Mahasiswa KKN UNISRI Gelar Kelas Komunikasi “Percaya Diri Sejak Dini & Storytelling Interaktif” di SD Negeri Jono 2
![]() |
| Mahasiswa KKN UNISRI Kartika Larasati saat menyampaikan materi Kelas Komunikasi “Percaya Diri Sejak Dini & Storytelling Interaktif” kepada siswa SD Negeri Jono 2, Sragen, Selasa (28/7/2025). |
Sragen — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi Surakarta (UNISRI) melaksanakan program kerja individu berupa Kelas Komunikasi “Percaya Diri Sejak Dini & Storytelling Interaktif” di SD Negeri Jono 2, RT 01/RW 01, Kebayanan 1, Desa Jono, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2026 oleh Kartika Larasati (23410046), Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Slamet Riyadi Surakarta.
Program Kelas Komunikasi ini mengangkat materi “Ayo Berani Bicara” yang dirancang untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya membangun kepercayaan diri dan keberanian berkomunikasi sejak usia dini. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengenali rasa gugup yang sering muncul ketika harus berbicara di depan kelas maupun di hadapan banyak orang. Kepercayaan diri merupakan salah satu kemampuan yang penting bagi anak dalam mendukung proses belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kehidupan sekolah, siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi pelajaran, tetapi juga perlu memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, melakukan presentasi, maupun berkomunikasi dengan guru dan teman.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diberikan pemahaman bahwa rasa gugup ketika berbicara di depan orang lain merupakan hal yang normal dan dapat dialami oleh siapa saja. Siswa diajak mengenali beberapa reaksi tubuh yang dapat muncul ketika merasa gugup, seperti jantung berdebar, tangan gemetar, berkeringat, maupun merasa takut melakukan kesalahan saat berbicara. Dalam penyampaian materi “Ayo Berani Bicara”, siswa juga diberikan pemahaman mengenai cara sederhana untuk mengurangi rasa gugup. Salah satunya melalui latihan menarik napas dalam-dalam secara perlahan sebelum mulai berbicara. Selain itu, siswa diajak untuk memperhatikan lingkungan sekitar serta memberikan kalimat positif kepada diri sendiri sebagai bentuk membangun keyakinan sebelum tampil.
Siswa juga diperkenalkan dengan pentingnya bahasa tubuh dalam berkomunikasi melalui materi “Bahasa Tubuh Si Pemberani”. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap dan gerakan tubuh. Beberapa hal yang diperkenalkan kepada siswa antara lain berdiri dengan tegak, melakukan kontak mata dengan lawan bicara, serta menggunakan gerakan tangan secara wajar ketika menjelaskan sesuatu. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan siswa. Siswa diajak memahami bahwa sikap tubuh yang baik dapat membantu seseorang terlihat lebih siap dan percaya diri ketika berbicara. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar mengenai apa yang harus dikatakan, tetapi juga bagaimana menunjukkan sikap yang mendukung ketika berkomunikasi.
Selain memahami cara menghadapi rasa gugup, siswa juga diberikan motivasi bahwa kepercayaan diri dapat tumbuh melalui latihan yang dilakukan secara bertahap. Siswa dianjurkan untuk memulai latihan dari hal-hal sederhana, seperti berbicara di depan cermin, kemudian mencoba bercerita di hadapan orang terdekat, hingga berani berbicara di depan lebih banyak orang. Dalam kegiatan tersebut juga ditekankan bahwa keberanian berbicara tidak berarti seseorang harus selalu tampil sempurna. Siswa diberikan pemahaman bahwa melakukan kesalahan ketika berbicara merupakan bagian dari proses belajar. Kesalahan dapat dijadikan pengalaman untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki sehingga siswa dapat tampil lebih baik pada kesempatan berikutnya.
![]() |
| Dok.Kartika Larasati |


