Sumber foto: Ahmad Nufail
Sejumlah demonstran yang tergabung dalam gerakan #SlametRiyadiMemanggil memulai titik kumpul di Simpang Empat Pasar Pon, Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta pada Rabu (28/10/2026). Sedari awal demonstrasi dibuka dengan sejumlah orasi, disusul aksi tiga jari, dilanjutkan longmarch menuju Monumen Slamet Riyadi, dan diakhiri pembacaan tuntutan.
Surakarta
– Demonstrasi
#SlametRiyadiMemanggil memang telah usai. Meski demikian, aksi ini meninggalkan
serangkaian tuntutan. Lalu, apa saja tuntutannya?
Seperti
yang telah terjadi aksi ini digelar pada Rabu (28/10/2026). Dalam aksi yang
bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda massa berkenakan atribut hitam terlihat
berkumpul dan memadati persimpangan Pasar Pon, Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan
Banjarsari, Kota Surakarta.
Demo
yang dimotori oleh Aliansi BEM Solo Raya (SR) dan Aliansi Mahasiswa UNS tersebut,
dibuka serangkaian orasi berbagai pihak dan dilanjutkan dengan long march menuju
patung Slamet Riyadi di kawasan Gladag, Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota
Surakarta.
Di
sana, massa diwakili Ketua BEM UNISRI Daffa Adnanabi mendesak pemerintah pusat
lewat sejumlah tuntutan.
Dilansir
dari LPM Locus sejumlah tuntutan tersebut di antaranya:
1. Penetapan status bencana nasional pada
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terkini.
2. Desakan segera atas penerbitan Perpres-Perda
tentang standardisasi upah minimum guru honorer setara Upah Minimum Provinsi
(UMP) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
3. Evaluasi anggaran program MBG dan
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), alokasikan dana sesuai urgensi dan kebutuhan
masyarakat.
4. Stabilkan nilai tukar rupiah
sesegera mungkin.
5. Melakukan audit atas transparasi
Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Percepatan Penghapusan Kemiskinan
Ekstrem (P3KE), serta pemulihan kekeliruan data masyarakat dalam penetapan
desil.
6. Penghentian eksploitasi alam dan konflik
agraria yang mengabaikan hak kelola rakyat.
7. Menjamin ruang sipil aman dan
terbebas dari kekerasan aparat.
Wakil
Menteri Aksi Kreatif dan Propaganda BEM UNS, Muhammad Muhajir Abdul Ghofar, menyebut
bahwa aksi kali ini sengaja dibedakan dari aksi-aksi sebelumnya. Karena, aksi
tersebut dilakukan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, mulai dari persimpangan dekat
Koridor Gatsu hingga monumen Slamet Riyadi di kawasan Gladag.
“Kita
melihat Gatsu ini sebagai sentral kota Surakarta di mana memang dilihat oleh
publik. (Harapannya) orang-orang bisa melihat, orang-orang bisa tahu,”
ucap Muhajir kepada awak media.
Ia
juga menyebutkan bahwa dilakukannya demonstrasi di tanggal 28 Oktober yang
bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, tidak hanya dimaknai sebagai ikrar pada golongan
muda—tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat.
Lebih
lanjut Muhajir juga membeberkan bahwa aksi hari ini membawa tema besar bertajuk
#IndonesiaSadar yang bermula di Jakarta.
Menurutnya,
aksi unjuk rasa ini bertujuan membangun kesadaran publik atas kondisi bangsa
Indonesia hari ini. Oleh karena itu, tuntutan-tuntutan yang dibacakan memiliki skala
nasional dan ditujukan kepada pemerintah pusat. Meski kali ini tidak melibatkan
partisipasi pada isu daerah, namun ia meyakinkan untuk dilibatkan pada
demonstrasi mendatang.
“Saya
rasa nanti kita akan libatkan semua elemen manapun” tutup Muhajir.
Reporter:
Aryo, Koko, Indra, Shala, Yuta, Nufail
Penulis:
Aryo
Penyunting:
Adista
