Apa Arti Sebuah Rumah? - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Apa Arti Sebuah Rumah?

Ilustrasi: Athorix

 

 

Ia tumbuh di sebuah rumah yang dari luar terlihat baik-baik saja. Cat dindingnya tidak mengelupas, pagar besinya kokoh, dan lampu teras selalu menyala setiap malam. Rumah itu tidak kekurangan apa pun yang bisa dilihat mata. Orang-orang yang lewat mungkin akan berkata, keluarga mampu, hidup tercukupi, tidak ada alasan untuk mengeluh.

Namun tidak semua yang utuh di luar, selamat di dalam.

Sejak kecil, ia belajar memahami rumah bukan dari bentuknya, melainkan dari suara-suara yang mengisinya. Dari langkah kaki yang berat, dari pintu yang dibanting, dari nada bicara yang naik tanpa sebab jelas. Ia belajar bahwa diam sering kali lebih aman daripada bicara. Bahwa menunduk adalah cara paling cepat menghindari masalah.

Sebagai anak pertama, ia tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk menjadi anak. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa ada adik-adik yang harus dijaga, ibu yang sering diam terlalu lama, dan ayah yang emosinya datang seperti cuaca—tidak bisa diprediksi, tidak bisa ditawar. Ia belajar membaca situasi sejak dini: kapan harus menghilang, kapan harus pura-pura tidak mendengar.

Saat memasuki SMP, ia mulai membuat keputusan kecil yang kelak membentuk hidupnya. Ia memilih untuk tidak meminta. Bukan karena ia tidak butuh, bukan pula karena takut ditolak. Ia hanya tidak ingin berharap. Walau orang tuanya notabenenya mampu, ia tahu bahwa menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti hanya akan melelahkan hati. Maka ia berhenti berharap, pelan-pelan.

Uang saku sering ia dapat dari kakeknya. Rumah kakek itu sederhana, tapi tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada pintu dibanting. Di sana, ia bisa duduk tanpa merasa waspada. Dari kakeknya, ia belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus dijelaskan—kadang cukup dengan kehadiran.

Ia tidak punya handphone seperti teman-temannya. Ketika akhirnya kesempatan itu datang, syaratnya jelas: membersihkan rumah dua kali sehari selama sebulan penuh. Ia menjalani itu dengan patuh. Setiap pagi menyapu, setiap sore mengepel. Tidak ada protes. Tidak ada tawar-menawar. Ketika sebuah handphone akhirnya diberikan—pemberian pakdenya dari Jakarta—ia menerimanya dengan hati yang penuh. Ia menjaganya seperti menjaga sesuatu yang rapuh. Karena ia tahu, apa pun yang ia miliki bisa diambil kapan saja.

Dan benar saja.

Nilai ulangan harian dibagikan melalui grup orang tua. Dari sekian banyak mata pelajaran, hanya satu yang nilainya buruk. Satu. Tidak lebih. Namun satu itu cukup untuk menghapus semuanya. Tidak ada percakapan. Tidak ada kesempatan menjelaskan bahwa ia juga lelah, bahwa ia juga sedang belajar. Handphone itu disita. Dijual. Seolah benda itu tidak pernah berarti apa-apa.

Ia tidak menangis. Ia hanya diam.

Di kelas tiga SMP, ia membalas dengan cara yang tidak terlihat. Ia belajar lebih keras. Pulang sekolah langsung membuka buku. Nilainya stabil, selalu bagus, dan ia konsisten berada di peringkat tiga besar. Setiap lembar rapor ia lihat sendiri, berharap diam-diam akan ada pengakuan. Namun harapan itu kembali belajar satu hal: di rumah itu, keberhasilan tidak pernah lebih keras dari satu kesalahan lama.

Masuk SMK negeri, hidupnya tidak menjadi lebih mudah—hanya berubah wajah. Setiap pagi ia membawa kantong berisi risol mayo dan arem-arem buatan neneknya. Ia berjalan menyusuri kelas-kelas, menawarkan dagangan dengan senyum yang ia latih. Dagangannya hampir selalu habis. Dari situ ia belajar, bahwa lelah bisa terasa bermakna ketika hasilnya nyata.

Ia aktif di OSIS. Ia ikut lomba. Ia mencoba menjadi seseorang yang berguna di luar rumah. Di sekolah, ia dikenal rajin. Di rumah, ia tetap dianggap masalah. Setiap pulang sore, amarah seolah sudah menunggu di depan pintu.

Puncaknya terjadi saat ia mengikuti lomba pawartos—lomba baca berita bahasa Jawa. Latihan intens membuatnya sering pulang sore. Dan suatu hari, ia dipaksa memilih: berhenti berorganisasi atau berhenti sekolah sekalian. Dunia terasa sempit. Ia pergi ke sekolah, duduk di sudut ruangan, menangis di hadapan kakak-kakak kelasnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.

Negosiasi akhirnya terjadi. Ia diizinkan ikut lomba, dengan satu syarat: pulang jam empat sore. Ia menepati janji itu. Bahkan ketika peserta lain masih latihan, ia pulang sendiri. Dan ketika lomba itu selesai, ia meraih juara dua. Ia pulang dengan dada penuh, berharap rumah bisa menjadi tempat berbagi.

Namun rumah tetaplah rumah itu.

Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada kebanggaan. Hanya ibunya yang tersenyum kecil, diam-diam. Ayahnya memilih diam, seolah kemenangan itu tidak pernah ada.

Ia lalu menemukan pelarian dalam fotografi dan videografi. Ia memotret, mengedit, mendokumentasikan kegiatan sekolah. Hingga suatu sore, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Singkat. Menusuk.

“Wis koe rasah foto-foto. Rasah ngedit-ngedit. Skillmu ora ning kene. Golek bakat liyane.”

Air matanya jatuh tanpa suara. Menetes di antara tombol keyboard. Sejak sore itu, sesuatu di dalam dirinya ikut padam.

Di tahun yang sama, kecelakaan terjadi. Ia bersama adik bungsunya. Kedua kaki adiknya patah. Ia tidak disalahkan secara langsung, namun rasa bersalah tinggal lama. Malam sebelum kecelakaan, rumah kembali ricuh. Ayah memukul ibu. Adik kecilnya memeluk kaki ayah sambil menangis. Ia mencoba melindungi mereka. Ia dilempar hingga alisnya berdarah. Malam itu, ia melawan. Untuk pertama kalinya, ia memilih berdiri.

Sejak saat itu, rumah benar-benar kehilangan maknanya.

Kesalahan kecil menjadi alasan makian. Sapu yang kurang bersih, piring yang belum kering. Kata-kata kasar menjadi rutinitas. Hingga ia kuliah, dampaknya tidak pernah hilang. Tamparan, pukulan, dan tendangan bukan cerita asing. Kalimat paling menyakitkan terus terngiang: pembawa sial, tidak berguna, lebih baik mati.

Di bangku kuliah, ia mencoba hidup dengan ritme baru. Namun luka lama selalu menyusul. Setiap keberhasilan terasa hampa. Setiap kesalahan terasa berlipat. Kadang ia bingung: untuk terus melanjutkan hidup dengan sakit yang panjang, atau merasakan sakit sementara lalu mati dan hilang dari dunia.

Namun perlahan ia sadar, hidupnya bukan hanya miliknya sendiri. Ada ibu yang diam-diam bertahan. Ada adik-adik yang melihatnya sebagai contoh. Ada pasangan, sahabat, kakek, dan nenek yang berharap ia tetap ada. Ia mengerti satu hal: yang menginginkannya lenyap hanya satu orang. Yang menginginkannya hidup, jauh lebih banyak.

Kesadaran itu tidak menyembuhkan luka. Tapi cukup untuk membuatnya bertahan hari ini. Lalu besok. Ia belum menemukan arti rumah. Namun kini ia tahu—jika rumah tidak memberinya aman, ia akan membangunnya sendiri. Pelan-pelan. Dari hidup yang masih ia pertahankan.

 

Penulis: Athorix

Penyunting: Lathifah An Najla



Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done