Hari Minggu adalah hari yang
seharusnya paling menyenangkan dan seru bagi setiap orang,
namun tidak untuk dia. Hari itu,
dia terbangun jam 5 subuh untuk mandi dan melaksanakan salat. Bukannya melanjutkan
beraktivitas yang lebih bermanfaat akan tetapi dia gunakan untuk tidur kembali.
Malangnya, dia mendapatkan kejadian yang sangat tidak diduganya.
Kejadian itu dimulai tepat dari
rumah yang sepertinya kuno sekaligus keadaannya gelap gulita. Dia berada di
depan pintu dengan posisi duduk di tanah dengan kedua kakinya menekuk ke
samping kanan dan kiri. Dia berada di tengah di mana bagian kanannya yang merupakan
musala, sedangkan bagian kirinya adalah rumah yang terhalang oleh tembok.
Penglihatan dia mengarahkan ke depan, yaitu lapangan sekolah yang kebetulan
juga terhalang oleh tembok, biasanya digunakan anak-anak untuk memanjatnya
menuju lapangan tersebut. Samar-samar, dia mendengarkan maupun merasakan
teriakan yang tidak begitu jelas oleh banyak orang atau kerumunan dari arah
musala menuju ke arah lain sembari membawa obor. Sayangnya, rombongan tersebut
tidak melihatnya dia sama sekali. Tiba-tiba, ada sosok nenek tua yang muncul
dengan tubuh yang sangat kurus, penampilan yang sangat lusuh, serta
keberadaannya secara perlahan mendatangi dia. Sosok itu membawa cermin di atas
dan bawah dengan tangannya dan di tengah cermin tersebut terdapat kepala yang
berputar-putar. Paniknya bukan kepalang, dia kebingungan untuk beranjak dari
tempat tersebut untuk meminta bantuan kepada siapa pun. Di sisi lain, tubuh dia
kaku, mulutnya tidak bisa berbicara, serta seluruh anggota tubuh tidak bisa
digerakkan, dia hanya bisa membaca do’a-do’a sebisa yang dia lakukan dalam
hatinya. Nenek itu tidak menghilang, justru semakin mendekat menuju ke arah
dia. Kemudian, dia memalingkan wajahnya untuk melihat ke bawah saja sembari merasakan
bahwa kaki nenek tersebut telah berada di depannya. Dia dengan pendiriannya
untuk berusaha tidak melihat nenek tersebut. Alangkah terkejutnya, setelah dia
selesai membacakan banyak do’a di dalam hati, nenek tersebut secara
perlahan-lahan mundur untuk pergi yang keadaan tubuhnya tetap berada pada
pandangan dia. Nenek tersebut memberikan wajah yang kecewa dan ketakutan ke
arah dia, tanpa berkutik. Alhasil, keadaan tersebutlah yang membuat dia memberanikan
diri melihat wajah dan bagaimana ekspresi nenek tersebut saat menjauh dari dia.
Tanpa aba-aba, dia membuka matanya
untuk segera beranjak dari kasur. Lalu, dia berlari secara pontang-panting kepada
nenek dan kakak perempuannya untuk bercerita tentang hal yang dia dapatkan tadi.
Dia juga melihat jam yang menunjukkan pukul 7 dengan keadaan yang mendung.
Sontak saja, ternyata pengalaman kelam yang dia rasakan itu lambat-laun masih
membekas hingga dia menduduki bangku kuliah. Dia tidak dengan begitu mudah
melupakan kejadian ini dan menjadikannya pembelajaran agar tidak mengulanginya
sampai kapan pun. Sebenarnya, memang sedari dulu dia takut dengan hal-hal
mistis sampai dia dewasa, ketakutan itu tidak sebesar dengan apa yang sekarang dia
jalani.
Penulis: Yusril
Rahendra Nur Kuncoro
Penyunting: Adista
Putri Revalina