Ketika raga lelah setelah seharian beraktivitas—pilihan satu-satunya adalah pulang ke
rumah. Namun, alih-alih menjadi tempat beristirahat, suasana yang tidak nyaman
justru kembali menyelimuti. Hal-hal yang seharusnya wajar, bahkan sepele,
perlahan berubah menjadi senjata dengan peluru yang menyakitkan hati. Kalimat,
nada bicara, hingga sikap yang tampak biasa, ternyata meninggalkan luka yang
tidak terlihat.
Kondisi semacam
ini kerap terjadi dalam apa yang dikenal sebagai lingkungan toxic.
Lingkungan toxic merupakan situasi yang secara konsisten menimbulkan tekanan
emosional, stres, dan dampak negatif terhadap kesejahteraan individu.
Lingkungan ini tidak hadir dalam satu kejadian tunggal, melainkan terbentuk
dari pola yang berulang. Tanpa disadari, individu yang berada di dalamnya akan
mengalami tekanan psikologis secara perlahan namun terus-menerus.
Dampak dari
lingkungan toxic tidak dapat dipandang sebelah mata. Stres dan kecemasan
menjadi keluhan yang paling sering muncul, diikuti oleh penurunan konsentrasi
dan produktivitas. Dalam jangka waktu tertentu, individu juga dapat mengalami
perubahan perilaku sosial, seperti menarik diri, mudah tersinggung, hingga
kehilangan motivasi. Dampak yang paling krusial adalah; munculnya dorongan
untuk pergi, menghindar, atau menjauh sebagai bentuk perlindungan diri.
Sebaliknya,
manusia cenderung merasa betah berada di lingkungan yang sehat. Hal ini bukan
sekadar persoalan kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar manusia. Dalam teori
hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, setelah
kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan istirahat terpenuhi, manusia
akan mencari rasa aman dan nyaman. Lingkungan yang tidak menimbulkan rasa
takut, tekanan, atau ancaman emosional memberikan ketenangan yang dibutuhkan
individu untuk bertahan dan berkembang.
Inilah alasan
mengapa lingkungan yang sehat mampu membuat seseorang merasa diterima dan
tenang secara psikologis—rasa aman menciptakan ruang bagi
individu untuk berpikir jernih, berinteraksi secara positif, serta dapat menjalankan
aktivitas tanpa beban mental yang berlebihan.
Lantas, apa
yang perlu dilakukan ketika harus berhadapan dengan lingkungan yang toxic?
Langkah yang paling rasional adalah menjaga jarak—jika memungkinkan, menjauh dari lingkungan tersebut.
Mengingat dampak yang ditimbulkan bersifat sistematis dan berulang, bertahan
terlalu lama dalam lingkungan toxic justru berisiko merusak kesehatan mental
dalam jangka panjang.
Pada akhirnya,
memilih lingkungan yang sehat bukanlah bentuk keegoisan, melainkan upaya
menjaga diri. Lingkungan yang aman dan nyaman seharusnya menjadi tempat untuk
pulang, bukan sumber luka yang terus berulang.
Penulis:
Athorix Khrisna Asmara Widi
Penyunting: Adista Putri Revalina