Di Desa Sentani, kebenaran diukur dengan penggaris. Setiap
rumah, taman, hingga letak cangkir di atas meja harus tunduk pada hukum
simetri. Penduduknya percaya bahwa ketidakseimbangan adalah pintu masuk bagi
nasib buruk. Namun, obsesi ini paling nyata terlihat di galeri-galeri
pemahatnya. Arga, seorang pemahat yang rambutnya telah memutih tertutup debu marmer, telah menghabiskan lima puluh tahun hidupnya mengikuti cetakan besi. Di desa itu,
pemahat tidak menggunakan imajinasi mereka
menggunakan cetakan standar
agar setiap patung yang dihasilkan serupa satu sama lain. Sempurna,
mulus, mengkilap, dan bagi Arga yang mulai jenuh sangat membosankan.
Suatu malam, saat cahaya bulan masuk melalui celah jendela
studionya, Arga menatap bayangannya di dinding. Ia tersentak. Bayangannya
tampak samar, hampir transparan. Ia merasa bahwa dengan setiap patung identik
yang ia buat, sebagian dari jiwanya menguap. Ia sedang kehilangan dirinya
sendiri karena terus menjadi mesin peniru. Keesokan paginya, sebuah palu godam
menghantam cetakan besi milik Arga. Suara dentingnya mengejutkan seluruh desa.
Arga tidak peduli. Ia berdiri di depan bongkahan marmer carrara yang masih
murni. Ia tidak lagi melihat sketsa. Ia membiarkan jemarinya meraba permukaan
batu, merasakan retakan-retakan alami dan mengikuti urat batu yang tersembunyi.
Ia memahat dengan tangan yang gemetar. Bukan karena ia
takut, tapi karena otot-ototnya sedang mempelajari cara menjadi bebas. Pahatnya
tidak lagi bergerak lurus. Ia mengikuti lekukan yang ganjil. Selama tiga hari
tiga malam, Arga tidak tidur. Ia
tidak sedang membuat patung; ia sedang membebaskan sesuatu yang terperangkap di
dalam batu itu. Hasilnya? Sebuah patung manusia yang aneh. Bahunya miring
sebelah seolah sedang memikul beban berat. Wajahnya tidak
rata satu matanya tampak
sedikit tertutup, memberikan kesan
ia sedang menahan tangis atau
mungkin sedang bermimpi.
Penduduk desa berkumpul di depan studionya. Cemoohan pecah
seketika. "Arga, kau sudah gila? Lihat
sisi kirinya, tidak sama dengan sisi
kanannya!" seru kepala desa. "Ini bukan karya ahli, ini
sampah! Ini adalah kecacatan yang memalukan!" teriak pemahat lain yang
bangga dengan cetakan mereka.
Arga hanya tersenyum tipis, matanya yang lelah menatap matahari yang mulai terbenam.
Saat cahaya oranye terakhir menyentuh desa, sebuah pemandangan ajaib tercipta.
Patung-patung simetris di sepanjang jalan desa menghasilkan bayangan yang
lurus, kaku, dan datar di atas tanah mati ditelan gelap.
Namun, patung milik
Arga yang miring
itu menangkap cahaya
dengan cara yang berbeda. Karena permukaannya yang tidak rata, cahaya
memantul ke sudut-sudut yang tak terduga.
Di atas tanah, bayangan patung
itu tampak bergetar, seolah otot-otot batunya sedang bergerak. Bayangan itu
tampak hidup, tampak bernapas.
Tiba-tiba, sebuah kereta kuda mewah berhenti. Seorang kolektor seni dari kota besar
turun. Ia berjalan melewati ribuan patung sempurna di galeri-galeri lain tanpa
menoleh sedikit pun. Matanya terkunci pada karya Arga yang berdiri di tengah
cemoohan warga. Kolektor itu berlutut, menyentuh tekstur
kasar pada wajah
patung itu. "Luar biasa," bisiknya parau. "Selama
ini saya hanya melihat benda mati di desa ini. Tapi yang satu ini. Ia memiliki
rahasia. Ia memiliki cerita."
Arga berdiri di sana,
melihat bayangannya sendiri di tanah yang kini kembali
pekat dan nyata. Ia menyadari
sebuah kebenaran besar yang selama ini terkunci di Desa Sentani: Keahlian
bukanlah tentang seberapa rapi kita mengikuti aturan atau seberapa halus kita
menyembunyikan retakan. Keahlian
adalah tentang keberanian untuk menunjukkan luka dalam
karya kita, karena di sanalah kehidupan benar-benar bermula.
Penulis: Nadine Bunga Berliana
Penyunting: Adista Putri Revalina