LPM, Isu Luar Kampus, dan “Bau Politik” yang Sering Disalahpahami - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

LPM, Isu Luar Kampus, dan “Bau Politik” yang Sering Disalahpahami

Di berbagai kampus, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sering kali menempati ruang yang serba-tengah; tidak sepenuhnya organ internal, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas dari dinamika kampus. Dalam posisi inilah muncul beragam persepsi, termasuk anggapan bahwa kerja jurnalisme mahasiswa “berbau politik”, terutama ketika menyentuh isu-isu yang dianggap sensitif. Padahal, dalam tradisi pers mahasiswa, keberanian membahas isu kampus maupun isu luar justru bagian dari proses belajar menjadi warga intelektual yang utuh.

 

Ironisnya, ketika LPM mengangkat isu luar—seperti pendidikan nasional, kebijakan publik, hingga problem sosial di sekitar kampus—reaksinya tak kalah menarik. Ada yang memuji, ada pula yang bertanya dengan nada heran, “Kok bahas yang di luar? Apa nggak terlalu jauh?” Seolah-olah mahasiswa hanya boleh memahami dunia seluas halaman kampus. Sarkasme lembutnya; sebagian masih berpikir bahwa pagar kampus adalah garis batas pengetahuan.

 

Padahal, riset mengenai pers mahasiswa menunjukkan bahwa di banyak negara termasuk Indonesia, LPM memang diarahkan menjadi ruang latihan bagi calon jurnalis, peneliti, dan warga kritis. Itu sebabnya, topik yang diangkat tidak berhenti pada dinamika internal saja. LPM belajar memetakan hubungan antara persoalan kampus dan konteks yang lebih luas—karena dunia nyata, sayangnya, tidak menyediakan filter “internal only”.

 

Tentu saja label “bau politik” kadang muncul ketika isu-isu semacam ini dibahas. Namun, politik dalam konteks akademik bukanlah sesuatu yang otomatis bersifat partisan. Ia bisa berarti refleksi, analisis, atau sekadar upaya memahami bagaimana keputusan diambil dan apa dampaknya bagi masyarakat. Jika hal ini dianggap politis, mungkin karena kampus adalah ruang yang sangat hidup—dan sesuatu yang hidup memang sulit sepenuhnya steril.

 

Ada pula anggapan bahwa LPM adalah “lawan” ketika menyentuh isu-isu tertentu. Padahal, lebih tepat bila hal itu dipahami sebagai ketidaksinkronan ritme; LPM bergerak dengan semangat bertanya, sementara sebagian pihak bergerak dengan kebutuhan kehati-hatian. Ketika dua ritme ini bertemu, gesekan persepsi pun muncul. Namun gesekan bukanlah permusuhan—justru bisa menjadi penanda bahwa ruang diskusi sedang bekerja.

 

Pada akhirnya, LPM bukanlah pihak yang datang dengan niat mengganggu. Ia hadir sebagai ruang belajar demokrasi kampus, tempat mahasiswa mengasah kemampuan membaca realitas, mengolah informasi, dan berdialog dengan berbagai sudut pandang. Jika dalam proses itu muncul kritik, pertanyaan, atau bahkan sarkasme tipis, hal tersebut bukan bermaksud untuk menantang siapa pun, tetapi sebagai bagian dari tradisi intelektual yang sehat.

 

Dengan cara itulah LPM membantu kampus tetap bernapas legowo; terbuka pada perbedaan pikiran, sigap merespons realitas, dan tidak hanya sibuk dengan gambaran ideal, tetapi juga berani menatap kenyataan. Karena pada akhirnya, baik isu dalam maupun luar kampus, keduanya membentuk mahasiswa menjadi warga yang lebih peka, tidak mudah terjebak framing, dan tetap memelihara nalar kritis sebagai pilar demokrasi.

 

Penulis: Gama (nama disamarkan)

Penyunting: Adista Putri Revalina

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done