Mahasiswa KKN UNISRI Gelar Edukasi “Sosialisasi Cegah Kekerasan Sejak Dini dan Stop Bullying” di SDN 01 Krikilan
![]() |
| Dok.Wahyu Putri Astuti |
SRAGEN — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melaksanakan program kerja individu bertajuk “Sosialisasi Cegah Kekerasan Sejak Dini dan Stop Bullying” di SDN 01 Krikilan, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 5 dengan tujuan menanamkan pemahaman tentang kekerasan dan perundungan (bullying) sejak dini.
Program ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memberi edukasi kepada anak-anak usia sekolah dasar agar mampu mengenali bentuk-bentuk kekerasan, membedakan antara bercanda dan menyakiti, serta berani berkata “TIDAK” terhadap bullying. Anak-anak perlu memahami bahwa kekerasan tidak hanya berupa fisik, tetapi juga verbal, sosial, dan daring.
Kegiatan diawali dengan perkenalan mahasiswa KKN bersama peserta, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi sesuai tujuan pembelajaran, yaitu: mengenal apa itu kekerasan dan perundungan (bullying), mengetahui contoh perilaku yang menyakiti orang lain, belajar cara mencegah dan menghadapi kekerasan, serta berani berkata “TIDAK” pada kekerasan dan melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.
Kenali Bentuk Kekerasan dan Perundungan
Pada sesi inti, mahasiswa menjelaskan pengertian kekerasan sebagai tindakan yang dapat menyakiti tubuh, perasaan, atau pikiran orang lain. Ditekankan bahwa kekerasan tidak hanya memukul atau menendang, tetapi juga kata-kata yang menghina, mengancam, atau mempermalukan.
Selanjutnya dipaparkan bentuk-bentuk kekerasan, meliputi:
1. Fisik: memukul, menendang, mendorong, mencubit.
2. Verbal: mengejek, menghina, mengancam, memanggil dengan julukan yang menyakitkan.
3. Sosial: mengucilkan, mengajak teman lain untuk menjauhi seseorang.
4. Daring: menyebarkan foto atau pesan yang mempermalukan orang lain.
Materi dilanjutkan dengan penjelasan tentang bullying sebagai perilaku menyakiti atau menekan orang lain secara berulang yang dapat membuat seseorang merasa takut, sedih, malu, atau tidak percaya diri. Peserta juga diajak memahami perbedaan antara bercanda dan menyakiti: bercanda membuat semua orang senang, sedangkan menyakiti membuat ada yang merasa takut, sedih, malu, atau tidak nyaman. Jika teman berkata “berhenti”, maka harus dihentikan.
![]() |
| dok.Wahyu Putri Astuti |
Langkah Penanganan dan "Janji Kelas 5"
Mahasiswa juga menyampaikan langkah yang harus diambil jika melihat teman mengalami kekerasan, yaitu: jangan ikut mengejek atau menertawakan, bantu teman mencari tempat yang aman, beritahu guru atau orang dewasa yang dipercaya, serta menekankan bahwa menolong teman adalah tindakan berani dan baik. Untuk mencegah kekerasan, siswa diajak saling menghormati, saling membantu, tidak mengejek teman, dan berteman dengan semua orang agar sekolah menjadi tempat yang aman dan bahagia.
Agar suasana lebih interaktif dan mengena, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan “Janji Kelas 5” bersama-sama. Siswa berjanji: tidak akan melakukan kekerasan, akan menghormati teman dan guru, tidak akan mengejek atau merundung teman, akan membantu teman yang membutuhkan, serta berani berkata dan melapor jika terjadi kekerasan. Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka dalam menyimak materi, menjawab pertanyaan, dan mengucapkan janji kelas.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan siswa SDN 01 Krikilan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kekerasan dan bullying, serta berani berkata “TIDAK” terhadap segala bentuk perundungan. Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN UNISRI berharap edukasi sederhana ini dapat menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang baik, sopan, saling menghargai, dan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Penulis : Wahyu Putri Astuti

