LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kabar Luar Kampus

[Kabar Luar Kampus][recentbylabel1]

Kabar Kampus

[Kabar Kampus][recentbylabel1]
Peningkatan Penjualan UMKM: Mahasiswa KKN Gencarkan Rebranding Logo dan Konten Digital di Desa Kedungringin, Jenar, Sragen

Peningkatan Penjualan UMKM: Mahasiswa KKN Gencarkan Rebranding Logo dan Konten Digital di Desa Kedungringin, Jenar, Sragen

 Peningkatan Penjualan UMKM: Mahasiswa KKN Gencarkan Rebranding Logo dan Konten Digital di Desa Kedungringin, Jenar, Sragen

Sumber foto: Erlangga dan Intan

Ngepringan – (23/07/26) Di tengah persaingan usaha yang ketat, penampilan visual produk dan keaktifan di media sosial menjadi sangat penting bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN UNISRI Kelompok 24 secara resmi melaksanakan program kerja individu berupa pendampingan pembuatan konten promosi digital serta pembaruan identitas visual (rebranding logo) guna membantu pelaku usaha lokal meningkatkan daya pikat produk mereka, salah satunya melalui pendampingan pada UMKM Yani’s Snack.

Langkah ini diambil mengingat banyaknya produk UMKM yang memiliki kualitas unggulan, namun belum terkemas secara maksimal di ruang digital. Melalui program ini, pemilik usaha diajak untuk merancang logo baru yang lebih segar, modern, dan mudah diingat oleh calon konsumen.

Selain memperbarui identitas visual, program ini juga membekali pemilik usaha dengan keterampilan praktis dalam membuat konten pemasaran. Pendampingan tersebut diwujudkan melalui pembuatan video promosi yang memuat penjelasan produk secara detail serta visual produk yang menarik. Mulai dari teknik mengambil foto produk yang estetik menggunakan ponsel pintar, menyusun ide cerita promosi, hingga memanfaatkan platform media sosial secara optimal.

"Logo dan konten media sosial adalah 'etalase' pertama yang dilihat oleh pembeli saat ini. Jika tampilannya menarik dan profesional, rasa percaya calon pembeli tentu akan meningkat pesat."

Dengan adanya strategi visual yang tepat dan konten yang relevan, produk UMKM diharapkan tidak hanya sekadar dikenal, tetapi juga mampu membangun keterikatan emosional dengan pelanggan. Hasil akhirnya, angka penjualan dan minat beli masyarakat terhadap produk lokal dapat terus melonjak di era serba digital ini.
Intervensi rebranding logo dan pembuatan konten digital ini mengacu pada kerangka Ekuitas Merek (Brand Equity) dan Model Respons Konsumen. 

Pembaruan identitas visual bertindak sebagai stimulus eksternal yang merestrukturisasi Brand Awareness (kesadaran merek) dan Brand Image (citra merek) di benak calon pembeli. Ketika identitas visual sebuah UMKM dikemas secara konsisten dan estetik, hal tersebut mampu mereduksi Perceived Risk (persepsi risiko) yang sering kali timbul dalam transaksi digital, sehingga mempercepat transisi calon konsumen dari tahap Cognitive (pengenalan) menuju tahap Affective (ketertarikan emosional).
 
Sumber foto: Erlangga dan Intan 
Di samping itu, penguatan kapasitas dalam produksi konten digital menekankan pada penerapan konsep Content Marketing dan Digital Storytelling. Melalui pemanfaatan platform berbasis audio-visual, komunikasi pemasaran tidak lagi bersifat satu arah seperti tiktok dan instagram (one-way communication) , melainkan bergeser menjadi bentuk interaksi yang dinamis. Elemen naratif dan estetika video produk terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat Customer Engagement (keterikatan pelanggan). Keterikatan ini menjadi prediktor utama dalam membentuk Purchase Intention (minat beli) yang pada akhirnya berorientasi pada keputusan pembelian berulang (repeat purchase).

Melalui pendekatan pendampingan yang berbasis pada integrasi teori komunikasi pemasaran dan praktik teknologi informasi ini, keberlanjutan UMKM seperti Yani’s Snack diharapkan tidak hanya ditopang oleh keberadaan produk yang berkualitas, tetapi juga oleh keunggulan kompetitif yang terukur di ekosistem digital. Untuk melihat secara langsung penjelasan produk yang dijual beserta tampilan visualnya, Anda dapat menyaksikan video dokumentasi kegiatan melalui tautan berikut: https://youtube.com/shorts/OpsVF-8SEfc?si=Kko4RW41U8C977v2


Penulis: Intan Mayang Jati & Erlangga Surya Daryatama

Dari Bangku PAUD Kartini Sragen: Menanam Daya Kritis Lingkungan Lewat Botol Minum

Dari Bangku PAUD Kartini Sragen: Menanam Daya Kritis Lingkungan Lewat Botol Minum

 Dari Bangku PAUD Kartini Sragen: Menanam Daya Kritis Lingkungan Lewat Botol Minum

Sumber foto: Herliana Candra W
SRAGEN — Ruang kelas PAUD Kartini, Desa Jetiskarangpung, mendadak riuh oleh gelak tawa dan rasa ingin tahu yang tinggi, Rabu (29/7/2026). Di tengah proses belajar mengajar yang kasual, anak-anak diajak meraba sebuah isu besar yang hari ini tengah mengancam masa depan bumi: darurat sampah plastik.

Alih-alih dicekokin teori rumit, anak-anak usia dini ini diperkenalkan pada pelestarian alam melalui sebuah benda kecil yang melekat di tas mereka tumbler atau wadah minum isi ulang. Langkah ini diinisiasi untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak akarnya, membongkar ketergantungan generasi muda pada botol kemasan sekali pakai yang kerap berakhir menjadi limbah.

Pendekatan kreatif menjadi kunci utama dalam penyampaian materi, tim pelaksana memetakan berbagai jenis sampah plastik harian yang akrab dengan dunia anak, mulai dari gelas air mineral instan hingga bungkus makanan ringan. Dengan bahasa yang renyah dan interaktif, anak-anak diajak memahami bahwa tumpukan plastik di luar sana bukan sekadar kotoran, melainkan ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan.

"Kami ingin anak-anak mengenal pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Kebiasaan membawa tumbler merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan secara rutin untuk membantu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai," ungkap salah satu pelaksana kegiatan di sela acara.

Bagi PAUD Kartini, kesadaran ekologis tidak lahir dari ruang-ruang seminar yang kaku, melainkan dari konsistensi kebiasaan mikro. Membawa tumbler dari rumah diposisikan bukan sekadar aturan sekolah, melainkan budaya baru yang menyenangkan baik di lingkungan institusi pendidikan maupun ketika mereka beraktivitas di ruang publik.

 Antusiasme pun tak terbendung, sepanjang sesi, binar mata anak-anak menunjukkan ketertarikan tinggi saat mereka dikenalkan pada fungsi tumbler sebagai instrumen penyelamat lingkungan. Respons organik ini membuktikan bahwa anak-anak memiliki kapasitas dasar untuk merespons isu sosial jika dikemas dalam narasi yang ramah usia.
Sumber foto: Herliana 

Kendati demikian, rantai kesadaran ini tidak boleh berhenti di gerbang sekolah. Sinergi dengan ruang domestik menjadi determinan penting.  Peran orang tua dikonsolidasikan untuk mendampingi dan merawat kebiasaan tersebut di rumah, memastikan bahwa edukasi di sekolah bertransformasi menjadi habitus harian.

Melalui momentum ini, PAUD Kartini Desa Jetiskarangpung tidak sekadar menjalankan fungsi institusi pendidikan, melainkan bertindak sebagai agen perubahan kultural. Dari ruang kelas yang sederhana di Sragen, langkah kecil ini diharapkan mampu mendistribusikan virus kepedulian, melahirkan generasi masa depan yang kritis terhadap isu lingkungan, dan kelak menjadi benteng pertahanan ekologis bagi bumi.

Penulis : Herliana Candra Widyaningsih 
Cegah Bullying Sejak Dini, Tim KKN Gelar Edukasi Perlindungan Hak Anak di SDN 2 Padas

Cegah Bullying Sejak Dini, Tim KKN Gelar Edukasi Perlindungan Hak Anak di SDN 2 Padas

 Cegah Bullying Sejak Dini, Tim KKN Gelar Edukasi Perlindungan Hak Anak di SDN 2 Padas

Sumber foto: Nawang Pratiwi 

TANON – Mahasiswa KKN sukses menyelenggarakan program kerja bertajuk "Edukasi Perlindungan Hak Anak dalam Pencegahan Perundungan bagi Siswa Sekolah Dasar" di SD Negeri 2 Padas, Kecamatan Tanon, pada Jumat (24/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30–10.30 WIB ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para siswa akan pentingnya saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
Sumber : Nawang Pratiwi 

Acara diawali dengan sesi bernyanyi bersama untuk mencairkan suasana agar para siswa merasa nyaman dan antusias. Setelah itu, tim KKN menyampaikan materi interaktif mengenai:
1. Pengertian dan Macam Hak Anak: Menjelaskan hak-hak dasar yang wajib dipenuhi serta dasar hukum perlindungan anak.
2.Pencegahan Perundungan: Membahas bentuk-bentuk bullying dan langkah nyata yang harus dilakukan jika menjadi korban.

Sesi Interaktif dan Ungkap Perasaan
Suasana kegiatan berlangsung hidup lewat sesi tanya jawab interaktif. Untuk mengapresiasi keberanian siswa, tim KKN membagikan gift baik kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan maupun yang belum, guna memupuk rasa percaya diri mereka.

Momen haru terjadi saat sesi penempelan sticky note, di mana para siswa diajak menuliskan pengalaman perundungan yang pernah mereka alami. Isak tangis sempat pecah dari salah satu siswa yang mengungkapkan trauma masa lalunya. Momen ini menjadi pengingat nyata betapa besarnya dampak emosional perundungan bagi anak-anak dan betapa krusialnya ruang aman bagi mereka.

Komitmen Bersama

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengucapan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk perundungan serta penyerahan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak SDN 2 Padas yang telah berpartisipasi aktif.
Melalui edukasi ini, diharapkan para siswa SDN 2 Padas dapat saling menjaga dan mewujudkan lingkungan sekolah yang ramah anak.

Penulis: Nawang Pratiwi 

Penguatan Karakter Sejak Dini: Mahasiswa KKN Ajak Siswa SD Biaskan Kejujuran, Tanggung Jawab, dan Rasa Saling Menghormati

Penguatan Karakter Sejak Dini: Mahasiswa KKN Ajak Siswa SD Biaskan Kejujuran, Tanggung Jawab, dan Rasa Saling Menghormati

 Penguatan Karakter Sejak Dini: Mahasiswa KKN Ajak Siswa SD Biaskan Kejujuran, Tanggung Jawab, dan Rasa Saling Menghormati

Sumber foto : Riyana Agustina

SRAGEN – (30/07/26) — Dalam upaya membentuk karakter anak sejak dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menyelenggarakan program pembiasaan dan pengimplementasian nilai-nilai pendidikan karakter bagi siswa SD di dukuh Plosorejo Desa Kalimacan. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan pondasi moral, etika, dan disiplin pada peserta didik di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi.
   
Sumber foto: Riyana Agustina 

Program yang dilaksanakan di Posko KKN Kalimacan 2026 ini diikuti oleh siswa SD dengan penuh antusias dari siswa. Melalui pendekatan yang edukatif dan interaktif, mahasiswa KKN memadukan materi teori singkat dengan simulasi perilaku sehari-hari agar nilai-nilai karakter mudah dipahami serta diterapkan oleh para siswa.

Dalam pelaksanaannya, materi yang disampaikan berfokus pada ketiga pilar utama pendidikan karakter, antara lain:
1. Penanaman Nilai Kejujuran
Melalui metode role-play (bermain peran) dan refleksi cerita edukatif, siswa diajak memahami pentingnya bersikap jujur, berani berkata benar, serta tidak takut mengakui kesalahan dalam berinteraksi dengan guru dan sesama teman.
2. Penguatan Sikap Tanggung Jawab
Siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjalankan tanggung jawab, dimulai dari diri sendiri, seperti menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu dan merawat barang milik pribadi.
3. Pembiasaan Saling Menghormati
Mengajarkan pentingnya menghormati antara teman sebaya, mendengarkan saat orang lain berbicara, serta membiasakan sikap sopan santun dan penggunaan bahasa yang baik dalam berkomunikasi.

"Penanaman nilai kejujuran, tanggung jawab, dan rasa saling menghormati sangat relevan untuk pendidikan karakter anak-anak . Antusiasme siswa dalam sesi tanya jawab menunjukkan bahwa mereka benar-benar menyimak dan tertarik untuk menerapkan nilai-nilai tersebut," tuturnya.

Melalui pendampingan ini, diharapkan ketiga nilai dasar tersebut tidak sekadar menjadi hafalan teori, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan mendasar (habituation) yang melekat pada diri siswa. 

Penulis: Riyana Agustina
Sosialisasi Investasi Emas Fisik dan Digital di Pertemuan PKK Desa Malangan RT 14

Sosialisasi Investasi Emas Fisik dan Digital di Pertemuan PKK Desa Malangan RT 14

Kalimacan, 2 Agustus 2026 — Sosialisasi mengenai investasi emas fisik dan digital dilaksanakan pada Minggu, 2 Agustus 2026, dalam kegiatan pertemuan PKK Desa Malangan RT 14, Kelurahan Kalimacan, Kecamatan Kalijambe. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan meningkatkan pemahaman ibu-ibu PKK mengenai pentingnya pengelolaan keuangan serta investasi sebagai salah satu upaya mempersiapkan kebutuhan finansial di masa depan.


Dalam kegiatan tersebut, ibu-ibu PKK mendapatkan pemaparan mengenai investasi emas dalam bentuk fisik dan digital. Materi yang disampaikan meliputi pengertian investasi emas, manfaat investasi, cara memulai investasi, serta perbedaan antara emas fisik dan emas digital. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan adanya sesi diskusi dan tanya jawab. Ibu-ibu PKK terlihat antusias mengikuti kegiatan dan aktif mengajukan pertanyaan seputar investasi emas. Pembahasan juga mencakup cara membeli emas, hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berinvestasi, serta pentingnya menyesuaikan investasi dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan masing-masing.


Melalui kegiatan ini, diharapkan ibu-ibu PKK Desa Malangan RT 14, Kelurahan Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, dapat memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai investasi emas fisik dan digital. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong ibu-ibu PKK untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan dan mulai mengenal perencanaan investasi secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sosialisasi investasi emas ini menjadi salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya literasi keuangan. Dengan adanya pemahaman yang lebih baik, ibu-ibu PKK diharapkan mampu mempertimbangkan manfaat dan risiko sebelum memilih instrumen investasi serta dapat mengambil keputusan keuangan secara lebih bijaksana.


Penulis: Ilham Roshid Ridho & Randy Anggi Saputro


Siswa SD Kalimacan Sulap Dedaunan Jadi Karya Ecoprint Totebag Bernilai Jual Tinggi

Siswa SD Kalimacan Sulap Dedaunan Jadi Karya Ecoprint Totebag Bernilai Jual Tinggi

Sumber foto: Cornellyo Andrea Pratama

SRAGEN — Suara irama pemukulan palu kayu terdengar riuh dan bersahut-sahutan di halaman SD Kalimacan pada Sabtu pagi (8/8/2026). Puluhan siswa kelas 5 terlihat sangat antusias memegang palu kayu sambil memukul-mukul dedaunan yang telah ditata rapi di atas kain totebag polos.

Kegiatan praktek ini merupakan bagian dari program pengenalan Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan Sejak Dini. Melalui pelatihan teknik ecoprint metode ketok (pounding), sekolah mengajak para siswa untuk mengolah potensi lingkungan sekitar menjadi barang kerajinan yang indah sekaligus memiliki nilai jual ekonomi.

Sebelum dihias, totebag dari kain blacu polos bernilai ekonomi cukup standar. Namun, setelah diberikan sentuhan seni ecoprint alam berupa jejak serat dan pigmen warna dari daun jati muda, daun jarak, kenikir, hingga pakis penampilan tas kain tersebut berubah menjadi sangat eksklusif dan bernilai estetika tinggi.

Wali kelas 5 SD Kalimacan menjelaskan bahwa pemilihan teknik ecoprint sangat cocok untuk jenjang sekolah dasar karena ramah lingkungan, aman, serta memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah didapatkan di sekitar halaman sekolah.

Sumber foto: Cornellyo Andrea Pratama

"Kami ingin anak-anak memahami bahwa kreasi seni tidak harus mahal. Dedaunan di sekitar kita yang biasanya hanya dianggap sampah atau peneduh, jika diolah dengan kreativitas, mampu menjadi produk bernilai jual. Ini adalah fondasi penting untuk melatih jiwa entrepreneurship anak sejak usia dini," terangnya.

Proses pembuatan diawali dengan perendaman totebag pada air tawas untuk mengunci serat kain. Selanjutnya, para siswa memasukkan lapisan plastik ke dalam bagian dalam tas agar cetakan tidak menembus ke sisi belakang. Daun-daun alami kemudian disusun sesuai imajinasi masing-masing siswa, dilapisi plastik transparan, dan dipukul secara merata menggunakan palu kayu hingga pigmen daun menempel sempurna.

Sumber foto: Cornellyo Andrea Pratama

Salah satu siswa kelas 5, mengaku sangat bangga melihat hasil karya tas buatannya sendiri. "Senang sekali, ternyata daun jati muda dan kenikir bisa mengeluarkan warna dan bentuk yang sangat bagus di tas. Nanti tas ini mau saya pakai untuk membawa buku les," ungkapnya gembira.

Hasil karya totebag ecoprint milik siswa kelas 5 ini rencananya akan dipamerkan pada acara Gelar Karya & Pameran Edupreneurship Sekolah mendatang, serta akan dipasarkan secara terbatas kepada orang tua murid dan warga sekolah sebagai wujud apresiasi karya ekonomi kreatif siswa.


Penulis : Cornellyo Andrea Pratama

Jurnalisme yang Memulihkan: Mengembalikan Martabat Korban dalam Pemberitaan Kekerasan Berbasis Gender

Jurnalisme yang Memulihkan: Mengembalikan Martabat Korban dalam Pemberitaan Kekerasan Berbasis Gender

 

"Sebuah berita tidak pernah benar-benar berhenti ketika dipublikasikan. Ia hidup dalam ingatan publik, membentuk cara pandang masyarakat, bahkan dapat menentukan apakah seseorang diperlakukan dengan empati atau justru dihakimi."

Di tengah derasnya arus informasi, media memiliki kekuatan yang jauh melampaui fungsi menyampaikan fakta. Media mampu membangun kesadaran, mengawasi jalannya kekuasaan, sekaligus memengaruhi arah kebijakan publik. Karena itu, media sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Namun, dalam pemberitaan Kekerasan Berbasis Gender (KBG), kekuatan tersebut menyimpan paradoks. Di satu sisi, media dapat menjadi jembatan menuju keadilan dengan mengungkap fakta dan mengawal proses hukum. Di sisi lain, pemberitaan yang tidak sensitif berpotensi menghadirkan luka baru bagi korban melalui pengungkapan identitas, narasi yang menyudutkan, atau pembingkaian yang melanggengkan stigma.

 

Persoalannya, apakah media selama ini benar-benar telah berpihak pada korban? Ataukah tanpa disadari masih terjebak dalam logika kecepatan, sensasi, dan perburuan klik yang justru mengesampingkan martabat manusia?

 

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat tingginya angka kekerasan berbasis gender di Indonesia. Data yang dipaparkan dalam pelatihan menunjukkan bahwa satu dari lima perempuan pernah mengalami kekerasan. Bahkan, dalam periode 1 November 2024 hingga 31 Oktober 2025 ditemukan 453 dugaan kasus femisida, dengan 239 kasus telah teridentifikasi sebagai femisida. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat individu yang kehilangan rasa aman, kepercayaan diri, bahkan harapan untuk memperoleh keadilan.

 

Ironisnya, ketika negara mulai memperkuat perlindungan melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), ruang publik justru masih sering memperlakukan korban sebagai objek konsumsi informasi. Padahal, UU TPKS menegaskan bahwa korban memiliki hak atas penanganan, pelindungan, dan pemulihan yang meliputi layanan hukum, penguatan psikologis, pelayanan kesehatan, perlindungan identitas, rehabilitasi medis dan sosial, hingga restitusi dan reintegrasi sosial. Artinya, orientasi sistem hukum telah bergeser. Korban tidak lagi dipandang semata sebagai alat pembuktian dalam proses pidana, melainkan sebagai manusia yang hak-haknya harus dipulihkan. Sayangnya, perubahan paradigma hukum tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan paradigma pemberitaan.

 

Masih banyak berita yang lebih sibuk membangun rasa penasaran pembaca daripada membangun pemahaman publik. Judul yang bombastis, detail kronologi yang berlebihan, hingga pengungkapan informasi yang mengarah pada identitas korban sering kali dianggap sah selama mampu menarik perhatian. Akibatnya, korban menghadapi bentuk kekerasan kedua (secondary victimization), yakni luka yang muncul akibat respons sosial setelah kekerasan terjadi.

 

Fenomena tersebut tampak nyata dalam pemberitaan tragedi yang menimpa siswi SMP berinisial CKC (14) di Nabire, Papua Tengah. Di tengah proses hukum yang masih berlangsung, di berbagai platform media sosial beredar foto korban maupun terduga pelaku yang masih berstatus anak tanpa penyamaran (blur). Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan perlindungan korban tidak hanya berhenti pada substansi pemberitaan, tetapi juga pada cara informasi didistribusikan dan dikonsumsi publik. Penyebarluasan identitas visual anak yang menjadi korban maupun anak yang berhadapan dengan hukum berpotensi memperpanjang penderitaan keluarga, memperkuat stigma sosial, serta mengabaikan prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Praktik semacam ini memperlihatkan bahwa etika perlindungan korban bukan hanya menjadi tanggung jawab media massa, tetapi juga seluruh pengguna ruang digital. Ketika identitas korban terus disebarluaskan demi memenuhi rasa ingin tahu publik, yang terjadi bukan lagi fungsi kontrol sosial, melainkan reproduksi luka yang seharusnya dapat dicegah.

 

Kasus tersebut juga memperlihatkan bahwa tantangan jurnalisme pada era digital tidak lagi terbatas pada media arus utama. Setiap individu yang memiliki akses terhadap media sosial kini dapat menjadi penyebar informasi. Sayangnya, tidak semua memahami batas antara kepentingan publik dan pelanggaran terhadap hak privasi korban. Demi mengejar viralitas, foto, video, bahkan identitas korban kerap disebarluaskan tanpa mempertimbangkan dampak psikologis maupun sosial yang harus ditanggung oleh korban dan keluarganya. Padahal, hak atas martabat, rasa aman, dan privasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.

 

Pendekatan berbasis hak asasi manusia menegaskan bahwa seluruh layanan terhadap korban harus berpusat kepada korban (victim-centered approach). Prinsip tersebut mengharuskan setiap pihak menghormati keamanan, kerahasiaan identitas, privasi, otonomi korban, bebas dari diskriminasi, serta menghindari segala bentuk stigma dan penghakiman. Pendekatan yang berpusat pada korban juga menuntut perubahan paradigma dalam menentukan nilai berita. Selama ini, keberhasilan sebuah pemberitaan sering kali diukur dari seberapa cepat informasi dipublikasikan atau seberapa besar perhatian publik yang berhasil diperoleh. Akibatnya, aspek kemanusiaan kerap tersisihkan oleh persaingan memperoleh klik dan keterlibatan pembaca. Padahal, dalam isu kekerasan berbasis gender, setiap informasi yang dipublikasikan memiliki konsekuensi nyata terhadap kehidupan korban, keluarga, bahkan proses penegakan hukum. Oleh karena itu, prinsip "cepat" tidak boleh mengalahkan prinsip "bertanggung jawab".

 

Lebih jauh, jurnalisme yang berpihak pada korban bukan berarti menghilangkan fungsi kritis media terhadap aparat penegak hukum. Sebaliknya, media justru memiliki tanggung jawab untuk mengawasi apakah negara telah memenuhi kewajibannya dalam memberikan perlindungan, penanganan, pemulihan, serta akses terhadap keadilan bagi korban. Dengan demikian, pemberitaan tidak berhenti pada peristiwa pidana semata, tetapi berkembang menjadi instrumen kontrol sosial yang mendorong perbaikan kebijakan publik dan penguatan sistem perlindungan perempuan dan anak.

 

Prinsip ini seharusnya tidak berhenti pada ruang konseling, rumah sakit, atau ruang sidang. Ia juga harus hadir di ruang redaksi. Dalam praktiknya, media memiliki posisi yang sangat strategis. Berita bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk persepsi masyarakat mengenai siapa yang harus dipercaya, siapa yang patut disalahkan, dan bagaimana sebuah peristiwa dipahami. Ketika media memilih diksi seperti "korban mengaku diperkosa" dibandingkan "pelaku diduga melakukan perkosaan", misalnya, fokus pemberitaan bergeser dari tindakan pelaku kepada pembuktian korban. Pergeseran bahasa seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap cara publik memandang penyintas. Lebih jauh lagi, pemberitaan yang berorientasi pada sensasi sering kali berhenti pada pertanyaan apa yang terjadi. Padahal, jurnalisme memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu menjelaskan mengapa kekerasan dapat terjadi, bagaimana sistem perlindungan bekerja, serta apa yang harus diperbaiki agar kekerasan serupa tidak terulang.

 

Di sinilah penulis menawarkan gagasan Jurnalisme yang Memulihkan (Restorative Journalism).

Jurnalisme yang memulihkan bukan berarti mengorbankan independensi media ataupun mengurangi fungsi kontrol terhadap negara. Sebaliknya, konsep ini mengajak media untuk menempatkan pemulihan korban sebagai bagian dari kepentingan publik. Pemberitaan tidak berhenti pada kronologi, tetapi juga menghadirkan informasi mengenai hak-hak korban, mekanisme pelaporan, layanan pendampingan, hingga evaluasi terhadap implementasi kebijakan negara. Dengan pendekatan tersebut, media tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, melainkan menjadi penghubung antara korban, masyarakat, dan sistem perlindungan yang tersedia. Berita tidak hanya mengungkap tragedi, tetapi juga membuka jalan menuju pemulihan. Masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa suatu tindak kekerasan telah terjadi, tetapi juga memahami bagaimana negara bekerja, ke mana korban dapat mencari pertolongan, serta apa yang dapat dilakukan publik untuk mencegah kekerasan serupa kembali terjadi.

 

Dalam konteks ini, media memiliki tanggung jawab untuk mengawasi implementasi berbagai regulasi yang telah dibentuk negara. Undang-undang maupun kebijakan perlindungan korban tidak boleh berhenti sebagai norma tertulis, melainkan harus dipastikan benar-benar berjalan melalui pengawasan publik yang berkelanjutan. Jurnalisme yang memulihkan tidak hanya bertanya siapa pelaku dan bagaimana peristiwa terjadi, tetapi juga mempertanyakan apakah negara telah memenuhi kewajibannya dalam memberikan perlindungan, pemulihan, dan akses terhadap keadilan bagi korban. Konsep ini juga menuntut perubahan cara media mengukur keberhasilan. Selama ini, keberhasilan sering kali diidentikkan dengan jumlah pembaca, klik, atau tingkat viralitas. Padahal, dalam isu kekerasan berbasis gender, keberhasilan seharusnya diukur dari sejauh mana pemberitaan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, mengurangi stigma terhadap korban, mendorong korban maupun penyintas berani mencari pertolongan, serta memperkuat akuntabilitas negara dalam memenuhi hak-hak korban. Lebih dari itu, media juga perlu mengedepankan jurnalisme yang bersifat edukatif. Pemberitaan mengenai kekerasan berbasis gender tidak cukup hanya menyampaikan fakta dan perkembangan proses hukum, tetapi juga perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bentuk-bentuk kekerasan, faktor penyebab, mekanisme pelaporan, serta pentingnya menghormati hak dan martabat korban. Dengan demikian, media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan publik yang mampu membangun budaya anti-kekerasan.

 

Pada era digital, tantangan tersebut semakin kompleks. Algoritma media sosial cenderung mendorong penyebaran konten yang memancing emosi dan rasa penasaran publik. Tidak jarang, informasi yang seharusnya dilindungi justru beredar luas tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap korban maupun keluarganya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab menjaga martabat korban tidak hanya berada di pundak jurnalis profesional, tetapi juga platform digital dan masyarakat sebagai pengguna media sosial. Literasi digital menjadi salah satu kunci untuk memastikan bahwa kebebasan memperoleh informasi tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Perubahan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Sejarah menunjukkan bahwa media pernah menjadi motor perubahan sosial dalam berbagai isu, mulai dari demokrasi, hak asasi manusia, hingga pemberantasan korupsi. Dalam isu kekerasan berbasis gender, media juga memiliki peluang yang sama untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada korban, memperkuat sistem perlindungan, serta membangun budaya masyarakat yang lebih menghormati kesetaraan dan martabat manusia.

 

Pada akhirnya, pemberitaan bukan sekadar soal menyampaikan fakta secepat mungkin. Di balik setiap berita terdapat manusia yang kehidupannya dapat berubah karena cara media memilih kata, menyusun narasi, dan membingkai sebuah peristiwa. Ketika media mengedepankan empati, menjaga martabat korban, serta berpihak pada prinsip hak asasi manusia, media sedang menjalankan fungsi demokrasi dalam arti yang sesungguhnya: melindungi warga negara, terutama mereka yang paling rentan. Sebagaimana ditegaskan dalam materi pelatihan, perubahan menuju kesetaraan dan keadilan dimulai dari kesadaran setiap individu, dan setiap tindakan kecil dapat membawa dampak besar. Bagi seorang jurnalis, tindakan kecil itu mungkin sesederhana memilih satu kata yang tidak menyalahkan korban, menyembunyikan satu identitas yang rentan, atau menambahkan satu informasi mengenai layanan yang dapat diakses penyintas. Namun, dari keputusan-keputusan kecil itulah jurnalisme dapat berubah: bukan hanya menjadi penyampai kabar, tetapi juga menjadi ruang yang memulihkan.

 

Pada saat yang sama, masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Menghentikan penyebaran foto korban, menolak narasi yang menyalahkan korban (victim blaming), serta mengedepankan empati dalam setiap interaksi di ruang digital merupakan bentuk partisipasi nyata dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Ketika media, negara, platform digital, dan masyarakat sama-sama menempatkan martabat manusia sebagai prioritas utama, pemberitaan tidak lagi sekadar menjadi catatan atas sebuah tragedi, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar kolektif untuk mencegah lahirnya korban-korban berikutnya.

 

Jurnalisme yang memulihkan pada akhirnya bukan hanya sebuah pendekatan dalam praktik jurnalistik, melainkan komitmen moral untuk memastikan bahwa setiap pemberitaan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, keberhasilan sebuah berita tidak semata diukur dari seberapa banyak ia dibaca, tetapi juga dari seberapa besar ia mampu menghadirkan keadilan, memulihkan martabat korban, dan memperkuat perlindungan hak asasi manusia di tengah masyarakat.

 

Penulis: Koko Novianto Pribadi

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby

KKN PMM 27 Unisri Bekali Siswa SDN Kalimacan Keterampilan Video Editing Menggunakan Canva

KKN PMM 27 Unisri Bekali Siswa SDN Kalimacan Keterampilan Video Editing Menggunakan Canva

 

Sumber foto: M Rizky Alfian Denta

Mahasiswa KKN PMM 27 Universitas Slamet Riyadi Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, Alfian Denta, sukses melaksanakan program kerja individu berupa pelatihan video editing menggunakan Canva di SD Negeri Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada Rabu, 30 Juli 2026. Kegiatan ini dirancang khusus untuk siswa kelas 5 sebagai upaya memperkenalkan teknologi digital kepada generasi muda sejak dini, khususnya dalam bidang pembuatan konten video edukasi yang kreatif, informatif, dan menarik.

Latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini berangkat dari pentingnya literasi digital di era modern, di mana kemampuan membuat konten digital bukan lagi hanya milik kalangan profesional, melainkan sudah menjadi keterampilan dasar yang perlu dikuasai oleh pelajar sejak tingkat sekolah dasar. Dengan memanfaatkan platform Canva yang berbasis web dan mudah diakses, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengenal dunia konten digital secara menyenangkan dan tidak membebani.

Dalam pelaksanaannya, siswa diajarkan secara bertahap cara menggunakan platform Canva mulai dari membuat proyek baru, memilih template yang sesuai, menambahkan teks, gambar, animasi, hingga musik latar yang relevan dengan materi pembelajaran. Setiap siswa dibimbing langsung untuk mempraktikkan pembuatan video edukasi secara mandiri menggunakan perangkat yang tersedia. Proses pembelajaran berlangsung dua arah dan interaktif, di mana siswa bebas bertanya dan bereksperimen dengan fitur-fitur yang ada tanpa rasa takut salah. Pada tahap akhir kegiatan, masing-masing siswa menampilkan hasil video edukasi yang telah mereka buat di depan kelas sebagai bentuk presentasi karya digital pertama yang mereka lakukan.

Melalui program kerja individu ini, Kelompok KKN 27 Unisri berharap kegiatan pelatihan seperti ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa SD Negeri Kalimacan, tidak hanya sebatas kemampuan teknis menggunakan Canva, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, kepercayaan diri dalam berekspresi secara digital, serta kesadaran akan pentingnya memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif. Kegiatan ini pun menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan literasi digital di lingkungan masyarakat Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.


Penulis: M Rizky Alfian Denta

 

Tingkatkan Literasi Keuangan Sejak Dini, Mahasiswa KKN UNISRI Ajarkan Pengelolaan Uang Saku Bijak di SD Negeri 1 Doyong

Tingkatkan Literasi Keuangan Sejak Dini, Mahasiswa KKN UNISRI Ajarkan Pengelolaan Uang Saku Bijak di SD Negeri 1 Doyong

 


SRAGEN – Membentuk kebiasaan finansial yang sehat dan bertanggung jawab sebaiknya dimulai sejak usia sekolah dasar. Melihat pentingnya pemahaman dasar pengelolaan keuangan bagi anak-anak, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Slamet Riyadi (KKN-PPM UNISRI) Surakarta menggelar program edukasi literasi keuangan di SD Negeri 1 Doyong, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, pada Senin (20/7/2026).

Kegiatan sosialisasi yang menyasar siswa-siswi kelas VI ini mengusung tema “Edukasi Literasi Keuangan Sejak Dini Melalui Pengelolaan Uang Saku yang Bijak”. Program kerja ini dirancang khusus untuk menanamkan konsep dasar manajemen keuangan agar mudah dipahami serta dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para peserta didik.

Pentingnya Cerdas Finansial Sejak Bangku Sekolah

Penyelenggara program menjelaskan bahwa uang saku yang diterima siswa setiap hari atau setiap minggu merupakan sarana pembelajaran finansial paling nyata bagi anak. Meskipun jumlahnya tidak besar, pengelolaan uang saku yang disiplin dan terencana mampu membentuk mentalitas serta kemandirian anak di masa depan.

“Mengatur uang saku bukan berarti melarang anak jajan, melainkan mengajarkan mereka untuk memprioritaskan hal yang benar-benar dibutuhkan. Jika kebiasaan menabung dan berpikir kritis sebelum membeli dibentuk sejak dini, kelak anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cermat dan bijak dalam mengambil keputusan finansial.”

— Ungkap Pelaksana Kegiatan KKN UNISRI

 

Empat Pilar Bijak Kelola Uang Saku

Dalam pemaparannya, siswa diajak untuk memahami dan menerapkan empat langkah praktis pengelolaan keuangan:

1. Menabung di Awal (Pay Yourself First): Siswa dibiasakan menyisihkan sebagian uang saku ke dalam celengan segera setelah menerimanya, bukan menyisakan dari sisa jajan.

2. Membedakan 'Kebutuhan' dan 'Keinginan': Peserta dilatih mengenali prioritas dasar, seperti perlengkapan sekolah dan makanan sehat (kebutuhan), serta membatasi pembelian mainan atau barang tren semata (keinginan).

3. Pencatatan Sederhana: Mengenalkan kebiasaan mencatat arus masuk dan keluar uang saku harian agar siswa mengetahui secara jelas alokasi penggunaan uang mereka.

4. Konsumsi Secara Cermat: Mengedukasi siswa agar tidak terpengaruh ajakan teman dan membiasakan membawa bekal dari rumah.

 

Belajar Interaktif Melalui Permainan dan Simulasi

Suasana kelas berlangsung sangat dinamis dan interaktif. Mahasiswa menyajikan materi melalui kuis interaktif, kuis “Butuh vs Ingin” dengan gerakan tangan, hingga “Tantangan Celengan” yang melatih kemampuan berhitung matematis sederhana mengenai estimasi tabungan dalam jangka waktu 30 hari.

Antusiasme siswa kelas VI SD Negeri 1 Doyong terlihat dari keaktifan mereka saat menjawab pertanyaan dan berdiskusi bersama teman sebangku. Metode penyampaian yang komunikatif ini terbukti membuat konsep manajemen yang abstrak menjadi menyenangkan dan mudah diserap.

Harapan dan Dampak Berkelanjutan

Pihak sekolah mengapresiasi hadirnya program pengabdian ini karena selaras dengan upaya penguatan pendidikan karakter mandiri bagi siswa. Melalui edukasi ini, diharapkan para siswa SD Negeri 1 Doyong tidak hanya mahir secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan hidup (life skills) dalam mengelola keuangan pribadi secara bijaksana sejak usia dini.

_

LAMPIRAN: ANALISIS STRUKTUR 5W + 1H BERITA

Unsur 5W+1H

Keterangan dalam Artikel

What (Apa)

Kegiatan edukasi literasi keuangan mengenai pengelolaan uang saku secara bijak sejak dini.

Who (Siapa)

• Pelaksana: Mahasiswa KKN-PPM UNISRI Desa Doyong
• Sasaran: Siswa-siswi kelas VI SD Negeri 1 Doyong

Where (Di mana)

SD Negeri 1 Doyong, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen.

When (Kapan)

Senin, 20 Juli 2026.

Why (Mengapa)

Membentuk kebiasaan finansial yang sehat, memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan, serta membangun kemandirian anak di masa depan.

How (Bagaimana)

Melalui penyampaian 4 pilar pengelolaan uang saku, kuis interaktif 'Butuh vs Ingin', dan simulasi 'Tantangan Celengan'.

 

Penulis: Nisa Mukti Rahayu

Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby


Mahasiswa KKN UNISRI Gelar Edukasi “STOP Bullying, Sekolah Aman, Teman Nyaman” di SD Negeri Kalimacan

Mahasiswa KKN UNISRI Gelar Edukasi “STOP Bullying, Sekolah Aman, Teman Nyaman” di SD Negeri Kalimacan

 


Kalimacan — (28/07/2026) Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melaksanakan kegiatan edukasi mengenai pencegahan perundungan dengan mengusung tema “STOP Bullying, Sekolah Aman, Teman Nyaman” di SD Negeri Kalimacan pada Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja individu mahasiswa KKN yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bullying serta menumbuhkan sikap saling menghargai, peduli, dan menghormati antar teman di lingkungan sekolah.

Latar Belakang dan Tujuan
Pelaksanaan edukasi ini didasari oleh kepedulian mahasiswa KKN terhadap pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa. Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar, bermain, mengembangkan potensi, serta membangun pertemanan yang positif. Oleh karena itu, pemahaman mengenai perilaku bullying perlu diberikan sejak dini agar siswa dapat mengenali tindakan yang termasuk bullying dan memahami dampak yang dapat ditimbulkan.

Materi dan Metode Penyampaian
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memberikan pemaparan materi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Materi yang disampaikan meliputi:
1. Pengertian bullying
2. Bentuk-bentuk bullying
3. Contoh perilaku bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah
4. Dampak bullying bagi korban maupun pelaku
5. Cara mencegah dan menyikapi tindakan bullying

Mahasiswa KKN turut memberikan contoh sederhana mengenai perilaku yang termasuk bullying, seperti mengejek atau memberikan panggilan yang tidak disukai teman, mengucilkan teman dari pergaulan, melakukan tindakan yang menyakiti teman, maupun menyebarkan perkataan yang dapat membuat teman merasa malu atau tertekan. Melalui contoh tersebut, siswa diajak untuk memahami bahwa candaan yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.

Pendekatan Interaktif dan Pesan Utama
Selain pemaparan materi, kegiatan dilakukan secara interaktif dengan mengajak siswa berdiskusi dan menyampaikan pendapat mengenai pengalaman mereka dalam berteman. Siswa diberikan pemahaman bahwa setiap anak memiliki perbedaan karakter, kemampuan, dan kondisi sehingga harus saling menghargai.

Mahasiswa juga mengajak siswa untuk membangun kebiasaan positif seperti:
1. Berbicara dengan sopan
2. Membantu teman yang mengalami kesulitan
3. Tidak mengejek kekurangan teman
4. Berani mengatakan tidak terhadap tindakan yang tidak baik

"Pesan utama “STOP Bullying, Sekolah Aman, Teman Nyaman” disampaikan sebagai ajakan kepada seluruh siswa untuk bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari tindakan bullying. Siswa juga dibekali pemahaman bahwa apabila melihat atau mengalami tindakan bullying, mereka tidak perlu takut untuk bercerita dan dapat meminta bantuan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya.

Antusiasme dan Harapan ke Depan
Para siswa SD Negeri Kalimacan mengikuti kegiatan edukasi dengan antusias. Hal tersebut terlihat dari keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, serta memberikan tanggapan ketika diberikan contoh mengenai perilaku bullying. Penyampaian materi dengan pendekatan yang sederhana dan interaktif membuat siswa lebih mudah memahami pentingnya menjaga sikap dan perkataan ketika berinteraksi dengan teman.

Melalui kegiatan edukasi ini, mahasiswa KKN UNISRI berharap siswa SD Negeri Kalimacan dapat lebih memahami pentingnya menciptakan pertemanan yang sehat dan lingkungan sekolah yang aman. Tidak hanya sekadar mengetahui apa itu bullying, siswa diharapkan mampu menerapkan sikap saling menghormati, peduli, dan membantu satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.

Program “STOP Bullying, Sekolah Aman, Teman Nyaman” diharapkan dapat menjadi langkah sederhana dalam membangun kesadaran siswa sejak dini bahwa sekolah merupakan tempat untuk belajar dan berkembang bersama. Dengan adanya kerja sama antara siswa, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar, terciptanya sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying dapat diwujudkan secara bersama-sama.


Penulis : Vidya Ayuningtyas


KKN-PPM Universitas Slamet Riyadi Berdayakan Ibu PKK Desa Jambangan melalui Literasi Keuangan, Pelatihan Kewirausahaan, Pemasaran Digital, dan Pencatatan Keuangan Sederhana

KKN-PPM Universitas Slamet Riyadi Berdayakan Ibu PKK Desa Jambangan melalui Literasi Keuangan, Pelatihan Kewirausahaan, Pemasaran Digital, dan Pencatatan Keuangan Sederhana

 

Sumber foto : Assy Fa Umma Rismawati

Sragen, 3 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Slamet Riyadi Surakarta melaksanakan kegiatan kolaborasi program kerja yang ditujukan kepada ibu-ibu PKK Desa Jambangan. Kegiatan ini mengusung tema pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui peningkatan literasi keuangan, pelatihan kewirausahaan, pemasaran digital, serta pencatatan keuangan sederhana bagi pelaku usaha.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya literasi keuangan sebagai langkah pencegahan terhadap risiko pinjaman online ilegal. Dalam sesi ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan keluarga, ciri-ciri pinjaman online legal dan ilegal, serta pentingnya mengambil keputusan keuangan secara bijaksana agar terhindar dari permasalahan ekonomi di masa mendatang. 

Selanjutnya, mahasiswa KKN memberikan pelatihan kewirausahaan melalui praktik pembuatan gantungan kunci dari kawat bulu. Kerajinan ini dipilih karena mudah dipelajari, memiliki biaya produksi yang relatif rendah, serta memiliki nilai jual sebagai suvenir maupun aksesoris. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan keterampilan yang dimiliki menjadi peluang usaha rumahan yang dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

Sebagai pendukung pengembangan usaha, peserta juga memperoleh materi mengenai pemasaran digital. Mahasiswa menjelaskan cara memanfaatkan media digital seperti WhatsApp Business, Facebook, Instagram, dan marketplace sebagai sarana promosi produk agar memiliki jangkauan pasar yang lebih luas. Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya membuat konten promosi yang menarik dan membangun kepercayaan konsumen dalam menjalankan usaha.

Sumber foto : Assy Fa Umma Rismawati

Pada sesi terakhir, peserta diberikan sosialisasi mengenai pencatatan keuangan sederhana bagi pelaku usaha. Materi ini menekankan pentingnya mencatat pemasukan, pengeluaran, serta menghitung keuntungan usaha secara rutin. Dengan adanya pencatatan keuangan yang baik, diharapkan pelaku usaha dapat mengelola keuangan secara lebih tertib dan mampu mengambil keputusan usaha secara tepat. 

Melalui kolaborasi ketiga program kerja tersebut, mahasiswa KKN-PPM Universitas Slamet Riyadi berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK Desa Jambangan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kemandirian masyarakat dalam mengelola keuangan keluarga, mengembangkan usaha rumahan, dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran sehingga dapat mendukung peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.

Nama Penulis:

 Assy Fa Umma Rismawati – Manajemen

  Eka Aprilia Indah Prasasti – Manajemen

 Muhammad Bifa Dlika Putra Pratama – Manajemen

       Ayu  Sulfiana – Manajemen

Tingkatkan Motivasi Belajar dan Kesiapan PKL, Mahasiswa KKN UNISRI Gelar Sosialisasi Untuk Siswa Kelas 11 SMK Sakti Gemolong

Tingkatkan Motivasi Belajar dan Kesiapan PKL, Mahasiswa KKN UNISRI Gelar Sosialisasi Untuk Siswa Kelas 11 SMK Sakti Gemolong

  

Sumber Foto: Afifah Indana Zulfa

Gemolong, 24 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, Afifah Indana Zulfa dari Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK), telah sukses melaksanakan kegiatan sosialisasi, edukasi, dan bimbingan motivasi belajar berjudul "Meningkatkan Motivasi Belajar: Strategi Jitu Menyalakan Semangat Belajar, Menghadapi PKL, dan Merancang Langkah Menuju Dunia Industri Impianmu" bagi siswa-siswi kelas 11 di SMK Sakti Gemolong.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan dorongan internal dalam diri siswa agar memiliki semangat belajar yang tinggi, sekaligus memberikan pembekalan mental dan strategi praktis dalam menghadapi Praktik Kerja Lapangan (PKL) serta tantangan persiapan memasuki dunia kerja/industri.

Bertempat di GOR SMK Sakti Gemolong, kegiatan berlangsung dalam suasana yang interaktif dan penuh semangat. Para siswa-siswi kelas 11 jurusan TKJ (Teknik Komputer Dan Jaringan) mengikuti setiap rangkaian sesi dengan antusias, mengingat materi yang disampaikan sangat relevan dengan fase transisi dan tantangan pembelajaran yang sedang mereka hadapi di tingkat kejuruan.

Sumber Foto: Afifah Indana Zulfa

Kegiatan berlangsung dalam suasana interaktif dan kondusif. Para siswa-siswi kelas 11 SMK Sakti Gemolong jurusan TKJ menyimak dengan cermat materi komprehensif yang disampaikan oleh mahasiswa KKN, yang meliputi beberapa poin utama yaitu sebagai berikut

1. Pemahaman Dasar Motivasi Belajar

Menjelaskan bahwa motivasi belajar adalah keadaan dalam diri individu yang mendorong untuk melakukan tindakan demi mencapai tujuan. Dipaparkan perbedaan antara motivasi eksternal dan motivasi internal.

                   2. Tantangan Nyata Kelas 11 SMK

Siswa diajak memetakan dua tantangan utama di kelas 11, yaitu Teori Lebih Berat (materi produktif kejuruan mencapai tingkat kompleksitas tinggi sehingga butuh konsentrasi mendalam agar tidak tertinggal materi dasar operasional) serta Tekanan PKL/Magang (tuntutan penguasaan teori, kesiapan mental, keterampilan fisik, dan adab bekerja di dunia kerja/industri).

           3. 3 Kunci Melejitkan Motivasi

Cara melejitkan motivasi yaitu dengan cara menentukan target harian yang jelas, mengelola waktu, dan membangun lingkugan pertemanan yang produktif.

            4.      Strategi Mengatasi Kejenuhan Belajar

Mengatasi kejenuhan belajar dapat dilakukan dengan Teknik Pomodoro, yaitu belajar fokus 25 menit lalu istirahat 5 menit untuk menyegarkan pikiran. Selain itu, berikan apresiasi diri (self-reward). Jika mulai bosan, terapkan variasi metode belajar dengan beralih dari modul teks ke video tutorial visual atau praktik mandiri.

           5. Peta Strategi Sukses & Kompas Karier Kelas 11

Siswa diajak menyelaraskan tiga aspek utama yaitu soft skills, hard skills, dan Career Readiness, yaitu mengarahkan kompas karier dengan meriset tren industri untuk menentukan target pascakelulusan, baik itu bekerja, melanjutkan kuliah, maupun berwirausaha.

Sumber Foto: Afifah Indana Zulfa

Selama sosialisasi dan bimbingan berlangsung, siswa siswi diajak berdiskusi aktif mengenai cara merancang peta mimpi mereka sejak duduk di kelas 11agar tujuan mereka jelas dan terarah setelah lulus dari SMK. Selain itu mereka diajak untuk berbagi pandangan mengenai kendala belajar serta kekhawatiran mereka dalam menghadapi masa PKL mendatang. Melalui pendekatan bimbingan dan konseling yang interaktif, siswa dibantu untuk menemukan solusi atas hambatan belajar yang dialami. Selama sesi tanya jawab dan disuksi, para siswa sangat aktif, antusias dan kritis dalam bertanya dan bertukar pendapat atas pengalaman atau pertanyaan yang mereka ajukan.

Melalui kegiatan sosialisasi, edukasi, dan bimbingan ini, Afifah berharap siswa-siswi kelas 11 SMK Sakti Gemolong dapat membangun motivasi internal yang kuat sehingga tidak mudah goyah oleh tekanan akademis atau perubahan lingkungan. Pembekalan dirancang agar siswa siap menghadapi Masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) secara matang, mulai dari penguasaan hard skills di bengkel/lab, kesiapan mental, hingga penerapan adab dan soft skills profesi di dunia kerja. Lebih dari sekadar persiapan magang, kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi siswa untuk menentukan arah karier dengan percaya diri dan optimisme, merancang roadmap masa depan secara cermat, serta siap bersaing meraih cita-cita di dunia usaha dan industri impian mereka.


Penulis: Afifah Indana Zulfa

 

1.

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done