Sahabat Digital Ceria": Mahasiswa KKN Unisri Ajak Anak SD di Desa Karangtalun Lawan Cyberbullying dan Jaga Kesehatan Mental - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Sahabat Digital Ceria": Mahasiswa KKN Unisri Ajak Anak SD di Desa Karangtalun Lawan Cyberbullying dan Jaga Kesehatan Mental

 Sahabat Digital Ceria": Mahasiswa KKN Unisri Ajak Anak SD di Desa Karangtalun Lawan Cyberbullying dan Jaga Kesehatan Mental

Sumber foto:Teresya Phalosa 


SRAGEN — Sebagai wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta meluncurkan program edukasi literasi digital dan kesehatan mental bagi anak-anak sekolah dasar di Desa Karangtalun, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen.

Program kerja individu bertajuk "Pendekatan Edukatif dalam Pencegahan Cyberbullying dan Penguatan Kesehatan Mental Generasi Alpha bagi Sekolah Dasar di Desa Karangtalun" ini dilaksanakan oleh Teresya Phalosa, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unisri. Kegiatan yang dikemas dengan nama "Sahabat Digital Ceria" ini merupakan bagian dari rangkaian KKN-PPM bertema "Peran Mahasiswa dalam Pemberdayaan Desa untuk Mendukung Kemandirian Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Sragen" yang berlangsung sejak 14 Juli hingga 31 Agustus 2026.

Gawai di Tangan Anak, Risiko yang Mengintai

Program ini lahir dari kegelisahan yang cukup nyata: anak-anak usia sekolah dasar di Desa Karangtalun, yang tumbuh sebagai bagian dari generasi alpha, sudah sangat akrab dengan gawai dan media sosial sejak dini. Sayangnya, kedekatan itu belum diimbangi dengan kesadaran dan keterampilan untuk menggunakannya secara aman dan bijak, sehingga anak-anak rentan terjebak dalam pusaran cyberbullying, baik sebagai pelaku maupun korban.

Menjawab persoalan tersebut, Teresya merancang kegiatan "Sahabat Digital Ceria" yang menyasar siswa-siswi kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) di tiga sekolah dasar sekaligus, yaitu SD Negeri Karangtalun 1, SD Negeri Karangtalun 2, dan MI Al-Huda. Kelas atas dipilih karena anak-anak di rentang usia ini dinilai sudah mulai mengenal dan menggunakan gawai maupun media sosial dalam keseharian mereka.

Belajar Sambil Bermain

Sumber foto:Teresya Phalosa


Alih-alih ceramah satu arah, kegiatan ini dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Anak-anak diajak mengenal pengertian dan bentuk-bentuk cyberbullying, cara mengenali ciri-cirinya, hingga langkah aman yang bisa dilakukan ketika mengalami atau melihat perundungan siber terjadi di sekitar mereka. Sesi ini dipadukan dengan permainan edukatif, ice breaking, pemutaran video, dan sesi tanya jawab yang membuat suasana kelas terasa hidup.

"Antusiasme anak-anak di tiga sekolah ini di luar dugaan. Mereka aktif bertanya, semangat mengikuti permainan, bahkan banyak yang cerita pengalaman pribadinya soal main gawai dan media sosial," ujar Teresya Phalosa, penanggung jawab program.

Guru kelas di ketiga sekolah pun turut mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai sangat relevan dengan kondisi anak-anak masa kini yang semakin terpapar dunia digital sejak usia dini.

Keceriaan anak-anak foto bersama mahasiswa KKN PPM UNISRI




Bukan Sekadar Kegiatan Sekali Jalan

Meski secara umum berjalan lancar, pelaksanaan program ini tak lepas dari sejumlah tantangan, mulai dari perbedaan tingkat pemahaman siswa antar sekolah, Sebagian anak juga masih terlihat malu untuk terbuka bercerita tentang pengalaman pribadinya.

Terlepas dari kendala tersebut, program "Sahabat Digital Ceria" dinilai berhasil menumbuhkan pemahaman siswa tentang pentingnya bersikap bijak di dunia maya sekaligus menguatkan keberanian mereka untuk mencari bantuan saat menghadapi masalah. Sebagai luaran nyata, kegiatan ini meninggalkan jejak berupa karya poster edukasiserta dokumentasi kegiatan yang dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi bagi sekolah untuk melanjutkan edukasi serupa secara berkelanjutan.

Sumber foto:Teresya Phalosa


Ke depan, diharapkan sekolah dapat mengintegrasikan materi literasi digital dan kesehatan mental ke dalam kegiatan bimbingan konseling atau ekstrakurikuler, sementara orang tua diharapkan lebih aktif mendampingi penggunaan gawai anak di rumah. Dengan begitu, anak-anak Desa Karangtalun diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi alpha yang tak hanya cakap secara digital, tetapi juga kuat dan resilien secara mental.


Penulis : Teresya Phalosa

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done