| Pengembangan Ekonomi Kreatif: Mahasiswa KKN Unisri Olah Limbah Bonggol Jagung Jadi Briket Bernilai Jual di Desa Pare |
 |
Mahasiswa KKN Unisri Surakarta berfoto bersama warga dan jajaran pengurus Desa Pare usai pelatihan pembuatan briket bonggol jagung di Balai Desa Pare, Mondokan, Sragen, Selasa (4/8/2026). Sumber Foto: Muhammad Rayhan
SRAGEN — Guna mengoptimalkan potensi pertanian sekaligus mengurangi penumpukan limbah organik, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta meluncurkan program edukasi pengolahan limbah bonggol jagung menjadi briket bahan bakar alternatif bernilai ekonomi di Desa Pare, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Selasa (4/8/2026).
Program kerja individu bertajuk "Pengembangan Produk Ekonomi Kreatif melalui Pemanfaatan Limbah Bonggol Jagung menjadi Briket Bernilai Jual" ini diprakarsai oleh Muhammad Rayhan Dwi Rizqi Rudyansyah dari Program Studi Manajemen, yang tergabung dalam KKN Kelompok 40 Unisri. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Pare tersebut bertujuan mengubah sudut pandang masyarakat terhadap limbah pertanian yang selama ini kerap dibiarkan menumpuk atau dibakar begitu saja.
Melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket, warga diajak memanfaatkan bonggol jagung kering menjadi bahan bakar padat alternatif yang efektif untuk kebutuhan memasak harian maupun peluang usaha kuliner. |
 |
Mahasiswa KKN Unisri, Muhammad Rayhan Dwi Rizqi Rudyansyah, menunjukkan sampel briket bonggol jagung beserta brosur panduan pembuatannya di Balai Desa Pare, Mondokan, Sragen, Selasa (4/8/2026)
|
"Limbah bonggol jagung yang melimpah memiliki potensi besar jika diolah dengan tepat. Melalui inovasi briket ini, kami ingin membantu warga menciptakan solusi energi yang ramah lingkungan sekaligus membuka peluang wirausaha baru berbasis ekonomi kreatif," ujar Muhammad Rayhan Dwi Rizqi Rudyansyah selaku pelaksana program.
Inovasi ini tidak hanya menekan potensi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah (added value) pada barang bekas dengan modal produksi yang efisien.
Kehadiran program pendampingan ini disambut positif oleh warga setempat karena menghadirkan keterampilan praktis yang mudah diterapkan menggunakan alat-alat rumah tangga.
"Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warga Desa Pare. Kami jadi tahu kalau bonggol jagung yang biasanya dianggap sampah ternyata bisa diolah jadi briket bernilai jual dan hemat untuk bahan bakar," ungkap salah satu perwakilan warga Balai Desa Pare peserta kegiatan.
Melalui demonstrasi langsung mulai dari proses pengarangan, pencampuran perekat tapioka, hingga pencetakan briket, masyarakat Desa Pare diharapkan dapat mengaplikasikan pembuatan briket bonggol jagung secara mandiri guna mendukung kemandirian ekonomi dan menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis: Muhammad Rayhan Dwi Rizqi Rudyansyah