, Ormawa dan Kebijakan Lima Hari Kerja Jadi Sorotan Mahasiswa


 

 

UNISRI, 7 Maret 2026 Polemik mengenai kondisi sekretariat Organisasi Mahasiswa serta penerapan kebijakan lima hari kerja menjadi perhatian mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI). Dua isu tersebut dinilai memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan mahasiswa karena informasi yang beredar belum sepenuhnya jelas dan masih dalam proses pembahasan di tingkat kampus.  Dalam beberapa waktu terakhir, wacana mengenai pemindahan sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sempat berkembang di kalangan mahasiswa. Informasi tersebut memicu berbagai spekulasi karena belum adanya penjelasan resmi yang disampaikan secara menyeluruh kepada Organisasi Mahasiswa.

Salah satu pengurus unit kegiatan mahasiswa (UKM) Z, mengaku pertama kali mengetahui kabar tersebut saat mengikuti kegiatan Teras Asik yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dalam kegiatan tersebut, sempat disampaikan kemungkinan pemindahan sekretariat lama yang berada di area Pascasarjana ke gedung baru.

Namun hingga kini, menurut penuturannya saat diwawancarai daring melalui telepon WhatsApp (17/2/2026), belum ada penjelasan lanjutan yang diterima secara jelas oleh Organisasi Mahasiswa maupun unit kegiatan mahasiswa.

“Informasi yang beredar sejak beberapa waktu terakhir dinilai belum tersampaikan secara utuh, sehingga menimbulkan kebingungan bagi pengurus organisasi dan UKM,” ujarnya.

Bagi Organisasi Mahasiswa, sekretariat bukan sekadar ruang fisik. Tempat tersebut menjadi pusat koordinasi kegiatan, penyimpanan arsip organisasi, sekaligus ruang diskusi bagi para pengurus. Oleh karena itu, kejelasan mengenai kebijakan sekretariat dinilai penting untuk menunjang keberlangsungan aktivitas organisasi.

Selain permasalahan lokasi, kondisi fasilitas sekretariat juga menjadi perhatian. Z menilai sejumlah sarana masih membutuhkan pembenahan, termasuk kebersihan lingkungan sekretariat yang dinilai belum dikelola secara optimal.

Keamanan Sekretariat Jadi Perhatian

Selain fasilitas, aspek keamanan di sekitar sekretariat juga menjadi perhatian mahasiswa. Beberapa pengurus organisasi menilai sistem pengawasan di area tersebut belum berjalan secara optimal.

Menurut Z, keberadaan kamera pengawas atau CCTV dapat membantu meningkatkan keamanan di lingkungan sekretariat.

“Kalau ada CCTV, kondisi sekretariat pasti lebih aman,” ujarnya.

Ia juga menyinggung insiden yang pernah terjadi di sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa Apresiasi (LPM) yang sempat mengalami tindakan represif. Menurutnya, peristiwa tersebut seharusnya menjadi peringatan agar keamanan di area sekretariat diperhatikan secara lebih serius.

“Jangan sampai harus ada korban lagi dan  baru kemudian masalah keamanan ini ditindaklanjuti secara serius,” tegasnya. (17/02/2026)

Pandangan serupa juga disampaikan oleh R, salah satu ketua Organisasi Mahasiswa. Ia menyebut persoalan utama sebenarnya bukan semata-mata soal pemindahan sekretariat, melainkan kelayakan fasilitas yang digunakan oleh Organisasi Mahasiswa.

“Awalnya polemik pemindahan sekre hanya sebatas omongan. Karena tidak ada penjelasan resmi, akhirnya berkembang dan jadi boomerang,” ujar R. Saat wawancara daring melalui telepon WhatsApp (20/2/2026)

Meski demikian, R menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan apabila sekretariat tetap berada di lokasi lama, selama fasilitas yang tersedia dapat diperbaiki agar lebih layak digunakan.

“Kalau tidak jadi pindah pun tetap efektif. Yang jadi catatan itu fasilitasnya yang perlu diperbaiki supaya lebih layak,” ucapnya.

 

BEM Soroti Dampak bagi Aktivitas Mahasiswa

Menanggapi berbagai persoalan yang berkembang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Slamet Riyadi menyatakan bahwa isu sekretariat Organisasi Mahasiswa serta kebijakan lima hari kerja telah menjadi perhatian mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir.

Presiden Mahasiswa menjelaskan bahwa, BEM sebelumnya telah menyampaikan keresahan mahasiswa kepada pihak universitas. Namun, penyampaian tersebut masih bersifat awal dan belum disertai kajian serta data yang lebih komprehensif.

 

“Kami sudah menyampaikan keresahan terkait lima hari kerja, terutama soal efektivitas pembelajaran, nilai, dan dampaknya terhadap aktivitas mahasiswa. Namun saat itu memang baru sebatas penyampaian awal, belum membawa kajian lengkap,” ujarnya (24/2/2026)

Salah satu dampak yang dirasakan mahasiswa adalah berkurangnya fleksibilitas waktu untuk menjalankan kegiatan organisasi. Sebelumnya, hari Sabtu kerap dimanfaatkan untuk rapat, kegiatan UKM hingga persiapan program kerja.

Dengan sistem lima hari kegiatan akademik, mahasiswa sering kali harus mengajukan izin ketika mengikuti kegiatan organisasi.

“Ada juga dosen yang mengatakan, ‘Silakan pilih organisasi atau kuliah.’ Padahal organisasi juga bagian dari proses pembelajaran mahasiswa,” jelasnya.

 

BEM: Komunikasi dengan Kampus Masih Tahap Lobi

Menanggapi polemik yang berkembang, Presiden Mahasiswa menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final dari universitas mengenai pemindahan sekretariat UKM dan Ormawa.

Menurutnya, dalam audiensi sebelumnya memang terdapat tuntutan terkait pemindahan sekretariat. Namun setelah dilakukan pembahasan lebih lanjut dengan pihak kampus, opsi pemindahan ke gedung baru dinilai belum memungkinkan karena keterbatasan kapasitas ruang.

“Di gedung baru kapasitasnya terbatas. Bahkan dari teman-teman DEM juga menyampaikan tidak semua sekre bisa tertampung di sana,” ujarnya.

Sebagai alternatif, BEM menilai gedung lama yang sebelumnya digunakan oleh Fakultas Hukum atau FISIP dapat menjadi opsi yang lebih layak untuk dimanfaatkan sebagai sekretariat Organisasi Mahasiswa.

Saat ini BEM tengah melakukan pendataan ulang terhadap UKM dan Ormawa yang belum memiliki sekretariat tetap. Data tersebut akan digabungkan dengan tuntutan sebelumnya untuk kemudian diajukan kembali kepada pihak universitas.

Namun demikian, ia mengakui bahwa komunikasi dengan pihak kampus masih berada pada tahap lobi awal dan belum sampai pada keputusan konkret.

“Komunikasi masih sebatas lobi awal. Karena itu kami ingin memastikan tuntutan yang diajukan benar-benar berdasarkan data,” tegasnya.

Pihak Kemahasiswaan: Kebijakan dan Wacana Masih Tahap Evaluasi

Menanggapi berbagai isu yang berkembang, pihak Bagian Kemahasiswaan menegaskan bahwa belum ada keputusan resmi terkait pemindahan sekretariat Organisasi Mahasiswa.

Menurut pihak Kemahasiswaan, informasi yang beredar sebenarnya berkaitan dengan kemungkinan pemanfaatan ruangan apabila beberapa fakultas nantinya dipindahkan ke Kampus II.

“Jadi bukan dipindah. Kalau nanti ada ruangan kosong, kemungkinan bisa dimanfaatkan sebagai sekretariat UKM dan Ormawa,” jelas pihak Kemahasiswaan.

Mereka juga mengakui bahwa kapasitas sekretariat yang tersedia saat ini memang masih terbatas sehingga beberapa Organisasi Mahasiswa masih tersebar di berbagai lokasi.

Selain itu, pihak Kemahasiswaan menyebut bahwa sejumlah perbaikan fasilitas telah diajukan, termasuk perbaikan toilet, penyediaan tempat sampah, serta pemasangan CCTV di beberapa titik gedung sekretariat.

 

“CCTV sudah kami usulkan dan titik-titiknya sudah disurvei. Targetnya setelah Lebaran bisa mulai dipasang,” jelasnya.

Sementara itu terkait kebijakan lima hari kerja, pihak Kemahasiswaan menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan berasal dari bidang kemahasiswaan melainkan keputusan pimpinan universitas.

Menurut mereka, istilah yang lebih tepat adalah lima hari kegiatan akademik, di mana aktivitas perkuliahan difokuskan pada hari Senin hingga Jumat. Kegiatan non-akademik seperti aktivitas UKM dan Organisasi Mahasiswa tetap diperbolehkan pada hari Sabtu maupun Minggu dengan mekanisme perizinan yang berlaku.

Pihak Kemahasiswaan juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut masih berada dalam tahap evaluasi dan masukan dari mahasiswa akan menjadi pertimbangan bagi pimpinan universitas.

Menunggu Kejelasan Kebijakan

Berbagai pandangan yang muncul menunjukkan bahwa persoalan sekretariat dan kebijakan lima hari kegiatan akademik tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut ruang gerak organisasi dan unit kegiatan mahasiswa dalam menjalankan aktivitasnya.

Di tengah perkembangan infrastruktur kampus yang terus berlangsung, mahasiswa berharap kebijakan yang diambil dapat disertai komunikasi yang lebih jelas dan transparan agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan organisasi dan unit kegiatan mahasiswa.

 

 

Reporter: Oliviana, Tanaya, Lusia, Nafa, Nanda Ayu, Yuta, Adit

Penyunting: Adista Putri Revalina

Stop Sebut Oknum: Ketika Kekerasan Aparat Perlu Evaluasi Serius

Stop Sebut Oknum: Ketika Kekerasan Aparat Perlu Evaluasi Serius


 

(Ilustrasi by: Luftwaffe D. Kavinara)

 

 

Kematian Arianto Tawakal (14), siswa kelas IX MTsN Malra, kembali mengguncang nurani publik. Seorang anak yang seharusnya menjalani masa sekolah justru kehilangan nyawa setelah berhadapan dengan aparat.

 

Narasi yang kerap muncul dalam kasus serupa hampir selalu sama: itu hanya oknum.

 

Istilah tersebut memang menegaskan bahwa pelaku adalah individu, bukan institusi. Namun, ketika peristiwa kekerasan oleh aparat berulang di berbagai daerah, publik berhak bertanya apakah persoalan ini murni individual atau ada persoalan sistemik yang perlu dibenahi.

 

Data Kekerasan Aparat dalam Catatan Lembaga Independen.

Sejumlah lembaga pemantau hak asasi manusia secara rutin merilis laporan tahunan terkait praktik kekerasan aparat.

 

KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dalam laporan tahunannya periode 2024–2025 mencatat ratusan peristiwa kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian. Dalam laporan tersebut juga disebut adanya puluhan dugaan extrajudicial killing, yaitu dugaan pembunuhan di luar proses hukum.

 

Sementara itu, Amnesty International Indonesia dalam rilis publiknya sepanjang 2024 menyebut adanya kasus pembunuhan di luar hukum dan dugaan penyiksaan yang melibatkan aparat negara di sejumlah wilayah Indonesia.

 

Data ini merupakan catatan lembaga independen, bukan vonis pengadilan. Namun, keberadaannya menunjukkan bahwa isu penggunaan kekuatan oleh aparat masih menjadi perhatian serius dalam diskursus hak asasi manusia di Indonesia.

 

Pelajaran dari Tragedi Kanjuruhan.

Publik juga belum melupakan tragedi Kanjuruhan pada 2022, ketika penggunaan gas air mata di dalam stadion memicu kepanikan massal yang berujung pada ratusan korban jiwa.

 

Fakta persidangan dan investigasi independen yang dilakukan Komnas HAM menyatakan bahwa penggunaan gas air mata di ruang tertutup menjadi faktor penting dalam memburuknya situasi saat itu. Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan kekuatan harus selalu mempertimbangkan prinsip proporsionalitas dan keselamatan warga.

 

Kasus lain yang melibatkan korban sipil seperti Affan dan Gamma juga memicu pertanyaan publik tentang standar penggunaan kekuatan di lapangan. Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa setiap dugaan pelanggaran harus diuji melalui proses hukum yang transparan dan independen.

 

Mengapa Akuntabilitas Penting?

Negara tentu membutuhkan aparat untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Namun keamanan tanpa akuntabilitas berpotensi mengikis kepercayaan publik.

 

Dalam negara hukum, setiap penggunaan kekuatan oleh aparat harus tunduk pada:

  1. Prinsip legalitas,
  2. Prinsip proporsionalitas,
  3. Prinsip akuntabilitas.

 

Ketika investigasi dilakukan secara terbuka dan proses pidana berjalan transparan, kepercayaan publik dapat dipulihkan. Sebaliknya, jika penyelesaian hanya berhenti pada sanksi etik internal tanpa kejelasan proses hukum, ruang kecurigaan akan tetap ada.

 

Antara Kritik dan Tanggung Jawab

Menyebut adanya pola bukan berarti menggeneralisasi seluruh aparat. Banyak anggota kepolisian yang bekerja profesional dan berdedikasi. Namun, kritik terhadap dugaan penyalahgunaan kewenangan adalah bagian dari kontrol publik dalam sistem demokrasi.

 

Karena itu, penting untuk:

  1. Memastikan penyelidikan independen,
  2. Menjamin transparansi proses hukum,
  3. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar penggunaan kekuatan.

 

Arianto Tawakal dan korban lain bukan sekadar angka dalam laporan. Mereka adalah manusia dengan keluarga dan masa depan.

 

Jika istilah “oknum” terus digunakan tanpa evaluasi sistem, maka perdebatan tidak akan pernah menyentuh akar persoalan. Kritik yang berbasis data dan sumber yang jelas bukanlah bentuk kebencian terhadap institusi, melainkan bagian dari upaya memperkuat negara hukum.

 

Sumber Rujukan

      Laporan Tahunan KontraS 2024–2025 tentang Situasi Hak Asasi Manusia

      Rilis dan Catatan Tahunan Amnesty International Indonesia 2024

      Temuan Investigasi Komnas HAM terkait Tragedi Kanjuruhan (2022)

 

 

 

Penulis : Luftwaffe D. Kavinara

Penyunting : Lathifah An Najla

LPM Apresiasi selenggarakan Upgrading 2026 di WCS Mojogedang

LPM Apresiasi selenggarakan Upgrading 2026 di WCS Mojogedang

 

Sumber: Aisyah Aurelia Utlifa

Karanganyar, 14 Februari 2026 — LPM Apresiasi menggelar kegiatan Upgrading pada 13–14 Februari 2026 di WCS Mojogedang dengan mengusung tema “Growing Together, Writing the Future: Bertumbuh dalam Solidaritas, Berkarya untuk Masa Depan Pers Mahasiswa.” Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari anggota baru, panitia, dan pimpinan sebagai langkah awal mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat kapasitas anggota.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan penyampaian laporan SIPIM serta dua sesi materi utama, yaitu Manajemen Pers Mahasiswa dan Teknik Liputan serta Penugasan yang juga disertai praktik. Sesi ini menjadi bekal penting bagi anggota dalam memahami sistem kerja dan teknis peliputan di lingkungan pers mahasiswa.

Memasuki malam hari, suasana kegiatan dibuat lebih santai melalui diskusi internal setiap divisi dan sharing antar divisi untuk membahas tantangan serta evaluasi bersama. Kebersamaan juga diperkuat melalui kegiatan tukar kado, permainan interaktif, serta hiburan yang membangun keakraban antaranggota.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan senam pagi dan berbagai permainan kekompakan seperti lomba lompat kompak, halang rintangan, dan suit kardus. Rangkaian acara ditutup dengan pembagian hadiah, evaluasi panitia, serta penutupan resmi sebelum peserta kembali ke kampus.

Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme. Melalui Upgrading ini, LPM Apresiasi berharap seluruh anggota dapat tumbuh bersama, semakin solid, dan siap berkarya untuk masa depan pers mahasiswa yang lebih baik.

Penulis: Aisyah Aurelia Utlifa

Penyuting: Fita Madjid Pertiwi

Dari Desa ke Jalanan Kota, Anak Tetap Jadi Korban

Dari Desa ke Jalanan Kota, Anak Tetap Jadi Korban


 

 

Belum lama ini, publik dikejutkan oleh tragedi di Desa Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang anak sekolah dasar kehilangan nyawanya akibat tekanan ekonomi yang begitu berat. Luka sosial itu belum sempat sembuh, kini bangsa ini kembali dihadapkan pada tragedi serupa di Kendari. Seorang bocah berusia delapan tahun tewas terlindas alat berat saat menjual tisu di jalan demi membeli beras untuk keluarganya. Berbeda tempat dan kronologi, tetapi akar persoalannya tetap sama: kemiskinan yang menempatkan anak sebagai korban.

Peristiwa di Kendari bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Ia adalah potret nyata kemiskinan yang dibiarkan dan negara yang datang terlambat. Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, seorang anak justru berdiri di persimpangan jalan, menghadapi risiko maut demi menambal dapur rumah yang kosong. Jalanan kota berubah menjadi ruang hidup yang berbahaya, sementara perlindungan negara tidak pernah benar-benar hadir.

Janji sang anak kepada ibunya untuk membawa pulang beras bukan sekadar kalimat polos. Ia adalah tanda bahwa kebutuhan dasar belum terpenuhi. Ketika seorang anak merasa perlu turun ke jalan demi memenuhi kebutuhan keluarga, yang absen bukan hanya bantuan sosial, tetapi juga tanggung jawab negara untuk memastikan tidak ada anak yang harus memikul beban orang dewasa.

Ironisnya, keberadaan anak-anak yang berjualan di jalanan telah lama dinormalisasi. Mereka dianggap pemandangan biasa, bukan tanda bahaya. Padahal, setiap anak yang berada di ruang publik tanpa perlindungan adalah alarm sosial yang seharusnya segera direspons. Tragedi ini menunjukkan bahwa pembiaran telah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu kini memakan korban.

Kasus di Kendari juga memperlihatkan lemahnya pengawasan keselamatan publik. Operasional alat berat di kawasan rawan tanpa pengamanan maksimal menunjukkan bahwa keselamatan warga, terutama anak-anak, belum menjadi prioritas negara. Negara tidak bisa terus berlindung di balik istilah musibah, ketika kelalaian dan minimnya pengawasan nyata terjadi di lapangan.

Jika ditarik lebih luas, tragedi di Ngada dan Kendari menunjukkan pola yang sama. Dari desa hingga jalanan kota, anak-anak selalu berada di posisi paling rentan. Mereka menjadi korban dari kemiskinan struktural, lemahnya perlindungan sosial, dan negara yang baru bereaksi setelah nyawa melayang. Anak-anak bukan hanya korban keadaan, tetapi korban dari sistem yang gagal melindungi.

Kematian anak-anak ini seharusnya tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga rasa malu kolektif sebagai bangsa. Negara tidak boleh terus hadir setelah tragedi terjadi, lalu menghilang kembali di balik belasungkawa seremonial. Selama anak-anak masih harus memilih antara lapar dan bahaya, selama jalanan lebih akrab bagi mereka daripada ruang aman, maka setiap tragedi serupa bukan lagi kecelakaan, melainkan kegagalan yang dibiarkan.

Dari desa ke jalanan kota, anak tetap menjadi korban. Pertanyaannya kini sederhana namun mendesak: apakah kita akan belajar dan bertindak, atau kembali membiarkan tragedi yang sama terulang dengan nama dan tempat yang berbeda?

 

Penulis : Luftwaffe D. Kavinara

Penyunting : Lathifah An Najla

 

RESENSI BUKU : Catatan MDPL Dwi Ryan Diani

RESENSI BUKU : Catatan MDPL Dwi Ryan Diani

RESENSI BUKU : Catatan MDPL  


  ( Sumber Foto:Diomedia )


Buku Catatan MDPL karya Dwi Ryan Diani merupakan cerita perjalanan penulis yang akhirnya dapat mewujudkan keinginannya untuk mendaki gunung. Setelah bertahun-tahun penulis hanya menjadi pendengar setia cerita teman-temannya tentang kabut pagi, jalur terjal, dan momen matahari terbit dari puncak. Tas carrier yang dimilikinya pun lebih sering tergantung rapi, menjadi simbol mimpi yang belum sempat dijalani. Hingga suatu hari, sebuah ajakan mendadak datang tanpa banyak perencanaan. Dari situlah perjalanan dimulai. Langkah awal yang dipenuhi keraguan justru membuka pengalaman yang jauh lebih berarti daripada sekadar aktivitas mendaki.

Isi buku ini tidak hanya mendeskripsikan jalur pendakian atau keindahan panorama alam saja, melainkan juga memuat pesan-pesan kehidupan yang inspiratif. Penulis menggambarkan bagaimana proses mendaki mengajarkan arti ketekunan, kesabaran, kerja sama, serta keberanian keluar dari zona nyaman. Dalam setiap langkah yang diceritakan, terselip nilai tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan menghargai setiap proses dalam hidup. Refleksi tersebut membuat Catatan MDPL terasa hangat dan personal, seolah pembaca sedang diajak berdialog langsung dengan penulis.

Keunggulan buku ini terletak pada penyajian gaya bahasa yang ringan, mengalir, mudah dipahami, serta kejujuran cerita dan sudut pandang penulis yang penuh semangat. Pengalaman yang dituliskan dengan mudah menginspirasi pembaca, khususnya generasi muda untuk berani berkarya dan mengejar mimpi. Namun, buku ini tidak tersusun seperti novel dengan konflik dan klimaks yang kuat. Justru di situlah daya tariknya: kesederhanaan dan ketulusan dalam bercerita menjadi kekuatan utama buku ini.

Buku ini cocok bagi pecinta alam, pendaki pemula, maupun siapa saja yang sedang mencari inspirasi tentang makna perjuangan dan proses. Melalui kisah-kisah di dalamnya, pembaca diajak untuk memahami bahwa setiap puncak yang dicapai selalu diawali dengan langkah kecil serta keberanian untuk menjawab kesempatan yang datang.

Penulis Resensi: Wiri Tanaya Hayu M

Penyunting: Chintya Alinda


Resensi buku 1984 : GEORGE ORWELL

Resensi buku 1984 : GEORGE ORWELL

 

Resensi buku : George Orwell 1984

   ( Sumber Foto : Diomedia )

Novel 1984 karya George Orwell merupakan salah satu karya distopia paling berpengaruh dalam sejarah sastra modern. Diterbitkan pada tahun 1949, novel ini menghadirkan gambaran dunia totaliter yang menakutkan, ketika negara tidak hanya mengendalikan tindakan warganya, tetapi juga pikiran, bahasa, bahkan kebenaran itu sendiri. Melalui kisah yang kelam dan penuh tekanan psikologis, Orwell menyuguhkan kritik tajam terhadap kekuasaan absolut serta bahaya propaganda yang mampu membentuk realitas sosial. Cerita berpusat pada Winston Smith, seorang pegawai rendahan di Kementerian Kebenaran yang bertugas memanipulasi arsip sejarah agar selalu sesuai dengan kepentingan Partai. Di tengah kehidupan yang dipenuhi pengawasan layar teleskrin dan doktrin ideologis yang kaku, Winston diam-diam menyimpan keraguan terhadap sistem yang menindas. Tindakan kecil seperti menulis buku harian menjadi simbol perlawanan personal, sebuah usaha mempertahankan kesadaran diri di dunia yang berupaya menghapus individualitas manusia.

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada konsep bahasa “Newspeak” dan gagasan “doublethink”. Melalui penyempitan bahasa, Partai berusaha membatasi kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis. Sementara itu, doublethink menggambarkan kondisi ketika seseorang dipaksa menerima dua kebenaran yang saling bertentangan secara bersamaan. Ide-ide ini menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat mengendalikan realitas bukan hanya melalui kekerasan fisik, tetapi juga melalui manipulasi pikiran dan makna.

Secara tematik, 1984 tidak sekadar menceritakan pemberontakan individu terhadap negara, melainkan juga mengangkat persoalan besar mengenai kebebasan, identitas, dan kebenaran. Orwell memperlihatkan bahwa ketika informasi sepenuhnya dikontrol, sejarah dapat dihapus, dan bahasa dimanipulasi, maka manusia kehilangan pijakan untuk memahami dirinya sendiri. Akhir cerita yang tragis meninggalkan kesan mendalam sekaligus peringatan bahwa tirani paling berbahaya adalah tirani yang mampu menaklukkan kesadaran batin.

Relevansi 1984 tetap kuat hingga masa kini. Di era teknologi digital, isu pengawasan massal, manipulasi informasi, serta penyebaran propaganda menjadi semakin nyata. Banyak pembaca melihat kesamaan antara dunia dalam novel dengan dinamika politik dan media modern. Karena itu, karya ini tidak hanya penting sebagai bacaan sastra, tetapi juga sebagai refleksi kritis terhadap masyarakat kontemporer. Secara keseluruhan, 1984 adalah novel distopia yang kuat, menggugah, dan penuh peringatan moral. Orwell berhasil menunjukkan bahwa kebebasan berpikir merupakan hak paling mendasar manusia dan sekaligus yang paling rentan dirampas oleh kekuasaan. Membaca novel ini bukan sekadar mengikuti kisah Winston, melainkan juga merenungkan masa depan kemanusiaan ketika kebenaran tidak lagi berada di tangan individu, melainkan di bawah kendali negara.


Penulis Resensi: Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting Resensi: Lathifah An Najla


Rayakan Hari Jadi di Kampus Baru , UNISRI Sukses Gelar Dies Natalis Ke-46

Rayakan Hari Jadi di Kampus Baru , UNISRI Sukses Gelar Dies Natalis Ke-46

 

Sumber Foto: Aryo Satryo Tamtomo/Logo Dies Natalis UNISRI ke-46 di Aula Lantai 7 Kampus II UNISRI

Surakarta – Univeritas Slamet Riyadi kini berusia 46 tahun. Perayaan hari jadi ini turut dilakukan di tempat spesial.

Momen gembira tersebut diadakan pada Kamis (12/02/2026). Perayaan ulang tahun atau Dies Natalis kali ini bertemakan “Membangun Kolaborasi Menuju Perguruan Tinggi yang Membumi dan Mengglobal”.

Perayaan tersebut menjadi semakin menarik nan spesial karena digelar untuk sekaligus meresmikan gedung baru, yakni kampus II yang rencananya akan segera dipergunakan pada bulan April mendatang.

Lalu apa saja detail keseruannya? Ikuti terus sampai selesai ya…

DIMULAI LEWAT IRING-IRINGAN ANDONG, DITUTUP LEWAT KESENIAN TARI

Sejak pagi, sejumlah andong telah terparkir dan siap digunakan dan begitu waktunya tiba, kereta kuda yang membawa iring-iringan sejumlah pejabat kampus seperti rektor hingga sejumlah dekan per fakultas pun berangkat menuju tempat acara.

Begitu pula saat di perjalanan, sejumlah satpam tampak berjaga di sisi kiri jalan sekaligus mengarahkan kusir menuju pagelaran acara.

Di sisi lain, acara yang bertempat di aula lantai tujuh kampus II ini telah sibuk oleh kedatangan berbagai tamu terdiri dari sejumlah civitas akademika, mulai dari tenaga didik seperti dosen hingga delegasi ORMAWA kampus. Adapun Lurik menjadi pakaian utama pada gelaran Dies Natalis kali ini.

Mulai memasuki pertengahan acara, muncul sambutan serta laporan dari Dr. Edi Wibowo S.E., M.M. selaku ketua panitia. Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan beberapa agenda penting UNISRI seperti UNISRI RUN hingga konser musik yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.

Sumber Foto: Aryo Satryo Tamtomo/Dr. Edi Wibowo, S.E., M.M. saat mempresentasikan

agenda UNISRI ke depannya

Ketika inti acara, baik Rektor UNISRI, Proff, Dr. Drs. Sutoyo, M.Pd., bersama Nuroso Bambang Wasisto Utomo, S.E., M.M., selaku Pengurus Yayasan UNISRI sama-sama menegaskan terkait tujuan UNISRI dalam membangun kolaborasi demi tujuan UNISRI yakni go internasional.

Sumber Foto: Aryo Satryo Tamtomo/Penampilan seni dari FAPERTA

Momen paling meriah muncul di pertengahan acara. Munculnya berbagai penampilan tenaga didik (tendik) baik dari kantor pusat hingga masing-masing fakultas (FATIPA-FEB) berhasil membuat acara semakin hidup.

Salah satu penampilan terunik datang dari FKIP yang tampil out of the box, menampilkan tarian yang dibawakan oleh anak-anak PAUD. Lucunya, tidak semua anak ikut menari. Beberapa diantaranya justru menangis dan mengundang banyak gelak tawa dari penonton.

Pada akhir acara juga, ditutup dengan penampilan tari dengan judul: Tari Kreasi Nusantara.

Penulis: Aryo Satryo Tamtomo

Penyunting: Adista

 

Gen Darling Fest 2026 Gaungkan Semangat “Hijau Itu Keren” di De Tjolomadoe

Gen Darling Fest 2026 Gaungkan Semangat “Hijau Itu Keren” di De Tjolomadoe

 

Sumber foto : Tim Dokumentasi Gen-Darling

 

Karanganyar (Solo Raya), 12 Februari 2026 — Semangat kepedulian terhadap lingkungan digaungkan dalam Gen-Darling Fest 2026 bertajuk “Hijau Itu Keren” yang digelar di De Tjolomadoe, Kamis (12/2). Festival Generasi Sadar Lingkungan ini merupakan kolaborasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation bersama Solopos Media Group yang menghadirkan rangkaian edukasi, aksi nyata, hingga hiburan dalam satu panggung inspiratif.

 

Sejak pagi, peserta dari berbagai daerah seperti Kudus, Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Solo mengikuti rangkaian Gen-Darling Movement yang diawali dengan registrasi dan eco briefing. Peserta juga menerima eco-kit serta perlengkapan tanam sebagai simbol komitmen untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan Urban Farming Class, di mana peserta diajak belajar menanam tanaman kecil yang dapat dibawa pulang. Workshop ini menjadi langkah sederhana namun bermakna untuk membangun kebiasaan peduli lingkungan dari hal-hal kecil.

 

Memasuki siang hari, acara berlanjut ke Eco Leaders Conference yang dibuka secara resmi oleh Solopos Media Group dan Director of Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara. Konferensi ini menghadirkan narasumber dari Pandawara Group, yaitu Gilang Rahma Nabilah dan M. Rafly Pasha Putra Pratama, serta Dandy Mahendra selaku Program Officer Bakti Lingkungan Djarum Foundation.

 

Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan pentingnya aksi nyata dan konsistensi dalam menjaga lingkungan. Pandawara Group membagikan pengalaman mereka menggerakkan anak muda melalui aksi bersih-bersih lingkungan yang berdampak luas.

 

Moderator dalam sesi tersebut merangkum diskusi dengan pesan reflektif kepada para peserta. Ia menyampaikan bahwa berbuat baik untuk lingkungan sejatinya adalah investasi bagi diri sendiri dan masa depan bersama.

 

“Berbuat baik untuk lingkungan itu bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri. Ketika kita menjaga lingkungan, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan kita juga. Karena itu, buang gengsi, gali potensi, dan lakukan aksi. Jangan hanya bicara. Jangan hanya peduli di kata-kata. Lakukan perubahan, mulai dari diri sendiri.”

 

Ia juga menegaskan bahwa inti dari Eco Leaders Conference adalah perubahan berkelanjutan (sustainability) yang dimulai dari langkah realistis, konkret, dan terukur sesuai kapasitas masing-masing. Perubahan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri, kemudian meluas ke keluarga, komunitas, hingga lingkungan yang lebih luas.

 

Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan Awarding Gen Darling Movement kepada peserta dan tim yang aktif berkontribusi dalam gerakan sadar lingkungan. Salah satu kategori penghargaan yang diberikan adalah “Voice of Environmental Change Team”, yakni tim dengan artikel paling sering mengangkat sudut pandang kritis terhadap kondisi lingkungan.

 

Penghargaan tersebut diraih oleh Tim Bumi Apresiasi dari LPM Apresiasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta yang terdiri dari:

  1. Vanessa Adinda K.D.S
  2. Chintya Alinda Riskyani
  3. Athorix Khrisna Asmara Widi
  4. Koko Novianto Pribadi
  5. Jesika Dewi Nurrohmah

 

Tim ini dinilai konsisten menghadirkan kampanye, edukasi, dan tulisan kritis yang mendorong kesadaran serta perubahan sikap terhadap isu lingkungan di kalangan mahasiswa.

 

Komitmen terhadap bumi juga diwujudkan melalui aksi tanam pohon bersama di area De Tjolomadoe yang melibatkan para narasumber dan peserta sebagai simbol keberlanjutan gerakan.

Sumber foto: Koko Novianto

 

Menjelang sore, suasana semakin semarak dengan penampilan Idgitaf dalam konser penutup yang disambut antusias oleh peserta Gen-Darling Movement sebagai undangan resmi, serta penonton umum yang turut hadir setelah memperoleh tiket gratis melalui sistem penukaran tiket (war tiket).

 

Melalui Gen-Darling Fest 2026, penyelenggara berharap semakin banyak generasi muda yang menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari identitas dan tanggung jawab bersama. Pada akhirnya, hijau bukan hanya warna, tetapi komitmen untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

Penulis             : Koko Novianto

Penyunting        : Fahra Nautisya Octavia Hany

DEM FKIP UNISRI MENGADAKAN SEMINAR NASIONAL 2026

DEM FKIP UNISRI MENGADAKAN SEMINAR NASIONAL 2026

 Dem FKIP Universitas Slamet Riyadi mengadakan acara Seminar Nasional bertema "Transformasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas di Era Digital"

 
                       Foto : Rhafana Azhar

Dem FKIP Universitas Slamet Riyadi mengadakan acara Seminar Nasional yang
bertema "Transformasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas di Era Digital" yang diselenggarakan pada Selasa, 10 Februari 2026. 

Pengisi acara : 
Muh.Kholid Abdul Nasir S.Pd,
Prof.Dr.Sujarwo,M.Pd,
Galuh Guntur Saputro,
Moderator: Weni Wulan Wijayanti

Pembahasan dalam seminar meliputi Peran media sosial dan platform digital sebagai sarana pembelajaran yang efektif.oleh karena itu pentingnya strategi penyusunan konten edukatif dan kreatif serta kemampuan public speaking yang bisa disampaikan secara persuasif dan berdampak. selain itu aspek etika dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi digital agar peserta tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi konten kreator edukatif yang bernilai dan berkarakter.

implementasi teknologi digital beserta solusi yang dapat diterapkan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, fleksibel, dan inovatif. Di era digital ini, mahasiswa bukanlah mereka yang sekadar menggunakan teknologi paling canggih, melainkan mereka yang mampu berpikir kritis, memiliki kesadaran, serta bertanggung jawab dalam proses pembelajaran.

Penulis: Rhafana Azhar 
Penyunting: Ghulamy


Apa Itu Iuran Komite Sekolah dan Seberapa Penting bagi Siswa?

Apa Itu Iuran Komite Sekolah dan Seberapa Penting bagi Siswa?

 

Sumber foto: Facebook Melki Laka Lena/Potret makam YBR

Kabar soal meninggalnya salah seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur terus didalami. Terbaru, berpulangnya siswa tersebut dikabarkan juga meninggalkan riwayat iuran komite sekolah yang belum lunas.

Seperti yang telah diketahui, penemuan jasad seorang bocah berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT pada Kamis (29/01) menggemparkan dunia pendidikan.

Identitas korban diketahui bernama Yohanes Bastian Roja (YBR), seorang siswa kelas IV SD Negeri Rj di Kabupaten Ngada, NTT itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya tergantung di pohon cengkih dekat gubuk neneknya.

Penyebabnya disinyalir akibat tak mampu membeli peralatan sekolah. Diketahui YBR sempat meminta uang Rp10.000 kepada ibunya guna membeli buku serta pena namun urung diberikan, dengan alasan, sedang tidak memiliki uang. Bukan itu saja, korban juga diketahui masih belum sepenuhnya melunasi iuran komite sebesar Rp1,2 juta (kini Rp700 ribu).

Lalu, apa itu uang komite, serta apakah penting bagi siswa sekolah?

Penjelasan Soal Komite Sekolah Dan Iuran Komite

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata iur atau iuran diartikan sebagai “jumlah uang yang dibayarkan anggota perkumpulan kepada bendahara setiap bulan” bisa untuk keperluan administrasi, rapat anggota, dan sebagainya.

Melansir peraturan.bpk.go.id, sebagaimana dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 Pasal 2 ayat (1), disebutkan bahwa “pendanaan atas biaya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat”. Dan kembali dipertegas dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2012 Pasal 3.

Adapun dilansir dari peraturan.go.id,  dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, tepatnya Pasal 1 ayat (2) menyatakan, bahwa selain komunitas sekolah maupun tokoh peduli pendidikan. Baik orang tua maupun wali peserta didik juga dapat turut bergabung dalam keanggotaan komite sekolah.

Permendikbud tersebut juga menjelaskan dalam hal ini pada Pasal 9 ayat (1) dan (2) bahwa dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, komite sekolah perlu berkoordinasi dan berkonsultasi baik dengan dewan pendidikan setingkat provinsi/kabupaten, dinas pendidikan setingkat provinsi/kabupaten/kota, serta dengan sekolah bersangkutan.

Lebih lanjut Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 Pasal 1 juga membagi sumber pendanaan pendidikan ke beberapa macam, yakni sebagai berikut:

  1. Bantuan Pendidikan atau Bantuan, adalah pendanaan dapat berupa uang, barang, atau jasa yang berasal dari satuan/ pendidikan di luar peserta didik atau orang tua/wali.
  2. Pungutan Pendidikan atau Pungutan, adalah pendanaan berupa uang yang didapat dengan cara melakukan penarikan/pungutan terhadap orang tua/wali yang bersifat mengikat sekaligus memiliki tenggang waktu yang telah ditentukan.
  3. Sumbangan Pendidikan atau Sumbangan, adalah pendanaan dapat berupa uang, barang, atau jasa yang didapat melalui pemberian peserta didik, orang tua/wali, masyarakat, hingga lembaga secara sukarela dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Perihal pendanaan pendidikan, komite sekolah sejatinya juga dapat turut melakukan partisipasi pendidikan. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Asisten Pemeriksaan Laporan Perwakilan Ombudsman RI Kalsel lewat situs ombudsman.go.id, partisipasi pendidikan oleh komite sekolah hanya bisa dilakukan lewat skema sumbangan pendidikan. Ini disebabkan karena skema pungutan hanya boleh diberlakukan oleh satuan pendidikan seperti sekolah.

 

Penjelasan Pihak Sekolah Terkait Iuran 1,2 Juta

Maria Ngene selaku Kepala Sekolah SD Negeri Rj menyebut bahwa seluruh siswa di SD Negeri Rj memang dibebankan iuran komite sebesar Rp1,2 juta tepatnya Rp1.220.000.

Akan tetapi, Maria menjelaskan bahwa iuran tersebut berjangka waktu setahun dan dilakukan sebanyak tiga tahap dalam setahun. Adapun ibu dari YBR sudah membayarkan biaya yang dimaksud sebesar Rp500 ribu, dan tinggal membayar sisanya sebesar Rp720 ribu.

Lebih lanjut Maria menjelaskan bahwa tujuan dari iuran tersebut digunakan untuk membiayai gaji guru honorer sekaligus membiayai kegiatan olahraga antarkecamatan, di mana pada tahun ini, SDN Rj diplot menjadi tuan rumah.

Terakhir, Maria mengaku bahwa adanya iuran tersebut sudah disepakati antara pihak komite dengan orang tua/wali murid.

"Pungutan itu tidak diketahui Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada. Kami hanya berkonsultasi dengan pengawas sekolah," pungkas Maria dikutip dari kompas.com, pada Senin (09/02).

 

 

Penulis: Aryo Satryo Tamtomo

Penyunting: Chintya Alinda R

Apa Arti Sebuah Rumah?

Apa Arti Sebuah Rumah?

Ilustrasi: Athorix

 

 

Ia tumbuh di sebuah rumah yang dari luar terlihat baik-baik saja. Cat dindingnya tidak mengelupas, pagar besinya kokoh, dan lampu teras selalu menyala setiap malam. Rumah itu tidak kekurangan apa pun yang bisa dilihat mata. Orang-orang yang lewat mungkin akan berkata, keluarga mampu, hidup tercukupi, tidak ada alasan untuk mengeluh.

Namun tidak semua yang utuh di luar, selamat di dalam.

Sejak kecil, ia belajar memahami rumah bukan dari bentuknya, melainkan dari suara-suara yang mengisinya. Dari langkah kaki yang berat, dari pintu yang dibanting, dari nada bicara yang naik tanpa sebab jelas. Ia belajar bahwa diam sering kali lebih aman daripada bicara. Bahwa menunduk adalah cara paling cepat menghindari masalah.

Sebagai anak pertama, ia tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk menjadi anak. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa ada adik-adik yang harus dijaga, ibu yang sering diam terlalu lama, dan ayah yang emosinya datang seperti cuaca—tidak bisa diprediksi, tidak bisa ditawar. Ia belajar membaca situasi sejak dini: kapan harus menghilang, kapan harus pura-pura tidak mendengar.

Saat memasuki SMP, ia mulai membuat keputusan kecil yang kelak membentuk hidupnya. Ia memilih untuk tidak meminta. Bukan karena ia tidak butuh, bukan pula karena takut ditolak. Ia hanya tidak ingin berharap. Walau orang tuanya notabenenya mampu, ia tahu bahwa menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti hanya akan melelahkan hati. Maka ia berhenti berharap, pelan-pelan.

Uang saku sering ia dapat dari kakeknya. Rumah kakek itu sederhana, tapi tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada pintu dibanting. Di sana, ia bisa duduk tanpa merasa waspada. Dari kakeknya, ia belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus dijelaskan—kadang cukup dengan kehadiran.

Ia tidak punya handphone seperti teman-temannya. Ketika akhirnya kesempatan itu datang, syaratnya jelas: membersihkan rumah dua kali sehari selama sebulan penuh. Ia menjalani itu dengan patuh. Setiap pagi menyapu, setiap sore mengepel. Tidak ada protes. Tidak ada tawar-menawar. Ketika sebuah handphone akhirnya diberikan—pemberian pakdenya dari Jakarta—ia menerimanya dengan hati yang penuh. Ia menjaganya seperti menjaga sesuatu yang rapuh. Karena ia tahu, apa pun yang ia miliki bisa diambil kapan saja.

Dan benar saja.

Nilai ulangan harian dibagikan melalui grup orang tua. Dari sekian banyak mata pelajaran, hanya satu yang nilainya buruk. Satu. Tidak lebih. Namun satu itu cukup untuk menghapus semuanya. Tidak ada percakapan. Tidak ada kesempatan menjelaskan bahwa ia juga lelah, bahwa ia juga sedang belajar. Handphone itu disita. Dijual. Seolah benda itu tidak pernah berarti apa-apa.

Ia tidak menangis. Ia hanya diam.

Di kelas tiga SMP, ia membalas dengan cara yang tidak terlihat. Ia belajar lebih keras. Pulang sekolah langsung membuka buku. Nilainya stabil, selalu bagus, dan ia konsisten berada di peringkat tiga besar. Setiap lembar rapor ia lihat sendiri, berharap diam-diam akan ada pengakuan. Namun harapan itu kembali belajar satu hal: di rumah itu, keberhasilan tidak pernah lebih keras dari satu kesalahan lama.

Masuk SMK negeri, hidupnya tidak menjadi lebih mudah—hanya berubah wajah. Setiap pagi ia membawa kantong berisi risol mayo dan arem-arem buatan neneknya. Ia berjalan menyusuri kelas-kelas, menawarkan dagangan dengan senyum yang ia latih. Dagangannya hampir selalu habis. Dari situ ia belajar, bahwa lelah bisa terasa bermakna ketika hasilnya nyata.

Ia aktif di OSIS. Ia ikut lomba. Ia mencoba menjadi seseorang yang berguna di luar rumah. Di sekolah, ia dikenal rajin. Di rumah, ia tetap dianggap masalah. Setiap pulang sore, amarah seolah sudah menunggu di depan pintu.

Puncaknya terjadi saat ia mengikuti lomba pawartos—lomba baca berita bahasa Jawa. Latihan intens membuatnya sering pulang sore. Dan suatu hari, ia dipaksa memilih: berhenti berorganisasi atau berhenti sekolah sekalian. Dunia terasa sempit. Ia pergi ke sekolah, duduk di sudut ruangan, menangis di hadapan kakak-kakak kelasnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.

Negosiasi akhirnya terjadi. Ia diizinkan ikut lomba, dengan satu syarat: pulang jam empat sore. Ia menepati janji itu. Bahkan ketika peserta lain masih latihan, ia pulang sendiri. Dan ketika lomba itu selesai, ia meraih juara dua. Ia pulang dengan dada penuh, berharap rumah bisa menjadi tempat berbagi.

Namun rumah tetaplah rumah itu.

Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada kebanggaan. Hanya ibunya yang tersenyum kecil, diam-diam. Ayahnya memilih diam, seolah kemenangan itu tidak pernah ada.

Ia lalu menemukan pelarian dalam fotografi dan videografi. Ia memotret, mengedit, mendokumentasikan kegiatan sekolah. Hingga suatu sore, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Singkat. Menusuk.

“Wis koe rasah foto-foto. Rasah ngedit-ngedit. Skillmu ora ning kene. Golek bakat liyane.”

Air matanya jatuh tanpa suara. Menetes di antara tombol keyboard. Sejak sore itu, sesuatu di dalam dirinya ikut padam.

Di tahun yang sama, kecelakaan terjadi. Ia bersama adik bungsunya. Kedua kaki adiknya patah. Ia tidak disalahkan secara langsung, namun rasa bersalah tinggal lama. Malam sebelum kecelakaan, rumah kembali ricuh. Ayah memukul ibu. Adik kecilnya memeluk kaki ayah sambil menangis. Ia mencoba melindungi mereka. Ia dilempar hingga alisnya berdarah. Malam itu, ia melawan. Untuk pertama kalinya, ia memilih berdiri.

Sejak saat itu, rumah benar-benar kehilangan maknanya.

Kesalahan kecil menjadi alasan makian. Sapu yang kurang bersih, piring yang belum kering. Kata-kata kasar menjadi rutinitas. Hingga ia kuliah, dampaknya tidak pernah hilang. Tamparan, pukulan, dan tendangan bukan cerita asing. Kalimat paling menyakitkan terus terngiang: pembawa sial, tidak berguna, lebih baik mati.

Di bangku kuliah, ia mencoba hidup dengan ritme baru. Namun luka lama selalu menyusul. Setiap keberhasilan terasa hampa. Setiap kesalahan terasa berlipat. Kadang ia bingung: untuk terus melanjutkan hidup dengan sakit yang panjang, atau merasakan sakit sementara lalu mati dan hilang dari dunia.

Namun perlahan ia sadar, hidupnya bukan hanya miliknya sendiri. Ada ibu yang diam-diam bertahan. Ada adik-adik yang melihatnya sebagai contoh. Ada pasangan, sahabat, kakek, dan nenek yang berharap ia tetap ada. Ia mengerti satu hal: yang menginginkannya lenyap hanya satu orang. Yang menginginkannya hidup, jauh lebih banyak.

Kesadaran itu tidak menyembuhkan luka. Tapi cukup untuk membuatnya bertahan hari ini. Lalu besok. Ia belum menemukan arti rumah. Namun kini ia tahu—jika rumah tidak memberinya aman, ia akan membangunnya sendiri. Pelan-pelan. Dari hidup yang masih ia pertahankan.

 

Penulis: Athorix

Penyunting: Lathifah An Najla



Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done