“PESTA BABI” MEMBUKA LUKA KOLONIASLISME MODERN DI TANAH PAPUA - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

“PESTA BABI” MEMBUKA LUKA KOLONIASLISME MODERN DI TANAH PAPUA


 

Pict by: Lintang Febrianti

Surakarta, 10 Mei 2026 — Pemutaran dan diskusi film dokumenter Pesta Babi diadakan di Studio Lokananta Bloc sebagai ruang bersama untuk melihat lebih dekat realita yang terjadi di Papua. Film karya Dandhy Laksono ini mengangkat persoalan eksploitasi tanah Papua melalui proyek biodiesel sawit dan tebu, sekaligus menyoroti praktik kolonialisme modern yang masih dirasakan masyarakat adat Papua hingga hari ini.

Melalui sudut pandang dan pengalaman langsung masyarakat Papua, film ini memperlihatkan bagaimana tanah, hutan, dan ruang hidup perlahan berubah akibat kepentingan industri dan pembangunan. Tidak hanya menghadirkan luka dan kehilangan, Pesta Babi juga menunjukkan transformasi masyarakat Papua dari korban menjadi pihak yang terus berjuang mempertahankan identitas, tanah adat, dan hak hidup mereka.

Unsur adat, nilai kekristenan, hingga tradisi pesta babi turut menjadi bagian penting dalam cerita, sekaligus membantu penonton memahami kehidupan dan realitas sosial masyarakat Papua secara lebih dekat dan manusiawi. Film ini juga membuka pertanyaan besar mengenai apakah praktik kolonialisme dalam bentuk baru akan terus terjadi di tanah Papua?.

Suasana ruang pemutaran film dokumenter tentang Papua dipenuhi emosi dan refleksi. Sejumlah penonton tampak larut dalam cerita yang ditampilkan di layar, mulai dari persoalan tanah adat, kehidupan masyarakat Papua, hingga relasi pemerintah dengan warga lokal. Bagi sebagian penonton, film tersebut bukan hanya tontonan, tetapi juga pengalaman yang membuka ruang diskusi dan kesadaran baru.

 

A group of people in a room

AI-generated content may be incorrect.

Pict by: Shello Rossad

Kami sebagai tim reporter LPM Apresiasi juga mewawancarai penonton dan komunitas terhadap film Pesta Babi tersebut. Salah satunya adalah kak Raka, Humas Komunitas Mahasiswa Papua Soloraya, menjadi salah satu penonton yang paling merasakan dampak emosional dari film tersebut. Ia menilai kegiatan nobar dan diskusi seperti ini sangat penting karena informasi mengenai Papua masih sulit diakses masyarakat luas.

“Menurut saya penting sekali ya, karena biasanya berita-berita soal Papua itu sulit diakses,” ujarnya dalam wawancara (10/5/2026).

Raka mengaku selama ini sering mencari informasi terkait kondisi di Papua dan menemukan banyak persoalan yang menurutnya jarang diberitakan media nasional. Salah satunya mengenai militerisme yang terjadi di wilayah tersebut.

Menurutnya, ruang diskusi seperti nobar film dokumenter dapat menjadi pemantik agar generasi muda lebih peka terhadap isu sosial di sekitar mereka. “Kesadaran itu penting, dan jangan apatis sih,” katanya dalam wawancara (10/5/2026).

Namun, bagi Raka, film tersebut terasa sangat personal. Ia bahkan beberapa kali keluar ruangan karena tidak kuat menyaksikan adegan-adegan di dalam film.

“Saya nonton 15 menit nggak kuat, saya keluar,” ujarnya. Ia merasa apa yang ditampilkan di layar mengingatkannya pada keluarganya sendiri di Papua. “Saya seperti melihat mama saya sendiri yang ada di dalam layar itu.”

Selain persoalan kemanusiaan, Raka juga menyoroti ketimpangan manfaat pembangunan di Papua. Menurutnya, keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam seharusnya dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.

“Keuntungannya harusnya untuk orang lokal. Tadi yang kita nonton kan keuntungannya bukan untuk orang lokal, malah untuk perusahaan-perusahaan dari luar,” tegasnya dalam wawancara (10/5/2026)

Sementara itu, tanggapan lain datang dari Wininda Sari, penonton dari komunitas Difalitera. Ia mengaku merasakan campuran emosi setelah menyaksikan film dokumenter karya Dandhy Laksono tersebut. Menurutnya, selama ini ia memang sering mendengar cerita mengenai Papua, tetapi melalui film itu ia merasa dapat melihat kenyataan yang lebih dekat.

“Ya, kesan pertama terkesan dan campur aduk ya,” ujarnya. Bagian yang paling membekas baginya adalah ketika masyarakat adat Papua kehilangan tanah mereka. “Tentu yang paling berkesan adalah bagian ketika orang-orang pribumi Papua kehilangan tanahnya,” katanya dalam wawancara (10/5/2026).

Menurut Wininda, pengalaman menonton film itu juga membuatnya kembali merefleksikan makna nasionalisme. Ia mengaku tetap mencintai Indonesia, tetapi merasa penting untuk tetap kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi.

“Aku tetap nasionalis karena aku bernama di bawah negara Indonesia, tapi aku juga tetap harus kritis dan gak naif,” ungkapnya dalam wawancara (10/5/2026).

Sebagai seorang ibu dan pegiat komunitas tuna netra, Wininda memilih menunjukkan nasionalisme melalui tindakan sederhana di lingkungan sekitar. Ia mencontohkan bagaimana dirinya mengajak teman-teman netra untuk ikut menikmati pengalaman menonton bersama. Baginya, kepedulian terhadap sesama juga merupakan bentuk cinta terhadap negara.

Meski suasana wawancara diakhiri dengan candaan ringan, kesan emosional dari film dokumenter tersebut masih terasa kuat. Melalui diskusi dan refleksi bersama, para penonton berharap masyarakat semakin terbuka untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di Papua dari sudut pandang kemanusiaan dan tentunya untuk pemerintah harus juga harus memberikan keadilan hak kepada mereka warga papua. Karena Papua adalah bagian dari Indonesia dan merupakan saudara kami semua.

Kegiatan nobar dan diskusi ini berlangsung dari hasil kolaborasi gotong royong berbagai komunitas serta organisasi, di antaranya Toko Buku Mata Pajar, Kopi Aloo, Matalokal, Lokananta, Jejer Wadon, Sinema Warga, Kuhaté Books, Project Sasmita, IBP Solo, Difalitera, Carpe Diem Bookstore, Read Aloud Solo Raya, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, LPM Apresiasi, LPM Locus, Sobo+NiaoS, SODOC Solo Documentary, Komunitas Mahasiswa Papua Solo Raya, Watchdoc, Eks Pedis Indonesia Baru, dan Patjar Merah yang turut mendukung terselenggaranya Nobar dan ruang diskusi publik tersebut.

 

 

Penulis : Lusia Nur Permatasari

Reporter : Lusia Nur, Lintang Febrianti, Nanda Ayu, Fahra Nautisya, Adista Putri, Nisa Ilma Safitri, Ahmad Nufail, Shello Rossad.

Penyunting: Adista Putri Revalina

 

 

 

 

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done