Persimpangan Pers Mahasiswa Bukanlah Represi, Melainkan Distraksi - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Persimpangan Pers Mahasiswa Bukanlah Represi, Melainkan Distraksi

Beberapa waktu lalu, saya sedang berkumpul bersama beberapa teman. Seperti biasa, sebagian besar dari kami sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Di tengah obrolan, salah seorang teman tiba-tiba menyinggung sebuah isu yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Dengan cukup yakin ia menjelaskan duduk perkaranya. Teman-teman yang lain mengangguk. Beberapa ikut menimpali.

Masalahnya, saya sudah membaca berita yang sama sebelumnya. Dan apa yang ia ceritakan tidak sepenuhnya sesuai dengan isi beritanya. Saya lalu bertanya pelan, "Sudah baca sampai selesai belum?."

Ia tertawa. Yang lain juga ikut tertawa. Lalu, obrolan pun berganti topik. Namun, pertanyaan itu justru terus tinggal di kepala saya.

Fenomena semacam itu bukan sesuatu yang langka. Saya menemukannya berkali-kali. Terkadang saat nongkrong bersama teman, juga saat membaca kolom komentar di media sosial. Sering kali saya membaca sebuah berita sampai selesai, lalu membuka kolom komentarnya. Anehnya, sebagian komentar justru membahas hal yang tidak pernah ditulis dalam berita tersebut.

Ada yang marah pada sesuatu yang tidak dibahas. Ada yang menyimpulkan sesuatu yang tidak pernah disebutkan. Bahkan ada yang berdebat tentang isu yang sama sekali berbeda. Padahal, kami membaca berita yang sama. Judulnya sama. Isinya sama. Namun kesimpulan yang lahir bisa sangat berbeda.

Dari situ saya mulai bertanya-tanya. Jangan-jangan persoalannya bukan lagi soal akses informasi. Melainkan cara kita memahami informasi itu sendiri.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi hari ini bukan hanya soal akses terhadap informasi, melainkan juga kemampuan memahami dan mengolah informasi secara kritis.

Rendahnya kemampuan literasi membaca tersebut menjadi persoalan yang relevan bagi Pers Mahasiswa. Sebab, tradisi kerja jurnalistik mahasiswa bertumpu pada aktivitas membaca, memahami, dan menguji informasi secara mendalam. Ketika kemampuan membaca melemah, tantangan yang dihadapi Pers Mahasiswa tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari menurunnya kapasitas audiens untuk mengonsumsi karya jurnalistik itu sendiri.


Pertanyaan tersebut kembali muncul ketika saya melihat berbagai diskusi mengenai masa depan Pers Mahasiswa.

Selama ini ketika membicarakan tantangan Pers Mahasiswa, banyak orang langsung membayangkan represi, sensor, intervensi birokrasi kampus, pembredelan, atau berbagai bentuk tekanan terhadap kebebasan berekspresi. Tentu saja ancaman semacam itu masih mungkin terjadi.

Sejarah Pers Mahasiswa di Indonesia telah menunjukkan bahwa kerja jurnalistik mahasiswa tidak selalu berjalan di jalan yang mulus. Namun, saya merasa ada tantangan lain yang jauh lebih dekat dan lebih sering kita jumpai setiap hari. Namanya distraksi.

Musuh yang Tidak Bisa Didemo

Jika dulu tantangan terbesar sebuah media adalah bagaimana menerbitkan informasi, maka hari ini tantangannya adalah bagaimana membuat orang bertahan membaca informasi sampai selesai. Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi tersedia di mana-mana, tetapi perhatian menjadi barang yang semakin langka.

Dalam hitungan menit, seorang mahasiswa bisa mengetahui konflik internasional, dinamika politik nasional, tren media sosial terbaru, hingga gosip artis yang sedang ramai diperbincangkan. Namun di saat yang sama, membaca satu artikel sampai tuntas terasa semakin berat.

Kita membaca judul lalu merasa sudah memahami isi. Kita menonton potongan video berdurasi tiga puluh detik lalu merasa mengetahui seluruh konteks peristiwa. Kita membaca beberapa komentar lalu merasa telah memiliki kesimpulan. Opini lahir lebih cepat daripada pemahaman.

Barangkali di sinilah persoalan yang sebenarnya.

Kita Terlalu Cepat Menyimpulkan

Pers Mahasiswa selama ini dikenal sebagai ruang yang mengandalkan tulisan panjang, argumentasi, riset, dan ketelitian dalam mengolah informasi. Semua itu membutuhkan satu hal yang kini semakin mahal, yaitu perhatian.

Masalahnya, Pers Mahasiswa hari ini tidak lagi bersaing dengan rektorat. Ia bersaing dengan notifikasi. Ia bersaing dengan algoritma. Ia bersaing dengan video pendek yang terus berganti setiap beberapa detik. Fenomena ini dapat dilihat dari berbagai pengalaman di lingkungan kampus. Tidak sedikit laporan mendalam, hasil liputan investigatif, atau artikel analisis yang membutuhkan waktu dan tenaga besar untuk diproduksi, tetapi hanya memperoleh sedikit pembaca. Sebaliknya, potongan informasi singkat yang dikemas secara sensasional sering kali lebih mudah menarik perhatian.

Pers Mahasiswa mungkin masih mampu menulis laporan investigasi sepanjang dua ribu kata. Masalahnya, apakah masih ada mahasiswa yang bersedia membacanya sampai paragraf terakhir?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup mengganggu. Sebab jika kita telusuri lebih jauh, krisis Pers Mahasiswa mungkin hanyalah gejala dari krisis yang lebih besar. Jangan-jangan yang sedang mengalami krisis bukan hanya Pers Mahasiswa. Janganjangan kampus kita juga sedang mengalami krisis bernalar.

Saya tidak mengatakan bahwa mahasiswa hari ini lebih bodoh dibanding generasi sebelumnya. Justru sebaliknya, akses terhadap pengetahuan hari ini jauh lebih mudah. Buku, jurnal, berita, dan berbagai sumber informasi tersedia hanya dalam genggaman. Tetapi kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengolahnya. Kita hidup dalam banjir informasi, tetapi sering kali kehausan pemahaman.

Akibatnya, ruang diskusi perlahan berubah menjadi ruang reaksi. Orang lebih cepat memilih posisi dibanding memahami persoalan. Lebih cepat berkomentar dibanding membaca. Lebih cepat menyimpulkan dibanding memeriksa. Padahal kemampuan bernalar tidak lahir dari kecepatan bereaksi. Ia lahir dari kesediaan untuk membaca lebih lama, berpikir lebih dalam, dan mempertanyakan kembali kesimpulan yang terasa terlalu mudah.

Mengapa Pers Mahasiswa Penting?

Di titik inilah saya merasa Pers Mahasiswa masih memiliki relevansi.

Bukan karena Pers Mahasiswa selalu benar. Bukan karena setiap tulisannya pasti berkualitas. Bukan pula karena ia merupakan benteng terakhir demokrasi kampus sebagaimana yang sering dirayakan secara romantis.

Pers Mahasiswa tetap penting karena ia menuntut kesabaran yang semakin langka, seperti kesabaran untuk membaca, memeriksa, dan memahami sebelum berpendapat.

Ruang untuk membaca sampai selesai. Ruang untuk memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Ruang untuk berdebat tanpa harus tergesa-gesa menentukan siapa yang paling benar.

Mungkin itulah sebabnya saya tidak terlalu khawatir jika suatu hari Pers Mahasiswa harus berhadapan dengan kritik atau tekanan dari luar. Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika mahasiswa kehilangan kesabaran untuk memahami sesuatu secara utuh. Ketika membaca dianggap terlalu melelahkan. Ketika komentar lebih dipercaya daripada isi berita. Ketika opini lebih dihargai daripada proses berpikir yang melahirkannya.

Karena itu, mempertahankan Pers Mahasiswa sesungguhnya bukan semata-mata mempertahankan sebuah lembaga atau organisasi kemahasiswaan. Yang dipertahankan adalah budaya intelektual yang memberi ruang bagi pembacaan yang cermat, perdebatan yang berlandaskan argumen, dan kesediaan untuk memahami persoalan sebelum mengambil sikap.

Jika itu benar-benar terjadi, maka tantangan terbesar Pers Mahasiswa hari ini mungkin bukanlah represi, melainkan distraksi. Tatkala mahasiswa mulai kehilangan kesabaran untuk membaca, memeriksa, dan memahami sesuatu. Konsekuensi dari hal tersebut adalah dipertaruhkannya tradisi bernalar yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama kehidupan intelektual kampus.

Saya rasa persimpangan terbesar Pers Mahasiswa hari ini mungkin bukanlah represi. Melainkan distraksi. Dan ketika distraksi membuat kita kehilangan kesabaran untuk membaca, memeriksa, dan memahami sesuatu secara utuh, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Pers Mahasiswa, melainkan masa depan nalar itu sendiri.

Penulis: Baso Muh Wahidin (LPM Pabelan)

Penyunting: Adista Putri Revalina


Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done