Tawa Di Bawah Hujan - LPM Apresiasi | Kritis, Realistis, Demokratis
News Update
Loading...

Tawa Di Bawah Hujan


(Pict by: Pinterest)

 

Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Seharusnya langit berubah warna menjadi jingga dan matahari yang telah tersenyum cerah seharian, mulai tenggelam perlahan berpamitan kepada alam dan seisi bumi lainnya. Namun, tidak dengan hari ini. Langit berubah menjadi sendu berwarna abu gelap, ditemani riuhan gemuruh yang menandakan hujan akan turun sebentar lagi. Dan benar saja, selang beberapa menit, setitik air hujan mulai turun membasahi bumi dan dalam sekejap menjadi segerombolan air yang siap untuk menggenangi jalanan.

 

Sore hari seperti ini, biasanya aku bersantai menikmati udara sore dan langit jingga nan cantik dari jendela kamarku sambil sesekali aku menulis jurnal tentang apa saja yang sudah aku lalui selama sehari penuh dengan senyuman yang menghiasi wajahku. Namun, dengan cuaca yang sedang murung dan tak bersahabat. Aku hanya duduk di tepian jendela dengan membawa secangkir coklat hangat untuk menghangatkan badanku, karena angin berhembus terlalu kencang hingga dapat menembus ke relung tulangku. Dengan memasang muka masam dan berharap hujan dapat berhenti lalu digantikan dengan langit cantik yang selalu aku tunggu kehangatannya di sore hari.

 

Aku memang selalu tak begitu suka dengan hujan, selain membuatku sakit dan tidak bisa menikmati senja, aku selalu takut dengan atmosfernya yang terkadang menyeramkan dengan kilatan cahaya dan suara yang bergemuruh tiap kilatan tersebut muncul. Tapi entah mengapa, hujan sore ini turun begitu tenang dan lembut dengan semilir angin yang kurasa masih bisa ku toleransi hembusannya.

 

Pada saat itu, aku memutuskan untuk membuka jendela dan membiarkan udara hujan memenuhi indera penciumanku yang membuatku merasa tenang dan tidak lagi diliputi rasa kecewa. Sambil menyeruput pelan-pelan coklat panasku, aku melihat jalanan sekitar rumahku yang sudah mulai tergenang air hujan. Di tengah jalanan tersebut, terlihat seorang lelaki memakai mantel plastik biru yang sedang berjalan dengan langkah yang begitu riang. Aku tak mengerti mengapa sesenang itu ia dengan hujan, hingga tak sadar bibirku tertarik ke atas karena melihat tingkah lucunya yang sekarang berganti menjadi tarian riang. Seperti sambutan terhadap hadirnya hujan yang sedang membasahi mantel dan celananya tersebut. Bukannya segera masuk ke dalam rumah, ia masih melakukan tarian yang menurutku menunjukkan suatu bentuk syukur dan rasa gembira yang ia peroleh.

 

Kael, nama yang kerap aku sapa. Ia merupakan teman yang tinggal di depan rumahku yang selalu berhasil membuatku nyaman dengan perilakunya yang menenangkan. Ia memang suka sekali dengan hujan. Setiap hujan siap turun ke bumi, ia akan selalu siap keluar rumah untuk merasakan tiap tetesan air yang membasahi kulitnya. Senyumannya, langkah riang, dan tariannya membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum dan melupakan bagaimana esensi hujan dapat membuat mereka diliputi rasa tak menyenangkan.

 

Pada saat aku ikut hanyut melihat ia berlarian di antara genangan dan senyum tawa puasnya, ia pun tak sengaja melihat ke arah jendela kamarku lalu menyapaku dan meneriakkan namaku dengan senyum lebarnya yang dapat  membuatku tersipu malu. Kael menyuruhku untuk turun dan ikut bermain di bawah air hujan. Entah apa mantra yang ia ucapkan hingga aku tergerak untuk menuruti ucapannya. Akupun bergegas turun dan mengambil mantel plastik yang warnanya senada dengan kael karena ia sengaja membelikannya untukku. Katanya, jaga-jaga kalau aku mau ikut bermain dengannya saat hujan turun sewaktu-waktu. Lucu bukan, betapa perhatiannya ia denganku dan selalu membujukku untuk mau bergabung dengannya saat hujan turun.

 

Dan di sinilah aku berdiri, di sampingnya menuruti ucapannya untuk bergabung bersama. Kael dengan tawa riangnya langsung menarikku untuk menikmati air hujan yang sudah membasahi area tubuh kami yang tidak tertutupi mantel. Aku mengikuti langkah Kael yang berlarian ke sana ke mari, menirukan tarian konyolnya, dan saling mencipratkan air dengan riang dan tawa yang lebar hingga wajahku dan ia sama-sama sudah basah. Kael sangat senang dapat mengajakku untuk menikmati air hujan bersama.

 

Tawa dan kegembiraan kami saat itu benar benar menjadi energi positif satu sama lain. Tak luput, ia selalu mengucapkan rasa syukurnya karena aku telah mau bergabung dengan dirinya. Perasaan hangat dan nyaman meliputiku karena tawa dan energinya. Aku sudah tak peduli betapa basahnya celanaku karena mantel yang ku gunakan hanya cukup untuk menutupi hingga pinggangku.

 

Sejak saat itu,  hujan tak lagi terasa menakutkan bagiku. Aku mulai menantikan hujan sama halnya dengan menantikan senja. Dan setiap kali hujan turun, aku selalu teringat akan tawa riang yang ia ciptakan. Secara tidak langsung, ia mengajarkanku bahwa terkadang kebahagiaan datang dari hal yang paling sederhana seperti bermain hujan dengan orang terkasih. Aku sangat berterima kasih dengan kael karena dapat menikmati momen yang sekarang menjadi bagian dari penantianku dan karena kael akupun selalu ikut tenggelam dalam tawa riangnya.

 

Penulis: Lathifah An Najla

Penyunting: Adista Putri Revalina

 

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done