Organisasi Mahasiswa: Antara Ruang Juang atau Sekadar Ruang Proyek?
Ada satu hal yang belakangan terasa semakin akrab di lingkungan kampus: sunyi. Bukan sunyi karena tak ada aktivitas, justru sebaliknya agenda organisasi mahasiswa tampak padat, proposal beredar, dokumentasi kegiatan rapi tersimpan, dan laporan pertanggungjawaban tersusun sistematis. Namun di balik itu semua, ada satu yang terasa hilang: suara.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan pihak mana pun. Tetapi jika ada yang merasa tersindir, mungkin itu bukan karena tulisan ini terlalu tajam, melainkan karena realitasnya memang terlalu dekat.
Organisasi mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai representasi kolektif suara mahasiswa. Ia lahir bukan sekadar untuk mengisi waktu luang atau memperkaya portofolio, melainkan menjadi ruang artikulasi keresahan ,baik terkait kebijakan kampus, persoalan akademik, hingga isu sosial yang lebih luas. Dalam perspektif teori gerakan sosial, mahasiswa bahkan kerap disebut sebagai moral force yang memiliki legitimasi untuk melakukan kritik terhadap struktur kekuasaan (Melucci, 1989; Tarrow, 1998).
Namun hari ini, pertanyaannya sederhana: masihkah fungsi itu berjalan?
Alih-alih menjadi corong aspirasi, tidak sedikit organisasi mahasiswa yang justru sibuk mengelola “proyek”. Kegiatan dirancang sedemikian rupa agar “layak diajukan”, bukan karena mendesak untuk dilakukan. Parameter keberhasilan pun perlahan bergeser: bukan lagi seberapa besar dampak yang dihasilkan, melainkan seberapa rapi administrasi disusun dan seberapa besar anggaran yang berhasil diserap. Fenomena ini selaras dengan kritik tentang “NGO-isasi” gerakan sosial, yakni ketika organisasi lebih terjebak pada logika proyek dan birokrasi dibanding advokasi substantif (Edwards & Hulme, 1996).
Ironisnya, dalam situasi ketika mahasiswa menghadapi berbagai persoalan dari kebijakan akademik yang problematis hingga isu kesejahteraan , respons organisasi sering kali datang dalam bentuk yang paling aman: diam. Tidak ada kajian, tidak ada pernyataan sikap, bahkan sekadar diskusi terbuka pun terasa menjadi barang langka. Seolah-olah bersuara kini menjadi risiko yang terlalu mahal untuk dibayar.
Apakah ini bentuk kedewasaan organisasi? Atau justru tanda bahwa keberanian perlahan ditukar dengan kenyamanan?
Kondisi ini tidak muncul begitu saja. Ada kultur yang secara perlahan membentuk organisasi mahasiswa menjadi lebih administratif daripada substantif. Rutinitas program kerja, tekanan birokrasi kampus, hingga orientasi pencitraan membuat organisasi kehilangan daya kritisnya. Dalam kerangka critical pedagogy , Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang kehilangan dialog kritis hanya akan melahirkan individu yang patuh, bukan yang reflektif (Freire, 1970). Dalam konteks organisasi mahasiswa, hilangnya ruang dialog ini berimplikasi langsung pada melemahnya keberanian untuk bersuara.
Dalam banyak kasus, mahasiswa yang masuk organisasi dengan semangat perubahan justru berakhir menjadi “manajer kegiatan” yang terampil, tetapi gagap ketika harus membaca realitas sosial di sekitarnya. Mereka sibuk mengatur acara, namun lupa mengapa acara itu perlu ada.
Tentu, tidak semua organisasi berada dalam kondisi demikian. Masih ada ruang-ruang kecil yang mencoba bertahan menghidupkan diskusi, menyuarakan kritik, dan menjaga idealisme. Namun harus diakui, suara-suara ini kerap tenggelam di tengah arus besar pragmatisme yang semakin dominan.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar “apa yang salah?”, tetapi “ke mana arah organisasi mahasiswa hari ini?”.
Jika organisasi hanya menjadi ruang proyek, maka ia kehilangan ruhnya sebagai gerakan. Jika ia hanya sibuk dengan administrasi, maka ia berhenti menjadi representasi. Dan jika ia memilih diam ketika seharusnya bersuara, maka ia perlahan menghapus alasan keberadaannya sendiri.
Tulisan ini bukan vonis, melainkan pengingat. Bahwa organisasi mahasiswa tidak pernah ditakdirkan untuk sekadar ada, ia harus bermakna. Bahwa menjadi bagian dari organisasi bukan hanya soal pengalaman, tetapi juga tanggung jawab moral.
Dan pada akhirnya, jika ada yang merasa tulisan ini terlalu keras, mungkin bukan tulisannya yang perlu dilunakkan melainkan realitas yang perlu diperbaiki.
Penulis : yang tersirat
Penyunting : Oliviana Angelicha Effendy
