Belum lama ini, publik
dikejutkan oleh tragedi di Desa Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang anak
sekolah dasar kehilangan nyawanya akibat tekanan ekonomi yang begitu
berat. Luka sosial itu belum sempat sembuh, kini bangsa ini kembali dihadapkan
pada tragedi serupa di Kendari. Seorang bocah berusia delapan tahun tewas
terlindas alat berat saat menjual tisu di jalan demi membeli beras
untuk keluarganya. Berbeda tempat dan kronologi, tetapi akar persoalannya tetap
sama: kemiskinan yang menempatkan anak sebagai korban.
Peristiwa di Kendari
bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Ia adalah potret nyata kemiskinan
yang dibiarkan dan negara yang datang terlambat. Di usia yang
seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, seorang anak justru berdiri di
persimpangan jalan, menghadapi risiko maut demi menambal dapur rumah
yang kosong. Jalanan kota berubah menjadi ruang hidup yang berbahaya, sementara
perlindungan negara tidak pernah benar-benar hadir.
Janji sang anak kepada
ibunya untuk membawa pulang beras bukan sekadar kalimat polos. Ia adalah tanda
bahwa kebutuhan dasar belum terpenuhi. Ketika seorang anak merasa perlu
turun ke jalan demi memenuhi kebutuhan keluarga, yang absen bukan hanya bantuan
sosial, tetapi juga tanggung jawab negara untuk memastikan tidak ada
anak yang harus memikul beban orang dewasa.
Ironisnya, keberadaan
anak-anak yang berjualan di jalanan telah lama dinormalisasi. Mereka dianggap pemandangan
biasa, bukan tanda bahaya. Padahal, setiap anak yang berada di ruang
publik tanpa perlindungan adalah alarm sosial yang seharusnya segera
direspons. Tragedi ini menunjukkan bahwa pembiaran telah menjadi
kebiasaan, dan kebiasaan itu kini memakan korban.
Kasus di Kendari juga
memperlihatkan lemahnya pengawasan keselamatan publik. Operasional alat
berat di kawasan rawan tanpa pengamanan maksimal menunjukkan bahwa keselamatan
warga, terutama anak-anak, belum menjadi prioritas negara. Negara tidak
bisa terus berlindung di balik istilah musibah, ketika kelalaian
dan minimnya pengawasan nyata terjadi di lapangan.
Jika ditarik lebih
luas, tragedi di Ngada dan Kendari menunjukkan pola yang sama. Dari desa hingga
jalanan kota, anak-anak selalu berada di posisi paling rentan. Mereka
menjadi korban dari kemiskinan struktural, lemahnya perlindungan
sosial, dan negara yang baru bereaksi setelah nyawa melayang.
Anak-anak bukan hanya korban keadaan, tetapi korban dari sistem yang gagal
melindungi.
Kematian anak-anak ini
seharusnya tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga rasa malu kolektif sebagai
bangsa. Negara tidak boleh terus hadir setelah tragedi terjadi, lalu menghilang
kembali di balik belasungkawa seremonial. Selama anak-anak masih harus
memilih antara lapar dan bahaya, selama jalanan lebih akrab bagi mereka
daripada ruang aman, maka setiap tragedi serupa bukan lagi kecelakaan,
melainkan kegagalan yang dibiarkan.
Dari desa ke jalanan
kota, anak tetap menjadi korban. Pertanyaannya kini sederhana namun mendesak:
apakah kita akan belajar dan bertindak, atau kembali membiarkan tragedi
yang sama terulang dengan nama dan tempat yang berbeda?
Penulis : Luftwaffe
D. Kavinara
Penyunting :
Lathifah An Najla