Fear of Missing Out (FOMO) Media Sosial sebagai Standar Gaya Hidup Mahasiswa - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Fear of Missing Out (FOMO) Media Sosial sebagai Standar Gaya Hidup Mahasiswa

 

(Sumber: Pinterest)

Media sosial diciptakan sebagai ruang berkomunikasi, bersosialisasi di dunia maya dan berbagi. Namun, sekarang dikalangan remaja—khususnya mahasiswa media sosial sering kali menjadi sarana pencapaian untuk membandingkan antara keberhasilan diri sendiri dan orang lain. Ketika unggahan dipenuhi pencapaian dari hal yang paling kecil seperti lomba dan gaya hidup, semuanya terlihat cepat dan sempurna. Kondisi seperti inilah yang memicu adanya perasaan Fear of Missing Out (FOMO).

 Perasaan FOMO bukan hanya takut tertinggal trend yang ada, tetapi juga perasaan takut tertinggal karena merasa dirinya hidup lebih lambat dibandingkan orang lain. Di kalangan mahasiswa perasaan ini tak jarang muncul saat media sosial memberikan standar hidup tertentu—jika mahasiswa yang ideal adalah dia yang dapat hidup dengan produktif, sibuk, dan penuh pencapaian. Sehingga, proses belajar yang seharusnya bertahap menjadi ajang perlombaan tanpa adanya garis akhir.

Kebiasaan menampilkan potongan terbaik tanpa memperlihatkan kegagalan kehidupan seseorang dapat mempersempit makna kesuksesan. Sayangnya, yang terlihat sering kali dianggap sebagai realitas utuh. Hal inilah yang membuat mahasiswa terdorong melakukan aktivitas hanya demi validasi—bukan karena kebutuhan dan minat yang sebenarnya.

Kondisi tekanan seperti ini tidak datang tanpa konsekuensi. Beberapa penelitian menjunjukkan skala penggunaan media sosial berkaitan dengan kecemasan mental pada mahasiswa. Perasaan takut tertinggal dan tidak pernah cukup memicu kehilangan kepercayaan diri.

Media sosial tidak sepenuhnya salah; banyak mahasiswa mendapatkan informasi, inspirasi, relasi, hingga peluang melalui platform digital. Tetapi, ketika motivasi muncul karena perasaan takut tertinggal—dorongan tersebut cenderung rapuh. Produktivitas yang muncul diatas kecemasan juga akan melahirkan kelelahan yang sia-sia, bukan perkembangan yang sehat.

Di sinilah pentingan kesadaran bersama bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti perkembangan linimasa. Menjadikan media sosial sebagai standar hidup hanya akan menjauhkan diri dari esensi pendidikan. Dan belajar bukan tentang siapa yang cepat mendapatkan, tetapi siapa yang paling memahami arah dan tujuan hidupnya dengan baik. Di tengah media yang terus muncul dan bergerak, keberanian terbesar yang harus ditanam diri sendiri adalah berjalan sesuai arah dan waktu tanpa harus takut tertinggal.


Penulis: Adista Putri Revalina

Penyunting: Lathifah An Najla

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done