Mahasiswa KKN PPM Unisri Kenalkan Dasar Bisnis dan Pengelolaan Keuangan lewat Simulasi Jualan di SMP N 2 Mondokan
![]() |
| Sumber foto: Mulia Dwi Saputri |
"Kalau kalian jualan, gimana caranya tahu untung apa rugi?" Pertanyaan itu jadi pemantik diskusi sebelum para siswa-siswi kelas 9 SMP Negeri 2 Mondokan melakukan praktik langsung membuat sekaligus menjual gantungan kunci makrame dalam program kerja individu KKN PPM Universitas Slamet Riyadi Surakarta, yang bertajuk "Edukasi dan Pendampingan Simulasi Mini Bisnis dalam Menumbuhkan Jiwa Wirausaha dan Kemampuan Pengelolaan Keuangan Sederhana pada Siswa SMP".
Program ini digagas oleh Mulia Dwi Saputri, mahasiswa Program Studi Akuntansi, dan menjadi bagian dari pelaksanaan KKN PPM bertema "Peran Mahasiswa dalam Pemberdayaan Desa untuk Mendukung Kemandirian Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Sragen" Tahun Akademik 2025/2026 di Desa Sumberejo, Kecamatan Mondokan.
Ide program ini berawal dari pengamatan bahwa materi kewirausahaan yang diterima siswa selama ini masih sebatas teori di buku pelajaran. Siswa tahu istilah modal, untung, dan rugi, tetapi belum pernah benar-benar mempraktikkannya.
Bukan sekadar simulasi jual biasa, uang hasil penjualan gantungan kunci digunakan sebagai data nyata, yaitu latihan menyusun laporan keuangan sederhana. Untuk itu, disiapkan template laporan berbentuk lembar kerja dengan istilah yang mudah dicerna, seperti pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan atau kerugian, sehingga siswa tidak perlu terbebani istilah akuntansi yang rumit dan cukup mengisi angka dari hasil jualan mereka sendiri.
![]() |
| Sumber foto:Mulia Dwi Saputri |
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme siswa cukup terasa. Banyak dari mereka baru menyadari bahwa berjualan tidak sesederhana kelihatannya, mulai dari menentukan harga yang pas sampai mencatat setiap uang yang masuk dan keluar agar tidak ada yang terlewat.
Suasana makin hidup ketika guru dan wali kelas turut membeli gantungan kunci hasil kreativitas siswa, sebagai bentuk dukungan langsung terhadap usaha kecil-kecilan yang mereka jalankan. Pengalaman kecil ini diharapkan membekas dan membuat siswa lebih percaya diri jika suatu saat ingin mencoba peluang usaha yang sesungguhnya.
![]() |
| Sumber foto:Mulia Dwi Saputri |
Dukungan dari pihak sekolah, khususnya guru dan wali kelas 9, turut menjadi faktor penting kelancaran program ini, mulai dari pengaturan jadwal hingga pendampingan siswa selama simulasi berlangsung. Ke depan, diharapkan nilai-nilai kewirausahaan dan kebiasaan mencatat keuangan yang sudah dikenalkan lewat program ini dapat terus dipraktikkan siswa dalam keseharian mereka.
Penulis: Mulia Dwi Saputri


