Merdeka?
Merah putih kembali memenuhi jalan,
tiang-tiang berdiri dengan gagahnya,
dan lagu kemerdekaan
akan kembali dinyanyikan.
Tapi di tengah kibaran bendera,
rakyat terus kehilangan napas.
Di sekolah,
kotak makan datang membawa program,
namun sebagian pulang membawa sakit.
Juga program yang datang dari wangsit.
Sementara seragam
semakin banyak memasuki ruang-ruang
yang seharusnya milik sipil.
Dan dari atas podium,
kata-kata berhamburan:
“bajingan”
“ndasmu”
“londo ireng.”
Seolah negeri sebesar Indonesia
tak lagi punya cukup bahasa
untuk berbicara tanpa mencaci.
Lalu Agustus datang.
Kita diminta berdiri tegak
dan meneriakkan:
MERDEKA!
Tapi bagaimana kami percaya
pada kemerdekaan?
Penulis : Kinanthi
Penyunting : Fahra