Surakarta, 21 April
2026—Labschool Unisri hadir sebagai inovasi pendidikan anak usia dini yang
tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga penanaman nilai kehidupan.
Dina Pertiwi Adjie, dosen FKIP, menjelaskan bahwa proses berdirinya Labschool
merupakan perjalanan panjang yang berangkat dari kebutuhan akademik sekaligus
visi pengembangan institusi. Gagasan awal muncul sejak kedatangan asesor pada
tahun 2014/2015. Saat itu, kebutuhan akan laboratorium praktik bagi mahasiswa
menjadi perhatian utama.
“Kita bisa
unggul kalau ada labschool, sebagai tempat praktik mahasiswa sekaligus ruang
belajar anak,” tutur Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Realisasi gagasan
tersebut dimulai pada 2023, dilanjutkan dengan pengembangan konsep hingga
akhirnya diperkenalkan ke masyarakat melalui fun project pada 2024.
“Fun project itu kegiatan bermain anak-anak yang menarik minat. Dari situ masyarakat mulai tahu,” jelas Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Secara resmi,
Labschool mulai berjalan pada tahun ajaran baru Juni 2025 untuk jenjang KB/TK, dengan jumlah peserta
didik yang masih terbatas, sekitar
17 anak. Salah satu pembeda utama Labschool dibanding PAUD lain terletak pada nilai keslametriyadian yang ditanamkan dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Nilai tersebut juga
terintegrasi dengan kegiatan berbasis kemahasiswaan, di mana mahasiswa turut
terlibat dalam proses belajar. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang
dinamis sekaligus aplikatif.
“Mahasiswa bisa terlibat langsung, ini yang jarang ada di PAUD lain,” kata Ibu Dina dalam wawancara di Labschool
Unisri (21/4/2026).
Dari sisi
pembelajaran, Labschool mengusung pendekatan holistik yang mencakup aspek
moral, jati diri, literasi, dan numerasi. Proses belajar dirancang melalui
metode scientific dan 4C (communication,
creativity, collaboration, critical thinking), dengan pendekatan berbasis
proyek. Anak-anak diajak belajar melalui aktivitas bermain yang menyenangkan
dan kontekstual.
“Bermain
itu penting untuk anak usia dini. Dari bermain, minat anak muncul, lalu masuk
ke pembelajaran,” papar Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri
(21/4/2026).
Selain itu,
lingkungan belajar juga dirancang ramah anak, termasuk dalam aspek pemberian
gizi seimbang dan interaksi sosial yang sehat. Semua ini menjadi bagian dari
pendekatan holistik yang diterapkan. Komunikasi dengan orang tua dilakukan
secara aktif melalui grup WhatsApp dan interaksi langsung, sehingga
perkembangan anak dapat terpantau secara berkelanjutan. Ke depannya, Labschool
Unisri memiliki harapan besar untuk terus berkembang dan diterima masyarakat luas,
sekaligus berkontribusi dalam
menyiapkan generasi masa depan.
“Kami ingin
mempersiapkan generasi emas sejak dini, terutama di masa golden age
anak- anak,” ujar Ibu Dina dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Dengan mengusung nilai keslametriyadian, pendekatan holistik, serta
keterlibatan akademik, Labschool Unisri berupaya menjadi lebih dari sekadar PAUD,
melainkan ruang tumbuh yang menyeluruh bagi anak-anak sejak usia dini.
Dalam praktiknya,
pengelolaan Labschool Unisri tidak terlepas dari dinamika komunikasi dengan
orang tua yang dilakukan secara aktif melalui grup WhatsApp dan interaksi
langsung. Melalui grup tersebut, informasi perkembangan anak
disampaikan, meskipun dalam pelaksanaannya tidak jarang terjadi kesalahpahaman.
Ibu Alfiana Qori menyebutkan bahwa miskomunikasi kerap terjadi, namun selalu
diselesaikan melalui dialog terbuka.
“Pasti ada
miskomunikasi, tapi biasanya kami pasti komunikasikan
lagi langsung saat penjemputan, sekalian kami sampaikan solusinya,” terang Ibu
Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Dalam menjaring tenaga pengajar, pihak sekolah mengedepankan musyawarah untuk memilih mahasiswa yang dinilai siap secara
mental dan kompetensi.
“Kami mencari mahasiswa
yang sudah matang untuk menghandle anak dan menyampaikan materi dengan baik,”
tutur Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri
(21/4/2026).
Upaya memperkenalkan Labschool ke masyarakat juga dilakukan secara
langsung, tidak hanya mengandalkan media sosial.
“Kami datangi
posyandu, nanti pada bulan Mei kami akan hadir di car
free day supaya masyarakat lebih mengenal Labschool,” ungkap Ibu Qori dalam
wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Dari sisi penerimaan siswa, Labschool membuka kesempatan bagi anak
mulai usia 1,5 tahun atau yang harus sudah bisa berjalan. Sementara itu, untuk membangun kepercayaan orang tua, komunikasi menjadi kunci utama.
“Kami koordinasikan
bahwa anak di sekolah akan belajar mandiri dan bersosialisasi. Saat sudah
dititipkan, itu menjadi tanggung jawab kami,” tegas Ibu Qori dalam wawancara di
Labschool Unisri (21/4/2026).
Dalam
proses pembelajaran, aktivitas bermain dirancang sebagai sarana utama stimulasi
motorik dan minat belajar anak.
“Yang penting
permainannya aman, nyaman,
kreatif, dan tidak membuat anak bosan, sehingga mereka mau mencoba pelan-pelan,”
lanjut Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Permasalahan seperti anak yang picky eater juga ditangani melalui kerja
sama dengan orang tua. Sekolah berupaya membiasakan anak sekaligus mengedukasi
keluarga agar konsisten di rumah. Menariknya, Labschool tidak memberikan
pekerjaan rumah kepada siswa.
“Tidak ada PR, karena untuk anak usia dini memang tidak diperbolehkan,” imbuh Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Fotografer: Ahmad Nufail
Saat ini, jumlah siswa masih terbatas
dengan kegiatan yang difokuskan di lingkungan kampus. Hal ini mempertimbangkan usia
anak yang masih kecil, sehingga eksplorasi luar belum menjadi prioritas. Ke depannya,
Ibu Qori berharap Labschool dapat berkembang lebih luas dan menjadi rujukan
pendidikan anak usia dini.
“Semoga muridnya
semakin banyak, bisa buka kelas lagi, dan nantinya menjadi sekolah
percontohan,” harap Ibu Qori dalam wawancara di Labschool Unisri (21/4/2026).
Sebagai penutup,
ia memberikan pesan kepada mahasiswa FKIP tentang pe
ntingnya kesungguhan dalam
profesi guru.
![]()
Reporter: Oliviana, Lusia, Aryo, Ahmad Nufail
Fotografer: Ahmad Nufail
Editor: Lathifah An Najla