Ilustrasi:
Athorix
Ia tumbuh di sebuah rumah
yang dari luar terlihat baik-baik saja. Cat dindingnya tidak mengelupas, pagar
besinya kokoh, dan lampu teras selalu menyala setiap malam. Rumah itu tidak
kekurangan apa pun yang bisa dilihat mata. Orang-orang yang lewat mungkin akan
berkata, keluarga mampu, hidup tercukupi, tidak ada alasan untuk mengeluh.
Namun tidak semua yang utuh
di luar, selamat di dalam.
Sejak kecil, ia belajar
memahami rumah bukan dari bentuknya, melainkan dari suara-suara yang
mengisinya. Dari langkah kaki yang berat, dari pintu yang dibanting, dari nada
bicara yang naik tanpa sebab jelas. Ia belajar bahwa diam sering kali lebih
aman daripada bicara. Bahwa menunduk adalah cara paling cepat menghindari
masalah.
Sebagai anak pertama, ia
tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk menjadi anak. Ia tumbuh dengan
kesadaran bahwa ada adik-adik yang harus dijaga, ibu yang sering diam terlalu
lama, dan ayah yang emosinya datang seperti cuaca—tidak bisa diprediksi, tidak
bisa ditawar. Ia belajar membaca situasi sejak dini: kapan harus menghilang,
kapan harus pura-pura tidak mendengar.
Saat memasuki SMP, ia mulai
membuat keputusan kecil yang kelak membentuk hidupnya. Ia memilih untuk tidak
meminta. Bukan karena ia tidak butuh, bukan pula karena takut ditolak. Ia hanya
tidak ingin berharap. Walau orang tuanya notabenenya mampu, ia tahu bahwa
menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak pasti hanya akan melelahkan
hati. Maka ia berhenti berharap, pelan-pelan.
Uang saku sering ia dapat
dari kakeknya. Rumah kakek itu sederhana, tapi tenang. Tidak ada teriakan,
tidak ada pintu dibanting. Di sana, ia bisa duduk tanpa merasa waspada. Dari
kakeknya, ia belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus dijelaskan—kadang
cukup dengan kehadiran.
Ia tidak punya handphone
seperti teman-temannya. Ketika akhirnya kesempatan itu datang, syaratnya jelas:
membersihkan rumah dua kali sehari selama sebulan penuh. Ia menjalani itu
dengan patuh. Setiap pagi menyapu, setiap sore mengepel. Tidak ada protes. Tidak
ada tawar-menawar. Ketika sebuah handphone akhirnya diberikan—pemberian
pakdenya dari Jakarta—ia menerimanya dengan hati yang penuh. Ia menjaganya
seperti menjaga sesuatu yang rapuh. Karena ia tahu, apa pun yang ia miliki bisa
diambil kapan saja.
Dan benar saja.
Nilai ulangan harian
dibagikan melalui grup orang tua. Dari sekian banyak mata pelajaran, hanya satu
yang nilainya buruk. Satu. Tidak lebih. Namun satu itu cukup untuk menghapus
semuanya. Tidak ada percakapan. Tidak ada kesempatan menjelaskan bahwa ia juga
lelah, bahwa ia juga sedang belajar. Handphone itu disita. Dijual. Seolah benda
itu tidak pernah berarti apa-apa.
Ia tidak menangis. Ia hanya
diam.
Di kelas tiga SMP, ia
membalas dengan cara yang tidak terlihat. Ia belajar lebih keras. Pulang
sekolah langsung membuka buku. Nilainya stabil, selalu bagus, dan ia konsisten
berada di peringkat tiga besar. Setiap lembar rapor ia lihat sendiri, berharap
diam-diam akan ada pengakuan. Namun harapan itu kembali belajar satu hal: di
rumah itu, keberhasilan tidak pernah lebih keras dari satu kesalahan lama.
Masuk SMK negeri, hidupnya
tidak menjadi lebih mudah—hanya berubah wajah. Setiap pagi ia membawa kantong
berisi risol mayo dan arem-arem buatan neneknya. Ia berjalan menyusuri
kelas-kelas, menawarkan dagangan dengan senyum yang ia latih. Dagangannya hampir
selalu habis. Dari situ ia belajar, bahwa lelah bisa terasa bermakna ketika
hasilnya nyata.
Ia aktif di OSIS. Ia ikut
lomba. Ia mencoba menjadi seseorang yang berguna di luar rumah. Di sekolah, ia
dikenal rajin. Di rumah, ia tetap dianggap masalah. Setiap pulang sore, amarah
seolah sudah menunggu di depan pintu.
Puncaknya terjadi saat ia
mengikuti lomba pawartos—lomba baca berita bahasa Jawa. Latihan intens
membuatnya sering pulang sore. Dan suatu hari, ia dipaksa memilih: berhenti
berorganisasi atau berhenti sekolah sekalian. Dunia terasa sempit. Ia pergi ke
sekolah, duduk di sudut ruangan, menangis di hadapan kakak-kakak kelasnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.
Negosiasi akhirnya terjadi.
Ia diizinkan ikut lomba, dengan satu syarat: pulang jam empat sore. Ia menepati
janji itu. Bahkan ketika peserta lain masih latihan, ia pulang sendiri. Dan
ketika lomba itu selesai, ia meraih juara dua. Ia pulang dengan dada penuh,
berharap rumah bisa menjadi tempat berbagi.
Namun rumah tetaplah rumah
itu.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada kebanggaan. Hanya ibunya yang tersenyum kecil, diam-diam. Ayahnya
memilih diam, seolah kemenangan itu tidak pernah ada.
Ia lalu menemukan pelarian
dalam fotografi dan videografi. Ia memotret, mengedit, mendokumentasikan
kegiatan sekolah. Hingga suatu sore, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Singkat. Menusuk.
“Wis koe rasah foto-foto.
Rasah ngedit-ngedit. Skillmu ora ning kene. Golek bakat liyane.”
Air matanya jatuh tanpa
suara. Menetes di antara tombol keyboard. Sejak sore itu, sesuatu di dalam
dirinya ikut padam.
Di tahun yang sama,
kecelakaan terjadi. Ia bersama adik bungsunya. Kedua kaki adiknya patah. Ia
tidak disalahkan secara langsung, namun rasa bersalah tinggal lama. Malam
sebelum kecelakaan, rumah kembali ricuh. Ayah memukul ibu. Adik kecilnya
memeluk kaki ayah sambil menangis. Ia mencoba melindungi mereka. Ia dilempar
hingga alisnya berdarah. Malam itu, ia melawan. Untuk pertama kalinya, ia
memilih berdiri.
Sejak saat itu, rumah
benar-benar kehilangan maknanya.
Kesalahan kecil menjadi
alasan makian. Sapu yang kurang bersih, piring yang belum kering. Kata-kata
kasar menjadi rutinitas. Hingga ia kuliah, dampaknya tidak pernah hilang.
Tamparan, pukulan, dan tendangan bukan cerita asing. Kalimat paling menyakitkan
terus terngiang: pembawa sial, tidak berguna, lebih baik mati.
Di bangku kuliah, ia
mencoba hidup dengan ritme baru. Namun luka lama selalu menyusul. Setiap
keberhasilan terasa hampa. Setiap kesalahan terasa berlipat. Kadang ia bingung:
untuk terus melanjutkan hidup dengan sakit yang panjang, atau merasakan sakit
sementara lalu mati dan hilang dari dunia.
Namun perlahan ia sadar,
hidupnya bukan hanya miliknya sendiri. Ada ibu yang diam-diam bertahan. Ada
adik-adik yang melihatnya sebagai contoh. Ada pasangan, sahabat, kakek, dan
nenek yang berharap ia tetap ada. Ia mengerti satu hal: yang menginginkannya lenyap
hanya satu orang. Yang menginginkannya hidup, jauh lebih banyak.
Kesadaran itu tidak
menyembuhkan luka. Tapi cukup untuk membuatnya bertahan hari ini. Lalu besok.
Ia belum menemukan arti rumah. Namun kini ia tahu—jika rumah tidak memberinya
aman, ia akan membangunnya sendiri. Pelan-pelan. Dari hidup yang masih ia pertahankan.
Penulis: Athorix
Penyunting: Lathifah An
Najla
