LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis: Editorial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan
LABSCHOOL UNISRI: Kembangkan Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Praktik dan Holistik

LABSCHOOL UNISRI: Kembangkan Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Praktik dan Holistik

 


 

 

Fotografer: Ahmad Nufail

 

Surakarta, 21 April 2026—Labschool Unisri hadir sebagai inovasi pendidikan anak usia dini yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga penanaman nilai kehidupan. Dina Pertiwi Adjie, dosen FKIP, menjelaskan bahwa proses berdirinya Labschool merupakan perjalanan panjang yang berangkat dari kebutuhan akademik sekaligus visi pengembangan institusi. Gagasan awal muncul sejak kedatangan asesor pada tahun 2014/2015. Saat itu, kebutuhan akan laboratorium praktik bagi mahasiswa menjadi perhatian utama.

 

“Kita bisa unggul kalau ada labschool, sebagai tempat praktik mahasiswa sekaligus ruang belajar anak,” tutur Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Realisasi gagasan tersebut dimulai pada 2023, dilanjutkan dengan pengembangan konsep hingga akhirnya diperkenalkan ke masyarakat melalui fun project pada 2024.

 

“Fun project itu kegiatan bermain anak-anak yang menarik minat. Dari situ masyarakat mulai tahu,” jelas Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Secara resmi, Labschool mulai berjalan pada tahun ajaran baru Juni 2025 untuk jenjang KB/TK, dengan jumlah peserta didik yang masih terbatas, sekitar 17 anak. Salah satu pembeda utama Labschool dibanding PAUD lain terletak pada nilai keslametriyadian yang ditanamkan dalam setiap aktivitas pembelajaran.

 

Nilai tersebut juga terintegrasi dengan kegiatan berbasis kemahasiswaan, di mana mahasiswa turut terlibat dalam proses belajar. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang dinamis sekaligus aplikatif.

 

“Mahasiswa bisa terlibat langsung, ini yang jarang ada di PAUD lain,” kata Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dari sisi pembelajaran, Labschool mengusung pendekatan holistik yang mencakup aspek moral, jati diri, literasi, dan numerasi. Proses belajar dirancang melalui metode scientific dan 4C (communication, creativity, collaboration, critical thinking), dengan pendekatan berbasis proyek. Anak-anak diajak belajar melalui aktivitas bermain yang menyenangkan dan kontekstual.

 

“Bermain itu penting untuk anak usia dini. Dari bermain, minat anak muncul, lalu masuk ke pembelajaran,” papar Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Selain itu, lingkungan belajar juga dirancang ramah anak, termasuk dalam aspek pemberian gizi seimbang dan interaksi sosial yang sehat. Semua ini menjadi bagian dari pendekatan holistik yang diterapkan. Komunikasi dengan orang tua dilakukan secara aktif melalui grup WhatsApp dan interaksi langsung, sehingga perkembangan anak dapat terpantau secara berkelanjutan. Ke depannya, Labschool Unisri memiliki harapan besar untuk terus berkembang dan diterima masyarakat luas, sekaligus berkontribusi dalam menyiapkan generasi masa depan.


“Kami ingin mempersiapkan generasi emas sejak dini, terutama di masa golden age anak- anak,” ujar Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dengan mengusung nilai keslametriyadian, pendekatan holistik, serta keterlibatan akademik, Labschool Unisri berupaya menjadi lebih dari sekadar PAUD, melainkan ruang tumbuh yang menyeluruh bagi anak-anak sejak usia dini.

Dalam praktiknya, pengelolaan Labschool Unisri tidak terlepas dari dinamika komunikasi dengan orang tua yang dilakukan secara aktif melalui grup WhatsApp dan interaksi langsung. Melalui grup tersebut, informasi perkembangan anak disampaikan, meskipun dalam pelaksanaannya tidak jarang terjadi kesalahpahaman. Ibu Alfiana Qori menyebutkan bahwa miskomunikasi kerap terjadi, namun selalu diselesaikan melalui dialog terbuka.

 

“Pasti ada miskomunikasi, tapi biasanya kami pasti komunikasikan lagi langsung saat penjemputan, sekalian kami sampaikan solusinya,” terang Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dalam menjaring tenaga pengajar, pihak sekolah mengedepankan musyawarah untuk memilih mahasiswa yang dinilai siap secara mental dan kompetensi.

 

“Kami mencari mahasiswa yang sudah matang untuk menghandle anak dan menyampaikan materi dengan baik,” tutur Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Upaya memperkenalkan Labschool ke masyarakat juga dilakukan secara langsung, tidak hanya mengandalkan media sosial.

 

“Kami datangi posyandu, nanti pada bulan Mei kami akan hadir di car free day supaya masyarakat lebih mengenal Labschool,” ungkap Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dari sisi penerimaan siswa, Labschool membuka kesempatan bagi anak mulai usia 1,5 tahun atau yang harus sudah bisa berjalan. Sementara itu, untuk membangun kepercayaan orang tua, komunikasi menjadi kunci utama.

“Kami koordinasikan bahwa anak di sekolah akan belajar mandiri dan bersosialisasi. Saat sudah dititipkan, itu menjadi tanggung jawab kami,” tegas Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Dalam proses pembelajaran, aktivitas bermain dirancang sebagai sarana utama stimulasi motorik dan minat belajar anak.

 

“Yang penting permainannya aman, nyaman, kreatif, dan tidak membuat anak bosan, sehingga mereka mau mencoba pelan-pelan,” lanjut Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Permasalahan seperti anak yang picky eater juga ditangani melalui kerja sama dengan orang tua. Sekolah berupaya membiasakan anak sekaligus mengedukasi keluarga agar konsisten di rumah. Menariknya, Labschool tidak memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.


“Tidak ada PR, karena untuk anak usia dini memang tidak diperbolehkan,” imbuh Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

Fotografer: Ahmad Nufail

Saat ini, jumlah siswa masih terbatas dengan kegiatan yang difokuskan di lingkungan kampus. Hal ini mempertimbangkan usia anak yang masih kecil, sehingga eksplorasi luar belum menjadi prioritas. Ke depannya, Ibu Qori berharap Labschool dapat berkembang lebih luas dan menjadi rujukan pendidikan anak usia dini.

 

“Semoga muridnya semakin banyak, bisa buka kelas lagi, dan nantinya menjadi sekolah percontohan,” harap Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

Sebagai penutup, ia memberikan pesan kepada mahasiswa FKIP tentang pe

ntingnya kesungguhan dalam profesi guru.

 

“Semangat kuliah, karena menjadi guru itu tidak mudah. Semua orang bisa jadi guru, tapi belum tentu semua bisa benar-benar hadir sebagai guru,” pungkas Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).

 

 

Reporter: Oliviana, Lusia, Aryo, Ahmad Nufail

 

Fotografer: Ahmad Nufail

 

Editor: Lathifah An Najla

Resensi buku Sang Eksekutor

Resensi buku Sang Eksekutor

 

 

A person holding a book

AI-generated content may be incorrect.

 

Identitas Buku

Judul: Sang Eksekutor

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Sabak Grip

Genre: Thriller politik, aksi, drama psikologis

Penulis resensi: Oliviana Angelicha Effendy

 

Sinopsis

  Sang Eksekutor mengisahkan tentang Anwar Van Rijn, sosok misterius yang dikenal sebagai eksekutor. Ia menjadi pusat perhatian setelah serangkaian pembunuhan terhadap pejabat-pejabat korup terjadi secara berantai—mulai dari menteri, aparat penegak hukum, hingga figur-figur berpengaruh dalam sistem kekuasaan.

 

  Latar cerita menggambarkan sebuah negeri dengan sistem hukum yang timpang: tajam ke bawah, tumpul ke atas. Dalam situasi tersebut, tindakan Anwar Van Rijn memicu kekacauan sekaligus gelombang kesadaran publik. Aksinya tidak hanya menciptakan ketakutan, tetapi juga memantik gerakan massa yang menuntut keadilan.

 

Novel ini tidak sekadar menyajikan misteri identitas sang eksekutor, tetapi juga mempertanyakan batas antara keadilan dan balas dendam.

 

Ulasan

  Melalui Sang Eksekutor, Tere Liye menghadirkan cerita yang intens sekaligus sarat refleksi sosial. Tokoh Anwar Van Rijn dibangun sebagai karakter yang kompleks, ia bukan sekadar “pembunuh”, melainkan representasi dari individu yang lahir dari sistem yang rusak.

 

  Kekuatan utama novel ini terletak pada kemampuannya menggabungkan alur cepat dan menegangkan dengan muatan kritik sosial. Pembaca tidak hanya disuguhkan rangkaian peristiwa penuh aksi, tetapi juga diajak merenungkan realitas yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

  Dalam konteks kekinian, novel ini relevan dengan berbagai persoalan seperti:

1. Maraknya praktik korupsi di kalangan elite

2. Kesenjangan sosial yang semakin melebar

3. Ketimpangan dalam penegakan hukum

 

  Realitas “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas” yang tergambar dalam novel menjadi cermin kritik terhadap kondisi sosial saat ini. Tokoh Anwar Van Rijn dapat dibaca sebagai simbol resistensi meskipun caranya kontroversial terhadap sistem yang gagal memberikan keadilan.

 

  Namun demikian, perlu dicatat bahwa novel ini tidak secara eksplisit membenarkan tindakan kekerasan. Sebaliknya, Tere Liye justru menghadirkan dilema moral: Apakah tindakan ekstrem dapat dibenarkan ketika sistem tidak lagi berpihak pada keadilan?

 

  Dari segi penulisan, gaya bahasa yang digunakan cenderung lugas dan mudah diikuti. Hal ini membuat novel dapat diakses oleh berbagai kalangan, meskipun pada beberapa bagian konflik terasa cukup dramatis.

 

Kelebihan:

A. Alur cerita cepat dan penuh ketegangan

B. Karakter utama kuat dan kompleks

C. Mengangkat isu sosial yang relevan dengan kondisi saat ini

D. Mengandung kritik terhadap korupsi dan ketimpangan hukum

 

Kekurangan:

A. Beberapa konflik terasa berlebihan

B. Pendalaman karakter pendukung masih terbatas

 

Kesimpulan

  Sang Eksekutor merupakan novel yang tidak hanya menawarkan hiburan melalui cerita thriller, tetapi juga menyuguhkan refleksi kritis terhadap realitas sosial. Melalui sosok Anwar Van Rijn, Tere Liye mengajak pembaca mempertanyakan makna keadilan di tengah sistem yang timpang.

 

  Relevansinya dengan isu-isu seperti korupsi, kesenjangan sosial, dan lemahnya supremasi hukum menjadikan novel ini terasa kontekstual dan penting untuk dibaca. Sang Eksekutor bukan sekadar cerita tentang seorang pembunuh, melainkan tentang kegelisahan masyarakat terhadap keadilan yang belum sepenuhnya hadir.

 

 

Penulis Resensi: Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting: Adista Putri Revalina

Resensi Film "Keadilan (The Verdict)"

Resensi Film "Keadilan (The Verdict)"

 



IDENTITAS FILM

Judul                     : Keadilan (The Verdict)

Sutradara              : Lee Chang-hee, Yusron Fuadi

Tahun rilis            : 2025

Pemeran Utama    : Rio Dewanto, Reza Rahadian

Genre                    : Drama, Thriller, Hukum

 

SINOPSIS

Film ini menceritakan kisah Raka (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang idealis dan jujur. Setiap hari ia menyaksikan bagaimana hukum dimanipulasi oleh kekuasaan dan uang. Hidupnya berubah saat istrinya, Nina (Niken Anjani), advokat muda yang sedang mengandung dan baru lulus dari ujian profesi menjadi korban kekerasan kejam dari anak seorang konglomerat. Ketika keadilan tidak berpihak padanya dan pelaku dilindungi oleh pengacara licik bernama Timo (Reza Rahadian), Raka kehilangan keyakinannya terhadap sistem hukum. Di tengah tekanan publik dan media sosial yang mudah dipengaruhi, Raka akhirnya memutuskan untuk mengambil alih ruang sidang dengan pistol di tangannya.

 

ANALISIS

Dari segi alur cerita, film atau drama pada umumnya yang bertema hukum biasanya memiliki alur yang rumit dan sulit dipahami. Tetapi, film ini cukup menarik karena alurnya jelas dan mudah dipahami. Alur film Keadilan The Verdict menggunakan alur maju yang sederhana dan mudah diikuti. Karena ceritanya bergerak dari awal kasus hingga persidangan, saya lebih memahami bagaimana konflik itu berkembang.

Film Keadilan (The Verdict) merupakan film thriller hasil kolaborasi antara sutradara Indonesia Yusron Fuadi dan sutradara asal Korea Selatan Lee Chang-hee, yang dikenal lewat serial Netflix A Killer Paradox (2024) dan Strangers From Hell (2019). Kolaborasi sutradara Indonesia dan Korea Selatan membuat film ini seperti drama thriller hukum korea dengan alur yang kuat dan suasana tegang.

Sentuhan sinematik Korea terlihat dari teknik pengambilan gambar yang fokus pada detail ruang sidang sehingga suasana persidangan terasa lebih tegang. Beberapa adegan seperti pengeboman dan pengepungan gedung pengadilan semakin memperkuat nuansa thriller yang biasanya ada dalam drama korea. Meskipun demikian, film ini tetap menghadirkan sentuhan Indonesia dalam penceritaan

Selain dari segi sinematik, kemampuan akting para pemain dalam film Keadilan (The Verdict) tidak perlu diragukan lagi. Penampilan Rio Dewanto (Raka) dan Reza Rahadian (Timo) menjadi sorotan utama karna keduanya mampu menampilkan karakter yang mendalam. Sebagai aktor papan atas, mereka mampu membangun emosi dalam setiap adegan sehingga konflik terasa lebih nyata dan kuat.

Rio Dewanto (Raka) berhasil menampilkan karakter dengan berbagai emosi, mulai dari sedih, marah hingga putus asa yang terasa natural dan tidak berlebihan. Reza Rahadian (Timo) tampil dengan karisma yang kuat, juga berhasil menampilkan karakter pengacara yang licik, manipulatif, dan mahir dalam mempermainakn segala hal di pengadilan, baik itu uang, kekuasaan, maupun relasi.

Pemilihan lagu I'd Like to Watch You Sleeping dari Sal Priadi di akhir film membuat suasana yang sebelumnya penuh ketegangan berubah menjadi lebih hening dan emosional, sehingga penutup film terasa lebih menyentuh.

 

Menurut saya, film Keadilan (The Verdict) memiliki kelebihan yang cukup menonjol. Salah satu kelebihannya adalah cerita yang mengangkat isu hukum dan ketidakadilan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga terasa relevan dengan kondisi nyata. Di akhir cerita Raka dan tokoh-tokoh lainya juga mendapatkan hukuman yang setara atas perbuatanya.

Namun dii balik kelebihannya, film Keadilan (The Verdict) juga memiliki kekurangan, yaitu latar belakang tokoh Raka yang tidak dijelaskan secara mendalam hingga akhir film, termasuk koneksi, kemampuan, dan aksesnya dalam meminjam pistol, sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan.

 

Secara keseluruhan, film Keadilan (The Verdict) bukan sekadar film hiburan, tetapi juga menjadi refleksi tentang kondisi sosial dan hukum dalam kehidupan nyata, terutama tentang bagaimana kekuasaan dan uang dapat mempengaruhi sistem keadilan.

Film ini menunjukan bahwa kekuasaan dan uang dapat mempengaruhi proses pengadilan sehingga kebenaran tidak selalu menjadi hal yang utama. Melalui dialog Raka yang mengatakan bahwa “Di pengadilan bukan kebenaran yang akan menang, tapi yang menang akan menjadi kebenaran”. Film ini memperkuat kritik terhadap sistem peradilan yang dapat dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Kalimat tersebut membuat penonton sadar bahwa tidak semua putusan pengadilan mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya, karena dalam praktiknya masih terdapat kemungkinan manipulasi hukum oleh pihak-pihak tertentu demi memenangkan perkara di pengadilan. Oleh karena itu, film ini mampu menyampaikan pesan moral untuk mengajak penonton untuk lebih kritis dalam memahami makna keadilan dan tidak mudah percaya pada setiap keputusan hukum serta mendorong pentingnya integritas dalam menegakkan hukum di masyarakat.

Film Keadilan (The Verdict) sangat direkomendasikan untuk ditonton karena alurnya yang menarik serta mengangkat kritik terhadap sistem hukum.

 

 

Penulis Resensi: Kanaya Riqky Aulia

Penyunting: Adista Putri Revalina

Kisah Menur Si Guru Honorer

Kisah Menur Si Guru Honorer

 Kisah Menur Si Guru Honorer

Karya : Alfiana Qori

Di sebuah desa kecil yang terletak di pelosok pedesaan, hiduplah seorang guru honorer bernama Menur. Menur adalah sosok yang penuh semangat dan dedikasi terhadap pendidikan, meskipun hidupnya tidak selalu mudah. Dia bekerja sebagai guru di sekolah taman kanak-kanak desa tersebut, tempat di mana anak-anak desa belajar dan bermimpi.


Menur adalah orang yang tekun dan berkomitmen terhadap tugasnya sebagai pendidik. Namun, kehidupannya menjadi semakin sulit karena perlakuan tidak adil yang dia terima dari kepala sekolah, seorang yang bernama Ibu Sari. Ibu Sari adalah sosok yang otoriter dan cenderung memandang rendah pada guru-guru honorer di sekolahnya.


Kepala sekolah tersebut seringkali tidak memberikan hak-hak yang seharusnya diterima oleh Menur. Gaji yang seharusnya cair tepat waktu seringkali terlambat, bahkan ada bulan-bulan di mana Menur harus menunggu berhari-hari untuk menerima gajinya. Selain itu, Menur juga sering diberi tugas tambahan yang seharusnya menjadi tanggung jawab staf sekolah tetap, tanpa adanya pengakuan atau imbalan tambahan.


Keadaan semakin rumit ketika Menur mencoba untuk memprotes perlakuan tersebut. Ibu Sari merespon dengan sikap acuh tak acuh. “Saya tidak butuh bawahan yang pintar tetapi saya butuh bawaan yang nurut sama saya di Lembaga ini” ujarnya sembari memalingkan wajah. Bahkan mengancam akan mengakhiri kontrak kerja Menur jika dia terus mengeluh. Guru honorer seperti Menur seakan-akan tidak memiliki hak untuk bersuara, dan keberpihakan yang jelas terhadap guru-guru tetap semakin memperburuk kondisinya.


Meskipun terdzolimi, Menur tetap gigih melanjutkan pekerjaannya. Ia yakin bahwa pendidikan adalah kunci untuk memberikan harapan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak desa tersebut. Ia terus berjuang, tidak hanya untuk memberikan ilmu kepada murid-muridnya tetapi juga untuk melawan ketidakadilan yang dia alami.


Suatu hari, sebuah insiden terjadi di sekolah. Sebuah kebijakan yang diambil oleh Ibu Sari merugikan banyak guru, termasuk Menur. Para orang tua murid pun mulai menyadari ketidakadilan ini dan mendukung Menur serta rekan-rekannya. Mereka bersama-sama mengajukan protes ke pemerintah desa dan dinas pendidikan setempat.


Akhirnya, tekanan dari masyarakat dan otoritas desa membuat Ibu Sari terpaksa mengubah sikapnya. Perlakuan tidak adil terhadap guru-guru honorer dihentikan, dan hak-hak mereka diakui. Menur dan rekan-rekannya tidak lagi merasa terdzolimi dan mendapat perlakuan yang lebih baik.


Kisah Menur menjadi inspirasi bagi banyak orang di desa tersebut. Meskipun diawali dengan ketidakadilan, keberanian Menur dan dukungan masyarakat desa membawa perubahan positif dalam sistem pendidikan lokal. Dan dari situlah, semangat perjuangan Menur mengajar dan melawan ketidakadilan memberikan harapan bagi perubahan yang lebih baik di masa depan.




Penulis         : Alfiana Qori
Penyunting : Diyah Ayu Putri 
Massa Aksi Melakukan Unjuk Rasa di Monumen 45 Banjarsari

Massa Aksi Melakukan Unjuk Rasa di Monumen 45 Banjarsari

9 Tahun Kepemimpinan Jokowi,
Mahasiswa Solo Raya Menggelar Panggung Mimbar Bebas (20/10/2023)
(Sumber : M. Rafi Majid)

Surakarta-BEM KM UNISRI menggelar Panggung Mimbar Bebas bertajuk “Evaluasi 9 Tahun Rezim Jokowi”, aksi ini digelar di Monumen 45 Banjarsari dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dan juga mahasiswa Solo Raya. (20/10/2023)

Aksi ini merupakan aksi serentak yang dilakukan di beberapa titik di Indonesia, salah satunya adalah Kota Solo yang merupakan kota kelahiran Jokowi, hal ini membuktikan bahwa dari kota kelahirannya pun ada penolakan.

“Ngomongin soal negara ini pasti kita sudah capek mendengar tingkah laku pemerintah sekarang, tentu besar harapan sekarang adalah soal kemanusiaan dan keadilan, negara ini ngomongin soal demokrasi dan kemanusiaan tapi nyatanya jauh dari hal itu, bahkan ketika kita bersuara kita masih dihantam dengan represivitas aparat, makannya yang kita butuhkan sekarang itu keadilan,” ujar Rafi selaku Presiden BEM UNISRI.

Ada 11 poin tuntutan yang disampaikan oleh masa aksi, salah satunya adalah “Usut Tuntas Kasus Pelanggaran HAM Berat”.

Poin tuntutan yang cukup penting dan harus segera dituntaskan adalah tentang pelanggaran HAM, “Setiap nyawa orang tidak sebanding dengan apapun yang ada di negara ini, harapannya kasus pelanggaran HAM ini segera di usut tuntas oleh pemerintah,” imbuh Rozi selaku Presiden BEM IIM Surakarta.

Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menggaungkan #cukupsudah di media sosial sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan.

Aksi pun berjalan lancar tanpa adanya provokasi ataupun perusakan fasilitas umum.


Reporter: 
1. Hidahlia Shayla
2. Oliviana Angelicha
3. Zahra Audi
4. Maheraja Erlanda
5. M. Rafi Majid

Penyunting: Diyah Ayu Putri Wulandari

Commdude Meet Up Proker Tahunan Mempererat Pertemanan Antar Mahasiswa

Commdude Meet Up Proker Tahunan Mempererat Pertemanan Antar Mahasiswa

Potret Acara Gathering Himakom Unisri di Hotel Red Chilies (14/10/2023)
(Foto: Muh Rafi Majid)

Surakarta – Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) Universitas Slamet Riyadi Surakarta mengadakan acara gathering pada tanggal 14 Oktober 2023 di Hotel Red Chilies, acara ini dilaksanakan dengan menyusung tema “Go Beyond The Limits”. (14/10/2023)

Panitia berharap, adanya tema "Go Beyond The Limits” agar membuat para peserta bisa mengekspresikan diri mereka dengan bebas, hal ini juga didukung dengan dresscode street wear agar peserta bisa lebih berekspresi.

“Kami memilih dresscode street wear agar sesuai dengan gaya penampilan di tahun mereka,” ujar Reza selaku ketua pelaksana.

Acara gathering ini diadakan dengan tujuan untuk mengakrabkan hubungan antar mahasiswa baru serta untuk mengenalkan divisi minat bakat yang ada di Himakom untuk mewadahi bakat ataupun minat dari mahasiswa baru.

“Untuk jumlah peserta pada acara gathering tahun ini kurang lebih 150 peserta, dan acara ini dibuka oleh Bu Herning selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unisri, beliau berharap acara ini bisa berjalan sukses dan lancar sesuai yang diharapkan,” jelas Bila selaku panitia.

Selain talkshow untuk memperkenalkan divisi minat bakat, acara ini juga diramaikan dengan Guest Star Diskoplo sebagai hiburan penutup di penghujung acara.

“Harapan kami setelah diadakannya acara ini para mahasiswa baru menjadi solid bukan hanya dengan teman-teman mereka yang satu kelas. Tetapi, juga dengan teman- teman dalam satu prodi dan kami juga berharap mereka mau bergabung dengan Himakom karena mereka merupakan generasi penerus,“ pungkas Reza.



Penulis        : 1. Kufifah Windari
                        2. Muh Rafi Majid 

Penyunting : Hesti Prihartini 
Noda Dosen di Cincin Mahasiswa

Noda Dosen di Cincin Mahasiswa

Foto: LPM Lintas



LPM Apresiasi menerbitkan ulang laporan LPM Lintas mengenai kekerasan seksual di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Republikasi ini merupakan respons atas tindakan pembredelan yang diberlakukan Rektor IAIN Ambon, Zainal Abidin Rahawarin, terhadap LPM Lintas setelah laporan tersebut terbit dalam Majalah Lintas Edisi II Januari 2022.


Republikasi ini dilakukan atas seizin pihak redaksi LPM Lintas sebagai bentuk solidaritas atas pembungkaman dan kekerasan terhadap entitas pers mahasiswa. LPM Apresiasi tidak akan menarik laporan ini sampai Rektor IAIN Ambon mencabut Keputusan Rektor IAIN Ambon Nomor 92 Tahun 2022 tentang Pembekuan LPM Lintas IAIN Ambon.

Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done