Ilustrasi rokok elektrik atau vape.
Foto: unsplash
Badan Narkotika
Nasional (BNN) resmi merekomendasikan pelarangan total vape di
Indonesia pada Februari 2026. Rekomendasi ini disampaikan oleh Brigjen Supianto
selaku Kepala Pusat Laboratorium Narkotika BNN, menyusul temuan yang dinilai mengkhawatirkan
dan berdampak luas.
Alasannya bukan
perkara sepele.
Dari 438 sampel liquid
yang diuji, hampir 24 persen positif mengandung narkotika. BNN juga
mengidentifikasi lebih dari 1.400 jenis zat berbahaya dalam cairan vape,
termasuk sabu cair dan etomidate yang diselundupkan
melalui produk tersebut. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar
tren gaya hidup, tetapi telah masuk kategori kejahatan serius.
Modusnya terbilang
licin.
Aroma yang wangi
dan desain yang modern membuat vape berisi zat terlarang bisa digunakan di
ruang publik tanpa menimbulkan kecurigaan. Bentuknya yang ringkas menyulitkan
pengawasan. BNN bahkan menyebut fenomena ini sebagai extraordinary crime,
karena menyasar generasi muda sebagai target utama.
Sejumlah negara
Asia seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia telah lebih dulu menerapkan
pembatasan ketat. Indonesia kini berada di persimpangan antara memilih pelarangan
total atau memperkuat regulasi dan pengawasan.
Ilustrasi rokok elektrik atau vape.
Foto: unsplash
Di luar polemik
kebijakan, ada satu hal yang jelas. Baik rokok konvensional maupun rokok
elektrik tetap membawa risiko kesehatan. Paparan nikotin dan zat kimia
lainnya berdampak pada paru-paru, jantung, serta kualitas hidup jangka panjang.
Karena itu,
momentum ini seharusnya menjadi refleksi bersama. Bukan hanya soal apakah vape
dilarang atau tidak, tetapi soal keberanian untuk mengambil keputusan bagi diri
sendiri.
Jika masih merokok,
mulailah mengurangi intensitasnya.
Jika masih ngevape,
pertimbangkan untuk berhenti perlahan.
Jika masih terbiasa
ngebul di ruang publik, cobalah memilih udara yang lebih bersih.
Berhenti memang
tidak mudah. Namun, setiap langkah kecil menuju hidup tanpa asap adalah
investasi besar bagi kesehatan. Tubuh kita tidak pernah benar-benar membutuhkan
rokok atau vape. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dan komitmen.
Mungkin era
“ngebul” belum sepenuhnya berakhir. Tetapi era hidup lebih sehat bisa
dimulai dari sekarang, dari keputusan pribadi untuk berhenti.
Berani berhenti.
Berani sehat. Stay safe.
Penulis : Koko
Novianto
Penyunting :
Lathifah An Najla