Bagaimana Kolonialisme Mempengaruhi Kota Solo dalam Aspek Dinamika Sosial? - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Bagaimana Kolonialisme Mempengaruhi Kota Solo dalam Aspek Dinamika Sosial?


 LPM Motivasi gelar sarasehan sejarah kehidupan Kota Solo, Sabtu (9/5/2026).  Sumber Foto: sraddhasala/Instagram

Surakarta, 12 Mei 2026 — Sebagai kota dengan sejarah panjang, Kota Solo menyimpan banyak kisah menarik, termasuk bagaimana perkembangan dinamika kehidupan di dalamnya. 

Semua itu bermula ketika kota yang berlabel “The Spirit of Java” atau dahulu bernama Desa Sala ini ditetapkan sebagai pusat pendirian keraton baru Kasunanan Kartasura (kini Kasunanan Surakarta Hadiningrat) selepas  insiden Geger Kartasura (1740-1743).

Indra Agusta, Peneliti Sraddha Sala, menjelaskan pemilihan Desa Sala tidak lepas dari faktor berupa tradisi Boyongan atau Boyong Kedhaton yang bertujuan menolak bala. Tradisi tersebut juga diterapkan pada  nama keraton dari Kartasura menjadi Surakarta. 

“Penamaan itu sangat diperhitungkan terkait kontekstual di Jawa,” ucap pria asal Sragen itu.

Seiring waktu, kehidupan pada wilayah Kasunanan Surakarta mengalami perubahan dinamika ekstrem akibat sejumlah pergolakan.  

Perang Mangkubumen (1746-1757), misalnya, yang mengubah wajah Kota Solo seperti sekarang. Kemudian berpindah pasca Perang Jawa (1825-1830), muncul sistem Tanam Paksa (1830-1870) yang melanggengkan praktik perkebunan paksa dan maraknya pendirian pabrik-pabrik gula. 

Kemudian dalam struktur birokrasi daerah pemerintah Kolonial Belanda turut menciptakan strata pemerintahan tandingan, Binnenlands Bestuur (BB) seperti residen dan asisten residen. Akibatnya, pejabat yang dibawahi Kasunanan, seperti patih, tidak lagi mampu menjalankan perintah secara leluasa.

“Ketika Jepang datang Jepang bikin barang baru, kecamatan sama rt-rw. Terus itu diterima lagi (oleh) masyarakat kemerdekaan. Sudah ini bikin ruwet ditambah ruwet,” terang Indra menggambarkan situasi masyarakat saat itu.

Seiring dengan kerumitan birokrasi, juga timbul segregasi plus hierarki sosial, terutama antara masyarakat Eropa-Tionghoa dengan pribumi. 

Kota Solo memang turut merasakan modernisasi imbas kebijakan pembangunan rel kereta api oleh pemerintah Kolonial Belanda. Namun, sebagaimana kata Indra, itu juga berimbas pada prilaku masyarakat yang menjaga jarak dengan pendatang. 

Kolonialisme juga menurunkan warisan berupa praktik-praktik sosial yang masih lazim hingga sekarang. Seperti contoh menjual sawah demi biaya pendidikan anak ataupun kebiasaan merantau oleh masyarakat desa/urbanisasi.

Berbagai faktor tersebut memberi dampak yang menjejak hingga sekarang. Lanskap kota yang berubah, urbanisasi yang menciptakan persaingan keras, sampai adanya perebutan ruang di tiap jengkal kota yang hanya berdiameter 46,72 km² serta dihuni empat kelompok utama: Jawa, Arab, Tionghoa, hingga Eropa. 

Dampaknya, tercipta segmentasi pada ruang kota yang terpotret hingga sekarang. Bangsawan tinggal di pusat kota, kaum Tionghoa di Pasar Gede, kaum Arab di Pasar Kliwon, sementara kaum Jawa sebagai penduduk asli justru cenderung berada di sudut-sudut kota.

“Melihat Kota Solo seperti itu, kamu harus melihat spasialnya sebelum menganalisis sosialnya,” terangnya.

Namun, polarisasi itu tidak serta-merta menimbulkan kegaduhan. Semua itu disebabkan oleh kebiasaan ewuh-pakewuh yang terus berlangsung hingga kini. Semua itu demi menjaga kestabilan kota yang sebetulnya penuh sesak. 

“Solo ini adalah barometer politik, sebuah simulasi sosial untuk menata Indonesia. Kalau kamu bisa nata Solo, Kota Solo, Solo Raya yaudah kamu bisa ngatur Indonesia.” tutupnya. 


Penulis: Aryo Satryo T

Penyunting: Chintya Alinda R



Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done