(Sumber Foto: Adyuta Rafi Warabrata)
Akhir-akhir
ini tampaknya banyak festival musik yang
diselenggarakan di Indonesia, seperti PESTA PORA , WE THE
FEST, CHERRYPOP FEST dan mungkin masih banyak lagi. Dan
untuk yang paling dekat dengan waktu artikel ini di tulis akan ada festival
musik yang di selenggarakan di De Tjolomadoe yaitu PROJEK- D vol 5,
festival musik PROJEK-D ini sudah di selenggarakan sejak 29 Oktober 2022 dan di
festival ini banyak mengundang beragam musisi dari berbagai lintas generasi dan
genre musik. Di balik hiruk pikuk
lampu sorot panggung dan ribuan masa yang bernyanyi bersama, pertunjukan musik
secara langsung telah mengalami perubahan paradigma. Musik tidak lagi berdiri
sebagai hiburan yang hanya bisa di dengar, melainkan sebagai fondasi ekosistem
yang baru bagi para seniman untuk berkolaborasi bersama. Kini festival musik
telah menjadi sebuah laboratorium kreatif terbuka bagi para seniman musik untuk
memunculkan sebuah ide yang jarang terjadi di panggung konser tunggal, seperti
ide untuk mempertemukan lintas genre dan generasi yang membuka jalan untuk
eksplorasi musik baru, memicu lahirnya proyek kolaborasi antar genre serta
memperluas basis pendengar secara drastis.
Di
panggung festival musik sekarang kita juga dapat melihat perpaduan antara seni
audio dengan elemen visual yang menarik, tata panggung yang dirancang secara
khusus dengan menggabungkan tata cahaya yang mutakhir, penerapan teknologi
projection mapping dan grafis layar LED yang menyatu dengan detak tempo musik
dengan tujuan untuk menciptakan narasi visual yang dinamis dan memperkuat
cerita di balik layar dari sang musisi. Hal ini tentunya tidak luput dari
terlibatnya seniman rupa, desainer grafis dan teknisi teknologi kreatif, mereka
ada untuk membangun instalasi seni di sekitar acara yang nantinya akan menambah
daya tarik dan menjadikan acara sebagai wadah pameran karya seni berskala
besar.
Dengan
maraknya festival musik sekarang sektor industri dan ekonomi mengalami
peningkatan yang cukup pesat, hal ini dapat di buktikan dengan adanya tren
festival Fashion yang di mana para pengunjung menjadikan festival musik sebagai
tempat untuk menunjukkan gaya berbusana yang unik. Bukan hanya itu saja ada
juga pengunjung yang menggunakan setelan busana kaos band sebagai bentuk
penggambaran bahwa orang tersebut menyukai band tersebut. Tren tersebut secara
tidak langsung mendongkrak penjualan busana lokal dan memacu peningkatan
ekonomi lokal. Dan di dalam sebuah festival musik biasanya kita juga dapat
melihat adanya para pedagang-pedagang lokal yang ikut serta untuk meramaikan
festival tersebut. Para pedagang ini bisa saja berasal dari sebuah usaha
mandiri atau sebuah Brand dagang ternama yang memang di undang untuk menarik
minat pengunjung festival, Hal ini secara tidak langsung juga mendongkrak
kenaikan ekonomi masyarakat dengan pesat dan menguatkan ekonomi masyarakat
sekitar.
Tanpa
kita sadari, pertunjukan musik langsung telah melampaui batas fungsinya dari
sekadar panggung hiburan menjadi kawah candradimuka bagi perkembangan ekosistem
kreatif. Festival musik berhasil membuktikan bahwa kolaborasi lintas genre dan
intergenerasi mampu melahirkan terobosan karya yang segar, sekaligus memberi
ruang eksplorasi yang lebih luas bagi para seniman. Di saat yang sama, dampak
positif ini meluas ke luar panggung memicu kreativitas para tenaga kreatif di
balik layar, menggerakkan tren Fashion dan industri merchandise lokal, hingga
memberdayakan para pelaku UMKM di sekitar lokasi acara. Pada akhirnya, festival
musik bukan hanya tempat merayakan melodi, melainkan juga wadah kolaborasi
multisektor yang secara nyata menguatkan perekonomian masyarakat lokal dan
membuka arah baru bagi masa depan industri kreatif Indonesia.
Penulis
: Adyuta Rafi Warabrata
Penyunting
: Ghulamy Tathmainul Qalby