JANGAN DIANGGAP SEPELE! TERNYATA INI DAMPAK DARI LINGKUNGAN YANG TOXIC - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

JANGAN DIANGGAP SEPELE! TERNYATA INI DAMPAK DARI LINGKUNGAN YANG TOXIC

 

Ketika raga lelah setelah seharian beraktivitaspilihan satu-satunya adalah pulang ke rumah. Namun, alih-alih menjadi tempat beristirahat, suasana yang tidak nyaman justru kembali menyelimuti. Hal-hal yang seharusnya wajar, bahkan sepele, perlahan berubah menjadi senjata dengan peluru yang menyakitkan hati. Kalimat, nada bicara, hingga sikap yang tampak biasa, ternyata meninggalkan luka yang tidak terlihat.

Kondisi semacam ini kerap terjadi dalam apa yang dikenal sebagai lingkungan toxic. Lingkungan toxic merupakan situasi yang secara konsisten menimbulkan tekanan emosional, stres, dan dampak negatif terhadap kesejahteraan individu. Lingkungan ini tidak hadir dalam satu kejadian tunggal, melainkan terbentuk dari pola yang berulang. Tanpa disadari, individu yang berada di dalamnya akan mengalami tekanan psikologis secara perlahan namun terus-menerus.

Dampak dari lingkungan toxic tidak dapat dipandang sebelah mata. Stres dan kecemasan menjadi keluhan yang paling sering muncul, diikuti oleh penurunan konsentrasi dan produktivitas. Dalam jangka waktu tertentu, individu juga dapat mengalami perubahan perilaku sosial, seperti menarik diri, mudah tersinggung, hingga kehilangan motivasi. Dampak yang paling krusial adalah; munculnya dorongan untuk pergi, menghindar, atau menjauh sebagai bentuk perlindungan diri.

Sebaliknya, manusia cenderung merasa betah berada di lingkungan yang sehat. Hal ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar manusia. Dalam teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, setelah kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan istirahat terpenuhi, manusia akan mencari rasa aman dan nyaman. Lingkungan yang tidak menimbulkan rasa takut, tekanan, atau ancaman emosional memberikan ketenangan yang dibutuhkan individu untuk bertahan dan berkembang.

Inilah alasan mengapa lingkungan yang sehat mampu membuat seseorang merasa diterima dan tenang secara psikologisrasa aman menciptakan ruang bagi individu untuk berpikir jernih, berinteraksi secara positif, serta dapat menjalankan aktivitas tanpa beban mental yang berlebihan.

Lantas, apa yang perlu dilakukan ketika harus berhadapan dengan lingkungan yang toxic? Langkah yang paling rasional adalah menjaga jarakjika memungkinkan, menjauh dari lingkungan tersebut. Mengingat dampak yang ditimbulkan bersifat sistematis dan berulang, bertahan terlalu lama dalam lingkungan toxic justru berisiko merusak kesehatan mental dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, memilih lingkungan yang sehat bukanlah bentuk keegoisan, melainkan upaya menjaga diri. Lingkungan yang aman dan nyaman seharusnya menjadi tempat untuk pulang, bukan sumber luka yang terus berulang.

 

Penulis: Athorix Khrisna Asmara Widi

Penyunting:  Adista Putri Revalina

 

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done