Ketika Kemarau Datang Lagi: Wonogiri dan Pacitan Perlu Lebih dari Sekadar Siaga Darurat - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Ketika Kemarau Datang Lagi: Wonogiri dan Pacitan Perlu Lebih dari Sekadar Siaga Darurat


Kemarau di Wonogiri dan Pacitan selalu membawa pemandangan yang sama: warga menunggu giliran air bersih, rumput dan semak kering mudah tersulut api, dan pemerintah baru bergerak ketika keadaan sudah memburuk. Tahun 2026 menambah kekhawatiran itu. BMKG menyatakan musim kering kali ini berpotensi lebih lama dan lebih terik karena pengaruh El Nino, dengan puncak yang diperkirakan jatuh pada Agustus hingga September. Kedua kabupaten ini termasuk wilayah yang masuk daftar peringatan dini kekeringan dari BMKG.

Gejalanya sudah nyata. Pada awal Agustus 2026, BPBD Wonogiri menerima laporan kekeringan dari 19 desa yang tersebar di enam kecamatan, dan kabupaten ini ikut menetapkan status siaga darurat kekeringan seperti sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Api pun tak kunjung reda. BNPB mencatat kebakaran lahan di Wonogiri yang menghanguskan sekitar 2,5 hektare pada 5 Agustus 2026, dan di hutan wilayah Kismantoro, penyebabnya diduga puntung rokok yang dibuang begitu saja.

Cepat Bertindak, tetapi Terlambat Mencegah

Langkah pemerintah daerah layak dihargai: air bersih dikirim ke desa-desa, dana khusus dialokasikan, dan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD hingga pemadam kebakaran, dikumpulkan dalam apel kesiapsiagaan karhutla. Meski begitu, dari kacamata administrasi negara, ada kecenderungan yang patut dikoreksi. Energi kita lebih banyak terserap untuk menanggapi kejadian ketimbang mencegahnya. Kita cukup siap saat api menyala dan sumur mengering, tetapi belum jelas apakah kita siap agar hal serupa tidak terulang musim depan.

Yang membuat persoalan ini ironis adalah sifatnya yang sebenarnya dapat diduga. Kontur wilayah yang berbukit dan berbatu kapur membuat air sulit bertahan, dan kemarau datang dengan jadwal yang pasti. Ketika masalah yang bisa diramalkan terus diurus dengan pola darurat, kesalahannya terletak pada pengelolaan, bukan pada cuaca.

Tiga Titik Lemah dalam Pengelolaan

Pertama, kerja sama yang berhenti di panggung. Kata "sinergi" sering terdengar mantap dalam apel dan siaran pers. Namun masyarakat berhak mengetahui siapa memegang tanggung jawab apa dan bagaimana keberhasilannya diukur. Tanpa kejelasan itu, sinergi tinggal jargon.

Kedua, pencegahan yang hanya mengandalkan seruan. Mengingatkan warga agar tidak membakar lahan dan tidak membuang puntung rokok sembarangan memang penting, tetapi seruan saja tidak menghasilkan perubahan perilaku. Dibutuhkan penyuluhan berkelanjutan hingga ke tingkat desa, mekanisme peringatan dini yang benar-benar menjangkau warga, dan penegakan aturan yang berlaku adil.

 

Ketiga, bantuan air yang hanya menambal gejala. Tangki air membantu hari ini, tetapi tidak menghilangkan kerentanan. Wilayah yang langganan kering memerlukan penyediaan sarana jangka panjang, seperti embung, sumur resapan, penampung air hujan, dan pemulihan lahan, yang masuk dalam rencana pembangunan daerah dan tidak bergantung pada dana tanggap darurat.

Arah yang Perlu Ditempuh

Pemkab Wonogiri dan Pacitan sebaiknya menempatkan kekeringan dan karhutla sebagai bagian dari agenda pembangunan, bukan semata urusan penanggulangan bencana. Pemetaan desa rawan perlu menjadi pijakan dalam menyusun rencana dan anggaran. Pemerintah desa juga harus dibekali, misalnya dengan relawan pemadam yang terlatih dan peralatan yang layak.

Selain itu, data kejadian dan realisasi anggaran perlu dibuka agar publik dapat turut mengawasi.

Masyarakat memegang bagian yang tak kalah penting. Tidak menyalakan api di lahan, menjauhkan puntung rokok dari semak kering, dan cepat melapor saat melihat titik api adalah langkah sederhana yang bisa menyelamatkan banyak hal.

Kemarau akan kembali pada tahun-tahun mendatang. Maka pertanyaannya, apakah kita akan terus menghadapinya dengan cara lama, atau mulai membangun sistem yang membebaskan warga Wonogiri dan Pacitan dari ketergantungan pada tangki air dan kesigapan petugas pemadam? Jawabannya bergantung pada kemauan pemerintah untuk beralih dari sekadar menanggulangi menjadi mencegah. 


Penulis: Aufaa Raihaan R., Mahasiswa Administrasi Negara, Universitas Slamet Riyadi
Surakarta

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done