Menjemput Cahaya di Sisa Bara - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Menjemput Cahaya di Sisa Bara

 

Ilustrasi Pict by: Pinterest

Tahun 2009 adalah puncak kebanggaanku. Di usia 16 tahun, saat remaja lain mungkin masih sibuk mencari jati diri di bangku SMA, aku sudah menapaki koridor kampus swasta ternama di Solo sebagai mahasiswa Pendidikan Akuntansi. Menjadi salah satu mahasiswa termuda membuatku merasa seolah dunia berada dalam genggamanku. Semester demi semester kulewati dengan nilai yang memuaskan, hingga badai itu datang tanpa permisi di tahun kedua.

Ekonomi keluargaku runtuh. Kebangkrutan orang tua memaksaku menanggalkan ego remaja. Aku mulai berjualan baju secara daring, membakar sosis di pinggir jalan, hingga menjadi tukang cuci piring. "Tidak apa-apa, Fia. Ini hanya ujian kecil," bisikku menyemangati diri sendiri setiap kali tangan ini perih terkena sabun cuci.

Namun, ujian yang sesungguhnya bukan soal uang, melainkan pengkhianatan. Kekasihku saat itu, yang tinggal di Jakarta, terus menekanku untuk membawanya ke Solo. Ketika ia tiba, aku justru merasa asing. Rasa itu telah tawar. Saat ia kembali ke Jakarta, aku memutuskan hubungan melalui telepon.

"Aku nggak terima, Fia! Kamu bakal menyesal!" teriaknya dari ujung telepon.

Keesokan harinya, duniaku runtuh. Ia mengedit fotoku menjadi foto tidak senonoh dan mengunggahnya di Facebook. Fitnah itu menyebar lebih cepat dari prestasiku. Teman-teman yang dulu duduk bersamaku kini menjauh, berbisik-bisik dan melemparkan kata-kata pedas. "Ternyata dia lo***," atau "Pantas saja masih muda sudah punya uang banyak," menjadi makanan sehari-hari. Tanpa mereka mencari kebenarannya.

Puncaknya terjadi di ruang Kaprodi saat aku hendak meminta tanda tangan KRS. Kepalaku berputar, keringat dingin membasahi punggung. Tatapan sinis orang-orang di luar ruangan terasa seperti ribuan jarum.

"Fia, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Pak Kaprodi khawatir.

Aku belum sempat menjawab. Pandanganku mengabur dan aku ambruk. Aku terbangun di RS Yarsis, didiagnosa maag akut yang dipicu oleh tekanan psikis yang hebat. Sejak hari itu, aku bukan hanya pasien penyakit dalam, tapi juga pasien psikiater. Aku berperang dengan pikiranku sendiri. Setiap kali melihat gerbang kampus, tubuhku gemetar hebat.

Hanya Nur, gadis lugu yang tetap setia di sisiku. Suatu hari di perpustakaan, ponselku bergetar. Sebuah SMS masuk.

"Hai boleh kenal? By Dewa," bacanya.

Aku mengernyitkan dahi. "Siapa ini? Kamu tahu nomor ini nggak, Nur?" tanyaku sambil menyodorkan ponsel. Nur hanya mengangkat bahu dan menggeleng. "Nggak tahu, Fi. Balas saja pelan-pelan."

"Maaf, ini siapa ya?" balasku pendek. Balasannya datang secepat kilat. "Aku teman Galih. Aku dapat nomormu dari dia."

Aku mendengus malas. Basa-basi seperti ini adalah hal terakhir yang aku butuhkan di tengah depresi yang mencekik. Namun, Dewa tidak menyerah. Dua minggu ia terus mengirim pesan tanpa kubalas, hingga suatu sore ia mengirim pesan yang membuatku tersentak: "Aku sudah tahu di mana kostmu dan sekarang aku ada di depan."

Aku keluar dengan rasa sebal yang memuncak. Dari kejauhan, aku melihat seorang lelaki berambut gondrong, berkulit hitam, duduk di atas motor Supra 125. "Ya Allah, dekil sekali. Rambut kayak gorden warteg," gumamku dalam hati.

Kami duduk di warung depan kost. Dewa mencoba mencairkan suasana. "Kuliahmu gimana? Capek ya?" tanyanya lembut. "Ya gitu. Biasa aja," jawabku singkat tanpa menatap matanya.

Namun, Dewa berbeda. Ia tidak pergi meski aku ketus. Sebulan kemudian, ia menantangku. "Besok kamu siap-siap jam lima pagi ya. Aku jemput di kost. Jangan tanya kenapa, aku mau membuktikan sesuatu ke kamu."

Pagi buta itu, ia membawaku ke rumahnya di Semarang. Di depan kedua orang tuanya, ia memegang tanganku. "Pak, Bu, ini Fia. Dewa serius sama dia," katanya mantap. Senyum hangat orang tuanya saat itu menjadi obat pertama bagi hatiku yang hancur.

Tahun-tahun berlalu, aku berjuang menyelesaikan skripsi sambil bekerja sebagai tentor sempoa di Klaten. Dosen pembimbingku pernah berujar, "Kelak kamu akan menjadi guru TK yang sukses." Kalimat itu kupegang erat sebagai doa.

Skripsiku selesai, namun ijazah itu tetap tertahan. Seorang dosen mempersulit mata kuliah terakhirku, ditambah lagi biaya kuliah yang tak lagi mampu terbayar. Aku putus asa. Aku memilih mengubur mimpi sarjanaku dan fokus mengajar di sebuah TK di Manahan demi menyambung hidup.

Tahun 2018, setelah delapan tahun menemani masa sulitku, si "Gorden Warteg" yang tulus itu menikahiku. Kebahagiaan kami lengkap dengan hadirnya putri cantik di tahun 2019. Tapi takdir kembali menguji. Tahun 2020, Bapak berpulang.

"Duniaku hancur, Dewa. Separuh jiwaku hilang bersama Bapak," tangisku di pelukan suamiku. Penyakit mentalku kambuh. Aku harus kembali bertemu psikiater untuk bisa sekadar berdiri tegak kembali.

Titik balik itu datang di tahun 2023. Saat mengikuti lomba menggambar poster di Hotel Malioboro Inn, aku bertemu teman lama saat mengajar di Manahan. "Fia! Kamu masih mau lanjut kuliah nggak? Ada jalur beasiswa nih," ucapnya bersemangat.

Malam itu, aku duduk di hadapan suamiku dengan ragu. "Mas, ada tawaran beasiswa. Tapi... apa aku mampu? Aku sudah tua, aku sudah punya anak."

Dewa menatapku, tatapan yang sama saat ia membawaku ke Semarang dulu. "Mimpimu itu belum mati, Fia. Cuma tertidur sebentar. Kalau kamu siap, aku yang akan jadi pundakmu."

Hari ini, aku kembali ke bangku kuliah. Menjadi mahasiswa lagi dengan semangat yang lebih membara dari anak usia 16 tahun dulu. Aku belajar bahwa tidak peduli seberapa banyak orang mencoba menjatuhkanmu, atau seberapa lama mimpimu tertunda, selalu ada jalan bagi mereka yang berani untuk bangun dan melangkah lagi. Aku bukan lagi Fia yang ketakutan; aku adalah Fia yang sedang menjemput cahayanya kembali.

Penulis: Alfiana Qori

Penyunting: Lathifah An Najla

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Fia adalah seorang pendidik dan pejuang masa depan yang berdomisili di Wonogiri. Mengawali karier sebagai guru TK di Manahan dan tentor sempoa, ia memiliki kecintaan mendalam pada dunia literasi dan seni. Meski sempat terpaksa menunda mimpinya selama bertahun-tahun karena kendala ekonomi dan trauma masa lalu, semangatnya tidak pernah padam. Kini, di sela perannya sebagai seorang istri dan ibu, ia bangkit melanjutkan studi sarjana melalui jalur beasiswa. Melalui tulisan, Fia ingin menyebarkan pesan bahwa kegagalan hanyalah jeda, dan setiap perempuan berhak menjemput kembali mimpinya.

Titimangsa: Wonogiri, Mei 2026

 

 

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done