Riuh Representasi, Sunyi Substansi: Catatan untuk Arah Gerakan Mahasiswa
Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika organisasi kemahasiswaan memperlihatkan kecenderungan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Aktivitas tampak semakin padat, publikasi semakin rapi, dan simbol-simbol representasi hadir silih berganti dalam ruang digital maupun forum seremonial. Pada permukaan, semua itu terlihat sebagai tanda kehidupan yang sehat. Namun ketika diamati lebih dalam, muncul pertanyaan yang tak selalu nyaman diajukan: apakah keramaian tersebut benar-benar menandakan perubahan, atau sekadar memastikan bahwa representasi tetap terlihat bekerja?
Kecenderungan menempatkan tampilan sebagai ukuran keberhasilan perlahan membentuk cara pandang baru dalam gerakan mahasiswa. Keberadaan organisasi tidak lagi terutama diukur dari dampak sosial yang dihasilkan, melainkan dari intensitas kemunculan di ruang publik. Dokumentasi menjadi bukti utama kerja, sementara refleksi sering kali tertinggal. Di titik inilah pergeseran orientasi mulai terasa dari kerja nilai menuju kerja citra.
Ruang kepemimpinan mahasiswa semestinya menjadi jembatan aspirasi publik kampus menghadapi tantangan serius. Bahasa-bahasa advokasi tetap diucapkan, tetapi keberanian mengambil posisi tidak selalu mengikutinya. Kritik diterima sepanjang tidak mengguncang stabilitas dan pertanyaan dipelihara sejauh tidak mengganggu kenyamanan relasi. Akibatnya, gerakan tetap bergerak secara administratif, namun kehilangan daya dorong etik yang seharusnya menjadi ruhnya.
“Ketika representasi lebih sibuk terlihat bekerja daripada benar-benar bekerja, di situlah gerakan mulai kehilangan maknanya.”
Situasi ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari budaya organisasi yang semakin menekankan pengelolaan citra dibanding pengelolaan keberpihakan. Logika popularitas perlahan menyusup ke dalam praktik kepemimpinan mahasiswa, menjadikan visibilitas sebagai tujuan tersendiri. Dalam kondisi demikian, keberanian sering dianggap risiko sementara kehati-hatian yang berlebihan dipersepsikan sebagai kebijaksanaan.
Padahal, sejarah panjang gerakan mahasiswa menunjukkan arah yang berbeda. Gerakan memperoleh legitimasi bukan karena kerapian acaranya, melainkan karena keberanian sikapnya. Ia diingat bukan karena ramai dokumentasi, tetapi karena jelas keberpihakannya. Ketika jarak kritis terhadap kekuasaan melemah; termasuk terhadap kekuasaan representatif di dalam dirinya sendiri, gerakan perlahan berubah menjadi rutinitas yang kehilangan daya transformasi.
“Gerakan mahasiswa tidak pernah runtuh oleh ketiadaan kegiatan, melainkan oleh hilangnya keberanian.”
Di tengah kecenderungan tersebut, masih terdapat ruang-ruang kecil yang memilih jalan berbeda. Ruang yang tidak selalu terlihat, tidak selalu populer, dan sering berjalan dengan keterbatasan. Kerja mereka berfokus pada pencatatan, pengujian, serta perawatan ingatan kolektif kampus. Mereka hadir bukan untuk meramaikan panggung, tetapi untuk memastikan bahwa nilai tidak sepenuhnya tenggelam dalam rutinitas.
Langkah semacam ini kerap tertatih. Dukungan terbatas, fasilitas sederhana, bahkan sesekali berhadapan dengan keheningan yang tidak netral. Namun justru dari posisi rentan tersebut lahir fungsi penting dalam ekosistem akademik: kontrol moral terhadap kekuasaan representatif. Fungsi yang jarang terlihat, tetapi menentukan kesehatan intelektual kampus dalam jangka panjang.
Tanpa kontrol moral, kepemimpinan mahasiswa berisiko berubah menjadi sekadar administrasi partisipasi aktif secara prosedural, namun lemah secara keberpihakan. Mahasiswa belajar mengelola forum, tetapi tidak belajar mengelola keberanian. Terampil menyusun pernyataan, tetapi ragu mempertahankan kebenaran ketika berhadapan dengan tekanan. Pendidikan demokrasi kehilangan kedalamannya ketika keberanian tidak lagi dipraktikkan.
“Kampus tidak kekurangan kegiatan. Yang sering hilang adalah keberanian untuk jujur.”
Persoalan ini pada akhirnya melampaui batas organisasi tertentu. Ia menyentuh arah etika gerakan mahasiswa secara keseluruhan. Jika representasi terus bergerak tanpa refleksi, maka aktivisme berisiko bergeser menjadi seremonial. Ia tetap berbicara, tetapi tidak lagi mengubah. Ia tetap hadir, tetapi tidak lagi menggugah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan generasi yang aktif secara administratif namun miskin sensitivitas sosial.
Keramaian tentu bukan sesuatu yang harus ditolak. Energi kolektif, koordinasi, dan komunikasi tetap merupakan kebutuhan nyata dalam kehidupan kemahasiswaan. Namun keramaian tanpa kedalaman hanya melahirkan gema sesaat. Sebaliknya, kerja sunyi yang menjaga nilai sering kali justru menentukan arah kesadaran jangka Panjang, meski tidak selalu mendapatkan sorotan.
Pertanyaan mendasarnya menjadi sederhana namun menentukan: apakah kepemimpinan mahasiswa hadir untuk mengelola citra gerak, atau benar-benar menggerakkan perubahan?
Jawaban atas pertanyaan ini akan membentuk wajah kemahasiswaan di masa depan; apakah tetap menjadi ruang pembelajaran keberanian sosial atau berubah menjadi panggung representasi yang sibuk tetapi dangkal.
Pada akhirnya, waktu akan menyaring seluruh bentuk gerak. Bukan siapa yang paling sering tampil, melainkan siapa yang tetap setia menjaga nilai ketika sorotan telah redup. Dari situlah makna gerakan mahasiswa akan kembali diukur. Bukan oleh riuhnya representasi, tetapi oleh keteguhan substansi.
Penulis: Senja
Penyunting: Adista Putri Revalina
