Kidung Cintaku, Bapak Bagian I: Jangkar yang Telah Pergi - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Kidung Cintaku, Bapak Bagian I: Jangkar yang Telah Pergi

 

(Sumber foto: Pinterest)

Senin, 1 Juni 2026ung Cintaku, Bapak

Aku masih ingat..atau mungkin tepatnya selalu merasakan, bagaimana bumi melunak saat aku pertama kali menghirup udara dunia. Kelahiranku disambut sejuk oleh sepasang tanganmu, Pak. Tatapan matamu hari itu seolah meneduhkan segala riuh, menjadi jangkar pertama bagi jiwa kecilku yang baru saja memulai perjalanannya. Sejak detik itu, aku tahu aku aman. Bapak adalah sebuah telaga kasih yang airnya tidak pernah surut. Waktu boleh mengikis banyak hal, usia boleh merenggut tenagamu, namun hangatnya kasih sayangmu tidak pernah padam.  

Bahkan sampai di titik paling sunyi, saat kelopak matamu perlahan menutup untuk selamanya, sisa kehangatan itu masih tertinggal di genggaman tanganmu yang mendingin. Bapak pergi membawa separuh jiwaku. Hari itu, aku resmi kehilangan cinta pertamaku. Ketika monitor rumah sakit menampilkan garis lurus yang dingin dan suara dengung yang panjang memutus harapan kami. Duniaku runtuh seketika. Aku mencoba memeluk tubuhmu yang mulai kaku, membisikkan kata demi kata agar kau kembali membuka mata, namun takdir berkata lain. Kepergianmu meninggalkan lubang besar yang menganga di dada. Sebuah kehancuran jiwa yang begitu hebat hingga aku sempat mengira tidak akan pernah bisa melangkah lagi.  

Berhari-hari setelah pemakamanmu, rumah terasa begitu asing tanpa aroma kopi hitam di pagi hari dan suara deham khasmu dari teras depan. Aku terjebak dalam labirin kesedihan yang gelap. Namun, di tengah hancurnya jiwaku, ingatan tentang ketegaranmu perlahan-lahan datang bagai lentera kecil. Aku sadar, membiarkan diriku larut dalam keterpurukan bukanlah hal yang kau inginkan. Menangisimu adalah hal yang manusiawi, tetapi menyerah pada hidup berarti menyia-nyiakan seluruh perjuangan yang telah kau korbankan untuk membesarkanku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku mencoba bangkit, mengumpulkan kembali kepingan hatiku yang berserakan, dan belajar untuk berjalan lagi—meski dengan langkah yang tertatih.

Bagian II: Sempurna Dalam Kurang

Jika dunia melihatmu dengan segala batasan, mata anak perempuanmu ini punya lensanya sendiri. "Bapak memang banyak kurangnya, tapi ia selalu sempurna di mataku." Setiap peluh yang kau usap diam-diam, setiap kecewa yang kau sembunyikan di balik senyum lelahmu adalah bukti kemegahan hatimu. Bapak tidak perlu menjadi pahlawan bagi dunia, karena bagi jiwaku, Bapak adalah definisi dari ketulusan yang utuh.  

Ada satu momen yang abadi, yang selalu sukses melelehkan pertahananku setiap kali mengingatnya. Hari itu, saat kau menyerahkan tanggung jawabmu pada laki-laki pilihan hatiku, kau berbisik padanya dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.

"Anak perempuan pertama adalah cinta pertama bapaknya."

Kalimat itu Pak, adalah mahkota terindah yang pernah kupakai. Kalimat yang membuatku sadar betapa beruntungnya aku telah dicintai sedalam itu oleh seorang laki-laki hebat sebelum dunia sempat mengenalkanku pada patah hati.  

Ingatanku kemudian melesat jauh ke belakang, ke masa-masa seragam putih-abu-abu. Pak, masih ingatkah kau pada masa SMA-ku dulu? Pagi itu langit tampak mendung, dan aku sudah dirundung cemas karena takut terlambat mengikuti ujian di sekolah. Dengan sigap, kau mengeluarkan Vespa tuamu yang berwarna hijau pudar—kendaraan legendaris yang suaranya selalu memecah keheningan gang rumah kita. Sepanjang jalan, kepalaku dipenuhi rasa takut: takut tidak bisa menjawab soal, takut mengecewakanmu, dan takut akan masa depan.

Di atas motor yang berguncang itu, di antara deru mesin yang bising, kau sedikit menoleh ke belakang dan berkata,

“Tenang aja, Nduk. Selama ada Bapak, semua akan baik-baik saja.”

Kata-kata sederhana itu ajaib, Pak. Seketika itu juga, semua gemuruh di kepalaku mereda. Pelukan eratku pada pinggangmu menjadi bukti bahwa aku sepenuhnya percaya pada janjimu. Bagiku, punggung lebar Bapakkulah benteng terkuat di dunia ini.

Padahal, jika aku berkaca pada masa lalu, sering sekali aku membuat hatimu terluka. Aku bukan anak perempuan yang selalu penurut. Ada masa di mana aku merasa lebih tahu segalanya, termasuk saat dirimu melarangku untuk berpacaran karena ingin aku fokus pada sekolah. Ego remajaku berontak. Aku melanggar larangan itu secara sembunyi-sembunyi, mengira kau tidak akan pernah tahu. Namun, ketajaman insting seorang ayah tak bisa dibohongi. Ketika kau mengetahuinya, tidak ada amarah yang meledak-ledak atau bentakan yang keluar dari mulutmu. Kau hanya menatapku dengan mata yang sarat akan rasa kecewa, sebuah tatapan yang justru jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.

“Bapak hanya ingin kamu tidak salah melangkah, Nduk,” ucapmu lirih malam itu di meja makan.

Rasa bersalah langsung menghunjam jantungku. Di hadapan ketulusan dan kekhawatiranmu, aku berjanji dalam hati untuk menebus kesalahan itu. Aku memutus semua hal yang bisa mendistraksi impianku dan mengalihkan seluruh energiku untuk belajar. Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa anak perempuanmu ini bisa bangkit dan menjadi yang terbaik.

Berbulan-bulan aku mengurung diri dengan buku-buku tebal, hingga hari pengumuman itu tiba. Air mataku tumpah saat namaku disebut sebagai Juara 1 Olimpiade Ekonomi Tingkat Jabodetabek. Aku pulang membawa piala besar itu dan langsung menghambur ke pelukanmu. Aku masih ingat betul bagaimana matamu berkaca-kaca, dan senyum lebar yang terukir di wajahmu menjadi hadiah paling mewah yang pernah kuterima. Kau bangga, dan rasa banggamu menghapus seluruh rasa bersalahku.

Bagian III: Berjalan dalam Rindu

Pak, lihatlah anak perempuanmu sekarang. Aku masih berdiri di sini, tegap di atas kedua kakiku. Namun, jangan salah mengira ini karena aku kuat tanpamu. Tidak, aku tidak pernah sekuat itu. Aku tetap melangkah bukan karena lukaku telah sembuh, melainkan karena bumi menolak untuk berhenti berputar. Hidup tetap harus berjalan, Pak. Tugas-tugasku di dunia belum usai, dan amanah yang kau titipkan harus tetap kujaga.  

Sekarang, aku hanya sedang menjalani sisa waktu yang diberikan-Nya untukku.

Menghabiskan sisa napas, merawat rindu yang kian membuai, sampai nanti tiba saatnya ketukan itu datang kepadaku. Kerinduan ini kini kutransformasikan menjadi energi untuk menyelesaikan segala hal baik yang pernah kita cita-citakan bersama. Setiap kali aku merasa lelah dengan tekanan dunia kerja dan kehidupan dewasa, aku selalu memejamkan mata dan membayangkan diriku kembali berada di boncengan Vespa tuamu, mendengar suaramu yang menenangkan badai.  

Aku bertahan, semata-mata demi hari di mana aku bisa berlari lagi ke pelukanmu, mengadukan betapa beratnya dunia tanpamu, dan kembali mendengar suaramu menyambutku dengan sejuk yang sama. Kelak, ketika giliranku tiba, aku ingin menghampirimu tanpa membawa rasa malu, melainkan membawa laporan panjang tentang bagaimana aku telah menjaga diriku dan menghormati namamu dengan baik di dunia.  

Sampai bertemu lagi, Cinta Pertamaku.  

 

 

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Adista Putri Revalina

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done