LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis: Resensi
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Resensi buku Sang Eksekutor

Resensi buku Sang Eksekutor

 

 

A person holding a book

AI-generated content may be incorrect.

 

Identitas Buku

Judul: Sang Eksekutor

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Sabak Grip

Genre: Thriller politik, aksi, drama psikologis

Penulis resensi: Oliviana Angelicha Effendy

 

Sinopsis

  Sang Eksekutor mengisahkan tentang Anwar Van Rijn, sosok misterius yang dikenal sebagai eksekutor. Ia menjadi pusat perhatian setelah serangkaian pembunuhan terhadap pejabat-pejabat korup terjadi secara berantai—mulai dari menteri, aparat penegak hukum, hingga figur-figur berpengaruh dalam sistem kekuasaan.

 

  Latar cerita menggambarkan sebuah negeri dengan sistem hukum yang timpang: tajam ke bawah, tumpul ke atas. Dalam situasi tersebut, tindakan Anwar Van Rijn memicu kekacauan sekaligus gelombang kesadaran publik. Aksinya tidak hanya menciptakan ketakutan, tetapi juga memantik gerakan massa yang menuntut keadilan.

 

Novel ini tidak sekadar menyajikan misteri identitas sang eksekutor, tetapi juga mempertanyakan batas antara keadilan dan balas dendam.

 

Ulasan

  Melalui Sang Eksekutor, Tere Liye menghadirkan cerita yang intens sekaligus sarat refleksi sosial. Tokoh Anwar Van Rijn dibangun sebagai karakter yang kompleks, ia bukan sekadar “pembunuh”, melainkan representasi dari individu yang lahir dari sistem yang rusak.

 

  Kekuatan utama novel ini terletak pada kemampuannya menggabungkan alur cepat dan menegangkan dengan muatan kritik sosial. Pembaca tidak hanya disuguhkan rangkaian peristiwa penuh aksi, tetapi juga diajak merenungkan realitas yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

  Dalam konteks kekinian, novel ini relevan dengan berbagai persoalan seperti:

1. Maraknya praktik korupsi di kalangan elite

2. Kesenjangan sosial yang semakin melebar

3. Ketimpangan dalam penegakan hukum

 

  Realitas “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas” yang tergambar dalam novel menjadi cermin kritik terhadap kondisi sosial saat ini. Tokoh Anwar Van Rijn dapat dibaca sebagai simbol resistensi meskipun caranya kontroversial terhadap sistem yang gagal memberikan keadilan.

 

  Namun demikian, perlu dicatat bahwa novel ini tidak secara eksplisit membenarkan tindakan kekerasan. Sebaliknya, Tere Liye justru menghadirkan dilema moral: Apakah tindakan ekstrem dapat dibenarkan ketika sistem tidak lagi berpihak pada keadilan?

 

  Dari segi penulisan, gaya bahasa yang digunakan cenderung lugas dan mudah diikuti. Hal ini membuat novel dapat diakses oleh berbagai kalangan, meskipun pada beberapa bagian konflik terasa cukup dramatis.

 

Kelebihan:

A. Alur cerita cepat dan penuh ketegangan

B. Karakter utama kuat dan kompleks

C. Mengangkat isu sosial yang relevan dengan kondisi saat ini

D. Mengandung kritik terhadap korupsi dan ketimpangan hukum

 

Kekurangan:

A. Beberapa konflik terasa berlebihan

B. Pendalaman karakter pendukung masih terbatas

 

Kesimpulan

  Sang Eksekutor merupakan novel yang tidak hanya menawarkan hiburan melalui cerita thriller, tetapi juga menyuguhkan refleksi kritis terhadap realitas sosial. Melalui sosok Anwar Van Rijn, Tere Liye mengajak pembaca mempertanyakan makna keadilan di tengah sistem yang timpang.

 

  Relevansinya dengan isu-isu seperti korupsi, kesenjangan sosial, dan lemahnya supremasi hukum menjadikan novel ini terasa kontekstual dan penting untuk dibaca. Sang Eksekutor bukan sekadar cerita tentang seorang pembunuh, melainkan tentang kegelisahan masyarakat terhadap keadilan yang belum sepenuhnya hadir.

 

 

Penulis Resensi: Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting: Adista Putri Revalina

Resensi Film: Patah Hati yang Kupilih

Resensi Film: Patah Hati yang Kupilih

Resensi Film: Patah Hati yang Kupilih


 
Identitas Film 

a.Judul: Patah Hati yang Kupilih
b.Sutradara: Danial Rifki
c.Pemeran Utama: Prilly Latuconsina, Bryan Domani
d.Genre: Drama Romantis
e.Tahun Rilis: 2025

Sinopsis

Film Patah Hati yang Kupilih mengisahkan Alya (Prilly Latuconsina) dan Ben (Bryan Domani), dua insan yang saling mencintai namun terhalang oleh perbedaan keyakinan. Hubungan mereka tidak hanya diuji oleh perasaan, tetapi juga oleh realitas sosial serta restu keluarga yang menjadi faktor penting dalam keberlangsungan hubungan tersebut.
Di tengah kebimbangan, Alya dihadapkan pada pilihan lain melalui kehadiran Fadil—sosok yang lebih diterima oleh keluarganya. Konflik batin mencapai puncaknya ketika Alya harus memilih antara mempertahankan cinta yang penuh perjuangan atau melepaskannya sebagai bentuk kedewasaan.

Analisis Unsur Film

1. Tema dan Pesan
Film ini mengangkat isu cinta beda agama sebagai konflik utama. Selain itu, film juga membahas:
• Tekanan keluarga dalam menentukan pasangan hidup
• Benturan nilai dan keyakinan
• Pertentangan antara pilihan rasional dan emosional

Narasi film menempatkan patah hati bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai keputusan sadar yang sarat makna. Film ini menunjukkan bahwa hubungan beda agama merupakan tantangan yang menuntut kedewasaan dalam menentukan pilihan hidup.

2. Akting dan Pendalaman Karakter

Prilly Latuconsina menampilkan performa yang matang melalui karakter Alya yang kompleks rapuh namun tegas. Ekspresi emosionalnya mampu menggambarkan dilema perempuan muda yang berada di persimpangan antara cinta dan prinsip hidup. Bryan Domani sebagai Ben juga berhasil menghadirkan karakter yang tulus, meskipun pendalaman karakternya tidak sekuat Alya. Kehadiran Fadil memperkuat konflik dengan menawarkan pilihan yang “ideal secara sosial”, namun tidak sepenuhnya memenuhi aspek emosional.

3. Alur dan Struktur Naratif
Alur film disusun secara linear dengan perkembangan konflik yang konsisten, meliputi:
• Fase romantis awal
• Munculnya konflik nilai dan keluarga
• Kehadiran pihak ketiga
• Klimaks berupa keputusan personal

Meskipun tergolong konvensional, kekuatan film terletak pada intensitas emosi yang dibangun, bukan pada kompleksitas alur.

4. Nilai Sosial dan Relevansi

Film ini memiliki relevansi tinggi dalam konteks masyarakat Indonesia, di mana agama masih menjadi faktor penting dalam hubungan personal. Kisah Alya dan Ben merepresentasikan realitas yang dihadapi banyak pasangan. Film ini juga menegaskan bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan kebersamaan, melainkan dapat berakhir sebagai bentuk kedewasaan dan penerimaan.

Kelebihan
1.Mengangkat isu sosial yang kontekstual dan realistis
2.Akting emosional yang kuat, terutama dari Prilly Latuconsina
3.Dialog yang reflektif dan menyentuh

Kekurangan

1.Alur cerita cenderung mudah ditebak
2.Pendalaman karakter pendukung masih terbatas
3.Konflik keluarga kurang dieksplorasi secara mendalam

Kesimpulan

Patah Hati yang Kupilih merupakan film drama romantis yang tidak hanya menyajikan kisah cinta, tetapi juga refleksi terhadap realitas sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat. Film ini berhasil menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, melepaskan justru menjadi bentuk cinta yang paling dewasa.
Sebagai karya sinema, film ini layak diapresiasi karena keberaniannya mengangkat isu sensitif dengan pendekatan emosional yang kuat dan relevan.


Penulis Resensi : Oliviana Angelicha Effendy
Penyunting : Natasya Nurul Izah

Resensi Film "Keadilan (The Verdict)"

Resensi Film "Keadilan (The Verdict)"

 



IDENTITAS FILM

Judul                     : Keadilan (The Verdict)

Sutradara              : Lee Chang-hee, Yusron Fuadi

Tahun rilis            : 2025

Pemeran Utama    : Rio Dewanto, Reza Rahadian

Genre                    : Drama, Thriller, Hukum

 

SINOPSIS

Film ini menceritakan kisah Raka (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang idealis dan jujur. Setiap hari ia menyaksikan bagaimana hukum dimanipulasi oleh kekuasaan dan uang. Hidupnya berubah saat istrinya, Nina (Niken Anjani), advokat muda yang sedang mengandung dan baru lulus dari ujian profesi menjadi korban kekerasan kejam dari anak seorang konglomerat. Ketika keadilan tidak berpihak padanya dan pelaku dilindungi oleh pengacara licik bernama Timo (Reza Rahadian), Raka kehilangan keyakinannya terhadap sistem hukum. Di tengah tekanan publik dan media sosial yang mudah dipengaruhi, Raka akhirnya memutuskan untuk mengambil alih ruang sidang dengan pistol di tangannya.

 

ANALISIS

Dari segi alur cerita, film atau drama pada umumnya yang bertema hukum biasanya memiliki alur yang rumit dan sulit dipahami. Tetapi, film ini cukup menarik karena alurnya jelas dan mudah dipahami. Alur film Keadilan The Verdict menggunakan alur maju yang sederhana dan mudah diikuti. Karena ceritanya bergerak dari awal kasus hingga persidangan, saya lebih memahami bagaimana konflik itu berkembang.

Film Keadilan (The Verdict) merupakan film thriller hasil kolaborasi antara sutradara Indonesia Yusron Fuadi dan sutradara asal Korea Selatan Lee Chang-hee, yang dikenal lewat serial Netflix A Killer Paradox (2024) dan Strangers From Hell (2019). Kolaborasi sutradara Indonesia dan Korea Selatan membuat film ini seperti drama thriller hukum korea dengan alur yang kuat dan suasana tegang.

Sentuhan sinematik Korea terlihat dari teknik pengambilan gambar yang fokus pada detail ruang sidang sehingga suasana persidangan terasa lebih tegang. Beberapa adegan seperti pengeboman dan pengepungan gedung pengadilan semakin memperkuat nuansa thriller yang biasanya ada dalam drama korea. Meskipun demikian, film ini tetap menghadirkan sentuhan Indonesia dalam penceritaan

Selain dari segi sinematik, kemampuan akting para pemain dalam film Keadilan (The Verdict) tidak perlu diragukan lagi. Penampilan Rio Dewanto (Raka) dan Reza Rahadian (Timo) menjadi sorotan utama karna keduanya mampu menampilkan karakter yang mendalam. Sebagai aktor papan atas, mereka mampu membangun emosi dalam setiap adegan sehingga konflik terasa lebih nyata dan kuat.

Rio Dewanto (Raka) berhasil menampilkan karakter dengan berbagai emosi, mulai dari sedih, marah hingga putus asa yang terasa natural dan tidak berlebihan. Reza Rahadian (Timo) tampil dengan karisma yang kuat, juga berhasil menampilkan karakter pengacara yang licik, manipulatif, dan mahir dalam mempermainakn segala hal di pengadilan, baik itu uang, kekuasaan, maupun relasi.

Pemilihan lagu I'd Like to Watch You Sleeping dari Sal Priadi di akhir film membuat suasana yang sebelumnya penuh ketegangan berubah menjadi lebih hening dan emosional, sehingga penutup film terasa lebih menyentuh.

 

Menurut saya, film Keadilan (The Verdict) memiliki kelebihan yang cukup menonjol. Salah satu kelebihannya adalah cerita yang mengangkat isu hukum dan ketidakadilan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga terasa relevan dengan kondisi nyata. Di akhir cerita Raka dan tokoh-tokoh lainya juga mendapatkan hukuman yang setara atas perbuatanya.

Namun dii balik kelebihannya, film Keadilan (The Verdict) juga memiliki kekurangan, yaitu latar belakang tokoh Raka yang tidak dijelaskan secara mendalam hingga akhir film, termasuk koneksi, kemampuan, dan aksesnya dalam meminjam pistol, sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan.

 

Secara keseluruhan, film Keadilan (The Verdict) bukan sekadar film hiburan, tetapi juga menjadi refleksi tentang kondisi sosial dan hukum dalam kehidupan nyata, terutama tentang bagaimana kekuasaan dan uang dapat mempengaruhi sistem keadilan.

Film ini menunjukan bahwa kekuasaan dan uang dapat mempengaruhi proses pengadilan sehingga kebenaran tidak selalu menjadi hal yang utama. Melalui dialog Raka yang mengatakan bahwa “Di pengadilan bukan kebenaran yang akan menang, tapi yang menang akan menjadi kebenaran”. Film ini memperkuat kritik terhadap sistem peradilan yang dapat dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Kalimat tersebut membuat penonton sadar bahwa tidak semua putusan pengadilan mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya, karena dalam praktiknya masih terdapat kemungkinan manipulasi hukum oleh pihak-pihak tertentu demi memenangkan perkara di pengadilan. Oleh karena itu, film ini mampu menyampaikan pesan moral untuk mengajak penonton untuk lebih kritis dalam memahami makna keadilan dan tidak mudah percaya pada setiap keputusan hukum serta mendorong pentingnya integritas dalam menegakkan hukum di masyarakat.

Film Keadilan (The Verdict) sangat direkomendasikan untuk ditonton karena alurnya yang menarik serta mengangkat kritik terhadap sistem hukum.

 

 

Penulis Resensi: Kanaya Riqky Aulia

Penyunting: Adista Putri Revalina

Judul buku : Si Anak Kuat

Judul buku : Si Anak Kuat

 

(sumber foto : bukukita.com)

 

Penulis: Tere Liye

Penerbit : Republika

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: 397 halaman

 

Novel Si Anak Kuat merupakan salah satu karya Tere Liye dari serangkaian serial miliknya yang dinamakan Serial Si Anak Nusantara, Beberapa judul serial Si Anak Nusantara lainnya yakni "Si Anak Pemberani", "Si Anak Spesial", "Si Anak Pintar", "Si Anak Cahaya", dan "Si Anak Badai". Setiap judul memiliki jalan ceritanya sendiri. Novel Si Anak Kuat menceritakan tentang kehidupan keluarga Syahdan dan Nurmas dari sudut pandang Amelia yang selalu diejek sebagai "penunggu rumah" sebab perannya sebagai anak bungsu yang dianggap tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa pergi kemana saja, karena menurut masyarakat sekitarnya sejatinya anak bungsu harus tetap tinggal di rumah dan tidak boleh pergi meninggalkan kampung halaman. Namun, Ameha berbeda. Ia justru bertekad untuk mengubah anggapan tersebut dengan pengetahuan dan kekuatan yang dimilikinya. Dalam novel ini, Tere Liye mengangkat tema tentang keharmonisan, kesederhanaan dan kehangatan kehidupan sebuah keluarga.

Semua orang memanggil si bungsu dengan sebutan Amel. Tetapi Amel ingin dipanggil dengan sebutan Eli, sama seperti nama kakak sulungnya. la ingin menjadi anak sulung, la benci menjadi anak bungsu, karena hanya dirinya yang tidak bisa mengatur siapapun di rumahnya dan selalu mendapatkan baju lungsuran dari kakanya. Ditambah dua kakak laki-lakinya, yakni Kak Pukat dan Kak Burlian selalu mengolok Amel bahwa anak bungsu itu manja, tidak bisa pergi jauh, dan akan terus menjadi "penunggu rumah". Oleh karena itu, Amel sangat benci dengan takdirnya sebagai anak terakhir. Meskipun begitu, bapaknya selalu berkata walau Amel adalah anak bungsu, tetapi dalam keluarganya Amel adalah sosok yang paling kuat. Bukan kuat dalam soal fisik, tapi kuat dari dalam. Amelia memiliki keteguhan hati yang lebih baik mengenai pemahaman nilai-nilai kehidupan dibanding kakak-kakaknya. la sangat peduli terhadap kepentingan keluarga, teman, dan orang-orang sekitar yang ia sayangi. Pada akhirnya, Amelia pun mengerti dan menerima dirinya sebagai anak bungsu.

Amelia merupakan sosok yang berani, cerdas, dan bisa diandalkan. Oleh karena itu, dirinya menjadi anak murid kesayangan guru satu-satunya di sekolahnya, yaitu Pak Bın. Suatu ketika. Pak Bin meminta bantuan kepada Amel untuk membantu temannya bernama Chuck Norris. Norris adalah anak yang sangat nakal, biang masalah, dan cenderung menolak untuk bergaul dengan teman-temannya. Ternyata sifat Norris yang demikian, terbentuk karena dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Pak Bin percaya, dengan kebaikan dan keteguhan hati yang dimiliki Amel, dirinya pasti dapat merubah Norris secara perlahan menjadi anak yang baik. Dengan segala keraguan dalam dirinya. Bagian menarik yang dapat membuat pembaca terhibur dan terharu adalah interaksi antara Amel dengan saudara-saudaranya. Amel menganggap bahwa Kak Eli adalah si tukang suruh-suruh yang cerewet dan tak jarang membuat Amel kesal. Tetapi kekesalannya sirna saat ia melihat pengorbanan Kak Eli yang membantunya ketika terjatuh di ladang karet dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis mencari kayu bakar.. Amel yang tidak bisa berjalan akhirnya digendong oleh Kak Eli selama perjalanan pulang, sampai akhirnya mereka kembali ke rumah dan Kak Eli jatuh pingsan. Sejak saat itu Amel menyadari bahwa omelan-omelan yang dilontarkan Kak Eli bermaksud untuk mengajari Amel karena Kak Eli sangat menyayangi dirinya.

Novel ini merupakan salah satu karya Tere Liye yang layak untuk dibaca. Jalan ceritanya sederhana, bagus, dan menarik. Karena selain mengisahkan tentang perasaan hati seorang anak dan orang tua, juga terdapat kisah menyentuh dan memotivasi lainnya. Seperti kisah Pak Bin, guru sekolah satu-satunya di kampung, puluhan tahun tidak pernah lolos dalam tes PNS, namun pengabdiannya sungguh luar biasa, serta kisah Nek Kiba guru mengaji sekampung yang sudah puluhan tahun mengajar dan selalu menyampaikan nasihat-nasihat yang bijak kepada anak muridnya. Kisah yang inspiratif dan menyentuh dengan bahasa yang mudah dipahami membuat novel ini sangat cocok dibaca semua kalangan. Bahasa yang digunakan dalam novel ini pun beragam, mulai dari bahasa Indonesia hingga bahasa Belanda yang kerap diselipkan oleh tokoh Wak Yati dalam berbagai dialog juga semakin mempercantik jalan cerita novel ini.

Adapun, kelemahan dari novel ini sendiri, yaitu adanya bagian yang tidak masuk akal. Rasanya cukup tidak mungkin bagi anak seusia Sekolah Dasar melakukan hal-hal yang bisa jadi berat bagi orang dewasa. Apa yang dilakukan Amel bersama teman-temannya jelas bukan sesuatu yang mudah dinalar. Terlebih ketika Norris, sang biang masalah bisa berubah menjadi anak baik dan mampu menggambar peta duma persis aslinya yang ukurannya sangat besar sampai melebihi badannya hanya dalam jangka waktu 6 hari. Begitu pun dengan kelebihan Amelia dalam cara berpikir dan berbicara. terutama ketika ia menasehati Norris di depan ayahnya yang dirasa kurang realistis dan tidak sepadan dengan psikologis anak-anak pada umumnya, juga menjadi kekurangan dalam novel ini.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik untuk dibaca khususnya bagi para pembaca penggemar cerita keluarga. Percakapan antara Amel dan ayahnya tak jarang membangun suasana yang hangat dan harmonis. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Amelia, gadis yang selalu benci ketika dipanggil dengan julukan "si penunggu rumah", akhirnya menyadari bahwa kampungnya adalah dunianya, dialah yang bisa melakukan perubahan besar terhadap kampungnya. Dirinya kembali untuk menepati janjinya, yakni melakukan perubahan dengan pengetahuan yang ia miliki. Tidak seperti kebanyakan remaja sekarang yang ketika sukses enggan untuk kembali ke kampungnya. Inilah penyebab banyak desa tertinggal karena banyak orang yang tidak ingin melakukan perubahan. Dalam proses perubahan. hal yang terpenting adalah memulai perubahan tersebut. Novel ini juga bisa mengambil sisi positif dari budaya anak bungsu bahwa setiap anak memang tidak boleh pergi semua dari kampungnya karena harus ada yang melestarikan kampung tersebut.

 

Penulis resensi : Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting : Nazuwa Basalwa

Resensi Buku : Pendidikan Kaum Tertindas: Membongkar Wajah Politik Pendidikan

Resensi Buku : Pendidikan Kaum Tertindas: Membongkar Wajah Politik Pendidikan

 

( sumber foto: penerbit narasi )

 

Penulis: Paulo Freire

Penerbit: Narasi

Asal Judul: Pedagogy of the Oppressed

 

Pendidikan Kaum Tertindas merupakan salah satu karya klasik dalam kajian filsafat pendidikan yang hingga kini tetap relevan dibaca, terutama dalam konteks masyarakat yang masih bergulat dengan ketimpangan sosial dan praktik pendidikan yang belum sepenuhnya membebaskan. Ditulis oleh Paulo Freire, seorang pemikir asal Brasil yang dikenal melalui gagasan pendidikan kritisnya, buku ini tidak hanya membahas metode pembelajaran, tetapi juga mengungkap relasi kuasa yang bekerja di balik sistem pendidikan.

Freire memulai argumennya dengan kritik terhadap model pendidikan yang ia sebut sebagai “pendidikan gaya bank” (banking education). Dalam model ini, guru diposisikan sebagai pemilik pengetahuan yang bertugas “menyetorkan” informasi kepada murid, sementara murid hanya menjadi objek pasif yang menerima, mencatat, dan menghafal. Pola tersebut, menurut Freire, tidak hanya mematikan daya kritis, tetapi juga secara tidak langsung melanggengkan struktur penindasan, karena peserta didik tidak didorong untuk mempertanyakan realitas yang mereka hadapi.

Sebagai tandingan, Freire menawarkan konsep pendidikan dialogis. Dalam pendekatan ini, hubungan antara guru dan murid tidak lagi bersifat hierarkis, melainkan setara sebagai sesama subjek yang terlibat dalam proses pencarian pengetahuan. Dialog menjadi metode utama, di mana pengalaman, refleksi, dan realitas sosial menjadi bagian dari proses belajar. Pendidikan, dengan demikian, tidak lagi dipahami sebagai proses satu arah, melainkan sebagai ruang interaksi yang dinamis dan kritis.

Salah satu gagasan kunci dalam buku ini adalah konsep kesadaran kritis (conscientização), yakni kemampuan individu untuk memahami kondisi sosialnya secara reflektif dan bertindak untuk mengubahnya. Freire menegaskan bahwa pendidikan seharusnya mendorong lahirnya kesadaran ini, bukan justru membentuk individu yang pasif dan menerima keadaan. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak pernah netral, ia selalu berpihak, baik pada upaya pembebasan maupun pada pelanggengan ketidakadilan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kedalaman analisisnya yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berakar pada pengalaman praksis Freire dalam mendampingi masyarakat tertindas. Ia berhasil menunjukkan bahwa pendidikan memiliki dimensi politik yang tidak dapat diabaikan. Gagasan-gagasannya pun tetap relevan untuk membaca berbagai persoalan pendidikan kontemporer, termasuk di Indonesia, di mana praktik pembelajaran masih sering berorientasi pada hafalan, relasi pengajar dan peserta didik cenderung hierarkis, serta ruang dialog belum sepenuhnya terbuka.

Namun demikian, buku ini bukan tanpa kelemahan. Bahasa yang digunakan cenderung konseptual dan filosofis sehingga tidak selalu mudah dipahami oleh pembaca umum. Selain itu, Freire tidak banyak memberikan contoh konkret mengenai implementasi pendidikan dialogis dalam sistem pendidikan formal, sehingga pembaca perlu melakukan interpretasi dan adaptasi sendiri sesuai konteks masing-masing. Perbedaan latar sosial antara Amerika Latin dan Indonesia juga menuntut pembacaan yang kritis agar gagasan yang ditawarkan tidak diterapkan secara simplistis.

Secara keseluruhan, Pendidikan Kaum Tertindas merupakan karya penting yang layak dibaca oleh kalangan akademisi, pendidik, aktivis, maupun mahasiswa, termasuk pers mahasiswa yang memiliki peran strategis dalam mengawal wacana kritis di ruang publik. Buku ini tidak hanya menawarkan kritik terhadap sistem pendidikan yang ada, tetapi juga membuka kemungkinan bagi terciptanya praktik pendidikan yang lebih dialogis, reflektif, dan membebaskan.

Pada akhirnya, Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah arena perjuangan. Ia dapat menjadi alat untuk mempertahankan status quo, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sarana emansipasi. Di titik inilah relevansi buku ini menemukan maknanya: sebagai ajakan untuk tidak sekadar belajar, tetapi juga memahami, mempertanyakan, dan mengubah realitas.

 

Penulis resensi : Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting : Nazuwa Basalwa

RESENSI BUKU : Catatan MDPL Dwi Ryan Diani

RESENSI BUKU : Catatan MDPL Dwi Ryan Diani

RESENSI BUKU : Catatan MDPL  


  ( Sumber Foto:Diomedia )


Buku Catatan MDPL karya Dwi Ryan Diani merupakan cerita perjalanan penulis yang akhirnya dapat mewujudkan keinginannya untuk mendaki gunung. Setelah bertahun-tahun penulis hanya menjadi pendengar setia cerita teman-temannya tentang kabut pagi, jalur terjal, dan momen matahari terbit dari puncak. Tas carrier yang dimilikinya pun lebih sering tergantung rapi, menjadi simbol mimpi yang belum sempat dijalani. Hingga suatu hari, sebuah ajakan mendadak datang tanpa banyak perencanaan. Dari situlah perjalanan dimulai. Langkah awal yang dipenuhi keraguan justru membuka pengalaman yang jauh lebih berarti daripada sekadar aktivitas mendaki.

Isi buku ini tidak hanya mendeskripsikan jalur pendakian atau keindahan panorama alam saja, melainkan juga memuat pesan-pesan kehidupan yang inspiratif. Penulis menggambarkan bagaimana proses mendaki mengajarkan arti ketekunan, kesabaran, kerja sama, serta keberanian keluar dari zona nyaman. Dalam setiap langkah yang diceritakan, terselip nilai tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan menghargai setiap proses dalam hidup. Refleksi tersebut membuat Catatan MDPL terasa hangat dan personal, seolah pembaca sedang diajak berdialog langsung dengan penulis.

Keunggulan buku ini terletak pada penyajian gaya bahasa yang ringan, mengalir, mudah dipahami, serta kejujuran cerita dan sudut pandang penulis yang penuh semangat. Pengalaman yang dituliskan dengan mudah menginspirasi pembaca, khususnya generasi muda untuk berani berkarya dan mengejar mimpi. Namun, buku ini tidak tersusun seperti novel dengan konflik dan klimaks yang kuat. Justru di situlah daya tariknya: kesederhanaan dan ketulusan dalam bercerita menjadi kekuatan utama buku ini.

Buku ini cocok bagi pecinta alam, pendaki pemula, maupun siapa saja yang sedang mencari inspirasi tentang makna perjuangan dan proses. Melalui kisah-kisah di dalamnya, pembaca diajak untuk memahami bahwa setiap puncak yang dicapai selalu diawali dengan langkah kecil serta keberanian untuk menjawab kesempatan yang datang.

Penulis Resensi: Wiri Tanaya Hayu M

Penyunting: Chintya Alinda


Resensi buku 1984 : GEORGE ORWELL

Resensi buku 1984 : GEORGE ORWELL

 

Resensi buku : George Orwell 1984

   ( Sumber Foto : Diomedia )

Novel 1984 karya George Orwell merupakan salah satu karya distopia paling berpengaruh dalam sejarah sastra modern. Diterbitkan pada tahun 1949, novel ini menghadirkan gambaran dunia totaliter yang menakutkan, ketika negara tidak hanya mengendalikan tindakan warganya, tetapi juga pikiran, bahasa, bahkan kebenaran itu sendiri. Melalui kisah yang kelam dan penuh tekanan psikologis, Orwell menyuguhkan kritik tajam terhadap kekuasaan absolut serta bahaya propaganda yang mampu membentuk realitas sosial. Cerita berpusat pada Winston Smith, seorang pegawai rendahan di Kementerian Kebenaran yang bertugas memanipulasi arsip sejarah agar selalu sesuai dengan kepentingan Partai. Di tengah kehidupan yang dipenuhi pengawasan layar teleskrin dan doktrin ideologis yang kaku, Winston diam-diam menyimpan keraguan terhadap sistem yang menindas. Tindakan kecil seperti menulis buku harian menjadi simbol perlawanan personal, sebuah usaha mempertahankan kesadaran diri di dunia yang berupaya menghapus individualitas manusia.

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada konsep bahasa “Newspeak” dan gagasan “doublethink”. Melalui penyempitan bahasa, Partai berusaha membatasi kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis. Sementara itu, doublethink menggambarkan kondisi ketika seseorang dipaksa menerima dua kebenaran yang saling bertentangan secara bersamaan. Ide-ide ini menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat mengendalikan realitas bukan hanya melalui kekerasan fisik, tetapi juga melalui manipulasi pikiran dan makna.

Secara tematik, 1984 tidak sekadar menceritakan pemberontakan individu terhadap negara, melainkan juga mengangkat persoalan besar mengenai kebebasan, identitas, dan kebenaran. Orwell memperlihatkan bahwa ketika informasi sepenuhnya dikontrol, sejarah dapat dihapus, dan bahasa dimanipulasi, maka manusia kehilangan pijakan untuk memahami dirinya sendiri. Akhir cerita yang tragis meninggalkan kesan mendalam sekaligus peringatan bahwa tirani paling berbahaya adalah tirani yang mampu menaklukkan kesadaran batin.

Relevansi 1984 tetap kuat hingga masa kini. Di era teknologi digital, isu pengawasan massal, manipulasi informasi, serta penyebaran propaganda menjadi semakin nyata. Banyak pembaca melihat kesamaan antara dunia dalam novel dengan dinamika politik dan media modern. Karena itu, karya ini tidak hanya penting sebagai bacaan sastra, tetapi juga sebagai refleksi kritis terhadap masyarakat kontemporer. Secara keseluruhan, 1984 adalah novel distopia yang kuat, menggugah, dan penuh peringatan moral. Orwell berhasil menunjukkan bahwa kebebasan berpikir merupakan hak paling mendasar manusia dan sekaligus yang paling rentan dirampas oleh kekuasaan. Membaca novel ini bukan sekadar mengikuti kisah Winston, melainkan juga merenungkan masa depan kemanusiaan ketika kebenaran tidak lagi berada di tangan individu, melainkan di bawah kendali negara.


Penulis Resensi: Oliviana Angelicha Effendy

Penyunting Resensi: Lathifah An Najla


Ideas

[Ideas][recentbylabel2]

Opini

[Opini][recentbylabel1]

Sastra

[Sastra][recentbylabel2]

Agenda

[Rilis][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done