Dari Ngada, Sepucuk Surat yang Menjadi Tamparan bagi Negara - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Dari Ngada, Sepucuk Surat yang Menjadi Tamparan bagi Negara

  

Sumber foto: Humas Polres Ngada, dikutip dari Kompas.id

 

 

Kematian seorang siswa sekolah dasar di Kecamatan Jerebu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dipandang sebagai peristiwa individual semata. Di balik kepergian seorang anak berusia 10–11 tahun itu, tersimpan potret nyata tentang kemiskinan, rapuhnya perlindungan anak, dan kegagalan negara menghadirkan pendidikan yang benar-benar melindungi.

 

Anak tersebut ditemukan meninggal dunia tergantung di pohon cengkeh, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada sang ibu. Pesannya singkat dan sederhana, namun menyayat: “Mama, kalau saya mati, jangan cari saya.” Kalimat itu bukan hanya ungkapan perpisahan seorang anak, melainkan teriakan sunyi dari keputusasaan yang tak pernah tertangkap oleh sistem di sekitarnya.

 

Berdasarkan pemberitaan Kompas.id, dugaan pemicu peristiwa ini adalah ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaan uang kurang dari Rp10.000 untuk membeli buku dan pena. Fakta ini menghadirkan ironi yang pahit. Di tengah kewajiban negara menjamin pendidikan dasar bagi setiap anak, masih ada siswa yang merasa masa depannya runtuh hanya karena kebutuhan sekolah paling mendasar tidak terpenuhi.

 

Korban berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Sang ibu adalah seorang janda yang menanggung lima anak dan bekerja sebagai petani serta buruh serabutan. Untuk meringankan beban ekonomi, korban tinggal bersama neneknya yang telah lanjut usia di sebuah pondok sederhana. Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan tidak hanya menggerus materi, tetapi juga harapan dan kesehatan mental anak.

 

Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi negara, khususnya dalam melihat kembali makna “pendidikan gratis”. Pendidikan dasar tidak cukup dimaknai sebatas bebas biaya sekolah, tetapi juga harus menjamin akses terhadap buku, alat tulis, serta lingkungan belajar yang aman secara psikologis. Ketika aspek-aspek ini diabaikan, sekolah berpotensi menjadi ruang tekanan, bukan ruang perlindungan.

 

Lebih jauh, peristiwa ini memperlihatkan minimnya perhatian terhadap kesehatan mental anak di tingkat sekolah dasar. Anak-anak hidup di era keterbukaan informasi dan penggunaan internet yang semakin bebas, sementara pendampingan psikologis nyaris tidak tersedia. Usulan kepala desa agar sekolah dibekali guru konselor atau pendamping psikolog seharusnya menjadi perhatian serius, bukan sekadar respons sementara atas tragedi.

 

Sebagai mahasiswa, peristiwa ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Negara, masyarakat, institusi pendidikan, dan lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab kolektif untuk memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi hidupnya. Sepucuk surat dari Ngada itu adalah pengingat bahwa kegagalan melindungi anak adalah kegagalan kita bersama.

 

Jika tragedi ini hanya berhenti sebagai berita duka tanpa perubahan kebijakan dan empati yang nyata, maka tamparan itu akan berlalu begitu saja sementara anak-anak yang lain mungkin masih memikul beban yang sama dalam diam.

 

Catatan Redaksi/Penulis

Tulisan ini merupakan opini penulis yang bertujuan mendorong refleksi kritis terhadap perlindungan anak dan sistem pendidikan di Indonesia. Pembahasan dilakukan dengan mengedepankan etika jurnalistik serta tidak dimaksudkan untuk mengglorifikasi tindakan menyakiti diri. Pembaca yang mengalami tekanan psikologis atau membutuhkan bantuan kesehatan mental dianjurkan untuk mencari pendampingan profesional melalui tenaga kesehatan atau layanan kesehatan terdekat.

 

Sumber:

  1. Herin, Frans Pati. “Anak SD Bunuh Diri Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan Bagi Negara”, Kompas.id.
  2. Laporan Jurnalis NTV, Elpin Basan, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
  3. Keterangan Polres Ngada dan perangkat Desa Nenawea.

 

 

Penulis : Luftwaffe D. Kavinara

Penyunting : Lathifah An Najla

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done