(Sumber: Pinterest)
Selasa, 9 Juni 2026
-Latar Tempat & Suasana-
Sore hari di teras rumah. Gerimis tipis baru saja turun.
Gibran (8 tahun) duduk di bangku teras sambil memainkan roda mobil-mobilan
plastiknya yang rusak. Mbak Sri (45 tahun), pengasuhnya yang sudah dianggap
seperti keluarga sendiri, sedang melipat baju di dekatnya.
-Dialog-
Gibran: (Tanpa melihat Mbak Sri, jarinya sibuk memutar roda
mainan)
"Mbak Sri... kalau ibunya Rio itu baik banget,
ya?"
Mbak Sri:
(Menoleh, tersenyum ramah)
"Lho, memangnya kenapa, Mas Gibran? Semua ibu kan
memang baik."
Gibran:
"Kata Rio enggak semuanya. Rio bilang, ibunya paling
baik karena enggak pernah pergi kerja. Tiap hari nemenin Rio main lego, terus
kalau
pulang sekolah selalu ada di depan gerbang."
(Gibran berhenti memutar roda mainannya, suaranya merendah)
"Kata Rio...
kalau Ibu sayang
sama Gibran, Ibu pasti milih di rumah aja, enggak naik
pesawat jauh-jauh setiap minggu."
Mbak Sri:
(Menghentikan lipatan bajunya, menatap Gibran dengan lembut.
Ia bergeser duduk di lantai teras, sejajar dengan kursi Gibran)
"Mas Gibran sini, lihat Mbak Sri."
(Gibran menoleh lambat-lambat, matanya agak berkaca-kaca)
Mbak Sri:
"Rio beruntung punya ibu yang bisa nemenin setiap hari.
Tapi, Mas Gibran tahu tidak? Sayangnya seorang ibu itu bentuknya beda-beda.
Ibunya Rio menyayangi Rio dengan cara menjaga di rumah. Kalau Ibu..."
(Mbak Sri mengusap
rambut Gibran)
"...Ibu menyayangi Mas Gibran dengan cara berjuang di
luar."
Gibran:
"Tapi Gibran kan kangen, Mbak. Apa Ibu enggak kangen
Gibran?"
Mbak Sri:
"Aduh, Gusti... setiap malam sebelum Mas Gibran tidur,
siapa yang selalu telepon dari kota seberang? Siapa yang selalu nangis kalau
dengar Mas Gibran batuk? Ibu itu kerja keras biar Mas Gibran bisa sekolah yang
bagus, bisa beli buku cerita yang Mas suka, dan bisa makan makanan
yang sehat. Ibu melepas waktu mainnya sama Mas Gibran,
justru demi masa depannya Mas Gibran. Itu pengorbanan yang berat sekali,
lho."
Gibran:
(Terdiam sebentar, mencerna kalimat Mbak Sri)
"Jadi... Ibu pergi kerja bukan karena bosan sama
Gibran?"
Mbak Sri:
(Terkekeh kecil, memeluk pundak Gibran)
"Mana ada ibu yang bosan sama anak seganteng dan
sepintar ini. Ibu itu selalu ingin pulang, Mas. Setiap hari, yang dihitung Ibu
itu bukan berapa banyak uangnya, tapi berapa hari lagi bisa peluk Mas
Gibran."
Gibran:
(Mulai tersenyum tipis, meremas kaos Mbak Sri)
"Nanti kalau Ibu telepon... Gibran mau bilang kalau
Gibran juga sayang Ibu. Biar Ibu enggak capek kerjanya."
Mbak Sri:
"Nah, itu baru jagoannya Ibu."
“Luka di Balik Layar Kaca”
Pukul sembilan malam, rintik gerimis berubah menjadi hujan
lebat yang menghantam atap seng teras. Di dalam kamar yang sepi, sebuah ponsel
di atas meja belajar bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan foto seorang
wanita dengan senyum lelah namun dipaksakan, berlatar belakang lampu-lampu
kantor yang temaram. Di bawah foto itu tertulis: Ibu Calling. Gibran
hanya menatap layar itu dari atas tempat tidurnya. Ada rindu yang berdenyut di
dadanya, tetapi kalimat Rio siang tadi—“Ibuku baik karena nggak kerja, ibumu
pasti nggak betah di rumah”—telah berubah menjadi duri yang menyumbat
hatinya. Biasanya, Gibran akan berebut
ponsel itu dari tangan Mbak Sri. Namun malam ini, ia
melingkarkan lengannya di lutut, menyembunyikan wajahnya di sana.
Mbak Sri berjalan pelan masuk ke kamar, membawa ponsel yang
masih bergetar. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kecemasan yang
mendalam. Ia tahu, di ujung telepon sana, seorang ibu sedang menahan kantuk dan
lelah demi mendengar suara anaknya.
"Mas Gibran... Ibu telepon, Nak. Angkat, ya? Kasihan
Ibu baru selesai rapat," bujuk Mbak Sri lembut, menyodorkan ponsel itu.
Gibran menggeleng kuat-kuat di dalam pelukan lututnya. "Enggak mau. Bilang
sama Ibu, Gibran sudah tidur."
Namun, Mbak Sri telanjur menggeser tombol hijau dan
menyalakan fitur speaker. Suara dari seberang sana langsung memenuhi
kamar—suara yang serak, lelah, namun berusaha terdengar riang.
"Halo, Sayang? Gibran-nya Ibu belum tidur, kan? Ibu
tadi beli komik pahlawan yang Gibran cari kemarin, lho. Nanti akhir bulan Ibu
bawa pulang,
ya?"
Mendengar suara itu, pertahanan Gibran runtuh. Ia tidak
menyambutnya dengan tawa. Tangis yang ditahannya sejak siang pecah menjadi
ledakan kecil yang bergetar. Ia merebut ponsel itu dengan tangan gemetar, lalu
berteriak di depan layarnya.
"Gibran nggak butuh komik, Ibu! Gibran nggak butuh
mainan baru!" teriaknya dengan suara serak, air mata kini membasahi
pipinya yang kemerahan. "Rio selalu ditemani ibunya kalau hujan petir
begini! Kenapa Ibu harus pergi jauh? Apa Ibu nggak sayang sama Gibran? Apa Ibu
lebih suka sama kantor Ibu daripada sama Gibran?"
Hening. Seketika, petir di luar rumah seolah kalah senyap
dengan keheningan yang tercipta di seberang telepon.
Hanya terdengar suara napas yang tertahan, lalu sebuah
isakan halus yang coba disembunyikan. Di kota seberang, di dalam bilik toilet
kantor yang sempit, sang ibu merosot duduk di lantai. Air matanya merusak
riasan wajah yang dipakainya sejak pagi. Kalimat Gibran menghantam
dadanya lebih keras daripada makian bos atau tekanan target
kerja belasan jam sehari.
"Gibran..." suara ibunya bergetar hebat, pecah
oleh tangis yang tak terbendung lagi. "Maafin Ibu, Nak... Demi Allah, demi
Gibran, Ibu ingin sekali ada di sana. Ibu ingin meluk Gibran sekarang..."
Suara itu terputus oleh tangis yang tertahan. "Tiap malam Ibu nangis di
kamar kos
karena kangen Gibran. Ibu kerja bukan karena nggak sayang...
tapi Ibu takut... Ibu takut nanti kalau Ibu nggak kerja, Ibu nggak bisa bawa
Gibran ke dokter kalau Gibran sakit... Ibu takut nggak bisa bayar sekolah
Gibran... Ibu cuma punya Ibu sendiri untuk berjuang buat Gibran..."
Mbak Sri yang menyaksikan itu langsung memalingkan wajah,
menyeka air matanya sendiri dengan ujung daster. Ia tahu betul sejarahnya;
bagaimana ibu Gibran harus menjadi tulang punggung tunggal setelah suaminya
pergi tanpa tanggung jawab.
Gibran terpaku. Untuk pertama kalinya, ia mendengar
ibunya—sosok yang selalu terlihat kuat dan rapi di matanya—menangis sekencang
itu.
Tangisan yang bukan karena marah, melainkan karena rasa
bersalah yang teramat sangat. Bocah delapan tahun itu menyadari satu hal yang
melampaui usianya: Ibunya tidak sedang bersenang-senang di
luar sana. Ibunya sedang terluka, sama seperti dirinya. Dengan tangan yang
masih basah oleh air mata, Gibran mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Rasa
marahnya menguap, digantikan oleh rasa
sesal yang teramat dalam.
"Ibu..." bisik Gibran, suaranya parau dan
terputus-putus oleh sisa tangis. "Ibu jangan nangis... Gibran minta maaf.
Gibran nggak marah lagi sama Ibu. Gibran... Gibran cuma kangen."
Di seberang sana, sang ibu menyeka air matanya dengan tisu
toilet, mencoba tersenyum di balik sisa isakannya. "Ibu juga kangen,
Sayang. Sebentar lagi Ibu pulang, ya? Ibu janji."
Malam itu, jarak ratusan kilometer di antara mereka seolah
terkikis oleh tangisan yang jujur. Gibran tertidur sambil mendekap ponsel yang
layarnya sudah gelap, sementara di kota lain, seorang ibu kembali ke mejanya
dengan mata sembap, melanjutkan pekerjaannya demi anak yang menjadi seluruh
alasan hidupnya.
"Gema Langkah di Lorong
Waktu"
Tiga minggu setelah malam berdarah air mata itu, suasana
rumah masih sama, namun ada yang bergeser di dalam dada Gibran. Ucapan Rio
tentang “ibu yang baik” tidak lagi terasa seperti pisau, melainkan hanya
angin lalu. Gibran mulai belajar membaca tanda-tanda cinta yang tidak.berwujud
fisik. Ia menemukannya pada bekal makanan yang selalu dikirim lewat aplikasi
ojek daring setiap jam makan siang, pada paket-paket
vitamin yang datang dua hari sekali, dan pada coretan angka
di kalender kamarnya—di mana setiap tanggal yang dicoret adalah satu langkah
lebih dekat menuju pelukan Ibunya.
Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Sore itu, sebuah
taksi berhenti di depan pagar. Gibran yang sedang menggambar di ruang tamu
langsung melempar krayonnya. Jantungnya bertalu keras. Dari balik kaca jendela,
ia melihat sesosok wanita turun dengan langkah gontai. Wajah Ibunya tampak
lebih tirus, lingkaran hitam mengintip di bawah matanya, dan koper kabin yang
diseretnya seolah terasa seberat beban hidup yang dipikulnya sendirian. Gibran
tidak berlari kencang seperti biasanya. Ia melangkah pelan keluar pintu,
menatap Ibunya yang kini berdiri di ujung teras, menurunkan tas
besarnya, lalu merentangkan kedua tangan dengan senyum
paling tulus yang pernah Gibran lihat—meski senyum itu membingkai wajah yang
teramat lelah.
"Anak Ibu..." bisik Ibunya, suaranya tercekat.
Gibran menghambur ke pelukan itu. Aroma parfum kantor Ibunya
bercampur dengan bau matahari dan keringat perjalanan, namun bagi Gibran,
itulah aroma 'rumah' yang sesungguhnya. Ia memeluk leher Ibunya erat-erat,
merasakan detak jantung wanita itu yang berdegup cepat di.dadanya. Saat itulah,
Gibran merasakan sesuatu yang basah menetes di pundak kaosnya. Ibunya kembali
menangis dalam diam, mendekapnya seolah takut Gibran akan menguap jika
pegangannya longgar.
Namun, Gibran yang sekarang bukan lagi bocah yang merajuk
tiga minggu lalu. Ia melonggarkan pelukannya, lalu dengan kedua tangan kecilnya
yang masih belepotan bekas krayon, ia mengusap air mata di pipi Ibunya.
"Ibu, jangan nangis lagi. Gibran tahu Ibu capek,"
kata Gibran, suaranya bergetar namun sarat akan keteguhan. "Gibran udah
pamerin komik dari Ibu ke Rio. Gibran bilang ke Rio... ibunya Rio hebat karena
bisa jaga Rio di rumah. Tapi Ibu Gibran jauh lebih hebat, karena bisa jaga
Gibran dari tempat yang jauh."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut anak berusia delapan
tahun, tangis Ibunya pecah lagi, namun kali ini bukan karena rasa bersalah,
melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Ia mencium kening, pipi, dan mata
Gibran berkali-kali. Di ambang pintu, Mbak Sri berdiri
mematung sambil menyeka sudut matanya dengan ujung daster,
tersenyum menyaksikan bagaimana jarak dan kerinduan telah mendewasakan seorang
anak manusia.
Malamnya, tidak ada gadget atau layar kaca di antara mereka.
Di atas ranjang sempit, Gibran tidur berbantalkan lengan Ibunya yang terasa
agak kurus. Sambil mengusap rambut anaknya yang mulai tertidur, sang Ibu
berbisik lirih ke udara malam, "Terima kasih sudah bertahan, Sayang.
Maafkan Ibu yang harus membelah diri antara menghidupimu dan menemanimu."
Gibran tidak menjawab, tapi tangannya menggenggam erat satu jari kelingking
Ibunya, sebuah janji tanpa kata bahwa mereka akan selalu baik-baik saja,
sekencang apa pun badai di luar sana.
Penulis: Alfiana Qori
Penyunting: Adista Putri Revalina