Kampus, Gunung Es Kekerasan, dan Kegagalan Membaca Yang Tak Tampak
( Ilustrasi: Daffa )
Kasus pelecehan seksual yang kembali mencuat di lingkungan kampus termasuk kasus pelecehan verbal dengan banyak pelaku di Universitas Indonesia, tidak bisa lagi dibaca sebagai deviasi individual semata. Cara pandang tersebut justru menyederhanakan persoalan dan dalam banyak kasus, menutup kemungkinan untuk memahami akar masalah secara lebih mendalam. Yang terlihat di ruang publik hanyalah fragmen kecil “puncak gunung es” sementara lapisan terbesar justru tersembunyi dalam struktur psikologis pelaku, pengalaman masa kecil, dan kegagalan sistem pendidikan dalam membentuk kesadaran etis.
Gunung Es Psikologis: Dorongan yang Tak Terkelola
Dalam struktur kepribadian Freud—id, ego, dan superego—pelecehan seksual dapat dipahami sebagai dominasi id (dorongan instingtual, termasuk libido) yang tidak berhasil dikendalikan oleh ego (rasionalitas) maupun superego (moralitas).
Ketika individu sejak kecil tidak mendapatkan pendidikan seksual yang memadai, tidak dikenalkan pada batas tubuh, serta tumbuh dalam lingkungan minim afeksi, maka superego gagal berkembang secara optimal. Akibatnya, dorongan biologis tidak memiliki “rem” etis yang kuat.
Penelitian klasik oleh John Bowlby dalam attachment theory menegaskan bahwa relasi awal antara anak dan pengasuh menjadi fondasi utama bagi perkembangan sosial-emosional. Ketika relasi ini rapuh ditandai oleh pengabaian, kekerasan, atau kurangnya kehangatan , anak berisiko mengembangkan pola perilaku agresif atau menyimpang di kemudian hari.
Sublimasi yang Gagal dan Jalan Pintas yang Menyimpang
Dalam konteks ini, pandangan akademisi dan psikolog Feri Faila Sufa menjadi relevan untuk dibaca secara kritis:
“Pelaku perlu diarahkan pada kegiatan positif untuk menyalurkan energi biologisnya. Jika tidak, ia akan terus mencari jalan yang salah.”
Pernyataan ini secara implisit merujuk pada konsep sublimasi dalam psikoanalisis yakni mekanisme mengalihkan dorongan instingtual ke aktivitas yang produktif. Ketika ruang sublimasi tidak tersedia, atau individu tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya, maka dorongan tersebut mencari “jalan pintas” dalam bentuk perilaku menyimpang.
Ia menambahkan:
“Perlu terapi kognitif untuk memperbaiki cara berpikir pelaku. Namun, jika kondisinya sudah parah, harus ada intervensi lebih lanjut, dimulai dengan tes psikologi untuk mengetahui tingkat ketergantungan pada perilaku menyimpang.”
Pendekatan ini sejalan dengan temuan William L. Marshall yang menunjukkan bahwa pelaku kekerasan seksual sering memiliki distorsi kognitif , misalnya menganggap perilakunya “wajar” atau “tidak merugikan korban”. Tanpa intervensi psikologis, distorsi ini akan terus direproduksi.
Kampus dan Negara: Memelihara Permukaan, Mengabaikan Kedalaman
Masalahnya, baik kampus maupun negara cenderung bekerja di level permukaan. Penanganan kasus lebih fokus pada sanksi administratif atau hukum, tanpa menyentuh akar psikologis dan kultural.
Padahal, seperti ditegaskan :
“Perlu ada langkah radikal melalui pendidikan dan diskusi berkelanjutan. Pemerintah harus lebih agresif, jangan hanya formalitas. Gerakan moral itu penting, apalagi sekarang bisa lebih mudah dengan digitalisasi.”
Kritik ini menyoroti kegagalan negara dalam membangun pendekatan preventif. Pendidikan seksual masih dianggap tabu, kesehatan mental belum menjadi prioritas, dan diskursus tentang consent belum terinstitusionalisasi secara serius.
Akibatnya, kampus hanya menjadi ruang reaktif menangani kasus setelah terjadi, bukan mencegahnya sejak awal.
Menggugat Cara Kita Memahami Pelaku
Membaca pelecehan seksual melalui metafora gunung es memaksa kita untuk keluar dari simplifikasi moral. Pelaku bukan hanya “orang jahat”, tetapi produk dari sistem yang gagal, gagal memberi kasih sayang, gagal mendidik, dan gagal membangun kesadaran.
Namun, memahami bukan berarti memaklumi. Justru sebaliknya: pemahaman yang lebih dalam menuntut intervensi yang lebih serius. Tanpa pembenahan pada level paling dasar keluarga, pendidikan, dan budaya maka pelecehan seksual akan terus berulang, dengan wajah yang berbeda tetapi akar yang sama.
Kampus pun akan terus memproduksi paradoks: ruang intelektual yang canggih, tetapi gagal membaca kedalaman manusia itu sendiri.
Penulis: Oliviana dan Jonathan
Penyunting: Ghulamy Tathmainul Qalby
